Tega

Tega
Bab 259


__ADS_3

Tuan Arya Hutama juga telah datang, dia langsung menghampiri Sarah karena khawatir menantunya itu akan sangat shock dengan peristiwa ini.


"Sarah!" panggil tuan Arya Hutama melewati semua orang kemudian menyentuh lengan Sarah.


Mendengar ayah mertuanya datang, Sarah langsung memeluk ayah mertuanya itu dan menangis di pelukan tuan Arya Hutama.


"Ayah, Tristan!" kata Sarah kembali menangis.


Tuan Arya Hutama sebenarnya juga sangat mencemaskan keadaan Tristan, namun dia sadar kalau Sarah butuh di tenangkan, di kuatkan. Dia sedang hamil, dan sudah masuk trimester kedua. Akan sangat beresiko kalau Sarah sampai down.


Tuan Arya Hutama kemudian mengusap punggung menantunya itu beberapa kali dengan lembut.


"Sabar ya nak, Tristan pasti kuat. Dia pasti kuat!" kata tuan Arya Hutama yang sebenarnya juga untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Rendra memeluk erat Arumi, dia sungguh merasa sangat khawatir. Karena dokter pelurunya sudah keluar tapi darahnya tak mau berhenti mengalir. Rendra benar-benar cemas, dia bahkan sudah bicara pada dokter kepala di rumah sakit itu untuk mendatangkan dokter ahli bedah dan ahli saraf dari rumah sakit lain kalau perlu, soal biaya Rendra akan mengurus semuanya. Tapi dokter kepala itu mengatakan kalau dokter yang di maksud Rendra, saat ini sedang berada di luar negeri. Akan butuh waktu lagi, jadi dokter kepala mempercayakan penanganan medis Tristan pada dokter yang ada saja. Mereka juga tidak kalah profesional.


Hampir dua jam Tristan di ruang operasi, selama itu juga Sarah terus berdoa di rangkulan sang ayah mertua.


Rendra yang geram pun mendapatkan laporan dari asisten pribadinya kalau di kantin polisi Jerry Alando malah terlihat senang dan tidak merasa bersalah sama sekali.


"Jika Tristan kenapa-napa. Aku yang akan mematahkan tangan dan kaki manusia tidak waras itu!" geram Rendra terlihat sangat garang.


Arumi yang berada di samping Rendra merasa cukup terkejut. Sebab Rendra tidak pernah seperti itu sebelumnya. Melihat suaminya yang berubah dari kucing rumahan menjadi garang seperti singa, Arumi tentu saja terkejut. Tapi Arumi sadar, itu bentuk pembelaan Rendra untuk Tristan. Dan Arumi bangga pada Rendra yang seperti itu.


Setelah menunggu sangat lama, akhirnya dokter yang menangani Tristan keluar dengan terburu-buru.


"Dokter... bagaimana Tristan?" tanya Rendra yang langsung menghampiri dokter itu.

__ADS_1


"Maaf, saya sedang terburu-buru!" kata dokter itu yang langsung masuk ke ruangan lain dan tak lama keluar lagi dengan sebuah alat media di tangannya yang mereka semua tidak tahu apa itu.


Setelah itu dokter itu masuk kembali, dua orang suster juga keluar. Tak lama mereka datang lagi dengan dua kantong darah dan satu tabung yang mirip dengan tabung oksigen. Mereka juga tampak sangat terburu-buru.


Sarah yang ingin melihat sengaja di halangi oleh Arumi. Arumi tak mau Sarah bertambah panik dan khawatir.


'Ya Tuhan, selamatkan suamiku. Aku masih belum banyak berbakti padanya, aku dan mas Tristan baru memulai hubungan kami yang baru beberapa bulan setelah semua hal panjang dan berliku yang kamu lalui. Tolong selamatkan ayah dari anakku, ya Tuhan. Aku mohon!' Sarah terus berdoa dalam hatinya.


Hal yang sama juga di lakukan oleh tuan Arya Hutama. Pria tua itu tak berhenti berdoa untuk keselamatan anaknya. Rendra dan Arumi juga sama. Bahan pak Samsudin juga terus memanjatkan doa dalam hatinya.


Setelah setengah jam berlalu dari hilir mudik para dokter dah perawat. Seorang dokter akhirnya keluar dari ruang operasi tersebut.


Rendra yang pertama melihatnya, dan langsung menghampirinya.


"Bagaimana dok? bagaimana adik saya?" tanya Rendra cepat.


"Alhamdulillah, tuan Tristan sudah melewati masa kritis. Pendarahan yang dia alami juga sudah berhenti. Tapi dia butuh istirahat dulu. Paling tidak selama empat sampai enam jam dia tidak akan sadar. Dan itu memang sangat di perlukan untuk pemulihan. Tolong jangan di ganggu dulu. Biarkan tuan Tristan beristirahat selama waktu itu!" kata dokter itu menjelaskan.


Sambil menunggu Tristan di pindahkan, dan itu memang harus menunggu selama lima jam. Mereka semua berkumpul di ruang rawat yang sudah di pesan dan di siapkan untuk Tristan.


"Sabar ya Sarah, beberapa jam lagi Tristan akan di pindahkan di sini dan kamu akan bertemu dengannya!" kata Arumi pada Sarah.


"Bagaimana dengan Jerry Alando? Andreas sudah mengurusnya?" tanya tuan Arya Hutama pada Rendra.


Rendra pun lekas menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Sudah ayah, sekarang Andreas juga sedang di rumah sakit. Makanya aku bisa tahu kalau pria gil4 itu sekarang malah tertawa senang karena telah melukai Tristan. Dia sama sekali tidak takut akan hukuman yang sudah menunggunya. Dasar tidak waras!" kesal Rendra.

__ADS_1


Arumi yang ada di samping Sarah hanya bisa diam dan melihat amarah suaminya. Tapi jujur saja, dia juga gemas sekal pada Jerry Alando itu. Rasanya kalau tidak ada ayah mertuanya di sana, dia juga ingin ikut memaki pria yang punya obsesi berlebihan pada sahabatnya Sarah tersebut.


"Menyakiti orang tuanya saja dia sama sekali tidak merasa bersalah, bagaimana melukai Tristan dia bisa merasa bersalah. Orang itu sungguh sudah tidak punya hati lagi!" kata Arumi menambahkan.


"Tapi ayah minta lain kali jangan ada yang bertindak seperti ini lagi ya, Rendra ataupun Tristan, pokoknya lain kali jangan bertindak begini. Kalian tidak boleh turun langsung. Ada pihak berwajib, mereka pasti bisa mengurus semua ini!" kata tuan Arya Hutama.


Arumi ingin sekali bilang kalau Tristan tidak ke sana. Mana mungkin si muka plastik itu akan keluar dari persembunyiannya. Dan akhirnya dia akan kabur lagi. Tapi karena dia tidak enak pada tuan Arya Hutama dia tidak mengatakan itu dan hanya mengangguk patuh.


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Tristan di bawa ke ruang rawatnya.


Sarah langsung berdiri dan mendekati tempat tidur pasien Tristan yang di tukar dengan tempat tidur dimana dia bawa tadi. Karena kondisi lukanya baru di jahit. Jadi Tristan tidak boleh banyak bergerak dulu.


Setalah menjelaskan beberapa instruksi, para perawat pun meninggalkan ruang rawat Tristan tersebut.


Tak berapa lama kemudian Tristan membuka matanya perlahan.


"Sarah!" lirih Tristan.


Sarah yang ada di samping Tristan langsung menggenggam erat tangan Tristan.


"Mas, aku di sini!" kata Sarah pelan.


"Kamu pasti habis menangis ya, matamu sampai bengkak sayang!" kata Tristan perlahan.


"Kayaknya kita harus keluar deh mas, ayah. Bisa jadi nyamuk kita di sini!" kata Arumi yang merasa Tristan hanya perduli pada Sarah saja.


"Ha ha ha, iya benar Arumi. Lebih baik kita keluar dan makan malam saja!" kata tuan Arya Hutama terkekeh mendengar apa yang di katakan Arumi. Beliau lega, anaknya sudah sadar dan baik-baik saja. Selanjutnya dia tidak perlu cemas, karena obat Tristan paling mujarab sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2