
Beberapa hari telah berlalu, semua bisa melihat bagaimana Arista terus mengurus Richard saat pria itu di haruskan untuk istirahat total. Tanpa ponsel dan tanpa gerakan berarti yang pasti untuk pemulihan lebih cepat.
Arista kan pekerja di perusahaan Rendra. Dan Rendra juga mengijinkan Arista cuti sampai Richard sembuh. Sebagai bentuk rasa terima kasih Arista karena sudah menyelamatkan nyawa Raja.
Dan hari ini, seperti beberapa hari biasanya Richard sedang di suapi oleh Arista.
"Mau tambah?" tanya Arista yang melihat kalau makanan yang ada di piring yang dia pegang sudah kosong, habis tak bersisa.
"Hah, sudah habis?" tanya Richard.
Arista lantas menunjukkan pada Richard piring kosong itu. Dan Richard cuma nyengir karena dia merasa makanan rumah sakit yang biasanya rasanya hambar kenapa malah jadi enak sekali. Mungkin karena Arista yang menyuapinya.
"Kamu suka sekali ya, makanan rumah sakit?" tanya Arista.
"Aku rasa bukan itu, mungkin karena aku tak perlu memasaknya sendiri dan memakannya sendiri!" kata Richard terus terang.
Richard kan memang tinggal sendirian di apartemennya, dia tidak punya asisten rumah tangga di sana. Jadi dia mengurus dirinya sendiri, masak masak sendiri, makan makan sendiri, cuci baju sendiri... ups malah nyanyi.
Pokonya semua dia kerjakan sendiri, dan saat ada yang membantunya mengurus dirinya begini. Tentu saja semua terasa lebih menyenangkan bagi Richard, makanan juga jadinya lebih enak.
Arista yang mendengarnya merasa kalau pria di depannya itu adalah pria yang sangat baik dan luar biasa. Dia juga sopan, dia tahu betul bagaimana pekerjaan seorang asisten pribadi seperti Richard. Arista juga salah satu asisten pribadi papinya dulu. Tak jarang pekerjaan mereka mengharuskan mereka untuk tidak tidur padahal sudah waktunya tidur, saat mereka sedang makan, tak jarang harus meninggalkan makanan yang baru di sentuh secuil karena panggilan mendesak dari atasan. Arista paham betul tentang hal itu.
Tapi Arista sedikit penasaran dengan apa yang ada di pikirannya ini semenjak dia bertemu dengan Richard. Awalnya karena mereka hanya kenal-kenal lalu saja. Arista tak berani bertanya, takut menyinggung Richard. Tapi setelah beberapa hari mengurus Richard dan tak ada wanita yang datang mengunjungi atau membesuk Richard. Arista jadi penasaran.
"Oh ya kak Richard, aku minta maaf sebelumnya. Tapi aku sangat penasaran. Kak Richard ini, punya pacar tidak? maksudku, kak Richard tidak belok kan?" tanya Arista.
Mendengar pertanyaan Arista itu, Richard mendengus kesal.
"Aku ini normal Arista, kenapa kamu berpikir begitu. Kalau kamu tidak percaya, Ayo kita menikah dan aku akan buktikan padamu!" kata Richard mode gahar.
"Ah, tidak-tidak!"
"Kamu menolak ku?" tanya Richard.
"Bukan begitu...!"
"Jadi kamu menerima lamaran ku?" tanya Richard.
Arista sampai melongo, dia bingung dengan apa yang baru saja Richard katakan.
"Apa?" tanya Arista bingung.
"Iya Arista, aku melamar mu!" kata Richard.
Arista tersenyum canggung.
"Kak jangan bercanda, aku akan panggil dokter ya. Mungkin ada masalah dengan kepalamu yang terbentur aspal saat kecelakaan!" kata Arista.
Tapi baru Arista akan berdiri, Richard menarik tangan Arista dengan kuat hingga Arista menabrak pinggiran tempat tidur dan jatuh ke pelukan Richard.
Richard mengecup bibir wanita yang tepat berada di atasnya itu.
Arista tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Richard. Karena pria itu seperti punya tenaga yang kuat yang meraih tengkuknya dan membuatnya tak bisa melepaskan diri dari Richard.
Satu detik
__ADS_1
Dua detik
Tiga detik
Richard melepaskan Arista dari pelukannya. Membuat wanita yang merupakan ibu dari dua orang anak itu menatap Richard tak percaya.
"Apa sekarang kamu percaya kalau aku normal?" tanya Richard.
Arista tak bisa berkata-kata, dia tidak tahu. Tapi entah dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan barusan. Hatinya tersentuh.
"Jika Raja dan Ratu menerima mu, maka aku juga akan terima!"
"Agkhhh!" Pekik Richard membuat Arista terkejut.
Baru saja Arista pikir Richard berubah menjadi normal, yang cool, dan suaranya terdengar Bariton kenapa sekarang malah jadi Sopran.
"Ya Tuhan, aku senang sekali. Arista jamu jangan bohong ya, kalau bohong kuku nail art kamu kusam pokoknya!"
Arista tambah mengernyitkan keningnya lagi.
'Ah tidak, apa setelah menikah kami akan rebutan catokan rambut nanti?' tanya Arista dalam hatinya.
Arista pun menyampaikan apa yang dia sepakati antara dirinya dan Richard pada keluarganya.
"Whatt! boneka tabung joget? apa dia bisa berdiri?" tanya Renata.
"Dia bisa berdiri, kakinya kan hanya tidak boleh bergerak karena jahitan saat operasi. Dan itu sudah sembuh, dia besok sudah bisa pulang!" jelas Arista pada Renata.
Mendengar apa yang di jelaskan oleh Arista, Renata menepuk dahinya sendiri.
"Bukan itu sayang, maksudku miliknya!" jelas Renata.
Arumi lantas tersenyum melihat wajah Arista yang memerah.
"Ah, kakak ku sayang. Apa kamu bahkan sudah mencobanya?" tanya Arumi menggoda Arista.
"Eh, tentu saja tidak. Aku hanya melihatnya..!"
"Apa? melihatnya. Apa kalian sudah sampai tahap itu?" tanya Arumi penasaran.
Dan pada akhirnya, baik Yuliana, Arumi dan Renata menyerahkan semua keputusan para Arista. Richard adalah pria yang baik. Raja dan Ratu juga sudah setuju.
Satu bulan setelah Richard benar-benar sembuh, Arista dan Richard benar-benar menikah. Pernikahan yang berlangsung sederhana, di hadiri oleh nenek dan adik Richard.
Tristan yang sedang berusaha mengajak Sarah untuk foto keluarga bersama Richard dan yang lain pun menyeka keringatnya, dia benar-benar lelah membujuk Sarah.
"Tidak mau, mas lihat aku dan lihat yang lain. Aku tidak mau di foto!" kata Sarah yang tidak percaya diri karena menjelang persalinannya. Berat badannya naik drastis. Sembilan bulan kehamilannya, berat badannya 80 kg.
Arumi yang juga hamil besar mendatangi mereka yang tak kunjung naik ke pelaminan.
"Sarah, ayo!" kata Arumi.
"No Arumi, kamu dan yang lain saja. Aku tidak mau, aku akan terlihat seperti angka 10 kalau berdiri di samping mas Tristan!" kata Sarah.
"Sayang, itu tidak benar. Kamu sangat cantik, dan pipimu itu menggemaskan!"
__ADS_1
"Bilang saja aku gendut!" kata Sarah.
"Tidak sayang, kamu adalah wanita yang luar biasa!" puji Tristan.
Arumi pun menggaruk kepalanya. Sampai Richard sendiri ikut menghampiri mereka.
"Nyonya, ayo foto. Nyonya ini tidak gendut, nyonya ini seksiiiaaah!" kata Richard.
"Apa katamu? bilang wanita lain seksii di depan adik iparmu! mau ku rontokkan gigimu?" tanya Arumi marah.
Richard jadi garuk-garuk kepala juga akhirnya. Kan dia mau bujuk Sarah, kenapa Arumi yang baper. Memang repot kalau urusannya sama ibu-ibu hamil.
"Sarah, ayo nanti Raja dan Ratu akan berdiri di depan kamu dan Arumi. Jadi yang terlihat hanya wajah sampai sebatas dada saja, bagaimana?" kata Rendra yang datang dengan solusi paripurna.
"Baiklah!" kata Sarah yang langsung berjalan ke atas pelaminan bersama dengan Richard.
Tristan sampai menyeka keringatnya, padahal di gedung ini pendingin ruangannya banyak.
"Kak, kenapa tidak datang sejak tadi. Aku sudah setengah jam membujuknya!" kata Tristan.
"Makanya banyak belajar dari senior!" kata Rendra yang juga berlalu menuju pelaminan.
Setelah foto bersama di ambil, tiba-tiba saja Sarah merasa kalau perutnya sangat mulas. Rasanya itu mulas, hilang lagi, mulas hilang lagi. Saat dia mengatakannya pada ibunya, Widya langsung mengajaknya pergi ke rumah sakit.
"Tristan, istrimu mau melahirkan!" kata Widya.
Semua orang langsung mengantarkan Sarah ke rumah sakit untuk melahirkan. Arista dan Richard juga ikut.
Sampai di rumah sakit pemandangan tak biasa yang di lihat di sana membuat banyak orang memperhatikan kedatangan rombongan Sarah. Mereka terkejut melihat sepasang pengantin yang masih pakai pakaian pengantin juga ikut.
Setelah beberapa pemeriksaan, Sarah pun di bawa masuk ke dalam ruang persalinan, dokter Magdalena juga lansung datang meskipun ini sudah bukan jam kerjanya.
Tristan terus menggenggam tangan Sarah, sama sekali tidak melepaskan tangan istrinya itu.
"Ayo Sarah, kamu pasti bisa. Tarik nafas perlahan, hembuskan perlahan. Saat mengejan, jangan tutup mata kamu ya. Tunggu sampai bayinya mengajak, begitu terasa sangat sakit langsung tarik nafas dalam-dalam lalu mengejan ya. Ini sudah pembukaan sempurna, dan air ketuban juga sudah pecah!" kata dokter Magdalena menjelaskan.
Begitu Sarah merasakan sangat sakit. Sarah menarik nafas dalam-dalam dan mengejan.
"Aghkkkk...!"
"Oek... oek... oek...!"
Tanpa Tristan sadari, air matanya mengalir begitu mendengarkan suara anaknya untuk pertama kalinya.
Tristan langsung menyeka keringat Sarah, dan memeluk istrinya itu. Menciumi Sarah tanpa henti, karena dia melihat bagaimana Sarah berusaha untuk membuat anaknya terlahir di dunia.
Anak itu langsung di letakkan di atas dada Sarah. Tristan benar-benar tak memalingkan pandangannya dari Sarah dan anaknya itu.
Tuan Arya Hutama yang mendengar tangisan bayi dari luar ruang persalinan langsung memeluk Rendra. Dia begitu senang dan haru, dia kini punya cucu lagi, anak pertama Tristan. Rasanya kebahagiaannya begitu lengkap.
Widya juga langsung menghubungi Damar, dia mengabarkan tentang kelahiran cucu pertamanya.
Arista juga sangat senang. Dia menggenggam tangan Richard dengan sangat erat. Dia ingat bagaimana dulu dia melahirkan Raja dan Ratu. Dia juga ikut gugup tadi.
"Sayang, bagaimana kalau kita pulang dan membuat adik untuk Raja dan Ratu?" tanya Richard pada istrinya.
__ADS_1
***
Bersambung...