
Namun ketika Renata masih di buat tak percaya dengan apa yang dikatakan Hamdan padanya. Seorang gadis berseragam SMA datang ke meja mereka.
Tanpa ba bi bu, gadis muda itu langsung mendorong kursi yang sedang di duduki oleh Renata.
"Hei perawan tua, ngapain kamu gangguin papa aku?" tanya gadis itu yang ternyata adalah anak dari Hamdan yang bernama Rani.
Hamdan langsung berdiri dan menarik lengan Rani karena merasa apa yang anak sulungnya itu lakukan pada Renata tidak lah benar.
"Rani, kamu apa-apaan sih. Gak sopan. Cepat minta maaf!" kata Hamdan tegas.
Renata yang tadinya terkejut karena mendapatkan serangan tiba-tiba padahal dia masih sangat belum siap pun mencoba menetralkan emosinya.
'Wah, kurang ajar banget ini anak. Dia ngatain aku perawan tua. Wah, nyari ribut ini anak bau kencur!' kesal Renata dalam hatinya.
Renata lantas berdiri dan membersihkan salah satu lengan bajunya yang tadi terkena tangan Rani saat mendorongnya.
"Hello, permisi! siapa yang kamu panggil perawan tua anak kemarin sore?" tanya Renata dengan wajah ketus.
Rani yang emosinya sudah sampai level maksimal karena mendapatkan laporan dari sang ibu kalau ayahnya sedang di ganggu oleh perawan tua dan mengajaknya makan di resto yang mahal tempat dimana mereka dulu biasa makan bersama. Padahal Rani masih di sekolah saat ibunya Wulan mengadu. Rani meninggalkan sekolah alias bolos untuk memberi pelajaran pada wanita yang akan merebut kasih sayang dan harta papanya darinya.
"Kamu lah! kamu deketin papa cuma mau harta papa aja kan? dasar matre!" kata Rani dengan nada suara yang kian lama kian meninggi.
"Rani cukup!" bentak Hamdan.
"Hoh, jadi papa belain perawan tua ini. Papa marah dan bentak aku buat perawan tua ini!" kata Rani yang malah bertambah kesal lagi pada sang papa.
"Rani cukup, papa sudah bilang sama kamu kan. Kamu jangan percaya sama hasut4n mama kamu, dia itu...!"
"Apa pa? papa yang buta sama perawan tua ini. Dia pasti minta ini dan itu kan pa? papa di bodohi sama dia. Setelah dapatkan semuanya dia akan menyingkirkan papa, aku dan adik-adik. Sadar dong pa!" kata Rani sambil menangis.
Renata yang melihat pertengkaran ayah dan anak itu malah jadi semakin tidak senang berada di tempat itu. Tapi Renata sangat mengerti ketakutan yang di alami Rani. Mungkin benar kata Hamdan, anak sulu g Hamdan ini sudah di h4sut oleh ibunya untuk membenci setiap wanita yang mendekati ayahnya. Renata mengenal nafasnya panjang.
__ADS_1
Dia berpikir kalau dia pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti Rani kalau ada di posisi Rani.
"Pak Hamdan, sebaiknya pak Hamdan antar anak bapak dulu kembali ke sekolahnya. Roknya sobek sedikit itu, dia pasti lompat pagar. Adikku Arumi dulu juga sering pulang dengan rok seperti itu, dan itu artinya dia habis membolos. Urusan kita, kita bicarakan nanti saja! aku permisi!" kata Renata mencoba untuk pergi dan memberikan ruang pada ayah dan anak itu untuk bicara.
"Heh, gak usah sok baik, sok bijak kamu pel4kor!" kata Rani yang lantas membuat langkah Renata berhenti.
"Rani kamu jangan kurang ajar ya, minta maaf pada Renata!" bentak Hamdan lagi.
Tapi Renata langsung berbalik dan memandang Rani dengan tatapan kasihan.
"Kamu tahu arti pel4kor? perebut laki orang! dan papa kamu, dia bukan suami siapa-siapa. Jadi aku bukan pelakor, aku adalah wanita yang sedang di kejar oleh papa kamu. Jadi jaga mulut kamu, benar apa kata papa kamu, meskipun wanita itu ibumu, tapi kamu bukan lagi anak kecil yang tidak tahu mana yang salah dan benar kan?" tanya Renata yang lantas meninggalkan tempat itu dengan cepat.
"Rani, kamu dengar kan kata Renata? dia bukan pel4kor. Papa yang mengejar dia, dia wanita yang baik Rani, dia bahkan menasehati kamu...!"
"Aku benci papa!" teriak Rani sambil menangis dan meninggalkan Hamdan.
Sementara itu Renata masih berjalan menuju kafe yang tak jauh dari resto itu. Kebetulan dia melihat Arumi dan Rendra sedang makan siang di sana.
"Ya ampun, gara-gara calon anak tiri yang belum tentu jadi itu aku malah jadi kelaparan gak jadi makan siang. Ikut Arumi aja deh, lumayan kan dapat traktiran!" gumam Renata mendekati meja Arumi dan Rendra.
Rani langsung menjambak rambut Renata dan menariknya ke arah belakang.
"Aduh!" pekik Renata merasa kesakitan.
Pekikan Renata sontak saja membuat Arumi dan Rendra yang berada tidak jauh dari mereka langsung menoleh. Melihat kakaknya rambutnya di jambak, Arumi lantas berdiri dan bergegas membantu Renata.
Arumi menginjak keras kaki Rani, membuat Rani kesakitan dan melepaskan tarikannya pada rambut Renata.
"Aduh, rambut aku. Ya ampun, rasanya mau tercabut semua!" keluh Renata yang langsung di tarik oleh Arumi.
"Kakak gak papa?" tanya Arumi.
__ADS_1
"Ya ampun Arumi, aku mau pingsan rasanya. Mana sofa nih, aduh kepalaku pusing!" kata Renata.
"Lebai!" kata Arumi.
Renata lantas merapikan rambutnya sambil mencebikkan bibirnya.
"Siapa kamu, gak usah ikut campur ya. Urusan aku sama perawan tua itu!" pekik Rani belum puas.
Mata Arumi langsung melotot ke arah Rani. Kedua tangannya juga dia letakkan di pinggangnya.
"Heh bocil, anak bawang. Yang kamu panggil perawan tua itu kakak kandungku. Urusan dia, urusan aku juga. Sini lawan aku, dia itu dulu kursusnya balet, kalau aku taekwondo. Kalau mau berantem sini lawan aku!" tantang Arumi yang sudah pasang kuda-kuda di depan Rani.
"Arumi sayang, dia cuma anak kecil. Dia anaknya pak Hamdan!" kata Rendra yang mengenal Rani.
"Hah kamu anaknya Hamdan, wah parah sih! masak kamu jambak rambut calon mama tiri kamu sendiri!" kata Arumi yang sudah mendengar cerita tentang Renata dan Arumi dari Arista.
"Siapa yang mau jadi mama tiri dia, sorry!" kata Renata.
"Siapa juga yang mau punya mama tiri. Aku gak akan biarin papa aku nikah sama perawan tua perebut harta kayak dia!" kata Rani yang masih ingin menyerang Renata.
Tapi langsung di hadang oleh Rendra dan Arumi.
"Heh, berani kamu sentuh kakak aku. Aku suruh suami aku pecat papa kamu dari perusahaan ya!" kata Arumi menggertak Rani.
Rani lantas melihat ke arah Rendra. Dia ingat kalau pria itu memang pemilik perusahaan di mana papanya bekerja. Rani tak banyak bicara lagi, dia menghentakkan kakinya ke lantai lalu meninggalkan tempat itu karena tak ingin papanya di pecat dan dia juga akan hidup susah nanti.
"Belum juga nikah kak, sudah di jambak kamu sama anak tiri kamu...!"
"Kalau sudah nikah, aku yang jambak mereka!" sela Renata kesal.
"Serius mau sama duda anak tiga ha ha ha!" sindir Arumi yang langsung membuat Renata cemberut.
__ADS_1
***
Bersambung...