
Saat Tristan akan membawa Kevin, Rendra menahan lengan Tristan. Tristan pun berbalik dan menaikkan sedikit alisnya ke arah Rendra.
"Sarah pasti lelah, dia pasti ingin cepat istirahat. Bukan ide bagus membawa Kevin ke sana!" ujar Rendra yang tidak enak kalau istirahat Sarah terganggu karena kehadiran Kevin.
Tristan tidak langsung menjawab apa yang dikatakan oleh Rendra, namun dia malah melihat ke arah kebun dan berkata pada anak kecil yang menggemaskan itu.
"Hei jagoan, lihat! papa kamu melarang mu. Padahal uncle sudah mengajakmu!"
Tristan seperti ingin menyulut permusuhan antara ayah dan anak yang hubungannya sangat baik itu.
"Papa! aku ingin tidur dengan mama Sarah. Boleh ya pa. Aku janji besok aku akan jadi anak penurut dan tidak akan merepotkan nanny Maria atau membuatnya pusing kepala dan tensi darahnya naik lagi. Boleh ya pa?" tanya Kevin dengan wajah memelas yang membuatnya makin terlihat menggemaskan saja.
Rendra yang melihat sikap Tristan dan melihat betapa menggemaskan anaknya itu akhirnya pun tak dapat menolak keinginan dari Kevin.
"Baiklah, tapi jangan nakal ya. Segera tidur, jangan buat Tante Sarah semakin kelelahan!" kata Rendra yang akhirnya hanya bisa mengatakan Tristan dan Kevin berlalu menuju ke kamar Tristan.
Sementara Sarah yang sudah selesai berganti pakaian pun memilih untuk tidur di sofa panjang yang ada Adi kamar Tristan tersebut. Sarah mengeluarkan selimut tebal dari dalam lemari dan mengambil satu buah bantal yang ada di atas tempat tidur Tristan. Sarah meletakkan bantal itu sofa dan bersiap untuk tidur.
Dia tidak ingin ada drama lagi, karena dirinya sangat lelah. Setelah merebahkan dirinya di sofa panjang itu. Dia mengingat apa yang terjadi di kapal hari ini.
Flashback On
Sarah yang di berikan makan siang oleh penjahat yang menahannya menolak untuk makan. Sarah sudah di biarkan duduk sendiri di sebuah kursi tanpa di ikat. Namun di ruangan itu tetap ada empat orang penjaga yang tetap berdiri dengan sikap siaga mengawasi Sarah.
"Eh, kok gak mau makan? jangan macam-macam ya? kalau kamu gak makan, terus sakit terus nyusahin kita, mendingan kita lempar ke laut aja kamu nya!" kata anak buah Roy yang malas adu mulut dengan Sarah.
Mendengar gertakan dari anak buah Roy itu. Sarah tetap masih belum mau menyentuh sendok yang sejak tadi di sodorkan ke hadapannya.
"Makan!" kesal anak buah Roy itu pada Sarah hingga nada suaranya mulai kian meninggi.
"Gak mau!" bentak Sarah tak kalah dengan nada tinggi anak buah Roy itu.
Para pengawal lain yang berada di ruangan itu malah menahan tawa melihat Sarah berani melawan anak buah Roy tersebut. Ada satu malah yang sudah terkekeh karena tak sanggup menahan tawanya.
'Nah, galakan dia dari pada Peter!' batin anak buah yang terkekeh itu.
__ADS_1
Pria bernama Peter itu hanya garuk-garuk kepala saja.
'Hais, mau di gaplokin kata bos gak boleh lecet atau luka. Tapi di ancam pakai mulut doang gak mempan ini perempuan. Aduh enaknya gimana nih? kalau gini terus aku yang darah tinggi nanti!' keluh Peter dalam hatinya.
Karena kesal tapi tak bisa lebih kasar pada Sarah, yang memang tak boleh terluka. Akhirnya Peter menyerah dan memilih pergi dari ruangan itu.
"Terserah, makan gak makan, terserah! Bukan urusanku. Mau mati kelaparan, sakit karena asam lambung terserah!" gerutu Peter sambil berlalu dari ruangan itu.
Sarah pun hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan penjahat yang pundung itu.
'Ih, aneh. Penjahat kok pundungan!' batin Sarah.
Tapi sampai beberapa jam, Sarah juga tak kunjung menyentuh makanan yang ada di depannya. Minum yang ada di botol pun tak juga dia sentuh. Lagipula ini juga baru beberapa jam dari terakhir kali dia sarapan pagi tadi. Jadi dia masih kenyang dan juga tidak haus sama sekali.
Tak lama setelah itu, terdengar suara tawa dari luar pintu.
"Ha ha ha, jangan seperti itu. Kita ini saudara, ayahku dan ayahmu, paman Arya Hutama kan masih saudara. Kita juga anak-anaknya kan saudara!"
Suara itu Sarah kenal, suara itu suara Roy. Pria yang ingin sekali Sarah jambak rambut gondrongnya kapan-kapan kalau ada kesempatan. Sedang kan Sarah yang mendengar nama Arya Hutama di sebutkan pun mulai senang.
Sarah sudah senang karena Tristan menyelamatkan dirinya. Dia berdiri dan berjalan ke arah pintu, sampai dia lupa di sana masih ada empat orang pengawal yang menjaganya.
Keempatnya lantas menghadang di depan Sarah.
"Mau kemana? duduk!" gertak salah satunya pada Sarah.
Sarah hanya bisa mendengus kesal, lalu kembali duduk. Tak lama setelah itu pintu terbuka, dan terdengar suara Roy berseru.
"Sarah, lihatlah siapa yang datang menyelamatkan mu!" ujar Roy dengan suara lantang.
Sarah yang mengira itu Tristan, karena memang pandangannya tertutup oleh keempat pengawal yang berdiri di depannya langsung berdiri.
"Tris...!"
Namun saat Sarah akan menyebutkan nama Tristan, Sarah langsung menghentikan apa yang mau dia katakan itu ketika melihat Rendra lah yang ada di samping Roy.
__ADS_1
"Kak Rendra!" kata Sarah.
"Sarah, cepat kemari!" ucap Rendra dan dengan cepat Sarah berlari ke arah Rendra.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendra begitu adik iparnya itu ada di sebelahnya.
Sarah langsung menggelengkan kepalanya, dan Rendra kembali menatap serius ke arah Roy.
"Kali ini ayah masih berbaik hati padamu, kalau itu aku. Aku akan pastikan kamu tidak pernah mendapatkan apa yang kamu mau. Jika kamu mengusik anggota keluarga kami lagi, aku akan buat perhitungan dengan mu!" kata Rendra tegas.
Sarah yang baru kali itu mendengar Rendra mengancam orang sedikit tertegun. Ternyata orang yang cenderung penurut dan murah senyum, kalau marah akan lebih terlihat mengerikan, menakutkan.
"Sarah ayo!" ucap Rendra yang menyadarkan Sarah dari lamunannya.
Rendra bersama Sarah lalu pindah ke kapal lain lalu kembali ke kota.
Flashback Off
Sarah masih menatap langit-langit kamar Tristan.
"Huh, seharusnya aku memang tidak terlalu berharap. Ck... sudahlah!" gumam Sarah lalu memejamkan matanya.
Tapi baru beberapa saat Sarah memejamkan matanya, terdengar suara pintu terbuka.
"Mama Sarah!" teriak Kevin yang langsung beralih ke arah Sarah dan memeluknya.
Sarah membuka matanya dan memposisikan dirinya duduk.
"Kevin!"
Kevin lantas memeluk Sarah, dan Sarah melihat Tristan terlihat berjalan pelan ke arahnya.
"Kevin merajuk ingin tidur bersama kita malam ini!" kata Tristan.
***
__ADS_1
Bersambung...