
Bab 132
Exsel melepaskan cincin dari jari zhea dan juga cincinnya, yang mereka pakai setelah ijab kabul tadi. Exsel mengembalikan cincin itu pada Leon.
"Saya kembalikan apa yang menjadi milik anda. Ini, di kartu ini ada uang 2,5M untuk membayar semua pengeluaran pernikahan kami. Dan selebihnya, saya berikan sebagai mahar untuk zhea" ucap exsel meletakkan ATM dan cincin itu di atas meja.
Tidak ingin Leon mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati lagi, zhea mengajak exsel pergi dari sana.
"Sebaiknya kita pergi dari sini" ucap zhea
Exsel hanya mengangguk kemudian berucap "kita pergi dulu" pamitnya pada mereka.
--------
Sementara itu, di kos-kosannya Niko, Niko sedang menjelaskan apa yang terjadi sehingga exsel lah yang menikahi zhea.
"Kenapa tidak kamu saja yang menikahi zhea, kalian kan sudah lama bersama, sudah pasti tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing" ucap papa Rere
"Karena saya tidak percaya diri om, untuk menikahi zhea" jujur Niko
__ADS_1
"Memang baiknya Seperti itu, jika belum siap, maka jangan lakukan. Takutnya nanti, terjadi hal-hal yang tidak di harapkan setelah menikah" ucap mama Rere.
"Iya Tante, lagi pula dokter exsel itu orang baik. Dia pasti bisa jagain zhea. Terlebih lagi, dulu zhea juga menginginkan menikah dengan dokter exsel, ya walau dalam dalil balas dendam"
Hening,,, semua orang berada dalam pikirannya masing-masing.
"Papa sama Mama berapa lama di sini?"
"Nanti sore"
"Lah kok cepat banget"
"CK"
"Gimana kalo kamu kuliah di New York aja re. Disini, kamu juga sendirian. Niko dan Rio di AS, sementara zhea sudah pasti ikut sama suaminya. Mama khawatir ninggalin kami sendirian di sini"
"Dulu, sebelum Niko pindah ke AS, aku juga sendirian di apartemen. Udah mama sama papa nggak usah khawatir, aku bisa jaga diri kok. Lagian, aku udah janji sama zhea, buat selalu ada untuk dia. Ya, walaupun sekarang zhea sudah menikah, hanya aku satu-satunya tempatnya berbagi, kalo-kalo aja dia bertengkar sama dokter exsel"
"Lho tuh ada-ada aja re. Teman sendiri, di do'ain biar bertengkar" ucap Niko
__ADS_1
"Ya nggak gitu juga maksud gue. Tapi, selama ini tuh dua orang kalo bertemu ada-ada aja yang di ributin. Dan waktu itu, pas gue masuk rumah sakit, entah keajaiban apa yang menimpah keduanya sehingga bisa akur. Dan hebatnya lagi, sekali akur langsung suami istri"
"Lho masuk rumah sakit? Kenapa nggak cerita sama kita" ucap Rio.
Rere tidak merespon ucapan Rio, dia malah mengalihkan pembicaraan ke Niko. "Lho kapan balik ke AS nik"
"Penerbangan, nanti malam"
"Kalo kamu gimana re? Mau nikah juga" ucap papa Rere
"No! Papa jangan aneh-aneh kayak papanya zhea ya. Papa nyuruh aku nikah, apa papa nggak sayang lagi sama aku? Aku selalu ngerepotin papa? Apa karena aku selalu minta uang sama papa? Atau karena aku terlalu manja sama papa. Aku janji pah, aku akan lebih dewasa lagi. Aku akan kuliah yang giat, agar tidak mengecewakan mama papa. "
Rio hanya menatap lekat Rere, ada rasa bersalah karena meninggalkan Rere.
"Kamu ngomong apa sih sayang, sedetik pun papa nggak pernah nggak sayang sama kamu. Kamu itu buah hati mama sama papa satu-satunya. Papa kerja, cari uang itu buat nyenangin kamu. Apalagi kalo kamu manja sama papa, papa sangat senang. Sedewasa apapun kamu, di mata papa kamu tetap malaikat kecilnya papa"
Seketika Rere langsung memeluk papanya itu.
"Jadi pengen nangis" ucapnya, menahan air mata agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Dasar cengeng" ucap papa rere mengelus-elus rambut putri satu-satunya itu.