
Setelah mengurus Kevin dan mengajaknya ke rumah sakit. Tuan Arya Hutama pulang ke rumah di antarkan oleh Pak Samsudin. Malam ini adalah giliran Rendra yang akan menjaga Tristan bersama dengan Kevin.
Namun karena Rendra masih ada pekerjaan. Maka Sarah menemani Kevin sementara waktu di ruang rawat Tristan.
"Mama Sarah, sampai kapan uncle akan seperti ini?" tanya Kevin yang terlihat sedih melihat pamannya terbaring tak berdaya sudah beberapa hari ini.
Kevin mendekati Tristan, menyentuh tangan Tristan dan terus menatap wajah Tristan yang masih terlihat sangat pucat.
Sarah yang awalnya memerhatikan Kevin dari sofa. Mulai mencemaskan Kevin, karena anak itu cukup lama terdiam dan tak bicara apapun selain menatap wajah Tristan saja.
"Uncle!" lirih Kevin yang matanya sudah berkaca-kaca.
Sarah yang mendengar suara Kevin seperti mau menangis, lantas berdiri dan menghampiri Kevin. Sarah duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur pasien, yang biasanya di duduki Rendra atau tuan Arya Hutama.
Sarah langsung mengangkat tubuh Kevin dan memangku Kevin di atas pangkuannya. Sarah memeluk pinggang Kevin dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi mengusap dada Kevin perlahan berulang kali agar Kevin tidak jadi menangis.
Cara itu cukup ampuh untuk anak-anak panti yang hampir menangis. Bunda Tiara banyak mengajarkan Sarah beberapa cara mengatasi anak-anak panti yang sedih dan merajuk. Salah satu dengan cara seperti itu, memberikan pelukan dan mengusap punggung atau dada seorang anak yang akan menangis akan membuatnya lebih tenang.
"Kevin sayang, uncle pasti akan sembuh. Sebelum Tuhan memberikan sebuah penyakit, Tuhan pasti juga sudah menyediakan obatnya. Hanya saja, sebagai manusia kita harus berusaha mendapatkan nya dan pastinya ada yang cepat ada yang lama"
Jelas Sarah yang membuat Kevin kecil mendongak ke arah wajah Sarah. Sarah pun tersenyum ketika Kevin mendongak ke arahnya.
"Kevin harus kasih semangat untuk uncle! agar uncle bisa tahu kalau Kevin sangat rindu pada uncle!" kata Sarah lagi.
"Mama Sarah, apa uncle akan dengar apa yang Kevin katakan?" tanya Kevin dengan wajah polosnya.
Sarah melihat ke arah Tristan yang sejak kembali dari Paris dan di rawat di rumah sakit ini memang belum menunjukkan tanda-tanda kalau dia bisa bergerak atau bisa mendengar apa yang dikatakan orang di sekitarnya.
Tapi begitu Sarah beralih pada Kevin, dengan manik mata seperti rusa (seperti tatapan mata Jungkook di bulan Juni tahun 2012 ketika pertama kali datang ke kota Seoul). Tatapan mata yang menyiratkan banyak harapan akan jawaban orang yang sedang dia tunggu untuk menjawab pertanyaannya.
Sarah pun kembali tersenyum. Meskipun Sarah sendiri tidak yakin, tapi dia tidak boleh membuat Kevin putus keyakinan akan kesembuhan Tristan. Dengan cepat Sarah mengangguk beberapa kali.
"Tentu saja, uncle pasti mendengar Kevin. Coba kevin beri semangat pada uncle!" kata Sarah membesarkan harapan Kevin.
Setelah Sarah berkata seperti itu, senyum Kevin kian mengambang. Anak laki-laki Rendra itu langsung menghadap ke arah pamannya. Sambil memegang lengan Tristan dengan kedua tangannya Kevin berkata.
__ADS_1
"Uncle, bangunlah uncle. Kevin sangat rindu pada uncle. Bukan hanya Kevin, kakek dan papa juga sangat rindu pada uncle. Kakek setiap hari selalu melihat foto uncle sebelum tidur. Kevin pernah tidak bisa tidur waktu papa menunggu uncle, dan saat Kevin ke kamar kakek. Kakek sudah tidur tapi sambil memeluk bingkai foto uncle...!" Kevin kecil menjeda kalimatnya.
Kevin menundukkan kepalanya, umurnya memang masih sangat kecil. Tapi hal seperti itu bisa membuat perasaan sangat tersentuh.
"Sayang...!" panggil Sarah yang merasa kalau Kevin pasti sedang menangis.
Kevin tidak langsung bicara atau menjawab panggilan Sarah. Anak kecil itu langsung turun dari pangkuan Sarah, dan berlari ke arah kamar mandi.
"Mama Sarah, aku mau pipi5 dulu, mama Sarah di situ saja sampai aku kembali!" seru Kevin sebelum menutup pintu kamar mandi.
Sarah tak bisa menahan air matanya, dia tahu kalau Kevin bukan mau buang air kecil seperti yang dia katakan. Tapi Sarah tahu kalau Kevin sedang ingin menangis. Tapi jagoan kecil itu tidak mau mama Sarah-nya melihat dia menangis dan ikut sedih. Makanya Kevin berlari ke kamar mandi.
Sekarang bagaimana Sarah tidak tersentuh pada jagoan kecil Rendra itu. Sarah menyeka air matanya dengan cepat. Takut kalau Kevin kembali, dia melihat Sarah menangis.
Sarah pun melihat ke arah Tristan dan berkata.
"Tristan... entah kamu bisa mendengar ini atau tidak. Tapi sadarlah, ayah Arya, kak Rendra dan si kecil itu merindukan mu. Mereka merindukan mu. Bangun Tristan! kasihan ayah, kasihan Kevin dan kek Rendra. Kamu tidak perlu khawatir, saat kamu bangun nanti, aku akan pergi jauh dari mu. Kamu bisa membawa Shanum pada ayah, yang harus kamu lakukan hanyalah bicara baik-baik pada ayah. Juga beri pengertian pada Shanum, untuk bisa menghormati dan bicara dengan baik pada ayah. Ayah itu hanya di luarnya saja tampak keras dan tegas. Tapi kamu dengar sendiri saat Kevin bilang, dia bahkan menemukan ayah tertidur dalam posisi memeluk bingkai fotomu. Itu artinya dia sangat mencintai mu. Setelah kamu bahkan menentangnya!"
Sarah menghela nafas panjang sebentar, lalu lanjut berkata.
"Bangunlah Tristan, karena jika kamu tidak bangun. Bagaimana kamu bisa hidup bahagia dengan kekasihmu itu! dia juga pasti mencemaskan mu kan? Bangunlah Tristan!"
Sarah langsung menyela air matanya ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Lalu dengan cepat Sarah melihat ke arah Kevin.
"Sudah sayang?" tanya Sarah.
"Iya mama Sarah!" ucapnya dengan hidung merah.
Sarah hanya tersenyum lalu memeluk Kevin.
'Anak baik, kamu bahkan tidak mau orang lain tahu kalau kamu menangis. Kamu benar-benar persis seperti papamu Kevin. Tapi hidung merah mu itu tidak bisa berbohong nak!' batin Sarah sambil memeluk Kevin.
Sementara Tristan yang mendengar semua ucapan Kevin dan Sarah pun merasa semakin bersalah di dalam hatinya.
Tak lama, Rendra datang. Dan Sarah pun pulang ke kediaman Hutama. Bunda Tiara juga siang tadi sempat menjenguk Tristan. Arumi yang akhir-akhir ini semakin rajin ke panti untuk menemani bunda Tiara pun menghela nafasnya ketika mendengar Sarah masih setia merawat Tristan.
__ADS_1
"Huh, bunda! kalau aku jadi Sarah. Aku akan suntikan cairan pembasmi serangga di infus pria arogan itu. Astaga!" ujar Arumi sambil geleng-geleng kepala.
"Aku tidak habis pikir, empedu Sarah itu terbuat dari apasih?" tanya Arumi bingung.
Bunda Tiara yang mendengar Arumi bicara malah tambah bingung lagi.
"Empedu?" tanya bunda Tiara.
Arumi malah melebarkan matanya, tak lama kemudian dia menepuk dahinya.
"Aduh, mohon maaf ya bunda. Aku kalau emosi suka gini nih Bun, suka salah sebut. Maksud aku, hati Sarah tuh terbuat dari apa?" ralat Arumi.
Bunda Tiara lalu mengangguk paham. Tapi seperti itulah Sarah. Kesabarannya untuk orang yang menurutnya pantas, memang tidak akan pernah berakhir. Dan bunda Tiara tahu, untuk siapa Sarah melakukan semua itu. Sesungguhnya bukan untuk Tristan, Sarah bersabar sampai di titik ini. Tapi untuk tuan Arya Hutama dan Kevin. Keduanya selalu menganggap Sarah penting dan menempatkan Sarah di ruang hati mereka. Maka Sarah juga sama, menganggap tuan Arya Hutama dan Kevin penting, juga menempatkan mereka di ruang hati Sarah.
Bunda Tiara kadang berpikir, wanita sebaik itu pasti terlahir dari seorang ayah dan ibu yang baik pula. Bunda Tiara yakin, kalau kata-kata Sarah tentang keluarganya itu tidak benar. Sarah selalu berkata, kalau orang tuanya membuangnya. Padahal bunda Tiara yakin, sebenarnya tidak seperti itu. Pasti ada satu dan lain hal yang membuat Sarah berada di depan panti 24 tahun yang lalu.
"Apa hatinya terbuat dari emas ya bunda?" tanya Arumi lagi.
Bunda Tiara malah terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi itu.
"Kamu ada-ada saja, mana ada hati terbuat dari emas!" kata bunda Tiara.
"Iya juga ya Bun!" Arumi ikut terkekeh.
Sementara itu di rumah sakit, seorang suster sedang masuk memeriksa selang infus dan botol infus Tristan. Saat suster itu masuk, Rendra dan Kevin sedang tertidur di atas sofabed yang ada di ruangan itu.
Tapi begitu suster itu memeriksa tangan Tristan. Memeriksa denyut nadinya.
"Suster, bisa aku bicara pada dokter yang merawat ku?" sebuah suara mengejutkan suster itu hingga terhenyak ke arah belakang.
Tristan lah orang yang bersuara itu. Tristan juga meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Mengisyaratkan pada suster itu untuk diam.
"Anda sudah sadar tuan?" tanya suster itu terkejut.
"Sssttt... bawa aku ke dokter yang menangani ku!" seru Tristan yang di angguki oleh suster tersebut.
__ADS_1
***
Bersambung...