
Rendra terlihat sangat frustasi, dia ingin mengejar mobil Arumi tapi Gisella malah masuk ke dalam mobilnya.
"Ngapain kamu masuk?" tanya Rendra kesal.
"Mas, mau kejar Kevin kan? aku ikut lah!" kata Gisella tanpa rasa bersalah.
"Kamu ini kenapa sih? hidup aku dan Kevin sudah tenang, sekarang ada Arumi yang melengkapi hidup kami. Sebaiknya kamu pergi saja, seperti dulu. Jangan menggangu kehidupan kami lagi!" kata Rendra menegaskan pada Gisella.
Tapi bukan Gisella kalau dia menyerah begitu saja. Gisella langsung menunjukkan ekspresi sedihnya dan air mata itu entah sejak kapan sudah mengalir deras di pipi wanita tersebut.
"Aku sudah bilang padamu mas, aku hanya ingin bertemu Kevin. Dia juga anakku, aku ingin menebus waktu yang selama ini aku sia-siakan. Hanya itu!" kata Gisella.
Rendra mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ck.. kamu butuh pekerjaan kan? baiklah. Aku akan berikan pekerjaan padamu. Tapi jangan pernah lagi ganggu aku dan keluargaku lagi!" kata Rendra.
Rendra lantas mengemudikan mobilnya menuju sebuah perusahaan, masih anak cabang PT Arya Hutama di bawah naungan Rendra juga. Tapi ini adalah sebuah perusahaan yang banyak bergerak di bidang entertainment. Sesuai dengan bakat Gisella.
"Kok kesini mas? memangnya di perusahaan mu tidak ada ya lowongan kerja?" tanya Gisella pada Rendra.
"Ini juga perusahaan ku, sudahlah. Masuk saja, dan cari sekertaris CEO bernama Kurnia, dia akan jelaskan pekerjaan mu di sana!" kata Rendra.
"Mas Rendra gak turun?" tanya Gisella.
"Aku masih banyak pekerjaan, kamu tinggal masuk saja. Aku hanya bisa membantumu sebatas ini, mengingat perjuangan mu saat hamil dan melahirkan Kevin dulu. Tapi aku harap kamu juga ingat kalau kamu pernah meninggalkan Kevin yang saat itu usianya baru dua bulan. Jangan menguji kesabaran ku, Gisella!" tegas Rendra.
Gisella pun langsung turun dari mobil Rendra. Dia tahu kalau Rendra itu memang tipikal pria pendiam, dan berhati lembut. Tapi kalau sudah marah, dia akan sangat mengerikan. Oleh karena itu Gisella memilih untuk mengalah dulu kali ini. Pikirnya masih banyak waktu untuk bisa merebut Rendra dan Kevin kembali ke tangannya dari tangan Arumi.
Gisella lantas turun dari mobil Rendra. Dia segera masuk dan mencari perempuan bernama Kurnia yang di bilang oleh Rendra tadi.
Sedangkan Rendra yang sudah merasa menyelesaikan satu masalahnya. Kini mengemudikan mobilnya lagi menuju ke rumah Yuliana. Yang ada di pikiran Rendra, Arumi pasti akan menghindarinya. Arumi itu tipikal orang yang sangat cuek, tapi kalau sudah marah kalau tidak melabrak langsung artinya dia sudah benar-benar malas berurusan dengan orang tersebut. Dan kalau sudah seperti itu, Arumi lebih baik menghindar dan tidak bicara pada orang tersebut daripada harus mengatakan hal yang kasar, atau bahkan akan melakukan tindakan yang kasar pada orang yang sedang membuat Arumi kesal itu.
Dan menurut Rendra, Arumi yang sedang dalam mode marah besar. Tidak akan mau bertemu dengannya dan akan menghindarinya. Jadi Arumi tidak mungkin langsung membawa Kevin ke rumah, kediaman Hutama. Jadi Rendra berpikir kalau mungkin saja Arumi membawa Kevin ke rumah maminya. Atau ke panti, tapi Rendra pikir dia akan ke rumah Yuliana dulu.
Sarah dan Arumi, juga Kevin sudah sampai di taman bermain. Di taman bermain yang sama tempat Sarah dulu di buang oleh Mulya. Taman bermain yang letaknya tak jauh dari panti asuhan bunda Tiara.
"Wah, ayo kita naik itu mama Sarah. Itu perahu terbang!" kata Kevin menyebut wahana kora-kora sebagai perahu terbang.
Sarah tentu saja langsung membelalakkan matanya, tidak mungkin dia naik wahana itu. Dia sedang hamil.
"Mama Sarah tidak bisa naik itu, ada dedek bayi di perut mama Sarah. Dan dokter melarang mama Sarah baik wahana itu, juga wahana apapun di tempat ini. Jadi begini saja ya Kevin, mama Sarah yang temani Kevin makan, dan mama Arumi yang akan temani Kevin naik wahana. Oke?" tanya Sarah pada Kevin.
Kevin terlihat kecewa, tapi dia juga sayang pada dedek bayi yang ada di perut mama Sarah-nya. Jadi Kevin mengangguk patuh.
"Tante Arumi...!"
"Em, Kevin. Bisakah panggil dengan mama Arumi?" tanya Sarah yang ingin menghibur Arumi.
"Tidak, nanti kalau Tante Arumi sudah punya dedek bayi di perut sama seperti mama Sarah. Baru...!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sarah kamu tunggu di kafe itu saja. Cuaca sudah mulai panas, kami akan menemui mu saat Kevin sudah puass naik wahananya!" kata Arumi yang lantas di angguki oleh Sarah.
Arumi dan Kevin pergi menuju ke pintu masuk wahana. Sarah yang melihat Arumi masih tidak bersemangat hanya bisa menghela nafas saja. Dia juga tidak habis pikir pada kakak iparnya itu. Bagaimana bisa, sampai di ikuti seperti itu oleh Gisella, dan Rendra tidak menyadarinya.
Ponsel Sarah kembali berdering, dan itu telepon dari maminya Arumi. Yuliana.
"Halo Tante!" sapa Sarah.
"Sarah, kamu bersama dengan Arumi ya?" tanya Yuliana.
"Iya Tante, ada apa!" tanya Sarah pada Yuliana.
"Seharusnya aku yang bertanya ada apa? ponsel Arumi tidak aktif, Rendra baru saja dari sini dan menanyakan keberadaan Arumi dan Kevin. Coba mana Arumi, biar dia jelaskan sebenarnya ada apa dengan mereka?" tanya Yuliana yang terdengar sangat cemas.
Sarah benar-benar hanya bisa menghela nafas. Kenapa malah Rendra mencari Arumi di rumah mami Yuliana. Artinya tadi Rendra tidak langsung mengikuti mobil Arumi, lalu kemana dulu dia. Sarah malah berpikiran tentang hal itu.
"Maaf Tante, tapi Arumi dan Kevin sedang naik wahana. Aku pikir beberapa menit lagi mungkin akan selesai mereka. Nanti akan aku hubungi Tante lagi ya, setelah Arumi turun!" kata Sarah.
"Sarah, kamu pasti tahu kan ada apa dengan mereka? coba kamu ceritakan pada Tante!" kata Yuliana.
Sarah bisa saja cerita pada Yuliana, tapi sepertinya akan lebih enak kalau Arumi sendiri yang menceritakan masalahnya pada maminya. Lagipula ini masalah rumah tangga, belum tentu juga Arumi mau cerita pada orang lain meskipun itu mami nya.
"Em, maaf ya tante. Aku tidak tahu banyak, bagaimana kalau nanti aku minta Arumi menghubungi Tante setelah dia turun dari wahana bersama dengan Kevin?" tanya Sarah.
"Baiklah, tapi dia tidak apa-apa kan? apa dia terlihat depresi atau semacamnya?" tanya Yuliana lagi.
"Ck.. berarti udah gak bener kalau dia milih diam. Apa sih yang di buat si Rendra itu?" tanya Yuliana kesal.
"Em, aku tidak tahu tante!" kata Sarah pelan yang berusaha untuk membuat Yuliana tidak mengorek apapun darinya. Karena Sarah memang merasa ini bukan kapasitasnya.
"Ya sudah, pokoknya nanti kalau dia sudah turun dari wahana, cepat minta dia hubungi Tante ya!" kata Yuliana lagi.
"Iya, Tante!" jawab Sarah.
Sarah menyimpan kembali ponselnya. Cukup lama dia menunggu Arumi dan Kevin datang. Ponselnya kembali berdering setengah jam kemudian. Dan panggilan itu dari bunda Tiara.
Sebelum mengangkat panggilan telepon dari bunda Tiara, Sarah menggelengkan kepalanya. Dia yakin kalau Rendra pasti dari panti asuhan bunda Tiara juga.
Sarah sedikit kecewa pada jalan pikiran Kakak Ipar nya itu. Sudah tahu istrinya yang pecicilan itu ngambek, mana mungkin dia pergi ke tempat yang akan dengan mudah di temukan oleh Rendra. Sarah pikir mungkin karena sedang panik dan cemas, otak rebdra yang biasanya cerdas itu, mendadak jadi lemot.
"Halo bunda!" kata Sarah menyapa bunda Tiara dengan lembut.
"Sarah sayang, tadi nak Rendra kemari mencari Arumi dan Kevin. Memangnya Arumi dan Kevin kemana? apa yang terjadi sebenarnya?" tanya bunda Tiara.
Sarah lalu memegang kepalanya yang sudah mulai terasa pusing. Dia mau tidak mau juga kadi ikut pusing kan. Tapi yang dia tidak sangka itu kenapa malah Rendra membuat banyak orang tahu masalahnya dengan Arumi.
"Begini bunda, mungkin hanya ada salah paham. Biasalah rumah tangga ya bunda, tapi pasti akan segera bisa di selesaikan. Sekarang Arumi dan Kevin ada bersama ku kok bunda, mereka aman!" kata Sarah.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Bunda kira ada yang serius?" tanya bunda Tiara terdengar khawatir.
__ADS_1
"Iya memang serius, tapi kan ini masalah rumah tangga mereka ya bunda. Aku juga tidak berani ikut campur terlalu jauh!" kata Sarah menjelaskan.
"Iya kamu benar, semakin banyak yang tahu. Semakin ada tambahan di sana sini nantinya, masalahnya tadinya hanya selebar daun kelor, bisa berubah jadi selebar daun talas. Ya sudah, bunda berdoa semoga masalah mereka cepat teratasi. Kamu juga baik-baik saj kan nak? bagaimana kandunganmu?" tanya bunda Tiara mengubah topik pembicaraan.
"Alhamdulillah aku baik bunda, kandunganku juga sehat. Semua berkat doa bunda dan adik-adik panti juga!" kata Sarah.
"Syukurlah kalau begitu, ya sudah. Bunda tutup dulu ya nak, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam bunda!" jawab Sarah.
Sarah kembali menyimpan ponselnya, saat itu Kevin sudah datang dengan membawa dua gelas eskrim di tangannya.
"Mama Sarah, eskrim untukmu!" kata Kevin menyodorkan eskrim di tangan kanannya untuk Sarah.
Sarah menyambut pemberian Kevin itu dengan tersenyum lebar.
"Terimakasih sayang!" kata Sarah.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Arumi curiga Rendra yang menghubungi Sarah.
"Bunda Tiara dan mami kamu. Mami kamu minta kamu menghubunginya kembali! mas Rendra sudah mencari kamu ke rumah mami Yuliana dan ke panti asuhan bunda Tiara!" jawab Sarah.
Arumi menghela nafas berat juga langsung meletakkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di atas meja.
"Ah, aku tidak mau pulang. Tapi ayah Arya paru akan sedih kalau kita tidak pulang Kevin. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Arumi pada Kevin.
"Kalau begitu menginap di apartemen uncle saja tante Arumi!" kata anak kecil yang sebanyak lagi umurnya enam tahun itu.
Arumi mengangkat kepalanya.
"Yang benar? kan besok Kevin sekolah?" tanya Arumi.
"Besok tanggal merah Tante, yey.. menginap di rumah mama Sarah. Kevin tidur dengan mama Sarah, yey... !" seru Kevin senang sampai berlari kesana kemari.
Arumi lantas menatap Sarah dengan bingung.
"Memang iya? memang ini bulan berapa? tanggal berapa?" tanya Arumi yang semenjak tak bekerja lagi sampai lupa tanggal, yang dia ingat hanya hari saja, karena Minggu kevin libur sekolah.
"Tanggal 10 bulan 7!" kata Sarah.
"Hah, ini bulan 10, tanggal 7. Artinya sudah satu bulan lebih aku tidak datang bulan dong!" kata Arumi kaget sendiri.
Sarah juga cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Arumi.
"Jangan-jangan, ayo periksa ke dokter!" kata Sarah mengajak Arumi ke dokter untuk periksa.
***
Bersambung...
__ADS_1