
Di dalam kamar mandi, Sarah pun tak langsung mandi. Dia masih diam sambil duduk di atas closed duduk yang ada di sana, sambil melihat ke arah pintu yang tepat ada di depannya.
Berkali-kali Sarah menghela nafas panjang. Dalam hatinya dia merasa Tristan benar-benar sudah berubah. Tapi pikirannya masih kurang percaya pada hal tersebut. Sarah berpikir kalau Tristan itu amnesia. Makanya Tristan itu berperilaku baik pada Sarah, karena menganggap Sarah itu istrinya. Dan pasti sejak Tristan bangun dari komanya, tuan Arya Hutama sudah mengatakan banyak hal. Mungkin saja ayah mertuanya itu mengatakan mereka menikah karena saling mencintai. Padahal bukan itu alasan sebenarnya.
Sarah merasa kalau dia harus mendiskusikan masalah ini dengan seseorang. Sebab kalau dari sudut pandangnya yang memang sejak awal punya konflik dengan Tristan. Sarah akan sangat sulit percaya seratus persen pada Tristan. Apalagi pria itu bahkan sudah meninggalkannya jam dua malam, untuk mengejar kekasihnya yang ada di luar negeri. Perjalanan 17 jam sama sekali bukan masalah baginya. Sarah bisa membayangkan, berapa Tristan mencintai wanita bernama Shanum itu.
Memikirkan semua hal itu membuat Sarah jadi sakit kepala. Sarah mengusap wajahnya kasar, kemudian memutuskan untuk mandi saja.
Beberapa lama kemudian, Sarah sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Sarah belajar untuk meletakkan pakaian gantinya yang lain di lemari yang ada di kamar mandi tamu. Sebenarnya itu untuk berjaga-jaga seandainya Tristan sedang ngambek padanya dan mengunci pintu kamar utamanya. Sekarang pemikiran Sarah itu benar-benar berguna. Pakaian di lemari lain selain kamar utama akhirnya berguna.
Setelah merasa dirinya lelah, Sarah pun tidur di sofa di ruang televisi. Karena di sana ukuran Sofanya besar, lebih besar dan panjang dari sofa yang ada di ruang tamu.
"Aku harus bicara dengan seseorang, apakah memang sudah waktunya aku jujur pada bunda tentang hal ini. Tapi, tidak... tidak, bunda akan kepikiran. Pada Arumi? aih... yang ada dia akan memberikan ide yang anti-mainstream. Dia kan kesal sekali pada Tristan. Aku bingung... apa aku bisa bicara pada kak Rendra? hah... tidak juga. Dia kan ingin sekali aku dan Tristan bersatu. Ck... sudahlah. Tidur saja!"
Karena lelah berpikir dan badannya memang sudah lelah. Sarah pun dengan cepat terlelap.
Sebaliknya, seseorang yang berada di dalam kamar utama apartemen itu malah sejak tadi sangat merasa kesulitan memejamkan matanya.
Tristan terus bergerak ke kanan dan ke kiri, berguling ke kanan dan ke kiri. Bahkan dia berkali-kali memindahkan posisi bantal dan gulingnya, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Akhirnya Tristan memilih untuk bangun dan duduk. Matanya mengarah ke arah pintu.
"Mandinya lama sekali? ini sudah satu jam lebih. Apa dia putri duyung? mandinya lama sekali?" tanya Tristan mengomel.
Tristan bahkan terus mengomel karena menunggu Sarah yang tak kunjung masuk ke dalam kamar. Menunggu Sarah mandi benar-benar membuat kesabaran Tristan teruji. Dia bahkan benar-benar sudah kehabisan kesabarannya.
Tristan pun akhirnya turun dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa. Dengan tergesa-gesa pula dia berjalan ke arah pintu kamar. Tristan membuka pintu kamarnya dan bergegas keluar.
"Apa jangan-jangan dia pingsan di kamar mandi?"
Tristan masih terus bertanya-tanya, sambil berjalan ke arah kamar mandi tamu. Tapi begitu dia melewati ruang tengah. Langkahnya terhenti.
__ADS_1
Dia mendekati sofa ruang televisi dan Tristan pun langsung berkacak pinggang.
"Astaga, lihatlah dia. Aku menunggunya sampai kesal, aku pikir dia pingsan di kamar mandi. Tapi ternyata dia malah sudah pulas tidur di sini. Ck...!"
Tristan pun berdecak kesal, tapi melihat Sarah yang sudah pulas tidur. Tristan pun hanya bisa menghela nafasnya panjang.
Setelah itu rasa kesalnya pun langsung hilang, dia maju ke depan dan membenarkan selimut Sarah yang hampir jatuh ke lantai. Tristan lalu berjongkok tepat di depan wajah Sarah.
Tangan Tristan perlahan bergerak ke arah wajah Sarah. Tristan membenarkan helaian rambut yang menutupi wajah Sarah. Dengan sangat perlahan, Tristan merapikan rambut Sarah itu.
"Sarah, aku sungguh minta maaf. Aku sungguh ingin memperbaiki semuanya. Aku benar-benar ingin memulai segalanya dari awal denganmu!" ucap Tristan dengan suara sangat pelan.
Sangking pelannya mungkin hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya. Setelah berkata seperti itu, Tristan lalu bangun lagi. Dia memperhatikan Sarah tampak nyaman meski tidur di sofa, karena memang sofa itu sofa yang sangat bagus. Sangat empuk dan harganya sangat mahal. Bahkan memang hampir setara dengan atau buah tempat tidur ukuran king size.
Tak ingin mengganggu Sarah yang kelihatannya sangat pulas. Tristan pun berkata.
"Selamat malam Sarah, tidurlah dengan nyenyak. Mimpi indah!"
Setelah berkata seperti itu, Tristan pun kembali lagi ke dalam kamarnya. Dia melihat ke sekeliling kamarnya itu, dulu di kamarnya itu dia menyimpan banyak sekali foto Shanum. Tapi sekarang satupun sudah tidak ada di kamarnya. Semua itu pasti ulah ayahnya. Meskipun begitu, Tristan tidak merasa keberatan sama sekali. Itu memang yang akan dia lakukan juga ketika kembali ke apartemen ini. Tristan juga akan membuang semua foto-foto dan setiap hal yang berhubungan dengan Shanum.
Keesokan harinya...
Sarah merasa ada aroma yang begitu wangi dan membuat perutnya seketika merasa lapar lewat di hidungnya. Sarah merasa itu bukan mimpi, karena aromanya begitu nyata.
Sarah pun membuka matanya perlahan, dia melihat ke arah jendela kaca yang tertutup tirai. Seperti hari masih sangat pagi, cahaya dari luar tidak terlalu terang. Mata Sarah pun menuju ke arah jam dinding yang ada di ruangan tersebut. Dan ternyata memang masih jam 6 lewat sepuluh menit lagi.
Sarah pun bangun dan meregangkan otot-otot lengannya. Dari arah dapur dia mendengar suara seperti orang yang tengah memotong sesuatu di atas talenan. Dan juga suara seperti sesuatu yang di goreng.
Karena penasaran, Sarah pun segera membereskan tempat tidurnya itu. Dia melipat selimut dan membenarkan posisi bantal sofa yang dia pakai.
__ADS_1
Sarah kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Sedikit tercengang, dia melihat seorang pria dengan kaos hitam lengan pendek, memakai apron dan terlihat serius memotong-motong bawang bombai.
"Tristan!" sapa Sarah yang merasa kalau pria dengan gaya seperti itu terlihat begitu berbeda.
(Sebenarnya menurut author juga sih, cowok tuh kalau pakai kaos hitam lengan pendek, terus masak. Apalagi masakannya rasanya enak. Hrithik Roshan aja tuh lewat. Itu best banget sih, ya gak?)
Tristan pun melihat ke arah Sarah yang memanggilnya.
"Apa aku membangunkan mu, apa aku sangat berisik?" tanya Tristan menghentikan apa yang sedang dia lakukan.
Sarah pun dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak juga, ini juga sudah pagi. Tapi apa yang kamu lakukan? kamu baru sembuh? seharusnya banyak istirahat. Biar aku yang lanjutkan!" kata Sarah menghampiri Tristan hendak melanjutkan pekerjaan yang sedang Tristan kerjakan.
Tapi sebelum Sarah bisa meraih pisau yang sudah Tristan letakkan di samping talenan. Tristan lebih dulu memegang kedua lengan Sarah dan menuntunnya untuk duduk saja di ruang makan.
"Tidak usah, aku akan memasak untukmu hari ini. Kamu duduk di sini dengan tenang. Aku merasa kalau aku sangat pandai memasak, jadi istriku, duduk di sini dan biarkan suami mu ini menyajikan sarapan pagi dengan penuh cinta untukmu!"
Cup
Sarah langsung terdiam, dia mematung mendapatkan ciuman di puncak kepalanya ketika Tristan menyuruhnya untuk duduk. Bukan hanya karena ciuman di kepala itu saja, Sarah bahkan merasa hatinya merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan ketika mendengar kata-kata suami dan istri yang baru saja Tristan ucapkan.
'Hah... semua ini tidak benar. Tristan sepertinya benar-benar mendalami karakter suami baik seperti yang di katakan ayah Arya padanya. Apa aku harus katakan yang sebenarnya pada Tristan ya? kalau sebenarnya kami menikah hanya karena kesepakatan. Dan yang dia cintai itu sebenarnya...!' Sarah bahkan menjeda apa yang dia ucapkan dalam hatinya.
Pandangannya teralih pada Tristan yang sesekali tersenyum padanya saat masih sibuk memasak.
'Senyuman itu juga mungkin bukan di tujukan untukku. Aku harus bicara pada Tristan, dokter juga bilang otaknya normal, aku rasa aku memang harus ceritakan semuanya!' batin Sarah yakin.
Dia benar-benar sudah tak mau menipu Tristan yang setahunya amnesia itu.
__ADS_1
***
Bersambung...