
SETELAH memikirkannya matang-matang, Alesh menerima ajakan Bara untuk bertemu malam ini. Bara ingin bertemu Alesh disebuah café. Alesh sudah siap dan sekarang dia sudah duduk di kursi kemudi dan segera menuju tempat ia janjian dengan Bara. Dia melajukan mobilnya kearah salah satu café yang Bara maksud. Dia sudah sampai dalam waktu 45 menit. Setelah memarkirkan mobilnya, dia turun dan ragu-ragu melangkah masuk.
Bara melambaikan tangannya dari dalam café saat Alesh sudah berada diambang pintu. Senyumnya mengembang. Dalam keadaan seperti ini, Alesh justru tidak bisa tersenyum. Langkahnya terasa berat sekali malam ini.
Kini, Alesh sudah duduk didepan Bara. Sudah ada latte milik Bara dan coklat panas milik Alesh. Sepertinya Bara memesan sebelum Alesh datang. Rasanya berat sekali memulai percakapan untuk Alesh.
“Kenapa lo hindarin gue?” Tanya Bara tanpa basa-basi. Alesh menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tidak berani menatap Bara sejak tadi. “Liat kearah gue Al.” Pinta Bara.
Alesh menoleh kearah Bara dan menatap kedalam manik matanya.
“Bar gue rasa kita emang nggak ditakdirin untuk sama-sama.” Alesh mencoba menyusun kalimat.
“Gue udah pernah bilang sama lo kalau gue akan perjuangin lo. Lo percaya sama gue semuanya akan baik-baik aja. Oke?”
“Nggak mungkin Bar.”
“Percaya sama gue Alesh gue mohon sekali ini aja lo percaya sama gue.” Kedua tangan Bara menggenggam tangan Alesh. Tatapannya terlihat sendu.
“Bar, please! Jangan bikin hidup gue makin susah. Jangan bersikap seolah semuanya baik-baik aja. Lupain gue dan biarin gue hidup dengan tenang. Gue mohon jangan pernah datang ke hidup gue lagi. Gue udah cukup menderita selama ini Bar. Dan itu semua karena bokap lo.” Alesh melepaskan tangan Bara.
“Lo tahu kan kalau gue benci banget sama bokap lo? Jadi jangan bikin gue benci sama lo juga.”
“Kenapa Al? Kenapa dari semua orang di dunia ini harus lo yang jadi anak tiri bokap gue. Kenapa?”
“Tolong pastiin kita nggak akan pernah bahas masalah ini lagi dan,” Alesh memberi jeda pada kalimatnya, “jangan pernah sekalipun muncul didepan gue lagi.” Alesh berdiri dari duduknya dan meninggalkan Bara begitu saja. Membiarkan coklatnya utuh.
Sejak kapan Alesh mengabaikan minuman kesukaannya?
Sakit sekali perasaan Bara. Hatinya patah, seperti semak meranggas terinjak dengan ganas. Dia begitu mencintai Alesh tapi takdir seolah mempermainkannya. Disaat Ia ingin memperbaiki semuanya, ada hal yang paling menyakitkan terjadi.
Dia hanya diam sejak Alesh pergi dan membiarkan latte kesukaannya semakin dingin. Dia tenggelam dalam fikirannya sendiri. Marah, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Dunianya seolah terbalik. Dari sekian miliar orang di dunia ini kenapa harus Andri yang menjadi ayah tiri Alesh. Kenapa harus papanya yang membuat Alesh kehilangan keluarganya. Dan yang dia sesali, kenapa harus Andri yang menjadi ayahnya?
Alesh setengah berlari dan bertemu dengan Ken dan Rey di ambang pintu dalam keadaan menangis. Hal itu membuat dua sahabat Bara itu panik.
“Al tunggu!” panggil Rey sambil menahan lengan Alesh. Gadis itu mengusap air matanya lalu tersenyum hambar.
“Lo kenapa?” tanya Ken terlihat sangat khawatir. Alesh hanya menggeleng. Ken mencekal pergelangan tangan Alesh.
“Siapa yang nyakitin lo? Ha?” kilatan emosi terlihat jelas dimata Ken.
“Ken, tenang bro lo nggak usah emosi gitu kasian Alesh.”
“Bara yang nyakitin lo? Mana dia?” belum sempat Alesh menjawab, Ken sudah melepaskan tangannya dan meninggalkan Alesh begitu saja. Ken masuk kedalam café dengan wajah penuh amarah. Rey yang heran dengan sikap Ken mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
BUG!
Sebuah tinju melayang diwajah Bara hingga membuatnya tersungkur jatuh dari kursinya.
BUG!
Ken kembali melayangkan tinjunya. Sudut bibir Bara sudah berdarah. Kilatan amarah terlihat jelas dari matanya dan,
BUG! BUG! Dia membalas dua pukulan sekaligus ke wajah Ken.
“Berhenti! Bar! Ken!” bentak Rey mencoba memisahkan keduanya. Sekarang mereka menjadi pusat perhatian semua pengunjung. Ken mengusap sudut bibirnya yang sudah berdarah karena pukulan dari Bara.
“Apa-apaan sih lo Ken udah kaya preman aja lo dateng-dateng main pukul.” Kata Rey yang masih menengahi mereka.
“Beraninya lo nyakitin Alesh, brengsek lo Bar!” teriak Ken kearah Bara. Rey semakin bingung dengan keadaan ini. Ada apa dengan Ken?
Bara menghela nafasnya dengan kasar, kedua tangannya dia letakkan dipinggang lalu menundukkan kepalanya.
“Jawab gue, setan!” pukulan ketiga Ken hampir melayang namun Rey berhasil menahannya.
“Cukup Ken! Kalau lo main pukul aja gimana lo mau tau masalahnya. Gue nggak mau jadi saksi dikantor polisi nanti kalau ada yang mati.” Bentak Rey.
Ken melayangkan tinjunya ke udara, lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya.
“Al, tunggu!” teriak Ken. Alesh menoleh kearahnya, lalu menautkan kedua alisnya.
“Ken?”
“Gue anter lo pulang.” Ken merebut kunci mobil Alesh dan segera masuk kedalam mobil. Alesh heran dengan sikap Ken.
“Ken, gue bisa pulang sendiri.” Kata Alesh yang masih berdiri mematung ditempatnya.
“Cepetan naik, Al.” Jawab Ken dengan raut wajah yang sudah mulai tenang. Alesh menelan ludahnya. Dia merasa sikap Ken mengerikan hari ini.
Dengan berat hati Alesh masuk kedalam mobilnya dan duduk disamping Ken. Sekarang, Ken melajukan mobil dengan kecepatan standar menuju apartment Alesh.
“Lo baik-baik aja kan Ken?” tanya Alesh mencoba memberanikan diri.
“Gue nggak papa, Al.” Jawab Ken sambil tersenyum kearah Alesh, membuat Alesh bergidik ngeri.
“Al, gue bakal kasih perhitungan sama siapapun yang nyakitin lo. Jadi pastiin kalau nggak ada satupun yang berani bikin lo nangis.” Alesh menyipitkan matanya mendengar pernyatan Ken. “Terutama Bara.” Lanjutnya.
“Ken gue nggak ngerti deh sama sikap lo.”
__ADS_1
“Tadi Bara kan yang bikin lo nangis?” Alesh diam.
“Gue gak akan biarin dia terus-terusan nyakitin lo, Al. Walaupun dia sahabat gue sekalipun.” Lanjut Ken.
“Enggak Ken, dia nggak nyakitin gue.” Kata Alesh sambil menoleh kearah Ken.
“Terus yang tadi?” Ken menggelombangkan dahinya. Alesh tersenyum kaku, dan terlihat sedikit memaksa.
“Gue putus sama Bara. Ada hal yang bikin gue sama dia nggak bisa sama-sama.”
“Dia selingkuhin lo?”
“Bukan.”
“Terus?” Alesh menimbang-nimbang, apakah dia harus menceritakan yang sebenarnya kepada Ken. Tapi kan Ken sahabat Bara, jadi lambat laun dia pasti akan tahu yang sebenarnya.
“Terus kenapa lo putus sama Bara?” ulangnya.
“Dia kakak tiri gue Ken.”
Ckiiittt
Ken menghentikan mobilnya secara mendadak. Membuat kepala Alesh hampir terbentur. Untung dia pakai sabuk pengaman. Ken menepikan mobil.
“Gimana bisa Bara itu kakak tiri lo?” tanya Ken yang sekarang sudah duduk berhadapan dengan Alesh.
“Bokapnya Bara itu nikah sama nyokap gue.” Ken membulatkan matanya seakan tidak percaya.
“Om Andri maksud lo?” Alesh megangguk. Lalu menghela nafasnya.
“Orang tua gue udah lama cerai Ken. Mama udah nikah lagi tapi pernikahannya tidak terlihat bahagia sama sekali. Beda sama papa,” Alesh memberi jeda pada kalimatnya. “Kalau papa udah bahagia sama keluarga barunya dan sepertinya papa udah nggak mau ketemu sama gue lagi. Wajar sih kalau papa nggak mau kembali mengingat masa lalunya. Pasti berat buat papa.” Kesedihan terlihat jelas dari mata Alesh. Dia tertawa hambar menertawakan dirinya sendiri.
Ken menelan ludahnya dengan susah payah mendengar cerita Alesh. Tangannya terulur menepuk bahu Alesh.
“Takdir itu lucu ya Ken, selama ini gue pacaran sama kakak tiri gue sendiri.” Tangan Ken terulur mengusap puncak kepala Alesh dan membuatnya sedikit risih.
“Lo jangan khawatir, semuanya akan baik-baik aja Al. Lo nggak sendiri, ngerti?” Alesh tersenyum simpul kearah Ken.
“Thanks ya Ken udah mau jadi temen gue.”
Ken mengangguk, lalu kembali melajukan mobilnya menuju apartment Alesh.
Ada rahasia dalam hati Ken yang dia simpan sendiri selama ini. Dia menyimpannya dengan rapi. Semuanya tentang Alesh. Rasanya sangat sulit untuk mengatakan semuanya kepada Alesh. Namun Ken yakin, cepat atau lambat Alesh akan tahu semuanya. Dia juga harus meminta maaf kepada Bara atas kesalah pahamannya malam ini.
__ADS_1