BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 152


__ADS_3

Bab 152


Tiffany dan silya sudah berada di ruangan Zein.


"Ngapain kalian di sini?" Ketus Zein


"Gue mau ngajak lho kerja sama" sahut Tiffany to the point


Zein mengernyitkan dahinya "kerja sama" ucapnya


"Heum. Kerja sama buat misahin zhea dan kak exsel"


"Kenapa? Apa karena zhea sodara tiri lho makanya lho mau misahin dia dari suaminya? Dan lho pikir gue mau ? kerjasama, sama orang licik kayak lho"


"Lho lupa ngaca ya? Lho itu juga licik! Lho bahkan gunain cara kotor buat nikahin zhea, dan akhirnya gara-gara rencana konyol lho itu, gue yang rugi dan kehilangan kak exsel"


"Kehilangan exsel? Maksud lho, dia pacar lho gitu?".


"Pacar atau bukan itu nggak penting. Yang terpenting adalah misahin mereka, setelah itu zhea jadi milik lho dan kak exsel jadi milik gue"


"Gue rasa tanpa kerja sama, sama lho gue juga bisa misahin mereka"

__ADS_1


"Oh ya? Kalo gitu buktiin dong!"


"Lho sengaja nantangin gue?"


"Aduhhh udah-udah. Kenapa jadi ribut sih. Seharusnya kalian itu, kerjasama dan rencanain sesuatu agar zhea sama dokter exsel itu cerai. Bukannya malah ribut kayak gini" ucap silya


"Ya, kita itu harus akur dan kerjasama, buat dapetin apa yang kita mau"


"Kalo gue nggak mau gimana?"


"Ihh rese' banget sih lho"


"Udahkan? Kalo udah silahkan pergi gue sibuk"


"Itu dulu, dan itu adalah kesalahan terbesar gue, karena mau-maunya di bodohin sama cewek matre kayak lho"


"Lho benar-benar ngeselin ya. Nih kartu nama gue, kalo lho mau kerjasama hubungi gue" ucap Tiffany meninggalkan kartu namanya di atas meja Zein kemudian menarik silya pergi dari sana.


---------


Zhea dan exsel baru sampai di rumah. Para ibu-ibu lagi-lagi datang untuk mengusir zhea.

__ADS_1


"Masih berani kamu exsel, bawa pacarnya kamu ke rumah. Ingat sel, jangan ngelakuin hal yang nggak-nggak kamu. Kok kamu jadi nyeleneh gini sih, semenjak mama mu meninggal" ucap salah satu ibu-ibu


"Saya bukan pacarnya exsel. Saya ini istrinya! Jangan ngomong sembarangan, apalagi bawa-bawa mertua saya!" Bentak zhea, yang tidak suka mendengar omongan mereka.


Exsel tersenyum tipis, Ntah itu senyum karena zhea membelanya atau senyum karena zhea mengaku sebagai istrinya, atau justru kedua-duanya.


"Alahh, dari kemarin malam bilangnya udah nikah, udah nikah. Buktinya, buku nikah aja kalian itu nggak punya"


"Ini buku nikah kita. Kalian lihat sendiri tanggal pernikahan kita di sana. Kita berdua, nggak bohong" ucap exsel memberikan buku nikah mereka kepada ibu-ibu itu.


"Ah, ternyata kalian benaran sudah menikah. Maafkan kami, kami tidak tahu. Soalnya, kami tidak mendengar tentang pernikahan kamu sel, dan kamu juga tidak mengudang kami" ucap ibu-ibu itu setelah mengecek buku nikah mereka


"Ah iya Bu, tidak apa-apa. Kalau tidak ada lagi urusan, saya masuk dulu" pamit exsel, langsung menarik zhea masuk ke dalam rumah. Karena, dia tidak mau di tanya-tanya lagi oleh ibu-ibu itu.


-----------


1 MINGGU BERLALU....


zhea dan exsel di sibukkan oleh aktifitas mereka masing-masing. Zhea yang selalu pulang larut malam, dan exsel yang selalu menyibukkan diri di rumah sakit. Mereka hanya ada waktu berdua sewaktu sarapan pagi dan berangkat ke kampus. berbicara pun hanya seperlunya. Sepulang dari kampus mereka tidak lagi bertemu sampai larut malam.


Ketika di kampus, mereka bersikap selayaknya dosen dan mahasiswa. Tidak pernah bertemu di kampus, Kecuali saat jam pelajaran. Mereka bahkan tidak saling sapa jika berpapasan.

__ADS_1


Exsel hanya memantau zhea dari ponselnya, dia tidak ingin melarang zhea untuk melakukan apa yang di sukai istrinya itu, demi kenyamanan zhea saat bersamanya. Walaupun, dia sendiri tidak suka jika zhea pulang selalu larut malam.


__ADS_2