Tega

Tega
Bab 116


__ADS_3

Sarah melangkah masuk perlahan ke dalam ruangan itu. Sarah juga senang Tristan sadar, setidaknya dengan sadarnya Tristan, Sarah bisa melihat wajah ceria dan bahagia dari tuan Arya Hutama.


Tuan Arya Hutama benar-benar terlihat bahagia. Dia berdiri dan terus merangkul bahu Tristan yang sudah bisa duduk, dan di tangannya juga sudah tidak ada lagi alat medis yang tertempel. Hanya selang infus saja yang masih terpasang di tangannya sebelah kiri.


"Tristan, ini Sarah... dia istrimu!" kata tuan Arya Hutama.


Mata Sarah tentu saja melebar mendengar apa yang tuan Arya Hutama katakan barusan. Itu seperti sebuah kalimat perkenalan. Seperti mengenalkan pada Tristan siapa itu Sarah. Sarah jadi bingung.


"Sarah!" panggil Tristan.


Mata Sarah lebih terbuka melebar lagi. Pasalnya, ini kali pertama Tristan memanggil Sarah dengan namanya dalam keadaan sadar. Biasanya Tristan akan memanggil dengan sebutan wanita freak, atau bahkan hanya hei... saja.


"Tidak ingin memeluk ku? kata ayah aku sudah koma beberapa hari. Tidak kah kamu merindukan suamimu?" tanya Tristan yang membuat Sarah nyaris tak percaya kalau kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya.


Tristan bahkan merentangkan satu tangannya pada Sarah. Sarah yang bingung pun langsung melihat ke arah tuan Arya Hutama. Dan ayah mertuanya itu langsung mengangguk.


Mendapatkan anggukan dari sang ayah mertua, Sarah pun mendekat ke arah Tristan. Belum sampai Sarah ke dekat Tristan sepenuhnya, Tristan sudah menarik Sarah dan memeluknya dengan erat.


Tristan bahkan memejamkan matanya saat memeluk Sarah. Seperti mendapatkan apa yang sudah lama dia inginkan. Tapi sebaliknya, Sarah masih dalam keadaan bingung dan tak percaya. Dia bahkan tak membalas sama sekali pelukan Tristan.


Dokter Alam yang juga berdiri di sana terlihat hanya bisa menghela nafasnya. Ternyata apa yang dikatakan Tristan memang benar, sepertinya istrinya sudah terlanjur tidak suka padanya. Dan Tristan melakukan semua ini untuk membuat istrinya dan dirinya hubungannya lebih baik lagi. Karena sudah jelas seperti ini, maka dokter Alam hanya bisa membiarkan Tristan.


"Baiklah tuan Arya Hutama, dan semuanya. Saya permisi dulu!"


Setelah berkata seperti itu dengan sopan, dokter Alam langsung meninggalkan ruangan itu bersama dengan dua orang perawat asistennya.


Sarah pun melepaskan diri dari Tristan, karena Tristan tak kunjung melepaskan pelukannya dari Sarah.


"Tristan.. sebaiknya berhenti berpura-pura. Dokter itu sudah pergi!" bisik Sarah karena Tristan tak kunjung mau merenggangkan pelukannya pada Sarah.


Mendengar hal itu Tristan pun melepaskan pelukannya dari Sarah, namun menatap Sarah dengan bingung.


"Berpura-pura apa?" tanya Tristan dengan suara lantang.


Sontak saja Sarah menjadi panik, karena di sana ada tuan Arya Hutama. Sarah tidak mau kalau pernikahan simbiosis mutualisme mereka sampai ketahuan oleh tuan Arya Hutama dan pasti hal itu akan lebih menyakiti hati ayah mertuanya itu.


"Tristan!" seru Sarah mencoba menghentikan tingkah konyol Tristan.


Tapi bukannya mengerti apa maksud Sarah, Tristan malah melihat ke arah sang ayah (sebenarnya Tristan mengerti, tapi dia kan lagi mode pura-pura amnesia. Yah, jadinya pura-pura juga tidak mengerti dong).


"Ayah? apa hubunganku dengan istriku sedang tidak baik? kenapa dia seperti ini padaku?" tanya Tristan pada sang ayah.


Tuan Arya Hutama hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya dia memang harus menjelaskannya pada Sarah.


"Sarah!" panggil tuan Arya Hutama.

__ADS_1


Sarah yang merasa dirinya terpanggil segera menoleh ke arah ayah mertuanya.


"Iya ayah!"


"Tristan sedang mengalami amnesia!" jelas tuan Arya Hutama.


Sarah langsung menoleh ke arah Tristan dan memperhatikan pria tampan tapi sangat arogan yang ada di hadapannya itu.


"Amnesia?" tanya Sarah.


"Iya nak, Tadi selepas kamu mengantar Kevin ke sekolah, lalu Rendra berangkat kerja. Ayah bicara banyak pada Tristan saat Tristan belum sadarkan diri. Tapi beberapa saat kemudian ayah yang memegang tangannya merasa kalau tangannya bergerak. Ayah cepat memanggil dokter. Dan ternyata saat ayah datang kemari bersama dokter, Tristan sudah membuka matanya!" ucap tuan Arya Hutama dengan semangat.


Dia sangat senang menceritakan bagaimana tadi Tristan sadar.


"Tapi sayangnya, saat ayah memanggil namanya Tristan malah bingung. Dokter bertanya padanya, dan setelah di periksa dokter bilang kalau Tristan hilang ingatan, dia mengalami amnesia Sarah!" jelas tuan Arya Hutama pada Sarah.


"Benarkah?" tanya Sarah, yang kali ini mencoba melihat kebenaran di mata Tristan.


"Tidak ingat ayah, aku dan kak Rendra?" tanya Sarah.


"Maafkan aku..!"


Tristan baru bicara seperti itu dengan suara pelan. Tapi Sarah langsung berkata lagi.


"Sarah!" sela tuan Arya Hutama.


Tristan yang memang sudah tidak punya perasaan apa-apa pada Shanum lantas berkata dengan tatapan datar ke arah Sarah.


"Shanum? siapa dia?" tanya Tristan cuek.


Sarah masih terus menatap mata Tristan itu, mencoba mencari tahu kebenarannya. Apakah benar-benar Tristan bicara jujur.


Tuan Arya Hutama yang merasa Sarah tidak percaya pada Tristan pun langsung berjalan menghampiri menantunya tersebut.


"Nak, ayah ingin bicara sebentar!" kata tuan Arya Hutama yang lantas di angguki oleh Sarah.


Mereka berdua, tuan Arya Hutama dan Sarah pun Keliat dari ruang rawat Tristan.


Di dekat pintu ruangan itu tuan Arya Hutama berhenti melangkah. Sarah pun mengikuti ayah mertuanya tersebut.


"Nak, bukankah ini baik. Tristan lupa pada wanita itu. Dan saat aku menceritakan dia sudah menikah dengan wanita yang sangat baik seperti mu. Wajahnya terlihat berbeda, dia sepertinya sangat kagum padamu. Ayah tahu ini memang sulit bagimu, Tristan sudah menyakitimu dan membuatmu kecewa, tapi demi orang tua yang malang ini.. bisakah kamu memberinya kesempatan sekali lagi nak?" tanya tuan Arya Hutama penuh harap pada Sarah.


Sarah terdiam, entah dia harus sedih atau senang. Tapi setelah berpikir untuk kebaikan semua orang. Sarah pun akhirnya mengangguk setuju.


Dan benar saja, hanya melihat anggukan Sarah itu. Tuan Arya Hutama terlihat begitu senang.

__ADS_1


Tuan Arya Hutama lantas memeluk menantunya itu dan merasa bersyukur dia memiliki menantu yang begitu baik. Yang meski sudah di tinggalkan oleh Tristan ke Paris untuk mengejar wanita lain, namun Sarah masih memaafkan dan memberi kesempatan kepada Tristan (padahal tuan Arya Hutama tidak tahu saja, kalau di antara Sarah dan Tristan memang ada kesepakatan).


Mendengar Tristan sudah sadar, Richard dan juga Rendra langsung kembali ke rumah sakit. Mereka kebetulan sampai di rumah sakit bersama. Jadi mereka ke ruangan rawat Tristan bersama.


Sarah dan tuan Arya Hutama juga baru akan kembali ke kamar rawat Tristan, saat Rendra memanggil keduanya.


"Ayah, Sarah!" panggil Rendra.


Rendra langsung bergegas menghampiri ayah dan adik iparnya. Begitu pula Richard dengan gaya lari khasnya.


"Bagaimana Tristan?" tanya Rendra.


"Sudah sangat membaik, ayo kita masuk!" ajak tuan Arya Hutama setelah menjawab pertanyaan Rendra.


Saat mereka masuk, Richard lah yang sangat excited melihat bosnya sudah duduk dan terlihat benar-benar sudah sembuh.


"Oh emji..... bos!" teriak Richard di ambang pintu.


Richard langsung berlari menghampiri Tristan. Tapi senyum di wajah Richard yang begitu senang melihat Tristan sudah sadar langsung bilang saat Tristan berkata.


"Ayah, Sarah... siapa makhluk aneh ini?" tanya Tristan membuat hati Richard tersayat-sayat.


Rendra yang mendengar hal itu jadi bingung sendiri.


"Ayah, Tristan kenapa? dia tidak mengenali Richard?" tanya Rendra sambil berbisik pada ayahnya.


Karena dari wajah Tristan, dia tidak terlihat seperti bercanda.


"Bos... ini aku Richard, Richard Meyer. Asisten pribadi bos. Bos kenapa sih? apa bos terkena anemia?" tanya Richard yang terlihat kecewa.


Sarah nyaris tak bisa menahan tawa ketika Richard dengan mulut manyunnya mengatakan anemia.


"Amnesia Richard!" ralat Sarah.


Wajah Richard langsung terkejut bukan main.


"Oh emji... !" seru Richard tak percaya. Dia bahkan terus memperhatikan bosnya itu dari atas sampai ke bawah.


"Benarkah ayah?" tanya Rendra.


"Iya, dokter bilang dia amnesia. Tapi Rendra, bukankah ini ada baiknya. Dia tidak akan ingat lagi, dan tidak akan mencari lagi perempuan bernama Shanum itu ke depannya!" kata tuan Arya Hutama yang di angguki oleh Rendra.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2