
Sementara Sarah dan Widya tengah membuat sarapan di dapur. Tiba-tiba saja ada yang membunyikan bel apartemen Tristan.
Tika yang saat itu sedang membersihkan rak di dekat pintu lantas membuka pintu apartemen Tristan tersebut.
Ceklek
"Tuan Brian!" sapa Tika sopan.
Sebenarnya Tika juga mengagumi ketampanan Brian Kim. Ya, meskipun itu hasil oplas alias operasi plastik. Tapi tak dapat di pungkiri kalau tangan dokter dari Korea itu memang ajaib. Wajah itu benar-benar sangat tampan. Mirip dengan anime, ya meski tidak akan bisa mengalahkan ketampanan pria ganteng bersertifikat asal Daegu. Tapi untuk kalangan wajah Asia, Brian Kim memang sangat tampan.
Brian Kim rasanya ingin mengacuhkan sapaan pelayan Sarah itu. Tapi dia Haris menjaga imagenya agar tetap baik. Dia punya rencana sendiri, Brian Kim akan menghancurkan hubungan Sarah dan Tristan dari dalam. Dari orang-orang yang terdekatnya. Yah, meskipun itu hanya sebuah rencana. Tapi dia sudah memikirkan semua itu dengan baik.
Dia juga sudah berhasil mendekati Tuan Arya Hutama. Dan sangat dekat dengan keluarga ini. Tidak akan ada yang mencurigainya nanti. Sebisa mungkin dia juga bersikap sangat baik. Jadi benar-benar tidak akan ada yang mencurigainya kalaupun sebenarnya dia punya niat jahat pada keluarga Hutama, untuk mendapatkan Sarah kembali.
"Selamat pagi? sudah pada sarapan belum? kebetulan aku mendapatkan kiriman dari banyak endorse. Aku hanya sendirian di apartemen. Ku pikir akan mengajak kalian sarapan bersama?" tanya Brian Kim yang terkesan begitu baik.
Hingga pada Tika yang notabene nya hanya seorang asisten rumah tangga saja, Brian Kim sampai bicara begitu sopan dan sangat menjelaskan seperti itu.
"Tu.. tuan. Silahkan masuk, saya akan tanya dulu pada nyonya besar dan nyonya Sarah!" kata Tika yang mempersilahkan Brian Kim untuk masuk dulu.
Setelah mempersilahkan Brian Kim masuk, Tika lantas bergegas menuju dapur, masih dengan kemoceng bulu ayam di tangannya.
"Maaf nyonya Sarah, nyonya besar. Itu tuan Brian Kim datang membawakan sarapan pagi untuk kita semua katanya" jelas Tika pada Sarah dan Widya.
Sarah dan Widya lantas saling pandang. Mereka pikir agak aneh rasanya tetangga baru yang baru mereka kenal sudah membawakan sarapan untuk mereka.
"Bagaimana Sarah?" tanya Widya.
"Tika, kamu sudah mempersilahkannya masuk ke dalam?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Sudah nyonya!" jawab Tika sambil nyengir.
Sarah langsung tersenyum pada ibunya.
"Tika sudah mempersilahkannya masuk Bu, tidak enak kan kalau di tolak!" kata Sarah.
Widya lalu mengangguk setuju. Sarah dan Widya lantas mencuci tangan mereka dan menemui Brian Kim yang masih berdiri di depan pintu.
"Loh, kok berdiri saja. Duduk nak Brian!" kata Widya yang mempersilahkan Brian duduk.
"Terimakasih Tante, maaf saya mengganggu pagi-pagi begini. Begini Tante, saya kan tadi pagi dapat endorse sarapan banyak banget ini, ada bubur ayam, bubur kacang hijau, cakwe dan pancake. Saya tidak mungkin menghabiskan semuanya, sementara hari ini saya libur. Tim saya cuti semua. Saya pikir akan sayang jika semua makanan ini tidak di makan. Jadi... saya membawanya kesini. Sekalian ucapan terima kasih saya karena kemarin saya sudah di perbolehkan makan malam di sini!" kata Brian Kim dengan penjelasan panjang lebarnya.
"Wah, kebetulan sekali ya. Kami juga sedang menyiapkan sarapan. Tapi belum metang semua sih, kalau begitu kita sarapan bersama saja ya!" kata Widya yang langsung di angguki oleh Brian Kim.
Sarah hanya diam, dia kemudian menuju ke kamarnya untuk memanggil Tristan untuk mengajaknya sarapan bersama.
Sementara sambil menuju ke ruang makan dan membawa banyak makanan di tangannya. Brian Kim melirik ke arah Sarah.
"Wah, banyak sekali. Sampai bingung ini mau makan apa!" kata Widya.
"Nyonya besar, kan nyonya Sarah suka sekali bubur ayam dan cakwe, kemarin saja dia makan itu sampai dua hari berturut-turut minta di carikan oleh tuan Tristan!" kata Tika.
Brian Kim alias Jerry Alando lantas menoleh ke arah Tika.
'Pelayan ini sepertinya sedang membantuku secara tidak langsung. Bagus!' batin Jerry Alando alias Brian Kim senang karena secara tidak langsung Tika sudah mewakili apa yang ingin dia sampaikan.
Bahwasanya dia memang menyiapkan bubur ayam dengan cakwe itu untuk Sarah. Karena di dalam kuah bubur ayam, dan bumbu cakwe sudah di masukkan obat yang akan membuat janin dalam kandungan Sarah bermasalah. Paling buruknya Sarah akan kegugur4n jika makan makanan yang di beri obat olah Brian Kim itu.
"Kamu benar, nak Brian. Kamu sendiri mau sarapan apa? bubur ayamnya boleh buat Sarah kan?" tanya Widya.
__ADS_1
Brian Kim langsung mengangguk.
"Tentu saja Tante, boleh. Aku akan makan pancake dan cakwenya saja!" kata Brian Kim.
"Tika, tolong siapkan makanan dan minuman untuk nak Brian!" kata Widya pada Tika.
Tika langsung mengambilkan piring dan sendok, juga garpu untuk Brian. Karena sebelumnya memang hanya di siapkan untuk Widya, Sarah dan Tristan saja.
Sementara itu Sarah sudah masuk ke dalam kamarnya, dan melihat suaminya sedang memakai dasi di depan cermin. Sarah lantas mendekati Tristan dan berdiri di depan Tristan. Sarah lantas membantu suaminya itu untuk merapikan dasi yang sedang di pakai oleh Tristan.
Tristan yang senang melihat apa yang di lakukan Sarah lantas memeluk pinggang istrinya itu dengan kedua tangannya.
"Aku senang kamu perhatian sekali padaku, bagaimana kalau nanti setelah ibu dan Tika pulang ke batu. Kita cari asisten rumah tangga, biar mereka yang menyiapkan sarapan dan segalanya. Sementara kamu terus berada di dekatku seperti ini?" tanya Tristan sambil sesekali mencuri ciuman di kening dan pipi Sarah.
"Tentu saja mas, karena setelah aku melahirkan aku akan mengurus anak kita!" kata Sarah menggoda Tristan.
Tristan yang gemas pada Sarah lantas memeluk istrinya itu dengan erat.
"Kalau begitu di tambah dengan satu orang pengasuh bayi. Aku tidak akan cemburu pada anak kita, tapi kalau sudah jatahku. Dia pun tak boleh mengganggunya!" kata Tristan menciumi leher Sarah.
"Mas, sudah mau berangkat kerja, jangan begini!" kata Sarah yang merasa nafas suaminya mulai kembali memburu.
"Baiklah, tapi nanti pulang kerja dobel ya!" kata Tristan membuat Sarah terkekeh.
"Sarapan apa kita hari ini?" tanya Tristan.
"Banyak sekali, itu tetangga baru kita. Dia bilang dia dapat endorse sarapan pagi banyak sekali, dan malah di bawa ke apartemen kita semua. Katanya sayang kalau tidak ada yang makan!" jelas Sarah.
"Si muka plastik itu, heh... kenapa dia sok baik begitu. Jangan-jangan ada udang di balik batu!" kata Tristan yang memang sejak awal bertemu dengan Brian Kim sudah tak senang pada pria itu.
__ADS_1
***
Bersambung...