
"Aku menolak jadi sekertaris mu!" kata Sarah sambil meletakkan amplop yang isinya surat promosi dari pihak HRD.
Tristan yang tadinya duduk di kursinya pun segera berdiri. Tapi ketika dia hendak mendekati Sarah, Sarah minta dia agar berhenti. Sarah mengangkat tangannya di depan Tristan.
"Bicara di situ saja!" kata Sarah.
Mendengar perintah dari sang istri, Tristan pun menurut dan berhenti.
"Itu surat dari HRD, kalau tidak setuju maka katakan pada HRD dan kembalikan surat itu pada HRD!" kata Tristan santai.
Sarah makin kesal.
"Apa maumu?" tanya Sarah yang mulai menaikkan setengah oktaf nada bicaranya.
"Aku mau membuktikan padamu semua yang aku katakan adalah benar. Aku sekarang benar-benar mencintai mu...!"
"Setelah Shanum menolak mengakui mu?" tanya Sarah menyela ucapan Tristan.
Sontak saja Tristan langsung terdiam, karena apa yang Sarah katakan itu adalah sebuah kebenaran. Kenyataannya memang Tristan selalu menjaga jarak dan hatinya dari Sarah. Sampai dia benar-benar mendengar sendiri dari mulut Shanum kalau karirnya lebih penting daripada Tristan.
"Kamu datang padaku karena Shanum menyakiti mu. Kalau saja, saat di Paris itu Shanum mengatakan dia dan kamu saling mencintai pada media. Bukankah kalian akan bersama, lalu bagaimana dengan ku?" tanya Sarah yang matanya sudah berkaca-kaca.
Apa yang ditanyakan Sarah pada Tristan benar-benar membuat Tristan menutup rapat mulutnya. Dia baru menyadari kalau dirinya benar-benar egois. Bisa-bisanya dia memperlakukan Sarah seperti itu.
Tristan pun menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa sangat malu pada Sarah.
"Kenapa diam? apa aku benar?" tanya Sarah membuat perasaan Tristan semakin merasa bersalah.
"Hentikan semua ini Tristan! jika aku yang pergi ke HRD. Maka ini akan menjadi sebuah drama yang malah jadi bahan gosip selama beberapa hari di perusahaan ini. Setidaknya jaga baik-baik nama Hutama yang ada di belakang namamu, aku akan kembali ke divisi keuangan!" kata Sarah yang langsung berbalik dan pergi dari ruangan Tristan.
__ADS_1
Saat Sarah membuka pintu, dia langsung berpapasan dengan Richard.
"Nona, sabar ya!" kata Richard yang terus terang saja sangat kasihan pada Sarah.
Sarah hanya mengangguk paham. Lalu pergi meninggalkan Richard. Richard mendengar kalimat yang dikatakan Sarah tadi. Bagaimana dengan nya kalau Shanum mengakui Tristan, Sarah pasti akan jadi orang yang tak di hiraukan lagi. Akan jadi orang yang tersisih. Richard sampai mau menangis mendengar apa yang dikatakan Sarah tadi.
Richard memandang ke arah kantor bosnya.
'Bos, aku tidak bisa membantumu lagi. Kalau aku jadi nona Sarah, aku pasti akan mencakar mu!' batin Richard lalu mendengus kesal ke arah kantor Tristan lalu pergi.
Tristan masih duduk di kursinya. Cukup lama dia diam dan berpikir. Sampai dia rasa dia sudah membuat keputusan, dia tak mau memaksakan apapun lagi pada Sarah. Karena memang disini dia yang egois. Benar apa kata Sarah, Tristan sendiri tidak tahu, bagaimana kalau Shanum menerimanya, apa mungkin dia akan kembali pada Sarah.
Tristan meraih kunci mobilnya lalu pergi membawa dokumen perjanjian pernikahannya dengan Sarah.
Sementara itu Sarah sudah kembali ke ruangan divisi keuangan. Arumi yang melihat kedatangan Sarah terkejut, masalahnya tadi saat dia datang dia berpapasan dengan Bu Sisilia dan Bu Fransiska. Dan mereka mengatakan pada Arumi. Kalau Sarah tak akan lagi menjadi rekannya.
Sarah sudah di promosikan menjadi sekertaris utama CEO. Arumi tidak heran, kan dia memang istri CEO. Tapi melihat Sarah kembali duduk di meja kerjanya, Arumi yang tadinya sedang bergosip dengan Kiran pun bergegas menghampiri Sarah.
Sarah menoleh dan berdecak kesal mendengar Arumi memanggilnya seperti itu.
"Kamu panggil aku apa sih Arumi!" protes Sarah tidak suka.
"Loh katanya kamu di promosi. Ngapain balik lagi ke sini?" tanya Arumi bingung.
Arumi merasa akan mendengar penjelasan Sarah yang panjang. Maka dia menarik kursinya mendekat ke arah Sarah.
"Ayo ceritakan? apa kamu menolak manusia batu itu?" tanya Arumi penasaran.
Sarah pun mengangguk.
__ADS_1
"Iya, aku merasa aku tidak akan bisa jadi sekertaris. Kita kan kuliah di management keuangan!" kata Sarah yang langsung membuka lembar kerja di depannya.
Arumi pun mengangguk paham, sebab dia memang sudah empat tahun lebih kenal dengan Sarah. Sahabatnya itu, tidak akan mau makan gaji buta. Dan juga, Sarah tidak akan mau menerima pekerjaan yang memang tidak sesuai dengan kemampuannya.
"Lagian suami kamu itu aneh, mau dekat sama kamu saja pakai cara begitu. Seharusnya dia profesional dong, cari cara lain. Ck... tapi kalau aku pikir-pikir lagi ya. Tristan yang dulu, tidak mungkin melakukan hal ini!" kata Arumi membuat Sarah menghentikan apa yang dia kerajaan.
"Apa maksud mu?" tanya Sarah penasaran dengan apa yang di pikirkan Arumi.
"Iya, manusia batu yang dulu mana mungkin mau dekat-dekat denganmu. Mungkin karena sekarang dia amnesia ya? jadi dia berpikir kalau kamu adalah istrinya, dan ingin memperlakukan mu dengan baik. Seperti itu mungkin ya?" tanya Arumi pada Sarah.
Sarah pun menelan salivanya dengan susah payah. Sarah menoleh ke arah Arumi dengan mata berkaca-kaca dan berkata.
"Dia tidak amnesia Arumi, Tristan tidak amnesia!" kata Sarah dengan nada suara sedih.
Arumi tak dapat menyembunyikan keterkejutan nya.
"Apa?" tanya Arumi kaget.
"Iya, Tristan tidak amnesia. Dia sudah sadar saat berada di rumah sakit. Dia mendengar kalau dia bangun, maka ayah Arya akan segera mengurus perpisahan kami. Dia bilang dia mulai mencintai ku, makanya dia pura-pura amnesia agar kami tidak berpisah! padahal dia kembali karena Shanum menolak mengakuinya, Shanum lebih memilih karirnya daripada Tristan, makanya dia kembali. Kalau Shanum memilih Tristan, dia juga tidak akan mungkin mengatakan kalau dia mencintai ku" kata Sarah dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Arumi yang melihat sahabatnya itu sangat sedih jadi tak tega. Arumi lantas memeluk Sarah.
"Sabar ya Sarah!" kata Arumi.
Arumi tidak tahu harus berkata apalagi pada sahabatnya itu. Dia benar-benar merasa kasihan pada Sarah.
'Dasar manusia batu egois. Aku tidak pernah bertemu dengan manusia seperti itu di dunia ini. Dan aku berharap tidak akan pernah, karena kalau aku jadi Sarah. Aku akan benar-benar menghajar manusia batu itu sampai babak belur, sampai dia benar-benar hilang ingatan. Enak saja setelah di campakkan oleh Shanum, dia bilang cinta sama Sarah. Kalau Shanum kembali lagi, lalu Sarah di campakkan gitu? enak saja. Aku benar-benar akan memukul kepalanya dengan gagang pintu. Menyebalkan!' omel Arumi dalam hatinya.
Arumi benar-benar sangat geram pada apa yang dilakukan Tristan.
__ADS_1
***
Bersambung...