BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 237


__ADS_3

Zhea datang ke perusahaan Zein. Awalnya dia tidak di perbolehkan masuk, untungnya saat itu ada Raka sehingga zhea bisa bertemu dengan Zein.


"Zein..." Panggil Raka, sambil mengetuk pintu


"Gue lagi sibuk ka, ini kantor jaga panggilan lho" ucap Zein tetap fokus ke layar monitornya


"Ada zhea di sini"


Seketika Zein langsung melihat ke arah sumber suara.



"Masuklah" ucap Zein beralih duduk di sofa



Zhea dan raka pun menuruti ucapan Zein.


"Apa.yang membawamu datang ke sini zhea? Ini seperti mimpi" ucap Zein


"Gue perlu bantuan lho" ucap zhea to the point


"Bantuan?" Ucap Zein mengulangi


"Hem, di sini ada uang sebesar 7M. Gue minta lho lakuin apapun agar gue bisa kembali ke universitas" ucap zhea menyondorkan kartu ATM nya.


"Kenapa harus kembali ke sana? Masih banyak universitas lain yang lebih baik dari pada universitas itu"


"Gue hanya tertarik di universitas itu. Jika tetap tidak bisa, maka gue akan kuliah di luar negeri"


"Baiklah, ini hal sepele. Raka, urus semuanya" ucap Zein. Raka hanya mengangguk kemudian beranjak pergi


"Bisa saya pastikan, besok kamu sudah bisa kembali ke kampus. Ambil kembali uangmu" ucap Zein kembali menyondorkan ATM itu ke zhea.


UAng itu adalah uang dari exsel sebagai mahar dulu, dan uang yang di kembalikan Zein. zhea mengambil kembali ATM itu.


"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan zhea?"


"Gue ingin lho ajarin gue berbisnis. Apa bisa?"


Zein tersenyum kemudian berucap "tentu saja bisa. Apalagi yang di ajarin adalah calon istri. Tapi, apa yang membuat kamu ingin berbisnis. Bukankah kamu suka balapan"


"Saya hanya tidak ingin berdebat dengan tuan marga setiap harinya karena hal ini. Berbisnis adalah keinginan tuan marga, sedangkan balapan adalah keinginan saya. Jika saya bisa menggapai keduanya, itu lebih mempermudah hidup saya" ucap zhea santai


"Ya, kamu pasti bisa menggapai keduanya. Tapi, apakah kamu bisa membagi waktu untuk kuliah, bekerja dan balapan? Urusan bisnis memiliki jam yang teratur, dimulai pukul 7 pagi, dan pulang pukul 5 sore. Terkadang juga harus lembur. Dan meeting penting tidak bisa cancel sembarangan, atau semua klien akan pergi"


Zhea tengah memikirkan ucapan Zein. Dia ragu apakah bisa mengatasi waktu setiap hari nantinya.


"Kamu kelihatan ragu Zhe, bagaimana kalau kamu coba dulu bekerja, kuliah dan balapan dalam beberapa hari. Jika kamu merasa tidak sanggup, lebih baik kamu melakukan pembelajaran dari rumah. Dengan begitu waktumu tidak akan banyak terbagi"


"Pembelajaran dari rumah? Maksudmu homeschooling"


Zein hanya mengangguk.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



Jam pulang kampus, zhea menunggu Rere di parkiran. Dia sengaja menjemput Rere berniat ingin menceritakan apa yang menjadi keputusannya itu. Dia tidak mau, sahabatnya kecewa lagi dengannya.



Zhea berdiri di depan mobil, Rere yang melihat sahabatnya itu pun langsung menghampiri zhea. Zhea memberi kode agar Rere tak banyak bicara dan langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Zhe, anak-anak bilang lho di keluarin dari kampus. Emang benar? Kok nggak cerita" ucap Rere memasang seatbeltnya


"Ini baru mau cerita"


"CK, telat tahu nggak. Gue udah keburu tahu dari orang lain"


"Ya sorry" ucap zhea menjalankan mobilnya


"Eh tunggu dulu, motor gue gimana nantinya"


"Ntar gue suruh orang-orang tuan amrga yang bawain ke kos-kosan"



"Eh, ngomong-ngomong, tumben lho nggak di awasi. Kemana tuh bodyguard-bodyguard lho"


Zhea mengendikkan bahunya, dia juga heran kenapa saat dia pergi tadi tak satupun dari para bodyguard yang melarang ataupun mengikutinya.


Zhea dan Rere sampai di kos-kosan. Mereka melakukan panggilan video ke Niko dan Rio. Zhea lalu menceritakan apa yang dia dengar dari mulut Leon tadi malam dan keputusan yang dia ambil.



"Menurut gue, keputusan lho kali ini pilihan yang tepat Zhe. Lho bisa coba dulu, jika nantinya lho nggak mampu, bokap lho bisa lihat sendiri usaha lho dan batas mana kempuan lho" ucap Niko


"Ya Zhe. Nggak ada salahnya juga di coba dulu" sahut Rio


"Zhea kan di keluarin dari kampus, terus lho kuliah dimana sekarang Zhe. Gue pasti bakal ikut lho kemanapun lho pindah" ucap Rere



"Gue mah akan tetap kuliah di kampus kita. Ngapain repot-repot pindah"



"Kan udah di keluarin" ucap Rio


"Kok bisa" ucap Rere


"Gue manfaatin Zein, biar dia bantuin gue berbisnis dan kembali masuk ke kampus"


"Licik juga lho Zhe" ucap Rio


"Sekali-kali Yo" mereka berempat lalu tertawa, dan bercanda. Untuk sejenak, zhea melupakan bahwa dia mempunyai penyakit dan melupakan tentang exsel. Ketiga sahabatnya pun tidak lagi mempertanyakan hubungan zhea dan Zein. Mereka tidak ingin membuat mood zhea rusak ketika menanyakan hal itu.


Hari berganti, zhea kembali masuk ke kampus.


"Eh zhea, bukannya lho udah di D.O ya dari kampus. Kok masuk lagi" ucap deby


"Menurut lho?" Sombong zhea


"Gue tahu kenapa lho bisa di sini. Kemarin gue lihat si raka sahabat plus asisten pribadinya Zein datang ke sini. Lho pasti minta bantuan Zein kan buat bisa balik ke kampus. Karena Bokap lho udah nggak peduli lagi sama lho" ucap Tiffany


"Kalo iya Kenapa?" Tantang zhea


"Lho itu benar-benar ya. Kak exsel kehilangan pekerjaannya karena lho. Dia bahkan pergi keluar negeri, dan lho di sini enak-enakan godain cowok lain. Emang nggak salah kalo lho pisah sama kak exsel. Lho nggak pantas buat dia!"


Zhea tak membalas ucapan Tiffany, dia memikirkan exsel yang pergi keluar negeri. "Exsel pergi? Kemana?" Batin zhea.


Zhea berlari keluar dari kelas dan masuk ke ruangan Adnan. Adnan tidak terlalu terkejut melihat zhea yang bisa kembali masuk ke kampus.


"Exsel pergi ke luar negeri? Kemana?" Ucap zhea to the point


__ADS_1


"Gue juga nggak tahu Zhe" bohong Adnan. Akan lebih baik jika zhea tidak tahu keberadaan exsel, sehingga ezsel bisa fokus ke studinya. Pikir Adnan


"Jangan bohong! Lho sahabatnya, bagaimana mungkin lho nggak tahu"


"Exsel nggak cerita dia mau pergi kemana. Dia hanya nitip rumah sama mobilnya Doang ke gue"


"Kenapa lho nggak nanya dia pergi kemana!"


"Gue udah nanya Zhe, dia cuma jawab ingin nenangin diri. Lagian buat apa lho nanya exsel sekarang Zhe? Ini kan yang lho mau? Ezsel bahkan harus mengorbankan karir dan pekerjaannya buat lho. Sekarang, biarin dia tenang Zhe, jangan ganggu dia lagi. Dia sudah cukup terluka sama pernikahan kalian" ucap Adnan beranjak pergi


2 BULAN BERLALU.....


Hari-hari zhea sangat padat. Dia bahkan terus-terusan mengejar waktu. Waktunya banyak di gunakan untuk belajar dan bekerja. Hal itu Shea lakukan agar tidak mengingat exsel.



"Lho kelihatan capek banget zhe. Nggak usah maksain diri kayak gini yang ada lho sakit ntar" ucap Rere



"Gue nggak bisa mundur lagi re. Gue bakal buktiin ke nyonya lara bahwa anak yang dia buang selama ini bisa menjadi orang hebat"



"Kalo gitu lho fokus kerja aja. Pendidikan lho, bisa di atur di rumah"



"Terus lho ngampus sendirian gitu?"


"Ya mau gimana lagi. Gue ikutan capek liat lho kayak gini"


"Gue manfaatin Zein agar bisa ngampus lagi, karena ada lho di kampus. Gue nggak mau nanti kalo gue nggak ke kampus lho ninggalin gue lagi"


"Ya udah kalo gitu gue juga ikutan homeschooling aja"


"Lho bakalan bosan kalo nggak ngapa-ngapain"


"Gue fokus ke balapan aja, makan tidur kayaknya seru juga"


"Nggak boleh kayak gitu re. Ntar, om sama Tante marah sama lho kalo lho semaunya kayak gini"



"Ya terus gimana dong?"


"Lho jadi asisten gue aja gimana? Kita bisa bareng terus"


"Nggak minat gue sama dunia perbisnisan"


"Gue malah benci, tapi mau bagaimana lagi. Gue harus wujudin kemauan tuan marga" ucap zhea memasang wajah sedihnya


"Iya deh iya gue mau. Aneh gue lihat lho melow-melow kayak gini"


"Nah gitu dong. Ini baru namanya queen Rere, lagi pula jika lho nanti bisa berbisnis. Lho bisa ngurusin perusahaan om di masa depan" ucap Shea memeluk Rere


"Nggak minat gue, ntar kalo gue udah nikah biar suami gue aja yang ngurusin. Gue hanya mau tjnggal di rumah, makan minum dan ngabisin duit suami" ucap Rere


"Kalo kayak gitu, nggak ada yang bakalan mau orang nikah sama lho"


"Kalo nggak ada yang mau, gue nikah sama pemulung yang tinggal di bawah jembatan juga nggak apa-apa. Ntar biar gue dandanin dia biar keren dan bokap gue yang bakal ajarin dia berbisnis"


__ADS_1


"Duhhh, niat banget lho nikah sama pemulung. Jangan-jangan salah satu impian lho nikah sama pemulung ya?"


"Amit-amit ya Allah. Kalo pemulungnya seganteng seokjin bts mah nggak apa-apa" mereka berdua lalu tertawa


__ADS_2