Tega

Tega
Bab 74


__ADS_3

Ceklek


Pintu kamar itu terbuka menunjukkan Tristan yang jelas adalah pelaku pembuka pintu kamar tersebut.


Melihat Sarah yang berdiri di depan pintu dengan gagang koper yang masih dipegangnya sambil satu tangan terlihat menghitung membuat Tristan langsung bertanya.


"Sedang apa kamu?" tanya Tristan.


"Tristan, hanya ada satu kamar di sini. Apa di dalam juga hanya ada satu tempat tidur?" tanya Sarah yang mulai tidak menyukai berada dekat-dekat dengan Tristan karena kesalahpahaman Tristan yang membuatnya emosi tadi.


"Aku kan sudah bilang, orang tua yang bernama Arya Hutama itu sengaja ingin kita berdua dekat. Tempat tidurnya hanya satu, bantalnya ada dua. Dan kabar buruknya, tidak ada gulingnya!" jelas Tristan dengan wajah yang terlihat kesal saat menjabarkan situasi di dalam kamar mereka.


Sarah pun hanya bisa menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku akan tidur di sofa saja...!"


Ucap Sarah yang berusaha mengambil space dari sisi Tristan untuk bisa masuk ke dalam kamar. Namun baru Sarah bicara seperti itu, dan belum selesai dengan apa yang mau dia katakan. Tristan sudah menyela ucapan Sarah itu.


"Jangan harap, tidak ada sofa di dalam. Hanya ada satu lemari, satu tempat tidur dan space yang tidak tahu harus digunakan untuk apa? bahkan kamar mandi saja di luar!" ucap Tristan lagi.


Sarah lagi-lagi harus menghela nafasnya. Tapi dia tetap menarik kopernya ke dalam kamar. Sarah mendekati lemari, dia berharap dia menemukan selimut tebal untuk alasnya tidur. Karena dia lebih memilih tidur di bawah saja kalau begini ceritanya.


Tapi saat dia membuka lemari, ternyata lemari itu kosong. Tidak apa-apa disana. Sekarang Sarah pun mulai mengeluh pada ayah mertuanya itu.


'Ayah, kalau begini aku juga akan protes padamu. Yang benar saja, setidaknya berikan kami dua tempat tidur. Hutangku akan bertambah banyak nanti!' batin Sarah mengeluh.


***


Sementara itu di tempat lain tuan Arya Hutama yang sedang menikmati sarapan paginya di temani Samsudin di taman belakang kediaman Hutama itu tiba-tiba saja menggaruk hidungnya yang tiba-tiba terasa gat4l.


"Ada apa tuan?" tanya Samsudin yang memang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik tuannya itu yang sepertinya tidak nyaman dengan hidungnya.

__ADS_1


"Apa tuan merasa tidak enak badan? atau tidak nyaman?" tanya Samsudin yang mencemaskan tuannya itu.


"Sejak tadi hidungku gat4l, Sam. Padahal cuaca terlihat sangat cerah. Udara juga tidak dingin, rasanya ingin bersin tapi tidak bisa bersin." jelas tuan Arya Hutama.


Samsudin yang mendengarkan keluhan dari tuannya itu hanya tersenyum samar saja.


"Kalau mau tertawa ya tertawa saja Sam!" kata Arya Hutama yang sangat mengenal asisten pribadinya itu.


Sehingga saat Samsudin menahan tawa dan hanya tersenyum samar saja, Arya Hutama bisa mengetahuinya.


"Mungkin saja tuan dan nona muda sedang membicarakan anda dalam hati mereka tuan besar!" ucap Samsudin terus terang.


"Ha ha ha, mungkin kamu benar Sam. Tapi biarlah. Aku melakukan semua itu demi hubungan keduanya. Tristan harus tahu seperti apa Sarah, dan Sarah juga harus tahu bagaimana Tristan. Karena sebenarnya Tristan itu... !" Tuan Arya Hutama menjeda kalimatnya lalu menghela nafas panjang.


"Dia dulu juga tidak begini, dia dulu selalu menjadi Tristan kecil yang mampu menyemangati aku dan Melati saat kami lelah, saat kami merasa jenuh, juga bisa membuat Rendra percaya diri dan tidak malu-malu lagi. Namun sejak ibunya meninggal, Tristan jadi pribadi yang tertutup dan berbeda. Karena dia merasa tidak akan ada yang akan selalu di sampingnya, sampai dia bertemu dengan wanita yang entah kenapa masih saja bebal dan terus berada di sampingnya selama lima tahun lebih, tapi setelah dia mendapatkan impiannya dia juga meninggalkan Tristan, hanya Tristan belum menyadari hal itu. Dan karena wanita itu dulu tetap bersama Tristan, Tristan terlanjur percaya padanya!" ungkap tuan Arya Hutama.


Tuan Arya Hutama lalu melihat ke arah taman yang luas setelah dia meminum teh hangat dari cangkirnya.


"Tapi aku yakin Sarah tidak akan seperti Shanum, itu sudah bisa terlihat dari betapa setianya dia tinggal dan menemani bunda Tiara di panti asuhan. Aku yakin jika Sarah bisa mencintai Tristan, Sarah akan selalu menjaga dan menemani Tristan. Karena aku tidak akan tenang jika meninggalkan Tristan dengan orang yang ambisius! Tristan pasti akan terluka!" tambah tuan Arya Hutama.


Tuan Arya Hutama lantas tersenyum, dia berdiri lantas menepuk bahu Samsudin dengan pelan.


"Semoga saja ya, Sam!" ucapnya sambil berlalu hendak masuk ke dalam rumah.


***


Sarah masih mencari-cari di gudang, kira-kira ada selimut tebal atau karpet di dalam gudang yang bisa dia gunakan untuk alas tidur. Tapi rencana tuan Arya Hutama benar-benar sempurna. Bahkan tikar pun tidak ada di gudang itu.


Sarah sampai berkacak pinggang di depan gudang itu melihat isi gudang yang hanya ada barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu di perlukan.


Tristan yang tidak sengaja lewat pun menghampiri Sarah.

__ADS_1


"Sedang apa kamu? cosplay jadi pintu gudang?" tanya Tristan yang melihat Sarah memang sedang berdiri di ambang pintu yang terbuka itu.


Sarah langsung melirik ke arah Tristan.


"Ck... aku sedang mencari tikar atau karpet!" kata Sarah.


"Untuk apa?" tanya Tristan.


"Untuk alas tidur?" jawab Sarah.


"Tempat tidur itu luas, tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku juga masih sayang dengan kulitku, bisa-bisa aku alergi kalau menyentuhmu!" ujar Tristan.


Sarah tidak terlalu memasukkan ke dalam hati apa yang di ucapkan Tristan. Karena dia mengkhawatirkan dirinya sendiri. Alasan kenapa dia tidur sendirian di kamar yang meskipun kecil itu di panti, atau alasan kenapa dia tidak pernah mau menginap di rumah Arumi. Atau alasan kenapa saat Arumi menginap di panti, Arumi akan tidur di kamar bunda Tiara. Itu karena Sarah punya kebiasaan buruk kalau tidur.


Karena tak menemukan cara lain, akhirnya Sarah berbalik menghadap ke arah Tristan.


"Tristan, aku akan katakan sesuatu padamu. Bisakah kalau kontak fisik saat tidur itu tidak usah di hitung?" tanya Sarah.


Tristan pun mengernyitkan keningnya.


"Apa maksud mu? jangan katakan kamu ingin aku dan kamu...!"


"Aih, bukan itu!"


"Lalu apa?"


"Aku suka mengigau saat tidur! dan saat mengigau kadang aku melakukan apa yang ada dalam mimpiku!" jujur Sarah.


"Ha ha ha.... ha ha ha...!"


Tristan sontak saja tertawa puas mendengar pengakuan Sarah yang menurutnya, benar-benar menegaskan kalau Sarah itu wanita freak.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2