
Shanum dan Leni masih berusaha untuk menyelamatkan butik mereka, setidaknya mendapatkan klaim asuransi karena mereka benar-benar sangat butuh uang untuk membangun usaha baru. Mereka tidak mungkin kembali ke negara asal mereka dalam keadaan seperti ini.
Shanum dan Leni pergi ke kantor asuransi, tapi yang mereka dapatkan hanyalah penolakan dari pihak asuransi.
"I'm sorry, but indeed the insurance that you submitted does not meet all the requirements!"
(Saya minta maaf, tapi memang asuransi yang anda ajukan tidak memenuhi persyaratan).
Shanum semakin di buat tak percaya oleh hal itu. Pasalnya dia jelas sudah membayar asuransi setiap bulannya, bagaimana bisa saat dia membutuhkan uang dan butiknya hangus terbakar. Dia justru tidak mendapatkan klaim asuransi tersebut.
Shanum hampir gila di buatnya, dia bahkan menangis di kantor asuransi tersebut.
"Kak, kita pulang saja ya ke Indonesia! di kantor polisi kita di hina, di sini kita tidak tanggapi. Kak, sebaiknya kita kembali saja!" bujuk Leni dengan suara pelan pada Shanum.
Masalahnya mereka sudah tak punya cukup uang untuk membangun sebuah usaha lagi. Dan yang mereka miliki di tempat itu benar-benar hutang bank, dan apartemen yang mereka tinggali sekarang.
Dan jika klaim asuransi tidak keluar, jalan terakhir Shanum, yang bisa dia lakukan untuk menutupi semua hutang bank nya adalah menjual apartemen, atau menggadaikan apartemennya itu ke bank. Benar-benar sangat menyedihkan.
Dan saat Shanum akan keluar dari kantor asuransi tersebut, kesialan atau entah apa itu terjadi lagi dalam hidupnya. Mobil yang dia parkir di depan kantor asuransi raib entah kemana. Shanum dan Leni mencari keberadaan mobilnya tersebut. Namun mereka tidak menemukannya, bertanya pada satpam yang berjaga. Satpam itu berkata dia tidak pernah melihat ada mobil yang terparkir di depan kantor tersebut.
Meminta para security melihat rekaman CCtv, namun kameranya menunjukkan waktu ketika tempat parkir itu sejak pagi sampai waktu Shanum keluar, memang tidak ada rekaman mobil terparkir di sana. Tempat itu kosong.
"Peut-être que trop de pensées vous font halluciner mademoiselle"
(Mungkin terlalu banyak pikiran membuat anda berhalusinasi nona)
Kata satpam yang ada di tempat itu. Tapi dari tatapan mata satpam itu Leni bisa melihat kalau dia sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
Shanum yang dikira berhalusinasi oleh satpam tersebut menjadi naik pitam. Shanum mendorong satpam tersenut dan berkata.
"Apa maksud mu? kamu mau bilang aku sudah tidak waras, hah... kurang ajar sekali kamu?" kata Shanum.
Satpam tersebut, yang memang tidak mengerti bahasa Indonesia pun hanya tertawa, benar-benar seperti sedang mengejek Shanum.
"Ha ha ha tu es vraiment folle mademoiselle!"
(Ha ha ha kamu memang benar-benar sudah gila nona)
Shanum semakin kesal, dia bahkan berusaha memukuli lengan satpam itu beberapa kali. Shanum benar-benar dalam tahap emosi yang tidak terkendali. Leni yang khawatir kepada kakak sepupunya itu berusaha untuk menarik sanum agar dia tidak membuat masalah lagi dalam hidupnya. Karena jika dia memukuli satpam tersebut dan satpam tersebut melaporkannya ke polisi maka masalah mereka akan bertambah.
"Kak, sudah kak. Kak aku mohon hentikan. Satpam itu bisa menuntut mu nanti. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bisa hidup di sini kita kembali saja kak ke Indonesia!" kata Leni yang sangat khawatir pada Shanum.
Shanum langsung memeluk Leni dan menangis sejadi-jadinya.
Saya mendengar kakak sepupunya itu berkata seperti itu, Leni pun ingat pada seorang pria yang dulu pernah dibentak Shanum di hotel saat Shanum mencari keberadaan Tristan.
Pria yang sama, yang mengirimkan banyak bunga dan hadiah untuk Shanum saat pembukaan batik barunya. Dan pria yang sama yang menjadi ketua panitia acara penghargaan yang sudah di tunggu-tunggu oleh Shanum kala itu.
"Kak, apa Derryl Aberald ada di belakang semua ini?" tanya Leni.
Shanum pun langsung menarik dirinya dari pelukan Leni lalu menatap adik sepupunya itu dengan lekat.
"Apa katamu?" tanah Shanum tak percaya.
"Kak, dia bukan orang sembarangan. Dan waktu itu, gitar yang sangat marah dan kesal saat kamu membentaknya di depan umum. Kakak ingat sudah berapa kali menolaknya, mungkin dia yang berada di belakang semua ini kak!" kata Leni.
__ADS_1
Mata Shanum langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh adik sepupunya itu.
"Berani-beraninya dia menghancurkan semua milikku. Aku akan buat perhitungan dengannya!" geram Shanum yang bergegas meninggalkan Leni.
Namun sebelum Shanum bisa berjalan lebih jauh lagi, Leni mengejar dan menarik lengan Shanum dengan cepat. Dengan wajah yang begitu terlihat khawatir kepada kakak sepupunya itu, Leni berkata.
"Kak, apa yang mau kakak lakukan?" tanya Leni.
"Leni, kamu masih bertanya apa yang mau aku lakukan? tentu saja membuat perhitungan dengannya, dia harus bertanggung jawab atas semua ini. Dia harus kembalikan mobil dan butik ku!" kata Shanum sangat emosi.
Tapi mendengar jawaban Shanum itu Leni makin khawatir.
"Kak, jangan! ini masih belum terlambat kak kita kembali saja ke Indonesia. Coba Kakak pikir dia bisa menghancurkan butik, dia bisa menghilangkan semua barang bukti di kantor polisi. Sekarang mobil Kakak hilang dan tidak ada bukti rekaman CCTV dan jejaknya sama sekali itu pasti ulahnya, kalau dia bisa melakukan semua itu dia bisa saja membuat kita tidak bisa kembali ke Indonesia. Kak, aku mohon, jangan menambah masalah lagi kita pulang saja!" bujuk Leni yang benar-benar sangat khawatir.
Sejak awal Leni memang sudah memiliki firasat yang tidak baik tentang pria yang bernama Derryl Aberald itu. Dan sudah berulang kali pula dia mengatakan kepada kakak sepupunya itu untuk berhati-hati dan menjaga sikapnya pada Derryl Aberald.
Namun Shanum tak pernah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Leni. Hingga sekarang jadi seperti ini, Shanum masih ingin membuat perhitungan dengan pria itu. Leni benar-benar takut, apalagi ini bukan negaranya dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa di sini.
"Leni, semuanya hancur. Bagaimana kita bisa kembali? bagaimana kita menunjukkan wajah kita pada keluarga kita yang selalu menghina kita itu?" tanya Shanum dengan berderaian air mata.
"Kak, kita tidak perlu kembali ke keluarga kita. Kita bisa tinggal di Jakarta seperti dulu, mulai semua dari awal lagi. Mumpung kita masih punya kesempatan kak, entah apalagi yang akan pria bernama Derryl Aberald itu lakukan nanti!" kata Leni membuat Shanum berpikir sangat keras.
Egonya melarangnya menyerah, tapi hatinya juga sudah lelah dan putus asa.
***
Bersambung...
__ADS_1