BAD GIRL

BAD GIRL
Episode 13


__ADS_3

“Nata?” Alesh menggelombangkan keningnya, lalu menyuruh Nata masuk.


“Lo nggak papa?” tanya Nata saat mereka sudah duduk di sofa.


“Gue?” kata Alesh menunjuk pada dirinya sendiri. Nata mengangguk.


“Memangnya gue kenapa? Gue nggak papa.” Jawab Alesh acuh. Alesh memang seperti itu, selalu bilang nggak papa padahal kenapa-kenapa.


“Nggak papanya cewek, itu artinya kenapa-kenapa.” Alesh berdecih mendengar jawaban Nata. Dia mengacak rambut Alesh dengan gemas.


Pintu apartment Alesh kembali ada yang mengetuk, Nata menawarkan diri untuk membukanya, dan


“Nata?” seloroh Felish terkejut saat dia sudah ada di ambang pintu, “Lo ngapain disini?” Lanjutnya, lalu melangkah masuk. “Al, gue nyariin lo. Rey bilang lo abis ribut sama Nadia?” Alesh hanya mengangguk. “Emang dasar ular ya, nggak ada bosen-bosennya gangguin lo.” Felish terlihat sebal. “Oh ya, Nata lo ngapain disini?” tanya Felish yang sudah mengalihkan pandangannya kepada Nata.


“Gue cuma mastiin kalau Alesh nggak melakukan hal yang nekat.” Jawab Nata datar. Alesh dan Felish terkekeh.


“Nat, Alesh itu nggak sefrustasi yang lo pikirin. Dia itu takut mati, gak mungkin dia nglakuin hal nekat. Maksud lo dia bakal bunuh diri gitu? Yang ada dia bakal bunuh orang yang ganggu dia.”


Alesh melotot, “sialan lo Fel.” Ujar Alesh memukul pelan kepala Felish.


“Oh ya, gue kan kesini mau ngajakin lo nonton. Gue tahu lo pasti bête kan di rumah mulu. Ayo, mumpung ada film bagus hari ini.”


Alesh hanya diam “Please, al.” Felish memohon dengan menautkan kedua tangan didadanya, lalu menoleh kearah Nata.


“Lo ikut aja Nat, biar rame.” Nata mengangkat sebelah alisnya, lalu mengangguk.


“Oke gue mau.” Alesh mengambil tas selempangnya yang ada di sofa, lalu pergi bersama Nata dan Felish. Saat-saat seperti ini dia memang butuh hiburan. Dan entah bagaimana ceritanya Nata bisa jinak hari ini. Tidak seperti Nata yang biasanya. Dingin seperti es batu.


Nata menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan terdekat, lalu dia keluar dan diikuti Alesh dan Felish. Mereka berjalan menuju XXI di lantai 5.


Sekarang Nata sedang mengantri untuk membeli tiket, Alesh dan Felish duduk di kursi yang kosong untuk menunggu Nata.


“Filmnya masih 45 menit lagi, mau makan dulu?” Tanya Nata yang sudah memegang tiket di tangannya. Alesh dan Felish setuju dengan ajakan Nata, lalu berjalan menuju foodcourt. Mereka makan sambil menunggu filmnya dimulai. Sekarang, Alesh sedang menikmati jusnya.


Mata Felish melebar saat melihat dua orang baru masuk ke area foodcourt.


“Al, bukannya itu Bara sama Nadia?” tanya Felish tidak percaya. Alesh menoleh ke belakang dan menyipitkan matanya. “Kok Bara sama Nadia sih Al, lo tau dia kesini?” lanjutnya.


Alesh menggeleng.


“Al, lo nggak perlu nengok.” Ujar Nata.


“Apa perlu kita samperin mereka?” tanya Felish.


“Udahlah Fel, biarin aja mereka nglakuin apapun sesuka hati mereka. Gue nggak peduli.” Jawab Alesh santai.


“Lo nggak cemburu gitu?” kepo Felish, Alesh menggeleng lagi. Sambil tertawa pelan gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan.


Alecia Andriana : Lo dimana?


Tidak perlu menunggu lama, Bara membalas pesan Alesh.


Bara Mahendra : Dirumah, Al. Ada apa?


Alesh mencibir Bara karena balasannya tidak sesuai dengan realita yang Alesh lihat, lalu dia kembali mengetikkan balasan untuk Bara.


Alecia Andriana : Gapapa Bar, tadinya mau ngajak lo nonton.

__ADS_1


Bara Mahendra : Mau nonton? Gue jemput ke apartmen lo mau?


Alecia Andriana : Nggak perlu Bar, biar gue nonton bareng Nata sama Felish aja. Lagian kasian Nadia kalau lo tinggal sendiri


Bara Mahendra : Maksud lo? Apa urusannya sama Nadia?


Alecia Andriana : Coba lo nengok kebelakang.


Alesh langsung memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Lalu dia langsung menghabiskan jusnya. Mendengar Bara berbohong barusan membuatnya sangat lapar.


Tatapan mata Bara kini tertuju ke arah 3 meja yang ada dibelakangnya. Seketika matanya membulat saat melihat Alesh ada disana. Sebelum berangkat bersama dengan Nadia tadi, dia sudah memastikan bahwa Alesh berada di apartmentnya, bahkan Bara yang mengantarnya sendiri. Kalau dasarnya harus ketahuan ya, mau bagaimana lagi?


Nafas Bara memburu ketika melihat Alesh sedang tertawa bersama Nata dan Felish. Bara berdiri dari kursi dan berjalan ke arah Alesh. Bara ingin menjelaskan kepada Alesh, tapi dia bingung harus mulai dari mana.


“Al.” Panggil Bara.


Alesh menoleh kearah Bara dan tersenyum, seolah terkejut melihat Bara datang.


“Gue--"


“Bara, lo dari kapan disini?” Tanya Alesh seolah tidak terjadi apa-apa.


“Al, gue bakal jelasin semua. Ini semua nggak seperti yang lo pikirin. Kita pulang sekarang, ya.”


“Enggak, Bar. Balik gih ke meja lo. Kasian Nadianya sendirian.”


“Tapi Al, gue harus jelasin semuanya.” Alesh terkekeh.


“Nggak usah Bar, mending lo pulang bareng Nadia. Lagian gue kesini bareng mereka, kasian kan Nadia kalau lo pulang bareng sama gue?”


“Kita pulang bareng, nggak usah pikirin yang lain.” Jawab Bara yang sekarang duduk di sebelah Alesh.


Sorot mata Bara terlihat sangat takut dan khawatir, terlihat jelas ada ketakutan akan terjadi hal yang tidak dia inginkan.


“Jangan pergi dari gue lagi ya Al.” Bara mengelus rambut Alesh. Nata sejak tadi menahan agar dia tidak terbawa emosi melihat tingkah laku Bara.


“Al, lo disini?” tanya Nadia yang sekarang sudah berada disamping meja Alesh. Felish hanya menatap kesal kearah Nadia dan Bara. “Mau lanjutin yang tadi?”


“Bar, mending lo anterin dia sekarang deh dari pada semuanya kacau.” Kata Felish kepada Bara sambil menunjuk kearah Nadia. Raut wajah Alesh yang terlihat datar seolah tidak terjadi apapun, membuat Bara frustasi. Bara tahu, jika sudah seperti itu, Alesh memang benar-benar marah.


“Ada apaan sih?” tanya Nadia sok polos. “Baru juga sampai, masa udah pulang aja. Mending kita makan bareng sekalian chit-chat, ya nggak Al?” tanya Nadia dan mengangkat sebelah alisnya.


“Oh boleh Nad, nanti sekalian gue ceritain ke lo siapa penemu kue putu. Kalau masih kurang, gue tambahin cerita siapa penemu benang sol.”


Sempat-sempatnya Alesh ngebanyol disaat seperti ini.


Nata berdiri dari tempat duduknya lalu menarik tangan Alesh dan meninggalkan yang lain.


"Fel, lo balik sendiri ya, kita duluan." Ucap Nata. Felish hanya menggeleng.


Nata menarik Alesh keluar dan masuk kedalam mobilnya tanpa bicara sedikitpun. Alesh masih dengan raut wajah datarnya. Tak ada pembicaraan apapun selama didalam mobil.


Sekarang, Alesh sudah berada di rooftop bersama Nata. angin malam memainkan rambutnya.


“Al, lo nggak papa?” tanya Nata hati-hati. Alesh hanya menggeleng, lalu tersenyum tipis.


“Gue nggak papa, Nat. Gue udah mengalami banyak kepahitan dalam hidup, dan yang paling sakit adalah berharap sama manusia.”

__ADS_1


“Nangis Al. Kalau lo nggak nangis, lo justru kenapa-kenapa. Nggak usah sok tegar gitu.”


Nata memakaikan jaketnya kepada Alesh.


“Udah terlalu banyak air mata dalam hidup gue, Nat. Gue cuma mau nangis buat hal-hal yang penting dan menguatkan.” Jawab Alesh datar. Tanpa aba-aba, Nata memeluk erat tubuh Alesh. Lalu mengelus rambutnya dengan lembut.


Dia teringat beberapa kejadian yang terjadi pada Alesh. Saat dia menyaksikan Helen menampar Alesh, dan siang tadi dia melihat Alesh yang ribut dengan Nadia, mantan sahabatnya. Dari pertengkarannya dengan Nadia juga, Nata bisa tahu banyak hal tentang Alesh.


“Lo bener Al, air mata lo telalu berharga buat nangisin orang kaya Bara.” Bisiknya. Alesh tidak membalas pelukan Nata. Sesaat kemudian Nata melepaskan pelukannya.


Alesh mengangkat wajahnya dan memandang Nata,


“Lo tahu nggak Nat kalau Nadia itu sahabat gue dari SMP. Tiba-tiba gue harus kehilangan dia dengan cara seperti ini. Miris ya hidup gue.”


“Sahabat itu nggak akan pernah nusuk sahabatnya dari belakang.”


“Entahlah gue sendiri bingung siapa sebenernya diantara kita berdua yang salah. Entah Nadia yang salah atau justru gue melakukan kesalahan tanpa gue sadari sampe bikin Nadia jadi orang yang selicik itu.”


“Gue yakin semuanya akan baik-baik aja.” Jawab Nata, “gue nggak tahu apa yang sebenernya terjadi sama lo Al. Waktu itu gue pernah ngeliat lo ribut sama nyokap lo sendiri dan tadi gue ngliat lo berantem sama Nadia.”


Alesh menyeringai.


“Gue paling nggak suka ikut campur urusan orang lain, tapi entah kenapa gue pengen ada buat lo disaat-saat kaya gini.” Alesh terkekeh mendengar pernyataan Nata.


“Kenapa lo ketawa?” tanya Nata.


“Abis lo aneh sih.”


“Aneh gimana?”


“Dulu kan lo ketus banget sama gue. Setiap kali gue nanya lo nggak pernah jawab. Terus belakangan ini lo tiba-tiba jadi baik gitu sama gue. Gue jadi mikir.” Alesh tidak melanjutkan kalimatnya.


“Mikir apa?”


“Jangan-jangan lo berkepribadian ganda.”


“Enak aja. Lagian lo udah nabrak gue bukannya minta maaf malah pergi gitu aja. Lo itu cewek paling songong yang pernah gue kenal.” Jawab Nata membuat Alesh bingung.


“Nabrak lo? Kapan? Gue nggak pernah nabrak siapa-siapa.” Alesh mencoba mengingatnya.


“Pokoknya waktu itu hari pertama gue masuk. Gara-gara lo jalannya nunduk lo jadi nabrak gue di depan pintu kelas.” Alesh menunjukkan deretan giginya saat dia ingat kejadian itu.


“Lo masih inget?”


“Iya menurut lo?”


“Gue udah minta maaf kok waktu itu gue bilang sorry.” Bantah Alesh.


“Minta maaf itu harus tulus.”


“Ih yaudah sih gue minta maaf gitu aja ribet banget.” Jawab Alesh pura-pura kesal dan membuat Nata tertawa.


“Ayo turun!” Alesh mendorong Nata hingga dia mundur selangkah dari tempatnya berdiri. Baru selangkah Alesh melangkah, tangannya ditahan oleh Nata.


“Al, gue cuma mau yakinin lo kalau masih ada gue yang sayang lo. Jangan pendam sendiri semua masalah lo. Gue akan lindungin lo.” Nata menempelkan tangannya dipipi Alesh.


Alesh tak bergeming. Dia tidak mau lagi tertipu dengan rasa cinta maupun sayang yang akan kembali menghancurkan hatinya. Entah benar atau tidak perasaan Nata kepada Alesh, atau hanya sekedar kasihan?

__ADS_1


*****


__ADS_2