
BAB 261
Zhea di larikan ke rumah sakit. Awalnya exsel yang ingin menangani zhea, tapi karena emosi menguasai dirinya, tangannya gemetaran dan air mata terus saja mengalir melihat zhea yang terbaring lemah. Saat di perjalanan menuju rumah sakit, zhea kehilangan kesadarannya.
Berjalan mondar-mandir di depan ruangan zhea. "tidak, itu tidak mungkin terjadi. Dugaanku pasti salah" gumamnya meyakinkan diri.
Cathlin dan el-razka bersama dengan Tiffany sekeluarga baru sampai di rumah sakit.
Adnan keluar dengan dua orang suster.
"Nand gimana keadaan zhea?" Ucap exsel
"Yang sabar ya. Kita masih harus melakukan tes lab untuk memastikannya. Lho pasti lebih ngerti persoalan ini kan?" Ucap Adnan beranjak pergi.
Exsel mengepalkan kedua tangannya, dia kemudian meninju-ninju dinding rumah sakit.
"Nggak berguna lho sel nggak berguna. Lemah lho jadi suami, pengecut lho jadi orang! Istri lho sakit lho malah nggak bisa nanganin dia."
Niko dan Rio menahan exsel agar tidak melukai dirinya sendiri.
"Cukup dok, jangan melukai diri sendiri. Lihat tangan dokter berdarah, jika dokter juga ikut sakit siapa yang akan merawat zhea" ucap Niko
"Sekarang pun gue nggak bisa nanganin dia. Buat apa gue sekolah keluar negeri menyandang status tinggi tapi keahlian gue, nggak berguna untuk istri gue"
"Sabar sel, kita harus sabar. Jika kamu seperti ini, bagaimana dengan zhea nantinya. Dia butuh dukungan dan do'a dari kita" ucap papa Rere
"Kamu memang tidak berguna untuk putriku. Dan Berhentilah memanggil putriku istrimu, kalian sudah bercerai" ucap Leon
"Nggak mas, mereka belum bercerai" sahut Cathlin buka suara. Dia tidak sanggup lagi menyembunyikan kebenaran tentang pernikahan zhea, melihat exsel yang seperti sekarang.
__ADS_1
"Maksud kamu"
"Zhea dan exsel memang menandatangani surat cerai itu. Tapi, aku merobek surat itu, dan proses perceraian yang zhea ceritakan ke kita itu hanyalah kebohongan" jelas Cathlin
"Apa!" Ucap Leon kaget
"Jadi benar isntingku, zhea masih istriku. Kita tidak pernah bercerai" ucap exsel tersenyum antara sedih dan senang
"Ya mas. Zhea melakukan semua ini setelah tahu dia sakit. Aku sudah membujuknya dari dulu untuk berobat dan ngasih tahu kamu kebenaran ini tapi dia tidak mau. Dia rela mengorbankan cintanya, menyembunyikan rasa sakitnya agar orang-orang yang dia sayangi tidak sedih dan terluka jika tahu dia sakit. Zhea mencintai suaminya mas, biarkan mereka bersama dan bahagia. Kebahagiaan zhea adalah bersama suaminya. Sudah cukup kita memisahkan zhea dengan cintanya selama ini. Sudah banyak tekanan dan pengorbanannya untuk mas dan perusahaan, sudah cukup mas. Biarkan dia memilih kehidupannya sendiri. Dia berhak bahagia mas"
"Kamu tahu zhea sakit tapi tidak memberitahu kami. Jika kamu mengatakannya lebih awal, meungkin zhea tidak akan seperti ini" sahut lara
"Cukup Tante! SEMUA PENDERITAAN ZHEA BERAWAL DARI TANTE, APA TANTE BELUM SADAR JUGA? BERHENTILAH MENYALAHKAN ORANG LAIN ATAS APA YANG TERJADI, KARENA YANG PALING MENYAKITI ZHEA ADALAH TANTE SENDIRI. SAYA TAHU TANTE ADALAH ORANG YANG MELAHIRKAN ZHEA, SAYA JUGA MENGHORMATI TANTE SELAMA INI. TAPI, DI SAAT TANTE DENGAN TEGANYA MELUKAI ZHEA SATU BULAN YANG LALU, PANDANGAN SAYA BERUBAH KE TANTE. MAAF TANTE JIKA SAYA HARUS MENGATAKAN INI, TAPI TANTE TIDAK PANTAS DI SEBUT SEBAGAI SEORANG IBU. KARENA SEORANG IBU AKAN MENJAGA DAN MELINDUNGI ANAKNYA DALAM KONDISI APAPUN. TAPI TANTE? TANTE MALAH SEBALIKNYA, TANTE MENINGGALKAN ZHEA KARENA HARTA DAN DENGAN SENGAJA MELUKAI FISIKNYA. BUKAN HANYA FISIK, TAPI JUGA MENTALNYA. ANDAI ZHEA LEMAH MENGHADAPI KENYATAAN, MUNGKIN SEKARANG ZHEA BERADA DI RUMAH SAKIT JIWA ATAU YANG PALING PARAHNYA LAGI BUNUH DIRI. MIKIR TANTE, TOLONG! NGACA SAMA DIRI TANTE SENDIRI, RENUNGIN KESALAHAN TANTE. JIKA TANTE TETAP SEPERTI INI, WAJAR JIKA ZHEA TIDAK MAU BERDAMAI DENGAN TANTE" UCAP EXSEL PENUH PENEKANAN DAN AMARAH YANG MELEDAK.
Semua orang hanya terdiam, karena tidak pernah melihat exsel marah ataupun berteriak. Exsel yang sekarang adalah orang yang mengerikan.
Rere tidak bisa membendung air matanya lagi. Sejak dari rumah exsel dia berusaha untuk tidak menangis setelah tahu zhea sakit parah.
Rere berdiri di hadapan exsel, dia menangkup kedua tangannya memohon ke exsel. "Dokter, saya mohon sembuhin zhea. Saya benar-benar nggak bisa jika tanpa zhea. Zhea pasti sembuh kan dokter? Dokter suaminya dokter harus tolongin zhea. Agar kalian bisa kembali bersama dan bisa lihat pernikahan kami. Dokter zhea satu-satunya sahabat dan adik perempuanku, tolong dokter selamatin zhea" Isak Rere.
Exsel menghapus air matanya kasar mendengar ucapan Rere. Dia Kembali meninju-ninju dinding meluapkan segala rasa yang bergejolak dalam dirinya.
"Iya sayang. Jangan menperkeruh suasana seperti ini" ucap mama Rere
"Nggak mama, zhea nggak boleh seperti ini. Dia sudah banyak menderita dan tertekan, kenapa harus sakit juga. Tuhan nggak adil banget sama zhea" ucap Rere.
Kali ini Rere bersujud memegangi dan memegangi kaki exsel "dokter saya meminta bukan sebagai sahabat lagi, tapi saya minta sebagai saudara perempuannya zhea. Tolong dokter sembuhin zhea, hanya ini satu-satunya permintaan saya ke dokter"
"Saya juga mau seperti itu Rere, tapi saya payah, saya lemah. Sudah ribuan orang saya tangani dengan berbagai jenis penyakit, tapi kenapa dengan zhea saya tidak bisa. ANDAI NYAWA BISA DI TUKAR, AKAN SAYA BERIKAN KE ZHEA SEKARANG JUGA. BIAR SAYA SAJA YANG MENANGGUNG SAKIT DAN DERITANYA" tangis exsel benar-benar pecah. Niko tidak tahu harus berkata seperti apa lagi untuk menenangkan exsel, dia juga sangat terluka dengan kondisi zhea sekarang.
Papa Rere mendekati putrinya "nak jangan seperti ini. Dokter exsel bahkan lebih sedih di bandingkan Dengan kita. Yang berbaring di sana adalah istrinya. Kita berdo'a dan optimis bahwa zhea bakal sembuh" ucap papa Rere memeluk putrinya itu
"Gimana kalo zhea ninggalin kita, Rere harus apa pah? RERE NGGAK BISA KALO NGGAK ADA ZHEA PAPA, RERE DARI KECIL UDAH BIASA SAMA ZHEA" Tangis Rere pecah
"Jangan ngomong seperti itu, do'akan yang baik-baik untuk zhea"
Hari beranjak pagi, Adnan membawa hasil lab zhea.
"Gimana?" Ucap exsel
__ADS_1
Adnan hanya menggeleng, memberikan hasil lab itu ke exsel. Exsel langsung membacanya.
"Dugaan lho benar sel. Zhea harus segera melakukan pencakokan hati, karena zhea sering meminum alkohol dan sekarang kondisinya..."
"Tuan, Tante. Zhea adalah putri kalian, apa di antara kalian ada yang ingin mendonorkan separuh hati kalian untuk zhea?" Tanya exsel memotong ucapan Adnan yang dia sendiri tahu apa kelanjutannya
"Apa harus?" Tanya lara
"Zhea harus segera di operasi, secepatnya atau, kemungkinan terburuk akan terjadi. Ini adalah kesempatan kalian untuk meminta maaf dan menghapus dosa kalian" ucap exsel dengan nada tinggi
"Apa akan beresiko?" Tanya Leon
"Tentu beresiko. dan kecil kemungkinan operasinya akan berhasil. Terlebih lagi kondisi tubuh zhea yang makin melemah" jelas exsel
"Bukankah akan sia-sia jika kita mendonorkan separuh hati kita jika kemungkinan akan berhasil sangat kecil" ucap lara
"APA MAKSUD TANTE! TANTE BERHARAP ZHEA MATI IYA?" teriak exsel
"Bukan begitu maksud Tante sel"
"SUDAH DIAM! JIKA TIDAK INGIN MELAKUKANNYA TIDAK USAH MENGELUARKAN KATA-KATA GILA SEPERTI ITU" BENTAK EXSEL
"DOK, TENANG DULU. KITA PIKIRKAN JALAN KELUARNYA DENGAN KEPALA DINGIN" UCAP NIKO
Exsel duduk di kursi tunggu, dia meremas hasil lab itu. "Adnan siapkan surat untuk operasinya. Gue yang bakal donorin hati buat zhea" Ucap exsel
"Lho yakin sel?" Tanya Adnan
"KENAPA LHO MASIH NANYA LAGI. ZHEA HARUS SEGERA DI OPERASI, KEDUA ORANGTUANYA NGGAK MAU SIAPA LAGI YANG HARUS BANTUIN DIA KALO BUKAN GUE SUAMINYA. DULU, ZHEA JUGA NGGAK PERNAH MIKIR-MIKIR DULU KAN BUAT DONORIN GINJALNYA BUAT MAMA. GUE HANYA NGASIH KESEMPATAN BAGI MEREKA UNTUK MENGHAPUS KESALAHAN MEREKA KE ZHEA, NYATANYA TIDAK SATUPUN DARI MEREKA YANG MAU"
"resikonya sangat besar sel. Lho tahu sendiri, jika operasinya gagal zhea akan pergi ninggalin kita semua dan yang lho lakuin akan sia-sia"
"GUE NGGAK PEDULI ADNAN, PERSETANAN DENGAN HAL SIA-SIA, ZHEA LEBIH PENTING. DULU, ZHEA JUGA SIA-SIA DONORIN GINJALNYA UNTUK MAMA. DIA NGGAK PERNAH SEKALIPUN MENYESAL"
"Pikirkan lagi sel, atau kita cari orang yang bersedia mendonorkan hatinya buat zhea" ucap papa Rere
"Mau cari dimana om? Nyari orang yang bersedia juga nggak mudah. Jika kita terus menunda, zhea makin tersiksa dengan rasa sakitnya. SATU LAGI NAN, JIKA OPERASI ZHEA GAGAL. TOLONG BERIKAN SUNTIKKAN MATI BUAT GUE, PERCUMA GUE HIDUP KALO NGGAK ADA ZHEA"
"Sel jangan bodoh!"
__ADS_1
"Siapkan suratnya sekarang Adnan, GUE NGGAK MINTA PERSETUJUAN LHO ATAS HIDUP GUE"