Tega

Tega
Bab 95


__ADS_3

Dan saat ini Sarah sudah berada dalam satu mobil dengan Tristan. Tristan mengemudikan mobil itu dengan tenang dan pelan. Sesekali dia.mencuri pandang ke arah Sarah, namun Sarah sama sekali tidak berniat menoleh ke arah Tristan.


'Aku yakin ada yang tidak beres dengan manusia batu ini. Apa mungkin dia sedang ingin bernegosiasi denganku, apa mungkin kekasihnya itu akan pulang. Dan dia ingin aku tidak mengadu pada ayah?' Sarah pun bertanya-tanya dalam hatinya.


Sarah terlalu sibuk menduga-duga, memikirkan perubahan sikap Tristan padanya. Tapi entah kenapa, dari sekian banyak hal yang di duga oleh Sarah tersebut. Tak ada satu hal pun yang baik, semuanya negatif thinking.


'Ah, sudahlah. Apapun tentang dia tidak pernah baik bagiku. Ya sudahlah!'


Akhirnya Sarah menyerah sendiri dengan pemikirannya. Dan kembali fokus melihat ke arah jendela kaca mobil. Melihat pemandangan di luar sana.


Tapi Sarah langsung menarik punggungnya dari sandaran kursi ketika dia menyadari kalau arah ke panti asuhan sudah terlewat. Sarah menoleh ke arah Tristan. Tapi dia masih ingat kalau di antara mereka tak boleh ada percakapan ketika mereka berdua.


Akhirnya Sarah hanya mendengus kesal dan kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


'Katanya mau ke panti asuhan. Tapi ini bukan jalan ke sana. Aneh!' batin Sarah.


Sementara Tristan yang sebenarnya ingin memancing suara dari Sarah juga mulai kehabisan kesabarannya.


Mau bicara duluan Tristan merasa gengsi. Bagaimana pun dia yang membuat peraturan itu, jika berdua saja maka jangan bicara. Kalau dia yang melanggarnya itu akan sangat membuat harga dirinya terluka.


'Seharusnya dia bertanya kan? ini kan bukan jalan ke panti? kenapa dia masih diam saja?' batin Tristan.


Hingga pada akhirnya Tristan melalui sebuah jalan, dimana ada sebuah toko roti langganan ayahnya sejak dulu.


Tristan pun berpikir untuk membeli beberapa kue untuk adik-adik panti asuhan bunda Tiara.


Setelah Tristan memarkirkan mobilnya di depan toko roti tersebut. Sarah baru mengerti.


'Oh, rupanya dia ingin beli roti!' batin Sarah.


Sarah pun mengikuti langkah Tristan yang memang sudah keluar lebih dulu dari mobil. Sarah mengikuti Tristan, karena dia pikir dia juga mau belikan beberapa kue untuk bunda Tiara dan adik-adik panti nya.


"Selamat datang di Rizka Bakery." seru seorang pelayan yang berpenampilan menarik begitu pintu kaca toko kue dan roti itu itu terbuka secara otomatis.


(Pada masih inget gak, toko kue ini tuh toko kue yang sama dengan toko kue dimana Moetia dan Bagas bertemu untuk ketiga kalinya dalam satu hari di novel Dilema).


Sarah pun menoleh ke arah pelayan tersebut lalu tersenyum padanya. Sedangkan Tristan hanya diam saja dan langsung berjalan melewati pelayan itu menuju ke etalase.

__ADS_1


"Apa kue yang di sukai anak-anak panti?" tanya Tristan setelah sampai di depan sebuah etalase freezer besar di depannya.


Sarah kembali di buat tertegun. Semakin lama dia semakin bingung dengan Tristan. Kadang Tristan begitu baik dan seperti dekat dengannya. Tapi terkadang malah seperti orang asing yang tak perduli.


"Hei, anak-anak panti suka kue apa?" tanya Tristan lagi yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Sarah.


Sarah lantas tersadar dari lamunannya.


"Oh, apapun mereka suka. Coklat, keju, kacang semua mereka suka!" jawab Sarah.


"Ambilah semua yang di sukai anak-anak panti, juga yang kamu suka!" kata Tristan dengan cool-nya lalu meninggalkan Sarah menuju ke lemari etalase lain.


Tak pelak, Sarah pun mengernyitkan keningnya.


'Dia mau traktir aku juga? ini semakin mencurigakan!' batin Sarah.


Tapi kemudian Sarah mengambil beberapa roti dan satu buah kue lapis Surabaya dengan ukuran lumayan besar. Sarah minta pada pelayan toko untuk memotong kue tersebut lalu membungkus semuanya. Tristan juga datang dengan sebuah kotak yang isinya bolu gulung.


Setelah membayar Tristan dan Sarah pun kembali ke mobil. Sarah nyaris saja membuka mulutnya ingin mengucapkan terimakasih pada Tristan. Tapi kebetulan dia ingat, kalau mereka tidak boleh bicara saat hanya berdua. Akhirnya Sarah pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk tenang di dalam mobil.


Tak lama berselang mobil yang di kemudikan oleh Tristan dia parkir tepat di depan rumah sewa panti sementara. Karena rumah panti belum sepenuhnya selesai, bahkan masih 40 persen tahap pembangunan.


Sarah membawa kue-kue yang di beli oleh Tristan masuk ke dalam panti.


"Sarah!" sapa bibi yang baru akan keluar membuang sampah.


"Bibi, bunda mana?" tanya Sarah.


"Sedang keluar bersama adik Hani, sepertinya membeli sereal!" kata bibi itu.


"Silahkan masuk tuan Tristan!" kata bibi itu sopan.


Tristan pun hanya menganggukkan kepalanya seadanya untuk menanggapi bibi yang sudah bersikap sopan itu padanya. Lalu dia duduk di sofa.


"Tristan, aku akan ke dalam meletakkan ini. Mau minum apa?" tanya Sarah.


Karena di sana masih ada bibi, Sarah berani bertanya pada Tristan.

__ADS_1


"Apa saja!" jawab Tristan singkat, padat tapi tidak jelas bukan.


Sarah pun mengangguk dan pergi ke belakang. Setelah meletakkan kue, Sarah membuatkan minuman untuk Tristan.


Saat Sarah ke depan, dia sudah melihat bunda Tiara sudah berbincang dengan Tristan.


"Bunda senang kalian datang!"


"Bunda!" panggil Sarah.


Bunda Tiara langsung menoleh,


"Sarah!"


Sarah meletakkan cangkir teh di atas meja di depan Tristan.


"Ini minuman mu!" kata Sarah.


Sarah langsung beralih pada balita umur dua tahun yang ada di pangkuan bunda Tiara.


"Hani, sayang... apa kabarmu! kakak rindu sekali padamu!" ucap Sarah yang langsung mengambil Hani dan menggendongnya di pangkuannya.


Tristan pun meraih cangkir tehnya dan meminumnya.


Bunda Tiara senang melihat Sarah yang memang sangat piawai mengurus anak-anak. Semua balita hampir tidak pernah menangis saat bersama Sarah.


"Sarah, kamu sudah pantas loh. Jadi kapan kalian akan punya anak...?"


"Uhukk... uhukk!"


Tristan sampai tersedak ketika dia minum teh begitu mendengar bunda Tiara membicarakan masalah anak.


Sarah juga langsung terdiam.


'Jangankan punya anak bunda, pernikahan ini juga cuma sebatas komitmen saling menguntungkan saja!' batin Sarah yang sebenarnya sedih harus menutupi hal yang sebenarnya dari bunda Tiara.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2