
Di rumah sakit, tuan Arya Hutama baru saja selesai di periksa oleh dokter. Tuan Arya Hutama juga baru saja selesai sarapan meskipun hanya sedikit. Karena pagi-pagi sekali tadi Kevin datang dan menyuapi kakeknya itu. Setelah itu dia berangkat ke sekolah di antar oleh Rendra.
Setelah dokter meninggalkan ruang rawat tuan Arya Hutama. Pria tua yang sebagian rambutnya sudah memutih itu pun duduk diam sambil memandang ke arah jendela kaca. Pemandangan di sana hanya nampak beberapa puncak pohon dan kamar lain bangunan rumah sakit itu saja.
"Hari ini sidang pertama mereka kan Sam?" tanya tuan Arya Hutama pada Samsudin.
Samsudin yang berada di sebelah tuan Arya Hutama, berdiri di samping tempat tidur pasien dimana tuan Arya Hutama sedang duduk dan terlihat sedih. Hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil berkata.
"Benar tuan, menurut kabar Andreas. Nona Sarah dan tuan muda akan ke pengadilan untuk sidang mediasi pertama mereka pada pukul sepuluh pagi ini tuan!" kata Samsudin.
Tuan Arya Hutama lantas menghela nafasnya berat. Raut wajah keriputnya menyiratkan rasa sedih yang begitu mendalam.
"Aku rasa memang harus begini Sam, agar Sarah bisa mendapatkan kebahagiaannya. Kita sudah berusaha. Namun ternyata Tristan malah melakukan kesalahan lagi, berbohong pada Sarah dengan pura-pura amnesia. Bahkan surat perjanjian pernikahan itu? anak itu benar-benar membuat aku tidak punya muka lagi!" kata tuan Arya Hutama meluapkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya pada Samsudin.
Samsudin memang kecewa, tapi dia hanya bisa berharap kalau ada jalan keluar yang terbaik. Menurutnya Tristan sudah berusaha.
Dan di pengadilan, Andreas dan team sedang menunggu kedatangan Sarah dan Tristan. Melihat Sarah dan Tristan datang bersama. Andreas terlihat lega. Mereka masuk ke ruang sidang, dan memilih seorang hakim yang akan menjadi moderator mereka. Setalah itu beberapa pertanyaan di ajukan, Hakim anggota mengucapkan beberapa kata nasehat. Yang sebenarnya membuat Tristan begitu malu, tapi kemudian mereka mencapai kesepakatan.
Andreas begitu senang kesepakatan yang tercapai adalah pencabutan gugatan yang artinya mereka tidak akan bercerai.
Setelah gugatan di tarik kembali, semuanya terlihat senang. Begitu pula para hakim, menjadi hakim perceraian benar-benar sesuatu bagi mereka. Begitu melihat Sarah dan Tristan memutuskan untuk berdamai. Mereka begitu bahagia, mereka ikut berbahagia untuk Sarah dan juga Tristan.
Andreas menyalami Tristan dan Sarah secara bergantian.
"Tuan Arya Hutama akan senang mendengar berita ini!" kata Andreas.
Tristan pun mengangguk paham. Tapi Sarah hanya diam. Setelah semua urusan beres. Tristan dan Sarah pun meninggalkan pengadilan. Mereka ingin pergi ke rumah sakit untuk menemui tuan Arya Hutama dan mengatakan kalau mereka tidak akan bercerai.
Namun saat mereka akan menuju ke rumah sakit, ponsel Sarah berdering.
__ADS_1
"Sarahhh!"
Panggilan itu dari Arumi, dia berseru sangat keras di seberang sana sampai membuat Sarah menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ada apa Arumi?" tanya Sarah selanjutnya.
"Aku dengar kamu tidak jadi bercerai, selamat ya sahabat ku sayang, aku senang mendengarnya Sarah. Aku sudah bilang kan, kalau manusia batu itu... eh maksudku Tristan itu sudah benar-benar berubah. Biasanya aku tidak suka memuji orang. Tapi aku pikir, Tristan pengecualian!"
Mendengar Arumi ikut senang, Sarah malah mengernyitkan keningnya karena bingung. Bukankah dia belum mengatakan hal ini pada Arumi. Lagipula kalaupun Andreas memberi kabar seseorang, itu pastilah ayah Arya Hutama atau kak Rendra. Bagaimana Arumi tahu? pertanyaan itu membuat Sarah lantas bertanya pada Arumi.
"Darimana kamu tahu kabar itu?" tanya Sarah.
"Oh, tentu saja dari... dari... halo.. Sarah, suaranya putus-putus. Halo...!"
Tut Tut Tut
Melihat Sarah yang agak bingung, Tristan yang ada di sebelahnya. Yang sedang duduk di kursi kemudi pun bertanya.
"Ada apa sayang!" tanya Tristan.
Sarah yang masih mengernyitkan keningnya karena heran dengan Arumi, tambah mengernyitkan keningnya lagi karena mendengar panggilan sayang dari Tristan.
"Siapa yang kamu panggil sayang?" tanya Sarah ketus.
Tristan yang melihat Sarah jutek padanya dan kening Sarah yang mengkerut seperti nenek-nenek pun akhirnya hanya bisa terkekeh. Dia sadar kalau masih sangat membutuhkan waktu untuk Sarah bisa menerimanya dengan sepenuh hatinya. Tristan tahu, meskipun mereka tidak jadi bercerai. Tapi dia memang belum mendapatkan hati Sarah seutuhnya.
Dan sebenarnya juga, Arumi tadi mendapatkan kabar bahagia itu dari Rendra. Rendra bahkan sudah mengajak Arumi untuk pergi ke rumah sakit menemui sang ayah. Selain untuk merayakan kebahagiaan Tristan dan Sarah yang tidak jadi bercerai. Rendra juga ingin mengumumkan hubungannya dengan Arumi pada keluarganya. Rendra memang tipikal pria yang seperti itu, dia selalu menjalani sebuah hubungan dengan serius sejak awal.
Begitu Sarah dan Tristan sampai di rumah sakit, Sarah langsung menemui tuan Arya Hutama. Tuan Arya Hutama memang sudah mendengar kabar itu dari Andreas. Tapi wajahnya masih tampak tenang seperti tak mendengar kabar apapun.
__ADS_1
Sarah masuk ke dalam kamar rawat ayah mertuanya itu, tapi Tristan malah menghentikan langkahnya di depan pintu.
Melihat Tristan berdiri diam di depan pintu, Sarah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Tristan. Dia masih ragu untuk masuk ke dalam ruangan dimana ayahnya di rawat karena kejadian tempo hari.
Sarah yang memang ingin hubungan ayah dan anak itu membaik, langsung berbalik dan menggandeng tangan Tristan.
Tristan menatap mata Sarah, namun Sarah langsung mengangguk dan tersenyum.
"Semarah apapun seorang ayah, dia tetaplah seorang ayah. Ayo masuk, aku yakin ayah sangat merindukan mu!" kata Sarah.
Tristan pun memberanikan dirinya untuk melangkah maju. Se arogan apapun Tristan, dia tetap takut pada ayahnya. Karena ayahnya memang tak pernah melakukan kesalahan di depan mata Tristan. Bagi Tristan, ayahnya sangat sempurna sebagai seorang ayah. Karena itu, meski Tristan mampu melawan seluruh orang di dunia. Dia tidak akan berani melawan ayahnya secara berhadap-hadapan.
Tuan Arya Hutama menatap Sarah, dia juga menatap ke arah Tristan, tapi hanya sekilas.
"Untuk apa kamu bawa dia kemari Sarah?" tanya tuan Arya Hutama.
"Ayah, aku sudah memaafkan Tristan. Aku ingin memberinya kesempatan, dia sudah mengakui kesalahannya. Dan dia benar-benar menyesal!" kata Sarah menjelaskan.
"Benarkah? tapi apa sekarang dia bisu? kenapa dia tidak bicara?" tanya tuan Arya Hutama.
Tristan pun langsung melepaskan tangan Sarah dan berlari memeluk kaki ayahnya yang memang dengan posisi selonjoran ke depan di atas tempat tidur.
"Maaf ayah, aku salah ayah... aku minta maaf. Tidak masalah ayah mencoret namaku dari kartu keluarga, tapi jangan menghapus ku sebagai anak ayah dari hidup ayah!" lirih Tristan memeluk kedua kaki ayahnya sambil menangis.
Samsudin sampai memalingkan wajahnya karena air mata juga sudah mengalir dari salah satu sudut matanya. Dia memalingkan wajah, dan buru-buru menghapus air matanya itu. Sedangkan Sarah, dia menangis tapi bibirnya tersenyum melihat ayah dan anak di depannya itu.
***
Bersambung...
__ADS_1