
Seminggu sejak berlalunya fitting baju pengantin pertama mereka. Artinya seminggu lagi menjelang pernikahan mereka. Saat ini Sarah dan Tristan sedang berada di butik milik Ester untuk mencoba pakaian mereka yang sudah selesai di buat oleh Ester.
Tristan yang awal datang dengan Richard. Sedangkan hari ini Sarah harus mengantarkan salah satu adik panti yang sakit ke rumah sakit dulu. Setelah memeriksa salah satu adik pantinya itu dan ternyata hanya demam biasa karena perubahan cuaca dari musim panas ke musim dingin. Sarah pun bisa menghela nafas lega.
Sarah menggentarkan dulu adik pantinya ke rumah yang di sewa karena pembangunan panti asuhan bunda Tiara juga sudah berlangsung.
"Maaf ya nak, bunda jadi memintamu menemani Suci periksa dulu. Habisnya yang lain sedang ujian di sekolah. Tiba-tiba saja Suci tadi menggigil...!"
Sarah yang tahu bunda Tiara tak enak hati pun segera mengusap lengan bunda Tiara.
"Tidak apa-apa bunda. Aku kan juga sudah ijin tidak masuk kerja hari ini. Jadi tidak masalah!" jawab Sarah.
"Tapi kan kamu ada janji hari ini dengan nak Tristan kan? apa nak Tristan juga tidak apa-apa menunggu mu?" tanya bunda Tiara yang mulai cemas pada Sarah.
Pertanyaan itu tidak meluncur begitu saja, sempat bunda Tiara beberapa kali mendapati Tristan yang seolah bersikap sangat cuek pada Sarah.
Dan Sarah yang tidak ingin bunda Tiara cemas pun berkata.
"Semua baik-baik saja bunda. Tristan itu memang kalau bicara suka gak di saring, asal keluar begitu saja. Tapi itu hanya di mulutnya saja bunda!"
'Mungkin di hatinya lebih parah!' batin Sarah melanjutkan apa yang dia sampaikan tapi dia menjedanya dan tidak mengatakannya secara langsung pada bunda Tiara.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah, bunda Tiara menghela nafas lega. Karena ucapan Sarah itu sama persis dengan apa yang pernah di katakan tuan Arya Hutama padanya.
Tristan itu ucapannya memang sangat dingin, begitu juga ekspresinya. Tapi bisa di tanyakan pada Kevin, seperti apa pamannya itu sebenarnya. Dan saat itu Kevin menjelaskan kalau uncle Tristan tercintanya itu memang sangat baik dan perhatian padanya. Tidak pernah membentaknya ataupun marah pada Kevin. Jadi bunda Tiara pun menyimpulkan, kalau sudah jadi keluarga atau orang yang dia sayangi. Tristan tidak akan pernah marah dan akan sangat sayang pada orang tersebut. Jadi bunda Tiara juga berharap hal itu bisa terjadi pada Sarah setelah dia menikah dengan Tristan nanti.
"Baiklah nak, sekarang kamu pergilah ke butik. Bunda yang akan mengurus sisanya di sini!" kata bunda Tiara.
Sarah pun langsung memesan.taksi online lagi. Setelah taksinya datang, Sarah pun akhirnya pergi ke butik.
Sementara itu di butik, Tristan sudah memakai jas hitam dengan aksen yang dia pilih waktu itu. Dia memandangi wajah tampannya di cermin yang menjadi dinding dari sebuah ruangan khusus di butik Ester.
Sesekali pria tampan dengan tinggi yang lumayan menjulang, hingga mungkin saja kalau dia mau dia bisa menjadi seorang model itu pun mengulas senyum bangganya, melihat wajahnya yang memang sudah tampan, menjadi semakin tampan lagi dengan jas yang harganya setengah dari harga mobil yang dia gunakan untuk menuju ke butik ini tadi.
__ADS_1
Richard yang melihat bos nya sesekali tersenyum pun jadi ikut terkagum-kagum sejak tadi.
"Wah bos, kau tampan sekali. Wanita manapun yang melihatmu memakai pakaian itu pasti akan langsung lupa kalau mereka sudah menikah, atau punya pacar! mereka pasti akan langsung berpaling menjadi pemujamu!" ucap Richard memuji Tristan.
Awalnya senyum Tristan makin mengembang mendengar pujian yang begitu berlebihan dari asisten pribadinya itu. Namun semakin dia menelaah lebih dalam lagi pujian Richard itu, senyuman Tristan pun menghilang berganti tatapan tajam ke arah Richard dari pantulan cermin.
Tristan tidak berbalik, tapi dia menatap Richard dari cermin.
"Maksudmu apa tadi? kamu memujiku atau menghinaku?" tanya Tristan kesal.
Richard yang merasa bingung dengan pertanyaan bosnya itu hanya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
'Loh, kok bis marah. Aku salah ngomong bagian mana ya? aku kan sedang memujinya. Kenapa dia malah marah?' pikir Richard masih mencari tahu bagian mana katanya yang salah dan membuat Tristan marah padanya.
"Bos, tapi aku...!"
"Kamu bilang tadi wanita manapun yang melihat ku memakai pakaian ini? apa kalau aku tidak pakai pakaian ini aku tidak tampan?" tanya Tristan kesal.
Richard langsung mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.
Tristan pun makin bad mood saja karena hal itu.
"Mana sih wanita itu. Apa aku juga harus menunggunya. Aku kan sudah coba pakaian ku. Aku tidak perlu menunggunya kan?" tanya Tristan pada Richard dan Ester.
"Sebentar lagi saja bos, masalahnya tuan besar...!"
"Ck..!"
Tristan hanya mampu berdecak kesal setiap Richard menggunakan tuan Arya Hutama untuk membuat Tristan menuruti perkataannya.
Tristan yang masih mengenakan setelan jas yang akan di pakai di pernikahannya pun memilih duduk di sofa sambil menunggu Sarah.
Dan tak lama kemudian Sarah pun masuk ke dalam butik itu dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Selamat pagi, mohon maaf semuanya. Aku terlambat!" ucap Sarah yang merasa tak enak hati.
Sarah bahkan membungkukkan badannya sedikit ke arah Ester, Richard dan Tristan bergantian.
"Nona, tidak perlu seperti itu...!"
"Siapa bilang tidak perlu!" seru Tristan menyela ucapan Richard.
"Dia terlambat, dia memang seharusnya meminta maaf pada kita!" tambah Tristan.
Ester yang tidak ingin suasana semakin mencekam karena sudah melihat bara-bara kemarahan Tristan yang mulai menyala pun segera menghampiri Sarah.
"Nona Sarah, mari. Kita bisa coba gaun pengantin nona Sarah dulu di sebelah sini!" kata Ester yang langsung di angguki oleh Sarah.
"Anda pasti sangat cantik nona, gaunnya sepertinya sangat cocok untuk anda!" kata Ester sambil mengajak Sarah berjalan ke sebuah ruangan.
Sarah lalu mengikuti langkah Ester. Tristan masih menatap kesal ke arah Sarah. Setelah Sarah masuk ke ruangan itu, Tristan pun berkata.
"Orang kampungan, pakai apapun akan terlihat kampungan!" gumamnya yang bisa terdengar oleh Richard.
Richard sampai geleng-geleng kepala di belakang Tristan.
'O... emji! bos ini kalau gak ngomong kasar sama orang lain sebentar aja, mulutnya biduran kali ya?' batin Richard.
Setelah beberapa lama dan membuat Tristan semakin kesal. Ester akhirnya keluar dengan seorang wanita cantik, dengan gaun pengantin internasional berwarna putih dengan lengan panjang dan bagian leher yang tertutup. Ester bahkan sudah memakai Sarah sanggul sederhana untuk bisa memasangkan kerudungnya sekalian.
Penampilan Sarah benar-benar sangat berbeda dari dirinya yang biasanya. Sampai-sampai pria yang tadi menghinanya kampungan pun tak berkedip saat melihat Sarah keluar dari ruangan itu sampai di hadapannya.
"Ekhem... bos! bagaimana penampilan nona Sarah?" tanya Richard yang bisa melihat kalau bosnya itu terpesona melihat Sarah memakai gaun pengantin pilihannya.
Tristan langsung tersadar, dan akhirnya dia pun gelagapan sendiri.
***
__ADS_1
Bersambung...