
Sementara di dalam lift, Sarah terus merangkul Kevin. Dia ingin melindungi Kevin dari mata jahat wanita yang baru saja melihatnya dengan tatapan remeh tadi.
Sarah sama sekali tidak suka cara Gisella melihat ke arah Kevin tadi. Mungkin benar dia melihat dengan tatapan seperti itu karena merasa kalau Kevin adalah anak Sarah. Keluarga baru Rendra.
Tapi apa sebagai seorang ibu, yang telah mengandung Kevin selama sembilan bulan. Yang telah melahirkan Kevin dan pasti adalah yang pertama melihat dan menyentuh Kevin. Gisella tidak bisa merasakan kalau Kevin itu anaknya. Apa mata hatinya begitu tertutup, apa perasaannya benar-benar sudah membatu hingga tak menyadari kalau Kevin itu adalah anak kandungnya.
Sarah benar-benar kesal, hatinya benar-benar terluka. Pikirannya bahkan sudah merajalela kemana-mana. Sampai dia juga membayangkan apakah nanti kalau seandainya dia bertemu dengan ibu kandungnya yang bahkan dia tidak tahu ibu kandungnya itu masih hidup atau tidak. Ibu kandung Sarah akan merasakan kalau Sarah itu adalah anaknya. Atau malah seperti Gisella yang bahkan berkata begitu tidak pantas di depan seorang anak kecil, padahal Kevin adalah anak kandungnya. Anak yang lahir karena cintanya dan Rendra. Meski semua itu hanya masa lalu.
Sarah benar-benar terluka. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Hatinya tak rela melihat Kevin di pandang seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri.
Merasakan kalau mama Sarah-nya tidak baik-baik saja. Kevin lantas mendongak ke arah Sarah.
"Mama Sarah! mama Sarah kenapa?" tanya Kevin.
Sarah yang memang sedang sangat emosional, di tanya Kevin seperti itu malah tak sanggup lagi menahan air matanya. Sarah pun berjongkok dan memeluk Kevin dengan erat.
"Mama Sarah tidak apa-apa sayang, mama Sarah hanya merasa tidak senang karena wanita tadi berkata sangat tidak pantas di depan Kevin!" jawab Sarah berusaha mencari alasan terbaik untuk di jelaskan pada Kevin.
Meski sebenarnya dia sendiri merasa alasan yang dia sampaikan pada Kevin juga kurang tepat.
Kevin kecil lantas menyeka air mata mama Sarah-nya.
"Mama Sarah jangan menangis, aku tidak terlalu mendengarkan apa kata wanita itu. Memang siapa wanita itu?" tanya Kevin yang penasaran.
Karena bagaimanapun Kevin tadi juga sempat mendengar wanita itu menyebut nama papanya. Sepertinya sudah sangat lama mengenal papanya. Jadi Kevin juga penasaran siapa dia, dan kenapa dia berkata seperti tak senang melihat papanya dan juga Sarah.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Kevin. Sarah sendiri bingung menjawabnya. Pikir Sarah, akan lebih baik kalau Rendra yang menjelaskan siapa Gisella pada Kevin. Untung saja saat itu pintu lift terbuka.
Ting
"Sayang, pintu lift nya sudah terbuka. Ayo!" ajak Sarah menggandeng tangan Kevin.
Karena Kevin memang selalu menurut pada Sarah. Anak kecil yang tampan dan menggemaskan itupun tak lagi bertanya pada Sarah dan mengikutinya masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar rawat Tristan, Rendra sejak tadi berusaha untuk tidur dan memejamkan matanya. Tapi semakin dia berusaha, semakin Rendra sulit melakukannya.
Matanya terasa berat, dan pikirannya tidak mau di ajak kompromi. Pertemuannya dengan mantan istrinya tadi benar-benar mengganggu Rendra. Kalau ada wanita yang saat ini namanya masih di dalam hati Rendra. Satu-satunya wanita itu memang adalah Gisella. Wanita itu adalah cinta pertama Rendra. Wanita yang dia perjuangkan untuk menjadi pendamping hidupnya, bahkan sempat menentang ayahnya demi Gisella. Namun apa yang terjadi sama sekali di luar kuasa Rendra. Cinta Gisella pudar, dan akhirnya memilih meninggalkan Rendra dan putra mereka yang kala itu masih berusia dua bulan.
Bayi dua bulan itu bahkan di tinggalkan. Demi karir dan ambisi Gisella. Air mata Rendra tak dapat ia tahan lagi. Rendra benar-benar tak bisa menahan agar air matanya tidak mengalir karena mengingat semua rasa sakit itu.
Rendra perlahan duduk dan menyeka air matanya. Dia merasa sudah waktunya dia melupakan Gisella. Karena wanita yang selama ini masih dia pertahankan di dalam hatinya bahkan tidak bisa mengenali anak kandungnya sendiri. Itu sungguh sangat menyakiti Rendra, jika selama ini hanya Rendra yang tak di anggap, itu bukan sebuah masalah bagi Rendra. Tapi sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan Kevin, Rendra merasa kalau Gisella memang sangat keterlaluan. Sangat tidak punya hati.
'Sudah cukup. Sudah cukup Gisella. Sudah waktunya namamu keluar dari hatiku!' batin Rendra yang sudah bertekad mengeluarkan nama Gisella dan seluruh kenangannya dari dalam hatinya untuk selamanya.
Keesokan harinya...
Tristan terus mengeluh pada Rendra karena dia ingin segera kembali ke rumah dan tak mau lagi menginap di rumah sakit.
"Hasil pemeriksaan menyeluruh mu belum keluar, tunggulah satu hari lagi!" kesal Rendra yang sejak tadi sedang sibuk merapikan tas kerjanya.
"Hasilnya kan bisa menyusul, aku tidak suka bau rumah sakit ini!" sahut Tristan lagi beralasan pada Rendra.
"Bau rumah sakit apa maksudmu? bau kamar rawatmu ini bahkan seperti bau hotel VIP! sudahlah. Tunggu hasil pemeriksaannya keluar. Aku berangkat kerja dulu!" kata Rendra yang sudah menyiapkan semua keperluannya.
"Eh, kak. Sarah mana? kok belum datang?" tanya Tristan.
Rendra lagi-lagi mengernyitkan keningnya, tapi dia menarik senyum tipis. Dalam hatinya Rendra berkata.
'Sepertinya Tristan semakin perhatian pada Sarah. Seandainya saja dia tidak amnesia, dan ini benar-benar perhatian yang datang dari hatinya. Itu akan lebih baik!'
"Sarah pasti mengantarkan Kevin dulu ke sekolah. Mungkin setelah itu dia baru kemari. Karena hari ini ayah ada pertemuan di kantor utama. Sudah ya, aku sudah hampir terlambat meeting, apa perlu aku telepon Richard untuk kemari sambil menunggu Sarah datang?" tanya Rendra.
Tapi Tristan langsung melambaikan kedua tangannya di depan Rendra.
"Tidak, untuk apa alien itu datang kemari...!"
"Hei, dia itu asisten pribadimu yang paling bisa di andalkan. Memangnya siapa yang mengurus perusahaan selama kamu ke Paris dan kamu koma kalau bukan manusia yang kamu sebut alien itu. Aku sarankan padamu, sebaiknya kamu lebih menghargai orang lain yang memang selalu menghargai mu!" tegur Rendra.
__ADS_1
"Iya, iya. Sudah sana pergi, katanya terlambat!" kata Tristan yang tak mau lagi mendengarkan ceramah dari kakaknya itu.
"Yang menahan ku juga kamu kan? kalau ada apa-apa hubungi aku. Ponselmu ada di laci sebelah kanan itu!" kata Rendra yang kemudian pergi meninggalkan kamar rawat Tristan.
***
Sementara itu di sekolah Kevin. Sarah seperti biasanya tetap menunggu di depan gerbang sampai bel sekolah Kevin berbunyi. Karena pasti sesekali Kevin akan berlari keluar dan melambaikan tangan padanya. Jadi dia tetap menunggu di depan gerbang meskipun sudah tidak ada lagi wali murid yang menunggu sepertinya di depan gerbang.
Tak lama setelah itu, bel sekolah Kevin pun berbunyi. Dan Sarah pun mulai berbalik untuk melangkah menuju ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri di depan gerbang.
Namun langkah Sarah terhenti saat seseorang menghadang jalannya.
"Kamu..!" ucap Sarah dengan nada tak senang.
Wanita di depannya itu lantas melepas kacamatanya dan melihat Sarah dengan tatapan penuh tanya.
"Sebenarnya siapa kamu? calon mama barunya Kevin?" tanya wanita itu yang ternyata salah Gisella.
Sarah yang tadinya nge-fans berat dengan Gisella karena perannya sebagai wanita baik di sebuah film. Kini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dari nge-fans seperti Sarah sekarang memilih menjadi hatersnya Gisella.
"Siapapun aku itu bukan urusanmu!" kesal Sarah.
"Hei sepertinya kamu punya dendam pribadi padaku, apa karena sampai sekarang Rendra masih tidak bisa melupakan aku, dan itu membuatmu sulit mendapatkan hatinya sepenuhnya?" tanya Gisella yang hanya menduga-duga padahal dia tidak tahu apa-apa.
Sarah mendengus kesal.
"Sok tahu sekali anda, aku ini Sarah. Istrinya Tristan. Adik iparnya kak Rendra! makanya kalau ngomong di pikir dulu!" kesal Sarah yang langsung meninggalkan tempat itu begitu saja.
Sarah langsung masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gisella yang masih diam menatap kesal ke arahnya.
***
Bersambung...
__ADS_1