
Bunda Tiara memandang foto yang di berikan oleh seorang wanita paruh baya yang tanpa masuk dulu ke panti atau basa-basi lainnya langsung memberikan foto itu padanya setelah bertanya apakah dia bunda Tiara atau bukan.
Namun setelah melihat foto gadis kecil yang kira-kira berusia 2 tahun itu. Air mata bunda Tiara tak bisa di hentikan untuk mengalir.
"Sarah!" lirih bunda Tiara.
Itu adalah foto Sarah, bunda Tiara lantas menoleh ke arah nyonya dan tuan yang datang dengan dua buah mobil mewah itu.
Mendengar bunda Tiara menyebutkan nama Sarah, Widya langsung ikut menangis.
"Bun.. apakah dia masih hidup, apa Tari... maksudku Sarah ada di panti asuhan ini?" tanya Widya cepat.
Namun suaranya bergetar, karena air mata yang juga mengalir dari matanya.
Damar langsung merangkul istrinya itu dengan lembut. Sambil mengusap lengan Widya.
Ketika bunda Tiara menganggukkan kepalanya, mata Widya dan Damar sama-sama bersinar.
"Sarah masih hidup!" jawab bunda Tiara.
Widya langsung memeluk suaminya, air matanya tumpah.
"Anak kita yah, anak kita masih hidup. Tari masih hidup, dia di sini yah!" kata Widya yang begitu bahagia mendengar apa yang baru saja di katakan bunda Tiara.
"Tapi dia tidak di sini!" kata bunda Tiara membuat Widya menarik diri dari pelukan suaminya.
"Tidak di sini? lalu dia dimana Bun?" tanya Widya tak sabar.
"Sarah sudah menikah, dia tunggal bersama suaminya!" kata bunda Tiara menjelaskan.
Keduanya mengangguk paham, seusia anaknya itu memang pasti sudah menikah. Ada rasa sedih kembali timbul di hati Widya dan Damar. Dimana mereka bahkan tidak berada di samping Tari saat dia menikah. Sedangkan mereka berdua menikahkan Inka dengan begitu istimewa, begitu mewah. Percaya pernikahan Inka dan Jerry Alando saat itu bahkan di selenggarakan tiga hari tiga malam.
Air mata Widya kembali mengalir. Rasanya dia sangat merasa bersalah, menyesal. Yah... semua itu tak dapat dia singkirkan dari dalam hatinya, begitu pula Damar Adhikara.
__ADS_1
"Tuan, nyonya masuklah dulu. Aku akan hubungi Sarah, dia pasti akan datang!"
Mendengar apa yang dikatakan bunda Tiara membuat mata Widya dan Damar kembali berbinar.
Widya dan Damar masuk ke dalam rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara.
Setelah itu bunda Tiara langsung menghubungi Sarah di depan Widya dan Damar.
Bunda Tiara sengaja menyalakan loud speaker ponselnya agar Damar Adhikara dan Widya bisa mendengar suara Sarah.
"Halo bunda!" kata Sarah.
Mendengar suara Sarah, air mata Widya yang sudah di seka oleh Damar Adhikara sebelumnya kembali mengalir.
'Anakku!' lirih Widya dalam hatinya.
"Sarah, apa kamu sibuk sekarang nak?" tanya bunda Tiara.
"Tidak bunda, aku tidak pergi ke kantor hari ini. Tristan bilang aku lebih baik ke rumah ayah Arya saja menemani Arumi. Tapi aku belum berangkat, aku sedang bersiap. Ada apa bunda? apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Sarah setelah menjelaskan panjang lebar ke bunda Tiara.
"Tentu saja Bunda, aku akan datang sekarang!"
"Terimakasih nak, bawa juga kalung yang bunda berikan padamu itu, kalung yang kamu pegang saat bunda menemukan mu ya!
"Bunda kenapa berterimakasih, apapun akan kulakukan untuk bunda dan adik-adik, baiklah aku akan datang dan bawa kalungnya!" kata Sarah.
Bunda Tiara lalu tersenyum dan memutuskan panggilan telepon dengan Sarah.
Wilda dan Damar menatap bunda Tiara penuh rasa terimakasih. Anaknya sepertinya tumbuh jadi anak yang begitu berbudi pekerti.
"Itu tadi Sarah, saya menemukannya tengah malam di depan pintu panti asuhan yang ada di depan itu, yang sedang di bangun itu. Dia sedang menangis sendirian, tapi dia tidak bergerak kemanapun. Dia bilang dia di suruh diam dan jangan bergerak kemanapun!" jelas bunda Tiara yang membuat air mata Widya kembali dengan mengalir.
Itu pasti ulah Mulya, sejak kecil Mulya memang tegas pada Tari. Tari juga selalu menuruti apapun perintah Mulya. Widya yakin kalau semasa kecil Mulya pasti juga sangat kasar pada Tari.
__ADS_1
"Saat kami tanya, namanya saja dia lupa. Mungkin karena terlalu trauma. Dia bahkan selalu termenung selama satu bulan, setelah itu baru dia mau bicara pada kami!" kata bunda Tiara menjelaskan apa yang terjadi pada Sarah kala itu.
Mendengar cerita bunda Tiara, Widya semakin erat memeluk suaminya, dia tidak bisa bayangkan ketakutan dan rasa sedih yang di rasakan Sarah kala itu.
"Tapi Sarah tumbuh dengan baik, dia menjadi anak yang sangat baik. Saat ada yang ingin mengadopsinya, dia menolak karena dia bilang tidak ingin hidup senang sendirian, dia ingin bersama adik-adiknya di sini. Sarah sangat penyayang, dia sangat jujur, kami sangat menyayangi!" kata bunda Tiara dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau boleh tahu tuan dan nyonya ini benar-benar orang tua Sarah?" tanya bunda Tiara.
Damar langsung mengangguk.
"Benar Bu, saya Damar Adhikara dan ini istri saya Widya. Kami dari kota batu, kami tinggal di sana. 26 tahun yang lalu, saat istri saya melahirkan di rumah sakit, bayi kami di tukar oleh pelayan kami dengan bayinya. Saat itu istri saya pendarahan, kami sama sekali belum melihat wajah bayi kami. Hingga 24 tahun yang lalu, kami kemari. Ke kota ini, tapi saat itu pelayan kami kehilangan anaknya, yang ternyata anak kandung kami Tari. Dia bilang anaknya di culik. Kami mencari selama satu bulan, namun kami harus kembali ke kota batu karena pekerjaan, dan pelayan kami bilang dia iklhas, kalau jodoh pasti bertemu. Ternyata itu memang bukan anaknya, tapi anak kami. Makanya dia bilang begitu. Beberapa hari yang lalu, anak pelayan kami yang di tukar menjadi anak kami keguguran, saat itulah kami baru mengetahui kalau dia bukan anak kandung kami. Pelayan kami sudah di penjara, tapi dia tidak mau mengatakan dimana dia membuang anak kami. Kami bersyukur kami bisa menemukan Tari di sini!" jelas Damar Adhikara sangat panjang lebar.
Bunda Tiara terdiam.
'Sarah, ternyata seperti itu ceritanya. Kamu bukan di lupakan oleh kedua orang tuamu nak. Hanya saja seseorang telah sangat tidak adil padamu!' batin bunda Tiara.
Beberapa saat kemudian, mobil Sarah berhenti di depan rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara.
"Assalamualaikum bunda!" kata Sarah yang lantas berjalan masuk ke dalam.
Widya dan Damar langsung berdiri dengan mata penuh air mata. Gadis kecil mereka kini tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik dan anggun, melihat senyum Sarah. Damar langsung tahu kalau itu anaknya, senyuman itu sama persis dengan senyuman Widya.
Melihat ada tamu, Sarah pun mengangguk dan tersenyum.
"Selamat pagi tuan, nyonya!" sapa Sarah sopan.
"Tari!"
Widya sudah tak dapat menahan rindunya pada anak kandungnya. Dia langsung berlari dan memeluk Sarah.
"Maafkan ibu nak, maafkan ibu!" lirih Widya memeluk erat Sarah yang juga sangat bingung.
Sarah bingung karena meskipun tidak mengenal nyonya yang memeluknya. Tapi dia sangat tenang, nyaman bahkan ingin menangis saat nyonya itu memeluknya.
__ADS_1
***
Bersambung...