
Merasa kesal karena Sarah sudah menendangnya hingga terjatuh dari tempat tidur. Rasa kantuk Tristan seketika lenyap, hilang entah kemana.
Sekarang yang Tristan ingin lakukan adalah membalas perbuatan Sarah itu padanya. Bagaimana bisa seorang Tristan Maulana Hutama di tendang dari tempat tidurnya sendiri sampai terjungkal ke lantai. Bagaimana dia menghadapi dunia jika ada orang lain mengetahui hal itu.
Lutut dan pinggang pria tampan yang arogan itu bahkan masih terasa panas dan nyeri.
Tristan yang sudah berdiri sepenuhnya lantas meraih bantalnya dan melemparkannya ke arah Sarah.
"Perempuan ini, biasanya dia tidur seperti orang mati. Kenapa sekarang seperti ini?" keluh Tristan terus bertanya-tanya.
Dia kali dia memergoki Sarah tertidur, tidurnya sangat tenang seperti orang mati. Tapi kali ini Sarah benar-benar membuat tensi darah Tristan naik.
Setelah di lempar bantal, Sarah tak kunjung bangun juga. Tristan pun berjalan ke memutar tempat tidur dari arah bawah, menuju ke sisi sebelah kanan tempat tidur.
Tristan kemudian menggoyang-goyangkan lengan Sarah.
"Wanita freak bangun... hei... bangun!" seru Tristan dengan suara yang semakin lama nadanya semakin meninggi.
Sarah yang awalnya sedang bicara dengan Arumi di alam mimpi. Mendadak dia mendengar suara Arumi itu berubah menjadi suara seorang pria yang sangat familiar terdengar di telinganya.
Sarah terkejut dan langsung membuka matanya.
"Arumi kamu jadi pria?" tanya Sarah yang masih belum mengumpulkan semua nyawanya meski dia terbangun dengan terkejut.
"Arumi... Arumi... buka matamu, lihat siapa aku dengan benar!" marah Tristan lagi.
Kali ini wajah tampan Tristan itu tampak sangat serius. Sarah pun bangkit lalu memposisikan dirinya duduk lalu mengucek matanya beberapa kali agar dia lekas terlepas dari rasa kantuknya.
"Tristan, kenapa?" tanya Sarah yang memang tidak menyadari apa yang sudah dilakukannya pada Tristan hingga membuat wajah Tristan sangat garang seperti mau makan orang.
"Masih tanya kenapa lagi? kamu menendang ku hingga aku jatuh dari tempat tidur!" jelas Tristan dengan kesal.
Mendengar jawaban Tristan itu, Sarah sangat terkejut. Sarah yang begitu terkejut lantas menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Matanya juga melebar, membelalak sempurna karena apa yang dia takutkan ternyata terjadi juga.
Dia mengigau, seingatnya dia tadi bermimpi sedang bertemu dengan Arumi dan di ajarkan seni bela diri taekwondo. Dia tidak tahu kalau itu ternyata mimpi, dan dia pun mengigau. Dan akhirnya dia menendang Tristan sampai terjungkal ke lantai.
__ADS_1
"Untuk apa pasang wajah terkejut begitu, kamu sengaja kan?" tanya Tristan yang menduga kalau apa yang dilakukan oleh Sarah itu merupakan sebuah kesengajaan.
Ketika Tristan mengatakan kalau Sarah pasti sengaja melakukan semua itu. Sarah langsung melambaikan kedua tangannya dengan cepat di depan Tristan.
"Tidak... tidak!"
"Aku sungguh tidak sengaja Tristan. Aku kan sudah bilang padamu. Aku punya kebiasaan buruk saat tidur. Aku suka mengigau, tapi tak hanya menggerutu atau bergumam, kadang aku suka bergerak sesuai apa yang aku lakukan dalam mimpiku. Itu kata bunda Tiara!" jelas Sarah panjang lebar.
"Aku juga kan tadi sudah bilang padamu, siang tadi!" tambah Sarah mengingatkan Tristan lagi tentang apa yang dia katakan tadi siang.
Tapi Tristan yang memang pernah melihat dua kali Sarah tertidur tapi seperti orang mati pun tak lantas percaya begitu saja.
"Di apartemen kamu tidur di sofa, tidak banyak tingkah seperti ini?" tanya Tristan membantah dengan jelas pernyataan Sarah.
Sarah langsung menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Itu karena aku tidak bermimpi!" jawab Sarah pelan.
Dia bicara pelan, karena tak ingin memancing kemarahan Tristan lebih jauh lagi.
"Tidak, aku jujur!" bantah Sarah.
"Bohong, aku tidak percaya!" seru Tristan lagi.
"Sungguh!"
"Aku tidak percaya! kamu pasti sengaja kan?" kata Tristan lagi dengan tatapan mata yang jelas sangat kesal pada Sarah.
'Ih, ini kok malah kayak di drama-drama sinetron yang suka zoom in, zoom out di televisi sih?' batin Sarah yang bingung sendiri dengan perdebatannya dengan Tristan.
Tapi kemudian Sarah kembali menghela nafasnya dan bicara dengan baik pada Tristan.
"Aku berani bersumpah, aku tidak sengaja. Aku tadi siang sudah bilang padamu, aku punya kebiasaan buruk mengigau saat tidur, tapi itu kalau aku bermimpi sesuatu. Kalau tidak, aku akan sangat tenang saat tidur. Kalau kamu tidak percaya, setelah kita kembali dari sini, kamu bisa tanyakan langsung pada bunda Tiara!" terang Sarah panjang lebar.
Wajah Tristan mulai terlihat berbeda, tidak seserius tadi sebelumnya.
__ADS_1
"Wanita macam apa sih kamu ini?" tanya Tristan yang akhirnya mengakhiri perdebatannya dengan Sarah dan memilih duduk di tepi ranjang.
Sarah mengira Tristan sangat lelah.
"Aku minta maaf ya, aku tidak sengaja. Nanti kalau para kru kapal datang membawakan keperluan dapur, aku akan minta di bawakan tikar atau kasur lipat. Agar aku bisa tidur di bawah saja...!"
"Bagaimana supaya kamu tidak bermimpi?" tanya Tristan menyela Sarah.
Sarah tentu saja terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Tristan itu.
"Tidak tahu, tapi kalau aku biasanya bermimpi jika aku sedang kesal...!" jelas Sarah.
Tristan yang awalnya sudah damai kelihatannya, begitu mendengar jawaban Sarah Tristan malah langsung berdiri lagi dan berkacak pinggang di depan Sarah.
"Jadi maksudmu kamu sedang kesal hari ini? kamu kesal padaku?" tanya Tristan yang sepertinya tensinya kembali naik.
Sarah pun menghembuskan nafas yang lumayan kasar ke arah lain. Lalu kembali melihat ke arah Tristan.
"Hei tuan Tristan Maulana Hutama, bisa tidak kalau orang bicara itu dengarkan dulu sampai selesai. Aku belum selesai... Bukan hanya saat aku kesal, kadang kalau aku terlalu sedih aku juga bermimpi. Ya, kalau aku sedang emosional lah int1nya!" ralat Sarah menjelaskan.
Tristan yang tadinya sudah berkacak pinggang kembali duduk di tepi ranjang. Namun agak jauh dari Sarah.
"Oh, ya kamu tadi siang kemana? aku mencari mu untuk makan siang kamu tidak ada di sekitar bungalow?" tanya Sarah yang melihat Tristan sudah mulai tenang. Terlihat dari wajahnya yang kembali terlihat sedih.
"Apa perduli mu mencari ku?" tanya Tristan dengan wajah arogannya.
Sarah yang awalnya bersimpati pada Tristan yang terlihat sedih pun kembali mendengus kesal.
Tanpa bicara dia langsung menarik selimut, dan membungkus dirinya sampai ke lehernya dengan posisi membelakangi Tristan.
'Oh ya Tuhan, kalau tadi aku sempat simpati padanya itu pasti adalah kehaluan ku yang paling tidak masuk akal, orang ini benar-benar batu!' kesal Sarah dalam hatinya.
***
Bersambung...
__ADS_1