
"Bukan itu, aku juga ingin jadi ibu. Kamu pulang ya, kita harus tempur lagi, jangan kalah sama Sarah dan Tristan!"
Ujar Arumi pada Rendra yang membuat Rendra langsung terdiam. Rendra tampak langsung tertegun mendengar apa yang di katakan oleh istrinya di telepon. Rendra sebenarnya sangat ingin pulang setelah mendengar apa yang baru saja di katakan Arumi. Tapi sayangnya dia benar-benar harus meeting kurang dari sepuluh menit lagi.
"Sayang, aku harus meeting dulu. Sayang, nanti kalau sudah selesai meeting, aku akan langsung pulang!" kata Rendra bersemangat mendengar keinginan istrinya untuk mempunyai anak secepatnya.
Tapi saat Rendra masih bicara dengan Arumi, tiba-tiba saja ada yang diam-diam masuk ke dalam ruangan Rendra.
Rendra yang sedang fokus bicara pada Arumi bahkan tidak menyadari keberadaan seseorang yang sudah berdiri di belakangnya.
"Mas, sudah dong teleponan nya!"
Sontak saja Rendra langsung berbalik ketika mendengar suara yang agak familiar di telinganya.
Begitu Rendra berbalik, ternyata Hera lah yang ada di belakang Rendra itu.
"Mas, itu suara siapa?" pekik Arumi bertanya pada Rendra karena dia juga kaget mendengar suara wanita yang terdengar begitu mesra saat bicara dengan suaminya.
"Arumi sayang, ini Hera. Dia klien yang akan meeting denganku beberapa saat lagi!" kata Rendra jujur menjelaskan pada istrinya.
"Heh, mas ngapain lagi sih masih kerja sama sama wanita ular itu?" tanya Arumi kesal.
"Sayang, kontrak nya sudah di tandatangani. Ini hanya meeting, dan di ruang meeting kantor juga. Banyak staf yang ikut, sayang jangan cemas ya!" kata Rendra menjelaskan pada Arumi.
"Aku percaya pada mas Rendra tapi aku tidak percaya pada wanita ular buaya betina, biawak rawa itu!" kesal Arumi yang lantas memutuskan panggilan teleponnya dengan Rendra.
Rendra masih ingin bicara, namun apa daya. Panggilan telepon itu sudah terputus. Rendra terlihat kesal lalu menatap tajam Hera yang tampak masih berusaha menarik perhatian Rendra meskipun sudah tahu kalau Rendra sudah menikah dengan Arumi.
"Nona Hera, aku menghormati kamu karena tuan Ari Ricardo. Dan hubungan kita tidak lebih dari sekedar rekan kerja. Aku bahkan tidak menganggap mu teman. Jadi tolong hargai privasiku, ketuk pintu ruangan ku ketika kamu ingin masuk kemari! dan jangan bicara saat aku sedang menghubungi seseorang. Mengerti!" tegas Rendra.
Rendra benar-benar kesal pada Hera. Dia tidak tahu apa yang akan di lakukan istrinya saat bertemu dengannya nanti karena cemburu.
Mendengar ketegasan Rendra, Hera langsung menampakkan ekspresi sedih dan tak berdaya.
"Maafkan aku mas Rendra, aku tidak tahu kalau kamu sedang bicara dengan istrimu. Aku hanya ingin memanggilmu untuk segera meeting, karena yang lain sudah menunggumu!" kata Hera beralasan.
Melihat wajah memelas Hera, dan tampak memang merasa bersalah. Rendra pun tak mempermasalahkan lagi hal ini. Dia hanya mendengus kesal, lalu keluar dari ruangannya untuk pergi ke ruang meeting.
Namun begitu Rendra sudah keluar dari ruangannya, Hera kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Hatimu itu lembut mas, jangan sok sok galak padaku. Aku ini Hera, pria mana yang tidak bisa aku taklukkan!" gumam Hera yang ternyata hanya akting saat menyesal dan meminta maaf pada Rendra tadi.
Sesungguhnya niatnya memang ingin merebut Rendra dari Arumi.
***
Sementara itu Arumi sudah berganti pakaian dan dan keluarga dari kamarnya lengkap dengan tas jinjingnya.
"Ayah, Sarah.. aku pergi dulu ya!" kata Arumi.
"Mau kemana Arumi, bukanya Kevin pulang jam sebelas?" tanya Sarah.
"Aku mau menyelamatkan mas Rendra dari buaya betina, wanita ular dan biawak rawa yang pernah membuatmu parah hati!" kata Arumi dengan tergesa-gesa.
"Kamu bicara apa sih? kak Rendra itu tidak akan tergoda pada wanita sembarangan. Aku saja heran kenapa dia bisa suka padamu!" kata Tristan yang memang tidak bisa akur dengan Arumi.
"Eh adik ipar, untung di sini ada ayah ya. Untung juga Sarah sedang hamil, kalau tidak sudah aku ajak naik Ring dan adu boxing, kamu. Adik ipar menyebalkan!" kata Arumi membalas Tristan.
Arumi lantas menghampiri tuan Arya Hutama dan menyalami serta mencium punggung tangan ayah mertuanya itu.
"Ayah, doakan aku ya!" kata Arumi dan langsung di balas anggukan oleh tuan Arya Hutama sambil tersenyum.
"Astaga Sayang, lihat temanmu itu sudah tidak waras. Memangnya dia mau pergi perang, minta di doakan?" tanya Tristan.
Sarah lantas memukul lengan Tristan, agar suaminya itu berhenti mengganggu Arumi.
"Tristan hentikan!" kata Sarah.
"Sudahlah Sarah, suamimu itu kan sebelas dua belas dengan keponakannya!" kata Arumi yang lantas memeluk Sarah lalu lansing pergi meninggalkan rumah Hutama untuk pergi ke kantor menemui Rendra, lebih tepatnya dia akan menyelamatkan Rendra dari biaya betina bernama Hera itu.
"Tristan, kamu tidak boleh begitu!" kata tuan Arya Hutama menasehati Tristan agar jangan terus menerus mengganggu Arumi.
"Iya Tristan, kamu tidak tahu seperti apa Hera itu. Arumi percaya pada mas Rendra, tapi wanita bernama Hera itu tidak bisa di percaya!" kata Sarah menjelaskan apa yang sedang dikhawatirkan oleh Arumi.
"Hera, anaknya tuan Ari Ricardo?" tanya tuan Arya Hutama.
Sarah lantang menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya ayah, dia wanita yang licik...!"
__ADS_1
"Dia yang menggoda mantan pacar Sarah, yah!" kata Tristan tak senang.
Tuan Arya Hutama lantas merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
"Apa kita harus batalkan kerjasama dengan tuan Ari Ricardo? tapi itu sudah 70 persen jalan proyeknya?" tanya tuan Arya Hutama.
"Ayah tenang saja, aku percaya pada kak Rendra. Kak Rendra itu keteguhan hatinya sangat kuat, dia itu setia seperti aku!" kata Tristan membuat Sarah dan tuan Arya Hutama terkekeh.
***
Sementara itu, sepanjang perjalanan Arumi memacu mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Dia tidak ingin kecolongan sedikit saja dengan Hera.
"Aku heran, wanita itu sudah tahu mas Rendra sudah menikah. Tapi masih mengganggunya. Dasar ya, hobi banget merusak hubungan orang lain. Heran deh, pinta hobi itu harusnya yang berfaedah gitu, hobi kok ngerusak hubungan orang sih!" gerutu Arumi.
Setelah beberapa saat kemudian, Arumi pun sampai di perusahaan tempat suaminya bekerja. Arumi lantas langsung menuju ke lantai di mana kantor suaminya berada.
Arumi bahkan langsung mencari ruang meeting yang ada di lantai yang sama. Ketika dia menemukannya, seorang penjaga sedang berada di depan pintu.
"Buka!" kata Arumi.
"Nyonya, tapi di dalam tuan sedang meeting!" kata penjaga itu menjelaskan pada Arumi.
"Aku bilang buka!" kata Arumi dengan wajah sangat serius.
Ceklek
Penjaga itu pun terpaksa membuka pintunya. Beberapa orang terlihat bingung kenapa Arumi datang.
Tapi Arumi lantas tersenyum dan berjalan menuju ke arah suaminya.
"He he, selamat pagi semuanya. Aduh aku minta maaf ya sebelumnya. Maklum bawaan bayi, pengen dekat terus sama papanya!" kata Arumi yang langsung duduk di belakang Rendra.
"Sayang, kamu hamil?" bisik Rendra bingung.
'Hah, yang bener aja. Masak iya baru berapa minggu nikah udah hamil?' tanya Hera kesal dalam hatinya.
***
Bersambung...
__ADS_1