
Bab 165
Jam pulang...
Zhea memasukkan laptop dan buku-bukunya ke dalam laci. Karena universitas mereka aman, apapun barang yang di tinggal di kelas tidak akan hilang. Terlebih lagi di setiap kelas ada CCTV nya.
"Kak exsel, pulang dari ini ajarin aku tugas yang tadi ya. Soalnya masih belum ngerti" ucap Tiffany mendekati exsel.
Zhea mendengar ucapan Tiffany, dia berlalu pergi dan memilih bodoh amat dan nggak mau tahu. Baginya,exsel hanyalah orang yang membantunya keluar dari masalah. Untuk sayang, cinta, suka, ataupun kepedulian seujung kuku pun tidak ada untuk exsel.
"Saya harus ke rumah sakit, sekarang"
"Tapikan kak..."
"Tiffany saya ini sibuk. Jika kamu benar-benar ingin belajar, datang ke rumah nanti malam pukul delapan" ucap exsel beranjak pergi meninggalkan Tiffany
"Oke kak, aku pasti bakalan datang" ucap Tiffany kesenangan.
Melihat exsel pergi silya pun mendekati sahabatnya itu.
"Kesempatan bagus tuh. Lho harus buat zhea cemburu nanti malam, kalo bisa buat mereka bertengkar sampai Exsel ceraiin tuh sih zhea. Biar tahu rasa, dan jadi janda muda" ucap silya
"Gue bakalan lakuin hal itu secara perlahan-lahan. Gue bakalan buat kak exsel benci banget sama zhea, bahkan mendengar namanya pun dia nggak mau"
__ADS_1
"Kalo rencana lho berhasil. Lho harus pindah profesi dari model ke aktor"
Zhea sampai di rumah sakit, dia melihat Rere yang memainkan ponsel merasa lega karena sahabatnya itu sudah membaik.
"Udah sadar?"
"Heum"
"Rio kenapa langsung balik ke AS?"
"jadi Rio benaran balik ke AS" batin Rere merasa kecewa
"Gue usir"
"Kalo dia balik ke AS itu karena kemauan dia. Gue cuma ngusir dia dari ruangan gue, ya bukan salah gue dong kalo dia milih pergi ke AS. lagian dia itu pasti pengen cepat-cepat ketemu sama orang-orang yang dekat sama dia disana"
"Re, kalo marah tuh nggak usah berlarut-larut kayak gini"
"Gue nggak marah Zhe, cuma gue kecewa aja sama dia, karena ninggalin kita gitu aja"
"Itu kan demi masa depannya dia. Kita sebagai sahabat plus adiknya harus support dia, bukannya buat dia jadi ragu dengan pilihannya"
"Udahlah Zhe, gue nggak mood bahas masalah ini lagi. Lagian, kalo memang dia ragu dengan pilihannya, seharusnya dia kompromi dulu sama kita sebelum pergi" ucap Rere yang sudah badmood membaringkan dirinya dan membelakangi zhea.
__ADS_1
"Lho udah makan?" Ucap zhea mengalihkan pembicaraan
"Heumm"
"Gue bakal ikut balapan nanti malam. Lho nggak apa-apa kan gue tinggal sendiri"
"Lho mau balapan?" Ucap Rere kembali duduk menatap zhea
"Heum, gue harus bayar hutang-hutang gue sama lho, Niko, Rio dan nyokap lho. Ditambah lagi, tuan marga menarik semua biaya yang dia keluarkan untuk membiayai pendidikan gue, jadi gue harus bayar semuanya"
"What!"
"Udah nggak usah kaget gitu. gue juga udah nebak kalo ini bakal terjadi"
"Apa dokter exsel tahu?"
"Dia sih tahu, dan ingin membayar semua biaya kuliah gue selama ini"
"Bagus dong kalo gitu, bearti dia tahu kalo lho itu kewajibannya"
"Tapi gue nggak mau bergantung sama dia. Lagi pula dia udah bekerja keras mencukupi kebutuhan gue, membayar semua biaya rumah, dan kerja pagi pulang malam. Dan gue nggak bisa cuma diem dong, karena yang butuh uang itu gue bukan dia, dan nggak seharusnya semua pengeluaran gue di tanggung sama dia"
"Lho kan istrinya Zhe, jadi udah sewajarnya kayak gitu"
__ADS_1