Tega

Tega
Bab 207


__ADS_3

"Perusahaan ini masih milikku, pergi dari sini! dasar penipu!" seru Tristan pada Jerry Alando sambil mendorong pria itu.


Namun dengan wajah tengil dan tonjokable, Alan malah tersenyum menyeringai pada Tristan.


"Saham mu di perusahaan ini tinggal 25 persen bukan? dan ditambah Pram dan Nirwan yang bodohh itu juga hanya 40 persen saja. Harusnya kamu sadar diri, kamu akan kehilangan perusahaan ini. Kamu yang seharusnya pergi dari sini!" kata Jerry Alando sombong.


Sedari tadi Tristan sudah geram, rasanya dia ingin sekali menghajar pria tidak tahu malu di depannya itu.


"Jumlah semua saham mu juga baru 45 persen Alan, kamu tidak bisa mengusir tuan Tristan atau mencopotnya dari jabatan CEO!" kata Pandu yang juga ikut geram.


"Benar, kalau kamu melakukannya itu melanggar aturan!" tambah Liana.


Dua sekertaris Tristan itu tidak terima Alan yang memang dulu suka mencari masalah di perusahaan tiba-tiba muncul sebagai pemilik perusahaan ini dengan cara yang tidak benar.


"Siapa yang menyuruh kalian bicara, kalian akan segera kehilangan pekerjaan kalian!" kesal Alan.


"Siapa yang akan kehilangan pekerjaan mereka?" tanya tuan Arya Hutama yang datang ke tempat itu.


Selain menghubungi Sarah, Richard ternyata juga menghubungi tuan Arya Hutama.


"Apa sebuah perusahaan sudah tidak punya aturan, sampai seorang yang entah darimana datangnya bisa merebut perusahaan ini begitu saja?" tanya Arya Hutama yang datang bersama Samsudin dan pengacara perusahaan, pengacara Hamdan dan Andreas.


"Undang semua direksi dan pemegang saham, ini bukan sesuatu yang bisa di dapatkan dengan adu jotos, atau adu argumen. Ini adalah perusahaan yang aku bangun dan rintis dari nol, siapapun dirimu anak muda. Kamu mungkin punya banyak uang, tapi untuk merebut milik orang lain, apalagi itu milik putraku. Kamu butuh sekedar uang!" kata Arya Hutama yang langsung meninggalkan Alan yang terlihat kesal menuju ke ruang meeting.


Semua orang pun terlihat sangat teg4ng, beberapa karyawan yang pernah memiliki masalah dengan Alan tentu saja tidak ingin perusahaan ini jatuh pada pria itu. Karena pasti karir mereka juga berakhir.


Beberapa menit kemudian Sarah dan kedua orang tuanya tiba. Mereka di arahkan oleh Liana yang memang menunggu Sarah datang.


Semua sudah hadir satu persatu di ruang meeting, para direksi dan pemegang saham yang gila akan harta berpihak pada Alan. Sementara beberapa yang masih mementingkan hubungan kekerabatan dan kepercayaan pada Arya Hutama berada di pihak Tristan.


Tinggal beberapa orang lagi yang masih belum setuju dengan harga yang di tawarkan oleh Alan yang masih tidak memihak pada siapapun.

__ADS_1


Ceklek


Begitu pintu meeting itu terbuka, masuklah Sarah dan kedua orang tuanya. Alan yang melihat Damar Adhikara dan Widya sangat terkejut. Begitu pula sebaliknya, mereka tidak tahu orang yang sedang berusaha merebut perusahaan milik menantunya adalah orang yang sama yang mencuri pabrik milik Damar Adhikara.


"Kau..!" geram Damar Adhikara yang akan bergerak menghampiri Alan namun di hadang oleh dua bodyguard Alan.


"Penipu tidak tahu malu, kamu juga ingin mengambil perusahaan menantuku. Dasar tidak tahu malu!" pekik Damar Adhikara yang kesal.


Alan lantas berdiri dan melihat ke arah Sarah yang di rangkul lengannya oleh Widya.


"Apa maksudmu?" tanya Alan bingung.


Tak hanya Alan, semua orang di sana juga bingung. Namun salah seorang pemegang saham yang masih belum menentukan pilihan akan berpihak pada siapa lantas berdiri dan menghampiri Damar.


"Tuan Damar Adhikara, anda di sini?" tanya Abraham.


Damar lantas menoleh.


"Oh kamu tuan Abraham!" kata Damar Adhikara yang mengenal Abraham.


"Pria itu, Jerry Alando. Dia telah menipu ayah kandungnya sendiri dan juga aku. Dia mendapatkan semua yang untuk membeli saham kalian dari hasil penipuan yang kasusnya sedang di selidiki oleh polisi. Kami juga sudah mengumpulkan semua bukti dan saksi, terserah kalian kalau mau uang kalian nanti ditarik lagi oleh pihak kepolisian karena itu uang hasil penipuan. Kalian mau? maka kalian bisa terus berada di pihak orang yang tidak tahu malu ini!" kata Damar Adhikara tegas.


Alan sangat kesal. Dia mengepalkan kuat tangannya.


"Tidak benar, orang tua ini yang sudah tanda tangan semua berkas pengalihan. Tidak ada penipuan!" balas Alan yang mulai terlihat khawatir karena semua yang ada di pihaknya mulai bergunjing karena takut apa yang di katakan Damar Adhikara itu benar.


"Dia penipu. Dia bahkan mengambil aset ayah kandungnya sendiri, membuat ibu kandungnya mengalami kesulitan. Akankah kalian semua percaya pada manusia seperti ini. Bicara lah sesukamu Jerry Alando, tapi Hilman sudah mengakuinya, sayangnya istri Hilman itu masih sahabat Sarah, dan Sarah Ranisa ini adalah anakku, anak kandungku!" kata Damar Adhikara membuat semua orang terkejut termasuk Alan.


Arya Hutama dan Tristan juga langsung menatap Sarah. Dan Sarah pun mengangguk pada suami dan mertuanya.


Alan benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Bukankah.. tapi bukankah anakmu itu Inka Prastiwi!" kata Alan bingung.


"Aku tidak perlu jelaskan panjang lebar padamu!" kata Damar.


Dia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi Steven dan Anika. Lalu dia juga memanggil polisi.


Melihat posisinya sudah sulit, Alan berniat ingin pergi dari tempat itu. Tapi anak buah Damar Adhikara lebih banyak. Anak buahnya bahkan sudah tak bisa berbuat apapun.


Para pemegang saham yang tadinya berada di pihak Alan langsung meninggalkannya dan beralih pada Tristan. Alan semakin kesal, karena merasa orang-orang itu hanya mau untung saja. Begitu dia sudah tak ada yang membantunya. Chandra Wijaya juga sudah menyelamatkan dirinya sendiri, mendengar kalau Alan akan di tangkap polisi.


Tak mau di penjara, Alan pun memikirkan sesuatu yang lebih licik lagi. Dia terlihat diam, matanya mulai berkaca-kaca. Dia kemudian beralih pada Sarah.


Tristan yang melihat Alan menuju ke tempat Sarah pun menghadang Alan.


"Diam di tempatmu!" kata Tristan dengan nada tinggi.


"Sarah, aku melakukan semua ini untuk mu. Aku hanya ingin membuatmu berada di sisiku. Aku masih sangat mencintai mu Sarah!" kata Alan yang membuat Widya bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Widya.


"Aku dan Sarah dulunya adalah sepasang kekasih, aku menolak menikahi Inka karena aku jatuh hati pada Sarah. Tapi aku melakukan kesalahan, dan aku sangat menyesalinya. Sarah, tolong maafkan aku!" Alan langsung menjatuhkan dirinya. Bertumpu pada lututnya. Terlihat sangat sedih.


"Aku sudah memaafkan mu Alan, tapi semua perbuatan mu, kamu harus mempertanggungjawabkan nya!" kata Sarah pelan.


Saat semua orang merasa Alan benar-benar sudah menyesal dan terlihat mengurangi kewaspadaan mereka. Alan meraih senj4ta api salah satu anak buahnya dan menarik tangan Sarah ke arahnya.


"Sarah!" pekik Widya yang terkejut.


"Sarah!"


"Alan lepaskan Sarah!" pekik Tristan yang berusaha maju namun ragu karena Alan menodongkan senjata itu ke kepala Sarah.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2