Tega

Tega
Bab 212


__ADS_3

Sarah sedang bersama dengan Tristan di apartemennya, mereka berdua baru saja melakukan video call dengan Damar Adhikara dan Widya.


"Sayang, ayo kita tidur!" ajak Tristan.


"Tristan, sebentar. Aku mau ambil minum dulu!" kata Sarah.


Tristan yang sudah merebahkan dirinya di tempat tidur pun segera bangun dan memposisikan dirinya dalam keadaan duduk.


"Sayang, sepertinya aku juga lupa mematikan televisi. Sarah cintaku, tolong matikan televisinya sekalian ya!" kata Tristan mengeringkan matanya beberapa kali.


Kalau ada readers yang juga ARMY sama seperti author. Kerlingan Tristan pada Sarah itu sama persis ketika World Wide Handsome kita memberi kerlingan mata pada ARMY di konser mereka di Busan. Siapa yang tidak akan meleleh melihatnya.


Sarah terkekeh ketika Tristan melakukan itu, dan Sarah juga langsung keluar dari kamarnya.


Tapi ketika Sarah akan mematikan televisi, dia melihat sebuah berita tentang kebangkrutan Keluarga Wijaya. Sarah lansing duduk dan menyaksikan berita itu.


"Ya Tuhan!" gumam Sarah sambil menutup mulutnya.


Sarah lantas kembali berdiri setelah mendengar berita itu. Dia bergegas mematikan televisi, tapi tidak jadi mengambil air minum.


Sarah bergegas ke kamarnya dan meraih ponselnya yang ada di nakas di samping tempat tidur bagiannya.


Tristan yang melihat istrinya terburu-buru lantas mendekati Sarah dan memeluk Sarah dari belakang.


"Hayo, kamu mau telepon siapa malam-malam begini!" kata Tristan dengan nada manja pada Sarah.


"Tristan, keluarga Wijaya bangkrut. Tante Yuliana terkena serangan jantung. Aku telepon Arumi, dia pasti sangat cemas saat ini!" kata Sarah membuat Tristan lantas turun dari atas tempat tidur dan ikut mendengarkan Sarah yang sedang menghubungi Arumi.


"Halo Sarah!"


"Arumi, aku baru melihat beritanya. Bagaimana keadaan mu, sekarang kamu dimana?" tanya Sarah yang yakin kalau Arumi sudah lebih dulu mendengar berita itu.

__ADS_1


"Sarah.. mami.. mami sedang di operasi. Aku di rumah sakit Citra Medika!" kata Arumi yang terdengar seperti sedang menangis.


Mendengar apa yang di katakan Arumi itu, mata Sarah juga berkaca-kaca.


"Arumi kamu yang sabar ya, aku dan Tristan akan segera kesana!" kata Sarah.


"Terimakasih Sarah!" kata Arumi.


Sarah langsung memutuskan panggilan telepon dengan Arumi. Sarah langsung melihat ke arah Tristan.


"Tristan, kita harus ke rumah sakit, maminya Arumi...!"


Belum juga Sarah selesai bicara, Tristan lantas menyentuh bahu Sarah dengan lembut.


"Aku dengar sayang, jangan cemas semua pasti baik-baik saja. Arumi sudah ada di sana, kamu ganti pakaian lah. Kita akan ke rumah sakit!" kata Tristan yang tahu kalau sang istri pasti sangat khawatir pada maminya Arumi dan Arumi sendiri.


Di saat Sarah sedih dan mengalami masalah, Arumi pasti adalah orang pertama yang akan membantu Sarah. Tristan merasa Sarah pasti sangat ingin berada di dekat Arumi di saat sahabatnya itu mengalami hal seperti ini.


Begitu selesai berganti pakaian, Sarah dan Tristan menuju ke rumah sakit. Di perjalanan, Sarah masih terus melihat perkembangan berita itu di media sosial.


"Iya sayang, begitu aku sampai di ruang sakit. Aku akan minta Richard mencari orang untuk take down semua berita itu!" jawab Sarah.


"Untung saja sahabatmu yang bar-bar itu menikah dengan kak Rendra. Kalau dia juga menikah dengan pria pilihan ayahnya, pasti sekarang dia juga di tinggalkan oleh suaminya itu!" kata Tristan yang membuat Sarah langsung melirik tajam pada Tristan.


"Sayang aku berkata benar, aku dengar apa yang kamu tonton sejak tadi itu. Kakaknya di tinggalkan suaminya, langsung di talak tiga. Parah sekali pria itu, bagaimanapun mereka sudah punya anak. Pria macam apa itu?" tanya Tristan yang merasa kesal pada pria bernama Gabriel yang merupakan mantan suami Arista.


"Aku juga tidak mengerti Tristan, bagaimana bisa dia lepas tangan begitu saja pada istri dan anaknya saat keluarga istrinya sedang banyak masalah begitu. Itu sangat... entahlah, aku bahkan tidak tahu seperti apa kak Arista saat ini, dan bagaimana dia nanti menjelaskannya pada Raja dan Ratu!" kata Sarah terlihat sedih.


"Tapi yang membuatku lebih tak habis pikir, papinya Arumi kabur? dia itu pria atau pengecut?" tanya Tristan.


Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia juga tak habis pikir tentang hal itu. Tapi apapun itu, sebaiknya dia tidak membicarakan semua yang dia bicarakan dengan Tristan ini pada Arumi nanti.

__ADS_1


Beberapa lama kemudian, Sarah dan Tristan sampai di rumah sakit. Sarah terus memeluk dan memberi Arumi semangat. Sampai beberapa lama setelah Sarah dan Tristan datang. Lampu di depan ruang operasi mati. Dan itu artinya operasinya telah selesai.


Arumi dan Sarah, Tristan dan Rendra lantas berdiri dan menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi tersebut.


"Dokter, bagaimana mami?" tanya Arumi yang matanya masih sembab karena banyak menangis tadi.


"Alhamdulillah, operasinya berhasil. Sebentar lagi pasien akan di bawa ke ruang pemulihan untuk observasi selama beberapa jam. Paling tidak baru besok pagi jam 7 pasien bisa di pindah di ruang rawat dan boleh temui!" jelas dokter itu.


"Besok pagi?" tanya Arumi.


"Benar, karena paska operasi ini pasien benar-benar harus dalam keadaan tenang!" kata dokter itu lagi.


Setelah menjelaskan semua itu, dokter tersebut langsung meninggalkan Arumi dan yang lain.


"Arumi, lebih baik sekarang kamu pulang. Istirahat, besok pagi-pagi sekali kita datang lagi kemari!" kata Sarah yang kasihan melihat Arumi yang terlihat lelah, pucat dengan hidung memerah dan mata sembab.


"Sayang, Sarah benar. Kita pulang dulu ya. Mami sudah baik-baik saja. Besok pagi-pagi sekali kita akan menjenguk mami lagi kemari. Ya?" tanya Rendra yang ingin Arumi bisa pulang dan istirahat dengan baik.


Setelah di bujuk oleh Sarah dan Rendra. Arumi akhirnya setuju untuk pulang. Dan mereka akan kembali pagi-pagi sekali besok.


***


Sementara di sebuah rumah sakit di luar negeri. Seorang dokter dan dua orang asistennya sedang mengoperasi wajah seseorang agar penampilannya berbeda.


Di luar ruang operasi tersebut, terlihat dia orang pria berbadan besar sedang menunggu orang yang sedang di operasi di klinik tersebut.


"Heh Ron, menurutmu wajah bos akan berubah jadi seperti siapa? artis? atlet atau siapa?" tanya pria yang tubuhnya lebih besar dari pria yang dia panggil Ron.


Pria bernama Ron itu lantas mengangkat bahunya sekilas.


"Entahlah, yang jelas harus berbeda dengan wajahnya yang dulu kan? Atau dia akan di tangkap polisi, dan kita jadi pengangguran atau kembali mengajar di Gym!" kata pria bernama Ron itu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2