Tega

Tega
Bab 172


__ADS_3

Tas dan ponsel Arumi masih ada di kantor. Sarah terlihat cemas menunggu Arumi kembali. Sudah berulang kali ada panggilan masuk dari Rendra. Tapi Sarah tak berani mengangkat panggilan telepon itu. Sarah malah menghubungi Rendra dan mengatakan kalau ponsel Arumi tertinggal di kantor. Sedangkan dia pulang ke rumahnya karena ada hal penting.


Bahkan sudah waktunya makan siang, Arumi tak kunjung kembali. Sarah pun semakin cemas. Namun di saat yang sama, semua orang terlihat terkejut akan kedatangan Tristan di ruangan itu.


"Siang sayang!" kata Tristan membuat Sarah yang tadinya masih membaca dokumen di depannya lantas menoleh ke arah Tristan.


"Tristan!"


"Sayang, aku ingin mengajakmu makan siang di suatu tempat!" kata Tristan.


Itu bukan pertanyaan ya, itu adalah pernyataan. Tristan ingin mengajak Sarah makan siang berdua di tempat istimewa yang sudah dia minta kepada Richard untuk mempersiapkannya.


Sarah pun pergi dengan Tristan. Dia meletakkan tas dan ponsel Arumi di laci meja kerja Arumi.


Ternyata Tristan membawa Sarah ke sebuah restoran. Tapi anehnya tidak ada satu pengunjung pun disana.


"Restoran ini belum buka ya?" tanya Sarah begitu Tristan menggandengnya masuk ke dalam restoran itu.


Tristan langsung mendengus kesal.


"Ayolah Sarah, bisakah kamu pikirkan hal lain selain hal itu yang menyebabkan Restoran tidak ada pengunjung lain selain kita?" tanya Tristan yang berharap Sarah menghargai dan senang dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Em, apa ya?" ucap Sarah sambil meletakkan tangannya di dagu.


"Makanan di sini tidak enak!" kata Sarah sedikit berbisik pada Tristan.


Karena memang Sarah belum pernah ke restoran itu sebelumnya.


"Sayang, ini Restoran bintang lima loh. Gaji chefnya saja lebih besar dari gaji Richard!" kata Tristan.


Sarah langsung memundurkan bahunya sedikit.


"Benarkah? wah, mungkin aku harus katakan itu pada Richard agar dia minta kenaikan gaji padamu!"


"Sayang!"


"Aku tidak tahu, aku pikir alasannya ya karena belum waktunya buka kita sudah datang!" kata Sarah.

__ADS_1


"Sarah, tidak kah kamu pikir suamimu yang seorang CEO ini mampu menyewa seluruh restoran ini demi mengajakmu makan siang berdua?" tanya Tristan dengan ekspresi wajah mengharapkan pujian.


Tapi Sarah malah sangat terkejut, dia bahkan menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.


"Apa Tristan? kamu menyewa restoran ini?" tanya Sarah.


Tristan mengangguk, dia mengangguk seraya tersenyum. Tristan pikir setelah ini dia pasti akan mendapatkan pujian dari Sarah. Minimal dia berharap dia mendapatkan sebuah ciuman di pipi oleh Sarah.


Plakkk


Tristan terkejut sambil memegang lengannya yang di pukul lumayan keras oleh Sarah.


"Sayang, kenapa kamu memukul ku? aku berharap paling tidak aku dapatkan sebuah ciuman di sini!" kata Tristan sambil mencolek pipinya dengan jari telunjuknya sebelah kanan.


"Hah, menciummu. Ini pemborosan Tristan!" kata Sarah tak senang dengan apa yang Tristan lakukan.


Tristan jadi heran pada istrinya itu, kenapa di beri hadiah mewah dan mahal selalu saja kurang senang.


"Sarah, aku hanya ingin membuatmu merasa istimewa!" kata Tristan tulus.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Tristan itu. Sarah pun mengenal nafasnya panjang. Sarah sadar, suaminya itu sedang berusaha memperbaiki segalanya. Sedang berusaha mendapatkan kembali hati dan kepercayaannya.


"Ayo makan!" kata Sarah yang merasa sudah waktunya makan siang.


Tapi saat Sarah akan melangkah maju, Tristan menarik tangan Sarah. Membuat istrinya itu berbalik dan memandang bingung ke arah Tristan.


"Kenapa lagi?" tanya Sarah.


"Ini!" kata Tristan sambil menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.


"Mau ku pukul di situ?" tanya Sarah mengangkat telapak tangannya.


Tristan pun hanya bisa mendengus kesal, karena sepertinya masih harus berjuang lagi. untuk mendapatkan sentuhan dari Sarah.


Saat mereka makan siang bersama, Rendra kembali menghubungi Sarah.


"Iya kak!" kata Sarah.

__ADS_1


"Sarah, apa Arumi sudah kembali? apa kamu tahu dimana alamat Arumi. Tolong beritahu aku Sarah!" kata Rendra.


"Maaf kak, Arumi belum kembali sampai aku pergi makan siang dengan Tristan. Dan tentang alamat rumah papinya Arumi, aku tidak tahu kak. Mungkin kak Rendra bisa tanya pada ayah!" kata Sarah memberi Sarah.


Sebab Sarah pikir dari ekspresi wajah ayah mertuanya saat tahu Arumi itu anak dari Chandra Wijaya. Ekspresi wajah ayah Arumi itu menyiratkan kalau dia seperti kenal lama dengan papi Arumi.


"Oke baiklah, selamat makan siang Sarah!"


"Iya kak!"


Sarah kembali menyimpan ponselnya. Tristan yang memang tidak tahu apapun langsung bertanya pada Sarah.


"Ada apa? kak Rendra dan Arumi bertengkar? baru juga pacaran beberapa hari sudah bertengkar!" kata Tristan sok tahu.


"Ck... sok tahu kamu. Mereka tidak bertengkar, tapi Arumi sepertinya... !"


Sarah terdiam, dia tidak ingin mengatakan apa yang dia pikirkan. Dari apa yang dia lihat, sepertinya keluarga Arumi tak setuju hubungan Arumi dengan Rendra. Awalnya semua baik-baik saja, lalu Arumi bilang pada Sarah kalau kakaknya datang ke kantor Rendra dan marah-marah. Bahkan minta Rendra menjauhi Arumi. Dan tadi Arumi baru bilang dia merasa di awasi, setelah itu Arumi di paksa pulang ke rumahnya dan sampai sekarang tidak ada kabar.


"Arumi kenapa?" tanya Tristan.


"Aku tidak tahu, aku harap ini hanya pemikiranku saja. Tapi sepertinya hubungan kak Rendra dan Arumi, tidak di setujui oleh keluarga Arumi!" jelas Sarah pada Tristan.


"Benarkah? kenapa? kamu tahu tidak kata rekan-rekan bisnis ayah, mereka bahkan ingin sekali menjadikan Rendra itu menantu mereka. Rendra saja yang terus menolak, aku bahkan tidak menyangka dia malah jatuh cinta pada Arumi setelah sekian tahun sendiri!" kata Tristan.


Sarah pun berharap apa yang dia pikirkan salah. Tapi kenapa firasatnya tentang hubungan Arumi dan Rendra tidak enak ya. Itulah yang ada di benak Sarah.


"Sayang, daripada terus memikirkan dan bicara tentang hubungan orang lain. Bisakah kita bicara tentang hubungan kita saja?" tanya Tristan sambil menggenggam satu tangan Sarah yang ada di dekatnya.


Sarah hanya diam dan menatap Tristan. Dia masih berusaha mencerna dengan baik apa yang di katakan oleh Tristan barusan.


"Usiaku sudah tidak muda lagi, tahun depan aku sudah 30 tahun sayang. Apa kamu tidak ingin menjadikan aku seorang ayah, sebelum usiaku 30 tahun?" tanya Tristan sambil menggenggam erat tangan Sarah dan menatap istrinya itu dengan sangat dalam. Tatapan yang begitu mesra sampai jantung Sarah rasanya mau copot.


"Permisi tuan, nyonya... ini dessert nya!"


Sarah langsung menarik tangannya daru genggaman Tristan. Tristan tampak kesal dan menatap tajam ke arah pramusaji yang menghidangkan dessert untuk mereka berdua.


'Ck... mengganggu saja!' keluh Tristan dalam hatinya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2