
Sarah dengan penuh perhatian menyuapi ayah mertuanya, tuan Arya Hutama. Tak banyak makanan yang dimakan oleh pria tua itu. Hanya beberapa suap bubur yang di tambah sup, dan tuan Arya Hutama sudah mengangkat tangannya untuk menandakan kalau dirinya sudah tidak bisa melanjutkan makannya lagi.
"Sudah cukup nak, kalian juga pasti belum makan kan?" tanya tuan Arya Hutama yang seolah bisa tahu kalau memang anak dan menantunya itu belum makan.
Tuan Arya Hutama lantas tersenyum.
"Rendra, ajak nak Sarah makan dulu. Biar Samsudin yang menemaniku!"
"Tapi ayah...!"
"Rendra, apa kamu tidak percaya pada Samsudin. Pergilah, ajak Sarah makan dulu!" kata tuan Arya Hutama.
Setelah mendengar perintah sang ayah, Rendra pun mengajak Sarah untuk makan malam di sebuah restoran dekat dengan rumah sakit tersebut. Makanan yang di bawakan oleh Richard tadi siang sudah dingin. Dan pria itu sekarang juga sudah pulang ke rumahnya karena bagaimanapun juga jika Tristan tidak ada, maka Richard lah yang akan bertanggung jawab di perusahaan yang di pimpin oleh Tristan. Karena Rendra punya perusahaan sendiri yang harus dia urus.
Rendra menarik kursi untuk Sarah duduk. Setelah itu baru dia duduk. Seorang pelayan segera menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan Rendra dan Sarah. Mereka juga hanya memesan satu jenis makanan saja masing-masing. Sepertinya memang sedang tidak berselera.
Selama berada di restoran, Sarah dan Rendra bahkan tak saling bicara. Hanya sesekali mereka saling melempar senyum ketika mata neraka saling bertemu pandang.
Bahkan setelah selesai makan, keduanya masih tampak canggung. Sampai Sarah berani bertanya tentang apa yang ada di pikirannya beberapa saat ini.
"Kak!"
Panggilan Sarah terhadap Rendra tersebut membuat pria tampan yang tengah memegang gagang gelasnya di atas meja itu langsung menoleh ke arah Sarah.
"Iya!"
"Apa sebelumnya ayah memang punya riwayat penyakit jantung?" tanya Sarah.
Mendengar pertanyaan Sarah tersebut, Rendra lantas menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sebelumnya tidak ada, ini kali pertama ayah mengalaminya. Mungkin karena kabar tentang Tristan yang pergi ke Paris begitu membuatnya terkejut!"
Setelah mengatakan kalimat seperti itu, Rendra terlihat mengunjal nafasnya berat. Sarah bisa melihat betapa besarnya pengaruh Tristan terhadap ayah mertuanya, tuan Arya Hutama.
Sarah terdiam sambil memikirkan tentang apa saja yang sudah ayah mertuanya itu usahakan untuk membuat Tristan tidak sampai kecewa dalam hidupnya nanti. Ketika tuan Arya Hutama mengetahui Shanum bukan wanita yang tulus pada Tristan. Tuan Arya Hutama berusaha kerasa agar Sarah mau menikah dengan Tristan. Dengan menggunakan anak-anak panti asuhan, tidak sedikit apa yang sudah tuan Arya Hutama lakukan. Membangun rumah panti menjadi lebih layak, setidaknya biaya yang dia keluarkan bisa sampai ratusan juta rupiah.
Belum lagi janjinya pada Sarah yang akan menjadi donatur tetap, bahkan sudah mencantumkan panti asuhan bunda Tiara sebagai penerima 0,5 persen dari seluruh keuntungan perusahaan utama Arya Hutama grup.
__ADS_1
Begitu banyak yang sudah ayah mertuanya itu lakukan demi kebahagiaan Tristan. Sarah merasa sedih, kenapa malah Tristan ingin menghancurkan dirinya sendiri. Dan menyakiti hati ayahnya yang sudah banyak melakukan berbagai hal untuk kebaikannya.
Sarah lalu diam dan berdoa dalam hatinya.
'Ya Tuhan, tolong berikanlah kesehatan dan perlindungan untuk ayah mertuaku. Bukalah mata hati Tristan, namun jika memang Shanum adalah pembawa kebahagiaan bagi Tristan. Maka mudahkanlah jalan mereka untuk mendapatkan restu ayah mertua!'
Seperti itulah doa yang Sarah panjatkan. Dia berharap kebahagiaan bagi Tristan dan kesehatan bagi ayah mertuanya.
Tak lama kemudian ponsel Sarah berdering. Dan ternyata itu telepon dari Arumi.
"Sarah, kamu dimana? apa kamu baik-baik saja?"
Suara cempreng Arumi langsung membuat Sarah menjauhkan ponselnya dari telinganya. Karena begitu Sarah menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas, dan meletakkan ponselnya di telinganya. Arumi langsung memekik dan membuat Sarah terkejut.
Rendra yang melihat reaksi Sarah tersebut sedikit mengernyitkan keningnya.
"Arumi, kenapa harus berteriak?" protes Sarah.
"Apa katamu? hei... aku di panti asuhan. Aku sudah dengar semuanya dari bunda Tiara. Astaga... kenapa aku kesal sekali pada suamimu yang juga adalah bos ku itu ya. Menyebalkan! bagaimana bisa dia pergi ke Paris dan menyusul kekasihnya sementara dia masih terikat pernikahan denganmu! Oh astaga, darahku mendidih mendengar semua itu Sarah!" kata Arumi yang membuat Sarah terdiam.
"Sarah... sudah, minta cerai saja. Suami macam apa yang bisanya hanya membuat istrinya sakit hati. Yang benar saja!" lanjut Arumi lagi yang terdengar sangat kesal dan emosi pada Tristan.
"Arumi kamu bicara apa? jangan bicara tentang hal buruk semacam itu. Sekarang aku sedang di rumah sakit...!"
"Kamu kenapa?" tanya Arumi menyela Sarah karena Arumi terlalu panik mendengar Sarah berada di rumah sakit.
"Ayah Arya sakit, dia terkejut mendengar Tristan ke Paris. Tapi Arumi, tolong jangan berkata yang tidak-tidak lagi. Aku baik-baik saja!" kata Sarah dengan mengembangkan senyuman tipis di bibirnya.
Rendra yang melihat itu merasa semakin tidak enak hati saja pada Sarah. Dia merasa begitu bersalah pada Sarah.
"Sarah!" lirih Arumi dari seberang sana.
"Aku belum bisa pulang ke panti, tolong beritahu bunda Tiara ya. Em... katakan juga pada bunda kalau ayah Arya Hutama masuk rumah sakit, tapi sekarang kondisinya sudah membaik. Katakan pada bunda tidak perlu cemas!"
"Baiklah, tapi kamu harus selalu ingat ya. Ketika semua orang tak mau mendengar keluh kesah mu, masih ada aku Sarah!" kata Arumi yang lagi-lagi membuat senyum mengembang di wajah Sarah.
"Iya aku tahu!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Sarah lalu memutuskan panggilan teleponnya dengan Arumi.
Setelah membayar makanan mereka, mereka pun kembali ke rumah sakit. Kembali ke ruang rawat tuan Arya Hutama.
"Tuan sudah tidur, dia sudah minum obat tadi. Tuan berpesan, tuan Rendra dan nona Sarah pulang saja ke kediaman Hutama. Kalian harus istirahat. Ada aku di sini yang akan menjaga tuan!" kata Samsudin menyampaikan apa yang tadi di pesankan oleh tuan Arya Hutama padanya.
Rendra mengangguk paham, tapi dia kembali memastikan kondisi ayahnya dengan bertanya pada dokter yang menangani tuan Arya Hutama. Setelah yakin betul kalau ayahnya baik-baik saja. Rendra baru mengajak Sarah untuk pulang.
Begitu sampai di kediaman Hutama, ternyata Kevin pun belum tidur. Dia berlari memeluk Sarah ketika melihat Sarah masuk ke dalam rumah.
"Kevin belum tidur, ini sudah malam?" tanya Sarah sambil memangku Kevin dan duduk di sofa ruang tamu.
"Mama Sarah, kakek mana?" tanya Kevin.
"Kakek sedang ada urusan di luar nak, kamu tidurlah. Mama sarah-mu juga harus istirahat!" kata Rendra menggantikan Sarah menjawab pertanyaan Kevin.
Hal itu dia lakukan, karena tahu Sarah pasti akan bingung menjawab pertanyaan Kevin. Dan Rendra tahu, Sarah tidak pandai berbohong pada Kevin.
"Tapi Kevin tidur lagi dengan mama Sarah ya?" tanya Kevin bersemangat.
"Kevin, mama Sarah mu lelah...!"
"Tidak apa-apa kak!" sela Sarah.
Sarah lalu menurunkan Kevin dan menggandeng tangan Kevin.
"Kalau begitu Kevin ke kamar mama Sarah ya, mama Sarah harus bersih-bersih dulu!"
"Iya mama Sarah!" jawab Kevin dengan senang.
Sarah dan Kevin berjalan bersama menuju kamar Sarah.
"Oh ya, tadi Kevin di sekolah belajar apa...!"
Sarah dan Kevin sudah berlalu dari pandangan Rendra.
'Kamu selalu mengatakan kamu baik-baik saja Sarah. Padahal aku tahu hatimu pasti terluka. Tristan... kamu ini kenapa sih? ada wanita yang begitu baik di sisimu. Kamu malah mengejar seseorang yang bahkan tidak akan menghubungi mu kalau tidak ada perlunya. Bodohhh!' batin Rendra kesal pada Tristan.
__ADS_1
***
Bersambung...