
“Maksud lo apa bawa gue kesini?” sekarang Alesh sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
“Nggak usah pura-pura ***** lo Al.” Bentak Nadia.
“Nadia sayang, kalau ngomong tuh yang jelas biar gue ngerti.” Kata Alesh selembut mungkin dan menepuk bahu Nadia. Dengan cepat Nadia menepisnya, lalu mengibas-ibas bekas tangan Alesh. Alesh tersenyum miring.
“Gue yakin lo ada tujuan lain kan balikan sama Bara.”
“Apapun tujuan gue bukan urusan lo.”
“Al, c’mon gue tahu lo udah nggak sayang Bara. Lebih baik lo lepasin dia buat gue.”
Dan lagi, Alesh tersenyum miris. Dia melipat kedua tangan di dadanya. Lalu, mendekatkan wajahnya ke telinga Nadia.
“Denger baik-baik ya Nad, perasaan gue sama Bara nggak ada urusannya sama lo. Yang jelas, lo terlihat menyedihkan sekarang sampai lo harus ngemis-ngemis ke mantan sahabat lo ini buat lepasin pacarnya. Kalau dia mau sama lo, gih ambil buat lo.” Ujar Alesh berbisik. Wajah Nadia merah padam lalu mendorong Alesh hingga dia mundur selangkah dari tempatnya.
“Bangsat lo, Al.” Teriak Nadia. Alesh menutup mulutnya untuk menahan tawa. Nadia semakin kesal. Lalu menampar pipi Alesh. Alesh tak membalas, dia hanya menyentuh bekas tamparan Nadia.
“Let’s play the game, Nadia. Jangan khawatir, kita baru mulai.” Alesh menyeringai sambil berlalu meninggalkan Nadia. Nadia geram melihat kelakuan Alesh yang sangat sulit ditebak. Alesh memang licik.
Alesh keluar sambil merapikan rambutnya dengan jari-jarinya. Felish sudah menunggunya dikelas dengan sejuta pertanyaan diwajahnya. Alesh harus menyiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan Felish ajukan.
“Al, lo berhutang penjelasan sama gue.” Kata Felish saat Alesh baru saja mendaratkan pantatnya di kursi di sebelah Felish.
“Penjelasan apa?” tanya Alesh
__ADS_1
“Semuanya. Lo yang tiba-tiba balikan sama Bara, terus tadi lo berangkat bertiga sama mereka. Lo belum lupa kan kalau mereka udah hianatin lo?” Alesh mengangkat kedua bahunya dan tersenyum kepada Felish.
“Najis lo senyum-senyum bukannya jawab.”
“Fel, belum waktunya gue jelasin semuanya.”
Alesh terselamatkan dari serbuan pertanyaan Felish saat Nata datang dan memberikan segelas coklat panas dan sandwich di mejanya. Felish membulatkan matanya.
“Nih buat lo, gue salah beli. Jadi dari pada gue buang mending buat lo (Translate: Nih buat lo, tadi pas gue beli gue inget lo.)” Kata Nata sebelum dia melangkah ke deretan kursi belakang.
Di detik berikutnya, Alesh memanggil Nata yang sudah memunggunginya.
“Nata.” panggil Alesh. Nata berbalik dan memandangnya.
“Al, lo juga harus jelasin yang ini.” Felish menunjuk tangan Alesh yang masih menggenggam sandwich dan coklat panas.
“Lo mau?” Felish menggeleng
“Ada hubungan apa lo sama Nata?” tanya Felish selidik. Felish memang gitu, nggak mau ketinggalan berita, apalagi menyangkut cowok-cowok keren di kampus.
“Nggak ada.” Jawab Alesh datar.
“Bohong.”
“Beneran Fel.”
__ADS_1
“Kok dia bisa tahu lo suka coklat panas?” Alesh menghentikan aktivitas mengunyahnya, lalu memandang Felish.
“Fel.”
“Bener kan lo ada apa-apa sama Nata?”
“Nggak ada Fel, gue sama dia cuma tetanggaan.” Felish melongo.
“Tetangga? Maksud lo?”
“Dia tinggal di sebelah apartment gue.” Mata Felish membulat, mulutnya melongo membuat Alesh tidak tahan menyumpalnya dengan sandwich.
“Gila lo Al, berita besar kaya gini lo nggak cerita sama gue?” Alesh menautkan kedua alisnya.
“Lo kan nggak nanya.” Felish mengerucutkan bibirnya. Dia sebal kenapa Alesh tidak tebuka sedikitpun sama Felish.
“Lo kan tahu gue ngefans banget sama bokapnya Nata.”
“Kan yang tetanggaan sama gue anaknya, bukan bapaknya.”
Kedua kalinya Alesh terselamatkan dari pertanyaan-pertanyaan Felish yang membunuh saat dosen datang. Beruntung, Alesh dan Felish duduk di bangku depan sekarang. Setidaknya Felish tidak akan mengganggu Alesh sementara.
Apakah semua mahasiswa seni rupa itu memang unik seperti Alesh, Nata dan Felish?
\*\*\*\*\*
__ADS_1