
"Sayang, tenanglah. Kita akan segera sampai!" kata Rendra yang terus berusaha mempercepat laju kendaraan yang dia bawa sambil sesekali menepuk punggung tangan Arumi yang berada di pangkuan Arumi.
"Mami mas...!"
"Iya aku mengerti, kita akan segera sampai. Kita akan lakukan yang terbaik untuk mam kamu ya sayang!" kata Rendra berusaha terus menyemangati istrinya yang sejak tadi terus menangis.
Sementara Arumi sendiri sudah sangat ketakutan, maminya itu punya riwayat penyakit jantung yang lumayan sering. Memangnya siapa yang tidak akan kena penyakit jantung punya suami macam Chandra Wijaya.
Walaupun tadinya Yuliana tak punya riwayat turunan penyakit jantung. Pada akhirnya juga akan terkena penyakit jantung karena sudah hidup puluhan tahun dengan Chandra Wijaya yang kasar, kerasa kepala, aku memang sendiri, egois, dan tak punya hati.
Beberapa lama kemudian, Rendra pun memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit tersebut. Rumah sakit itu tidak terlalu besar, tidak seperti rumah sakit lain yang merupakan gedung tinggi dengan banyak lantai dan ada basemen nya.
Rumah sakit Citra Medika ini hanya dua lantai dan seperti rumah sakit jaman dulu bangunannya. Hingga hanya area parkir yang tempatnya juga tidak terlalu luas.
"Mas, ayo!" ajak Arumi yang langsung turun dari dalam mobil.
Rendra juga segera mematikan mesin mobilnya, melepaskan sabuk pengaman dan segera turun menghampiri Arumi dengan cepat.
Mereka berdua lansung ke pusat informasi, mencari tahu tentang Yuliana Wijaya.
Begitu tahu dimana kamar rawat sang mami, Arumi lantas segera berjalan bersama dengan Rendra menuju kamar rawat ibunya itu. Saat Arumi datang, Yuliana sedang di periksa oleh seorang dokter.
"Bagaimana? apa sudah ada kabar dari keluarga pasien? pasien harus segera mendapatkan tindakan...!"
Mendengar itu Arumi lantas berlari masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter, lakukan saja. Tindakan apapun yang bisa menyelamatkan mami saya!" kata Arumi.
Dokter dan perawat itu lantas menoleh ke arah Arumi.
"Anda keluarganya?" tanya dokter itu.
Arumi langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya, saya anaknya!" jawab Arumi cepat.
"Baiklah, silahkan ikuti suster untuk mengurus administrasi dan persetujuan tindakan operasi...!"
__ADS_1
"Saya saja, biarkan istri saya bersama maminya!" kata Rendra.
Dokter itu langsung mengangguk paham.
"Baiklah, kamu akan siapkan dengan cepat ruang operasinya!" kata dokter itu lalu meninggalkan ruang rawat Yuliana tersebut.
Rendra juga mengikuti perawat yang di tunjuk tadi untuk menyelesaikan segala administrasi dan semua dokumen agar operasi bisa cepat di laksanakan.
Arumi lantas duduk di sebelah tempat tidur pasien dimana Yuliana tengah terbaring tak sadarkan diri.
"Mi..!" lirih Arumi sambil memegang tangan Yuliana.
"Mi, ini Arumi. Maaf karena Arumi tidak ada saat mami butuh Arumi. Sekarang aku sudah di sini mi, mami akan cepat di sembuhkan. Mami semangat ya, kasihan kak Renata juga kak Arista, kasihan juga Raja dan Ratu. Mami harus kuat ya mi, mami harus kuat.. !" kata Arumi dengan berurai air mata.
Tak lama kemudian beberapa perawat datang.
"Permisi nyonya, pasien akan segera di bawa ke ruang operasi!" katanya dengan sopan.
Arumi lantas melepaskan tangan maminya dan mengikuti para perawat itu membawa Yuliana ke ruang operasi.
Arumi hanya bisa mengganggukan kepalanya perlahan.
'Mami, ayo mami.. mami pasti kuat, mami pasti bisa melewati ini!' kata Arumi menyemangati Yuliana meskipun hanya di dalam hatinya saja.
Rendra segera menghampiri dan menemani Arumi ketika Arumi berada di depan ruang operasi.
Rendra membawakan sebotol air mineral untuk Arumi.
"Sayang, kita duduk dulu ya!" kata Rendra mengajak Arumi untuk duduk di kursi yang ada di dekat mereka.
Setelah Arumi duduk bersamanya, Rendra memberikan istrinya itu minum.
"Kamu yang sabar, kita berdoa bersama. Tadi aku sempat tanya pada dokter tentang kondisi mamimu. Katanya hanya perlu tindakan operasi untuk menghilangkan sumbatan aliran darah ke jantungnya. Setelah itu mami kamu akan baik-baik saja!" jelas Rendra mencoba menenangkan Arumi.
"Benarkah?" tanya Arumi.
Rendra pun mengangguk.
__ADS_1
"Benar, Peluan keberhasilan operasi ini adalah 90 persen. Kamu jangan khawatir ya!" kata Rendra yang lantas menarik Arumi ke dalam pelukannya.
Arumi lantas menyandarkan kepalanya di dada Rendra.
"Maaf ya mas, aku jadi merepotkan mas begini!" kata Arumi tidak enak hati.
"Sayang, kamu isru istri ku. Mami kamu kan mami aku juga, kakak kakak kamu... !"
"Mereka lebih muda dari mas!" kata Arumi.
"Yah, mereka saudariku juga. Tidak ada yang namanya merepotkan untuk keluarga!" kata Rendra.
Arumi lantas terdiam, matanya masih berkaca-kaca.
"Seandainya saja papi punya jalan pikiran seperti mas re dra walaupun sedikit saja. Tapi apa yang bisa kau harapkan, papi bahkan meninggalkan mami dalam keadaan seperti ini. Apa yang bisa kamu harapkan!" lirih Arumi yang sangat sedih terhadap sikap egois papinya.
Bisa-bisanya dia dengan aset yang tersisa kabur entah kemana, yang pasti dia akan ke luar negeri. Dan bisa-bisanya suami Arista meninggalkan Arista. Arumi juga tak habis pikir dengan cara pikir Gabriel, suami Arista.
Walaupun Arista itu istri kedua, tapi setidaknya bukankah seharusnya Gabriel memikirkan kedua anaknya. Meskipun tidak perduli pada Arista, seharusnya dia perduli pada Raja dan Ratu. Tapi ini malah tidak sama sekali. Raja dan Ratu juga di usir. Bagaimana bisa seorang ayah seperti itu, apa memang Gabriel itu sama persis seperti papi Arumi. Tidak punya hati bahkan sama anak sendiri. Klop sekali kalau begitu selera papinya Arumi mencari menantu, mencari yang sifatnya sama persis seperti sifatnya sendiri.
Sementara itu diluar negeri. Di Polandia tepatnya. Chandra Wijaya sedang bersembunyi di sebuah rumah yang kecil di pinggiran pantai di sebuah perkampungan yang tidak terlalu bagus.
Chandra Wijaya sengaja memilih tempat itu untuk bersembunyi, dia juga akan menggunakan sisa uangnya untuk bertahan hidup.
"Perduli set4n dengan keluarga, hah... yang penting aku masih bisa bertahan sampai sepuluh tahun meski tak bekerja dengan semua aset ini ha ha ha !"
Benar-benar tak punya hati, benar-benar hanya memikirkan keuntungan sendiri. Dia sama sekali tidak perduli pada istrinya yang terkena serangan jantung dan saat ini sedang di operasi di ruang sakit.
Tidak perduli pada anak pertamanya yang bahkan sangat menurut hingga menjadi simpanan seorang pria beristri selama delapan tahun.
Tidak perduli pada anak keduanya yang rela menjadi istri kedua demi tercapainya keinginannya menjadi seorang penguasa di wilayah suaminya itu.
Bahkan tidak perduli pada dua orang cucunya yang harus mengalami kesulitan padahal mereka tidak tahu apa-apa. Sungguh benar-benar manusia tidak punya hati.
***
Bersambung...
__ADS_1