
Bab 203
Rio tidak tahu harus mengatakan apa, dia memutuskan kontak mata dengan Tasya kemudian meminum minumannya, untuk mengurangi kecanggungan yang dia rasakan.
"Kak, jawab. Tolak, aku jika memang kakak nggak suka. Aku cukup sadar diri kak, aku juga udah belajar arti mencintai tak harus memiliki dari kak celline dan dokter exsel. Seenggaknya, kalo aku udah dengar langsung penolak dari kakak. Aku berharap aku bisa melupakan dan Berhenti berharap lebih ke kakak. Aku mohon kak, beri aku jawabannya. Aku sangat ingin melupakan dan menjauh dari kakak. Tapi, hati aku nggak bisa kak. Mungkin, dengan mendengar penolakan langsung dari kakak, dan dengan rasa sakit di hati aku, membuatku berhenti berharap dan mencintai kakak. Aku juga tahu, selama ini kakak terganggu Dengan kehadiran aku di dekat kakak. Maka dari itu kak, tolong jawab aku"
Rio menarik nafas kasar, dia menoleh ke niko. Niko hanya mengangguk mengisyaratkan "katakan apa yang ingin kau Katakan"
"Maaf tas, gue nggak bisa Nerima perasaan lho. Lho baik, cantik pastinya banyak cowok yang suka sama lho. Gue cukup tersanjung dengar ke jujuran lho. Tapi, gue benar-benar nggak bisa tas. Lho juga nggak perlu menjauh dari gue, kita masih bisa berteman" ucap Rio
Tasya meremas ujung bajunya, hatinya terasa sangat hancur. Padahal, dia sudah tahu dia pasti di tolak. Tapi, itulah caranya agar dia bisa berhenti berharap dari Rio.
"Nggak apa-apa kok kak. Aku hanya ingin melegakan hatiku, setidaknya aku lega karena udah bisa jujur sama kakak. Aku tahu, kakak suka sama kak Rere. Makanya aku ingin menjauh dan Berhenti berharap dari kakak" ucap Tasya menahan tangisnya
"Maaf"
"Nggak perlu minta maaf. Ini bukan kesalahan. Perasaan juga nggak bisa di paksakan. Dan hati juga nggak bisa di kontrol untuk menyukai siapa" ucap Tasya tersenyum tapi matanya tetap meneteskan air mata.
Celline mengenggam erat tangan adik sepupunya itu, memberikan kekuatan.
"Udah larut malam, biar kita antar kalian" ucap Niko mencairkan suasana
"Heum. Tapi, kalian nggak usah repot-repot nganterin kita pulang. Kita bisa naik taksi" ucap Tasya
"Nggak repot...." Ucapan Niko terhenti ketika melihat celline menggelengkan kepalanya.
"Yaudah kalo gitu, hati-hati" sambungnya
Tasya memaksakan senyumannya kemudian berucap "sampai jumpa" dan pergi dari sana
-------------------
Jam pelajaran selesai....
Zhea mengajak el-razka ke kantin, untuk membeli minuman.
"Heuh, akhirnya ketemu juga gue sama lho" ucap rere duduk di hadapan zhea
"Rere! Lho kok balik nggak ngabarin gue" ucap zhea yang cukup kaget melihat Rere
"Emangnya lho pikir gue mau berapa lama di sana?"
"Kalo udah balik kenapa tadi nggak ikut pelajaran"
"Telat gue. Makanya gue sembunyi di perpustakaan"
__ADS_1
"Bilang aja lho mau numpang tidur di sana"
Rere nyengir, karena ucapan zhea benar adanya. "Oh iya Zhe, nanti malam ada balapan ya?"
"Heum"
"Lho ikut?"
"Nggak ada alasan buat gue nggak ikut Kan? Lho sendiri ikut nggak"
"Nggak dulu deh. Gue mau istirahatin tubuh gue dulu. Gue nemanin lho ajar ntar"
"Kalo capek istirahat aja di apartemen. Gue udah biasa kok sendiri"
"Eh tunggu deh. Emang dokter exsel nggak marah gitu, lho ikut balapan?"
"Selama ini sih nggak, kenapa?"
"Lho udah minta izin ke dokter exsel belom, kalo lho mau ikut balapan ntar malam"
"Astaga gue lupa! Cepat, temanin gue ke ruangan exsel sekarang"
"Akhirnya lho punya kesadaran buat ngasih tahu suami lho, tentang kehidupan lho"
"Oke-oke gue temanin. Minum aja belom gue. Tapi dokter exsel nggak ada di ruangannya. Dia di perpustakaan sama Tiffany, tadi papasan sama gue pas gue mau kesini"
"Ngapain mereka di perpustakaan?"
"Ya mana gue tahu, mungkin pacaran kali"
"Gila!"
"Lah, kok ngegass. Lagian kalo mau tahu, ya liat ke sana"
Zhea menggendong el-razka yang tengah tidur beranjak pergi menuju perasaan.
"Kayaknya, zhea udah mulai suka deh sama dokter exsel. Bagus deh kalo gitu, sayang banget kan dia kalo sampai cerai sama dokter exsel, udah ganteng, baik, perhatian, pintar dan tanggung jawab lagi. Lagian sih zgea ngebet banget pengen cerai, nggak takut jadi janda muda apa" batin Rere lalu menyusul zhea
Zhea masuk ke perpustakaan yang cukup ramai. Karena banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas mereka di sana.
Zhea celingak-celinguk mencari keberadaan exsel, matanya terbelalak melihat exsel dan Tiffany terlihat sangat intim. Ada rasa marah di hatinya, namun dia berusaha mengontrol dirinya
"Kenapa ini? Kenapa gue marah liat exsel dekat sama Tiffany. Biasanya juga nggak kayak gini" batin zhea
Tiffany berbohong pura-pura jatuh,ketika melihat zhea. Dia sengaja jatuh di pangkuan exsel dan meletakkan tangganya di kedua bahu exsel. Yang mana kepalanya di miringkan layaknya sedang berciuman.
__ADS_1
"Kenapa berenti Zhe?" Tanya Rere.
Tak mendapatkan respond, Rere melihat ke arah titik fokus zhea.
Rere sangat kesal melihat Tiffany yang kegatelan. Dia menghampiri Tiffany dan menariknya sehingga berdiri.
"Au, lho apa-apaan sih" kesal Tiffany yang mana tangannya di cekram erat oleh Rere
"Apa-apaan, apa-apaan. Lho tuh yang apa-apaan. Main nyosor-nyosor suami orang aja. Oh, ternyata gini ya sifat model ternama. GATEL!" ucap Rere penuh penekanan
"Rere, ini tidak seperti yang kamu lihat" ucap exsel
"Dia pasti sengaja dok, mau ngegodai dokter" kesal Rere
"Gue tuh nggak sengaja jatuh, gue juga nggak ada niat lagi buat ngegoda kak exsel. Terlebih lagi, kak exsel ini kan suaminya zhea, saudara gue sendiri" kilah Tiffany
"CK, sodara lho bilang! Sodara tiri lebih tepatnya. Udah deh nggak usah Muna, lho nggak sebaik itu"
"Udahlah re, nggak usah di ributin" ucap zhea berdiri di dekat Rere
"Zhea, sejak kapan kamu di sini?" Tanya exsel yang terkejut melihat zhea
"Sejak tadi" ucap Zhea berusaha bersikap biasa-biasa aja.
"A-aku bisa jelasin!" Ucap exsel tiba-tiba gugup
"Jelasin? Jelasin apa?"
"Soal yang tadi"
"Sudahlah lupakan"
El-razka menangis, exsel dengan cepat mengambil alih el-razka dan mengendongnya.
"Sebenarnya ada yang ingin gue....eum maksudnya aku omongin ke kamu" ucap zhea yang masih belum terbiasa dengan sebutan aku kamu
"Wait, gue nggak salah dengar ini. Zhea ngomong aku kamu ke dokter exsel. Kesambar petir apa dia" batin Rere kebingungan
"Apa?" Ucap exsel mengelus-elus punggung el-razka, mencoba menenangkannya
"Nanti saja, kamu terlihat sangat sibuk"
"Yasudah, kalo begitu ayo kita ke kelas. Sebentar lagi kelas akan di mulai" ucap exsel melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya
"Ihhh nyebelin banget sih. Dimana-dimana tuh zhea selalu aja ganggu kebersamaan gue sama kak exsel. Lho liat aja, nanti. Gue udah rencanain sesuatu yang bakal buat lho kembali terpuruk, bahkan lebih terpuruk dari masa lalu lho dulunya" batin Tiffany
__ADS_1