
Bab 228
Semau orag terdiam, hanya nafas Rere yang yang tersengal-sengal menahan amarah.
"Lho mikirin bokap lho, tapi lho nggak mikirin suami lho Zhe! Lho waras nggak sih" sambung Rere
"Re, udahlah. Kita pergi aja. Wajar jika zhea mikiyr bokapnya" ucap Rio
"Bokapnya itu yang jusru menjerumuskan anaknya sehingga jadi kayak sekarang ini. Kalo boleh jujur Zhe, gue pengen banget liat bokap lho dan Zein itu jatuh miskin, semiskin-miskinnya. Biar mereka nggak memandang rendah orang lain lagi. Profesi sebagai dokter itu susah di capai. Dan itu pekerjaan yang baik karena membantu orang. Sedangkan profesi bokap lho yang sebagai pengusaha hebat itu apa bisa membantu ornag? Jika pun iya, itu sudah pasti untuk pencitraan agar terlihat baik di media. Dan satu lagi, lho jangan egosi Zhe, lho mikirin kehidupan keluarga lho kedepannya, tapi lho nggak mikirin gimana kehidupan dokter exsel setelah bercerai sama lho nantinya. Lho mungkin nggak punya rasa bahkan lho nggak bisa jatuh cinta karena bokap dan nyokap lho itu. Tapi, dokter exsel bukan orang yang mati rasa Zhe, lho mungkin nggak suka dan nggak nyaman hidup SMA Asia selama ini. Tapi bagi dia, lho mungkin tempat berpulangnya yang ternyaman. Lho boleh mati rasa atas hubungan dan cinta, tapi jangan jebak ornag lain buat ngerasain apa yang lho derita dan lho rasaian selama ini. Kedengarannya emang kasar Zhe, tapi itulah diri lho yang sebenarnya. Lho egois, lho selalu mentingin diri sendiri tanpa memikirkan orang lain di sekitar lho dan yang benar-benar tulus sama lho. Gue sengaja bilang ini ke lho, agar lho mikir dan renungin baik-baik apa yang gue ucapin ini. Belasan tahun lamanya, gue, Rio dan Niko selalu support lho kan? Karena apa, karena kita mikir yang lho lakuin itu emang hal yang baik. Tapi kali ini, dengan jelas dan lantang gue bilang ke lho, bahwa keputusan lho itu salah dan gue nggak setuju sama sekali dengan keputusan lho itu. Gue ngomong kayak gini bukan bearti gue benci sama lho. Justru karena gue peduli dan lho pasti tahu kan, kalo gue selalu anggap lho sebagai adek gue selama ini. Buka mata, hati dan pikiran baik-baik Zhe, selama ini gue bahkan nggak pernah ninggalin lho. Karena apa? Karena gue tahu lho sendirian di sini! Nggak ada ornag yang mihak sama lho kecuali kita bertiga" teriak Rere
"Udah re, lho udah keterlaluan ngomongnya" ucap Niko menarik Rere pergi.
"Lepas!" Ucap Rere kemberontak
"Gue tahu lho peduli sama zhea nik, tapi yang dia pikirin itu nggak benar. Bahkan di saat lho dan Rio ninggalin dia ke AS gue masih di sini buat dia, gue takut dia ngagk cocok sama dokter exsel kalo gue juga ikut sama kalian, gue lakuin itu karena gue peduli sama dia nik.Tapi apa yang gue lihat, dokter exsel berusaha keras buat nyukupin hidup dia, dan selama pernikahan mereka pun, adek lho ini yang selalu aja bilang nggak nyaman, dan selalu ingin cerai" tunjuk Rere
"Re..." Ucap zhea ingin mendekat, namun Rere langsing membalikkan tubuhnya dan menyeret Rio keluar dari kamar zhea.
"Nik, gue...." Zhea binggung harus mengatakan apa sekarang
"Nggak apa-apa Zhe, Rere kayak gitu karena dia peduli sama lho. Apa yang di omongin brere itu ada benarnya, lebih baik lho pikir-pikir lagi apa yang harus lho lakuin. Gue pergi dulu"
"Nik, Niko..." Ucap Rere mengikuti Niko.
Niko berhenti sebentar, dia menatap zhea sambil menggelengkan kepalanya. Kode agar zhea tidak mengikutinya lagi, setelah dengan langkah lebar dia menyusul Rere dan Rio.
__ADS_1
Saat melewati ruang utama, Rere menatap Leon dan Zein dengan tatapan permusuhan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Kalian, ada apa?" Ucap exsel, ketika melihat Niko, Rio dan Rere masuk ke ruangannya. Exsel pun sudah kembali bekerja, walau masih belum terlalu membaik.
"Tadi kita ke ruangan dokter, dan dokter nggak ada di sana. Jadi kami ke sini" ucap Rere
"Apa dokter masih ada pekerjaan?" Ucap rio
"Kebetulan saya baru saja selesai memeriksa pasien"
"Ya, seperti yang kalian lihat"
"Langsung saja dok, Kita ingin membicarakan tentang zhea" ucap Rere
Exsel hanya mengangguk
"Bagaimana hubungan kalian? Maksud saya pernikahan dokter dan zhea? Apa dokter sudah bertemu lagi dengan zhea setelah hari itu?" Ucap Rere
"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa zhea menceritakan sesuatu tentang pernikahan kita ke kalian? Dan saya juga belum bertemu lagi dengan zhea setelah hari itu"
"Baguslah kalau begitu" ucap Rio
__ADS_1
"Maksud kamu?"
Niko lalu menjelaskan secara detail, semua yang di ucapkan zhea padanya tempo hari.
"Bearti tebakan saya itu benar. Zhea ingin bercerai"
"Tapi dok, kalian nggak bisa bercerai begitu aja" ucap Rere
"Benar dok, dokter harus mempertahankan zhea" ucap niko
"Dan dokter jangan pernah datang ke mansion itu" sahut Rio
"Saya sudah menebak hal ini akan terjadi, makanya saya tidak datang ke sana sampai sekarang. Tapi, saya mulai ragu untuk mempertahankan zhea sekarang"
"Kenapa dok?" Ucap Rio
"Selama ini saya selalu mencoba mempertahankan pernikahan ini. Tidak terhitung lagi, berapa kali banyaknya zhea meminta cerai pada saya. Namun, saya selalu meminta dan memohon padanya agar selalu berada di sisi saya apapun yang terjadi. Haruskah saya memohon dan memintanya kembali sekarang, padahal, sendiri bilang ingin menikah dengan Zein?"
"Tapi dokter, zhea bilang hanya ingin bercerai dan pernikahanya Dengan Zein tidak akan pernah terjadi" ucap Rere
"Ya dok, zhea bilang itu hanya untuk mengalihkan perhatian mereka agar tidak terus mendesaknya" ucap niko
"Kalian pikir mereka tidak akan mendesak zhea lagi setelah zhea mengatakan itu. Terlebih lagi, zhea sudah mendapatkan syarat yang dia inginkan. Kalian lupa, yang harusnya menikah dengan zhea waktu itu adalah Niko, tapi mereka memaksakan kehendak dengan menjadikan Zein sebagai calon suaminya zhea. Mereka bisa melakukan segala hal di luar nalar kita"
"Tapi dok, zhea mempunyai alasan untuk bercerai, dia bilang ini untuk kebaikan dokter" ucap Rere
"Kebaikan seperti apa yang dia maksud? Memenuhi kebutuhan zhea itu kewajiban saya sebagai suaminya. Saya tidak pernah merasa zhea menyusahkan saya selama ini. Karena setelah kami menikah, saya memang bekerja lebih keras dan semua itu memang saya lakukan karena dia. Saya akan merasa menjadi suami yang tidak bertanggungjawab bila tidak memenuhi kebutuhannya. Dan saya senang melakukan hal itu. Tapi dia benar-benar menolak untuk mempertahankan pernikahan ini. Bahkan, ide yang di buat Niko pun...." exsel tidak lagi melanjutkan ucapannya, karena dia tahu ketiganya sudah pasti tahu apa kata yang ingin dia sampaikan
__ADS_1