
Bab 194
"Kita itu cuma pura-pura doang. Lagian, siapa juga yang mau sama dokter ngeselin kayak dia" ucap Rere
"Eh, jaga yah tu mulut. Gini-gini lho tuh juga butuh gue buat ngejauhin..." Belum sempat Adnan menyelesaikan ucapannya, Rere malah menyuapinya dengan pisang.
"Itu buah kalian yang bawah, kok malah kalian yang makan sih" ucap Adnan
"Ya mau gimana lagi, buah yang di kulkas kalian itu, udah pasti di pegang-pegang semua sama ulat bulu itu"
Exsel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh, ambilin gue apel dong satu"
"Apa lho bilang? Gue nggak salah dengar nih" protes Rere
"Lho kan dekat, tangan gue nggak ke jangkauan ngambilnya"
"Lapar lho" ucap Rere memberikan apel ke Adnan
"Ya, lapar lah. Ini tuh udah sore, sedangkan gue dari tadi pagi belum sempat makan"
"Kamu mau buah juga" ucap exsel, zhea hanya menggelengkan kepala.
"Hp gue mana ya, dari tadi di cariin nggak ketemu& ketemu" ucap zhea
"Ada di kamar" ucap exsel
"Kalo gitu gue pinjam hp lho deh bentar" ucap zhea mengambil hp exsel, sedangkan exsel terus berfokus ke layar laptopnya.
"Password-nya apa?"
"Tanggal nikah kita"
"Gue nikah sama exsel tanggal berapa ya" batin zhea mencoba mengingat-ingat, karena memang dia tidak mempedulikan apapun tentang pernikahan mereka
"Nggak jadi deh, re, pinjam hp lho bentar"
"Kenapa nggak jadi pakai hp aku? Kamu lupa tanggal pernikahan kita?"
Zhea hanya tersenyum getir.
"Nih ya password-nya itu, 27september 2022" ucap exsel kemudian memberikan hpnya pada Zhea.
Sementara itu, Tiffany dan silya sibuk di dapur.
Silya membuka kulkas dan langsung memotong buah-buahan.
"Ngapain lho di sini?" Ucap Tiffany
"Lho nggak lihat gue lagi ngapain?"
"Buah buat siapa?"
"Ya kak Adnan dong. Masa buat si kampret zhea dan Rere itu"
"Benar juga, pokoknya kita harus narik perhatian kak exsel dan Adnan. Bagaimanapun caranya"
"Gue setuju"
"Gue ada ide"
"Ide apaan?"
"Sini gue bisikkin".
Tiffany pun memberitahu silya tentang rencananya.
__ADS_1
"Gila lho ya! Masa harus melukai diri sendiri"
"Kalo lho nggak aku ya udah gue aja. Lagian kak exsel dan Adnan itu dokter, kalo kita sampe luka mereka pasti akan ngobatin kita. Sekalian, kita buat cemburu tuh dua kampret"
Tiffany nekad membakar tangannya dengan meletakkan salah satu telapak tangannya ke panci yang panas.
"Auuuuu" pekik Tiffany kesakitan.
"Gila lho ya, nekad banget sih" ucap silya yang melihat telapak tangan kiri Tiffany yang terbakar.
Zhea, Exsel, Adnan dan Rere pun datang.
"Ada apa kenapa teriak-teriak" ucap Exsel
"Kak Exsel tangan aku ke bakar" ucap Tiffany memperlihatkan telapak tangannya, dan memasang wajah sedih yang berlebihan
"Kok bisa kebakar sih?" ucap Exsel memeriksa tangan Tiffany
"Aku lupa kalo pancinya panas, jadi aku pegang"
"Makanya, kalo nggak bisa apa-apa tuh diam aja. Jangan belagu sok bisa" ketus Rere
Exsel mematikan kompor kemudian berucap "tunggu sebentar, aku ambilin obat dulu"
Tiffany hanya mengangguk.
"Kayaknya rencana Tiffany nggak buruk-buruk amat deh. Gue harus coba nih" batin silya.
Silya sengaja melukai jarinya dengan pisau, agar dapat perhatian dari Adnan.
"Auuu, kak Adnan tangan aku berdarah" rengek silya.
"Makanya hati-hati"
"Kak Adnan obatin dong, gimana kalo nanti infeksi"
"Kita ke ruang tamu aja. Nunggu exsel ngambilin obatnya"
Zhea dan Rere duduk berdampingan.
"Mereka pasti sengaja tuh,agar bisa di perhatiin sama dokter exsel dan Adnan" ucap Rere.
"Kayak ya sih begitu"
"Lho mau hiburan nggak?"
"Maksud lho?"
"Liat aja ntar, pokoknya lho turutin aja apa yang gue bilang"
Zhea hanya mengangguk menyetujui ucapan Rere.
Exsel datang, membawa kotak p3k.
Saat exsel dan Adnan ingin mengobati silya dan Tiffany, Rere malah menghalangi mereka.
"Tunggu dulu?" Ucap Rere menahan pergelangan tangan Adnan
"Kenapa?"
"Baby, kamu sama dokter exsel kan pernah ajarin aku Sam Zhea buat ngobatin luka-luka kayak gitu. Jadi, mumpung ada yang terluka, kita bisa mempraktekkan apa yang di ajarkan kalian"
"Maksud kamu?" Ucap Adnan kebingungan
"Ya maksud aku, biar aku sama Zhea aja yang ngobatin mereka. Ya kan Zhe?" Ucap Rere mengedipkan matanya memberi kode ke Zhea.
"Ya" balas Zhea singkat.
__ADS_1
"Nggak, nggak, nggak, nggak. Kita nggak mau di obatin kalian, ntar bukannya sembuh malah tambah sakit" protes Tiffany
"Benar tuh, pokoknya gue mau yang ngobatin gue itu kak Adnan"
"Baby, boleh ya" rengek Rere ke Adnan dengan wajah memelas
"Oke" ucap Adnan
"Makasih, by. Kamu memang pacar terbaik. Makin cinta deh" ucap Rere mencium pipi Adnan. Adnan yang terkejut hanya membulatkan matanya.
Sementara Zhea hanya tersenyum smirk, melihat tingkah sahabatnya itu.
"Kak exsel, pokoknya aku mau kakak yang ngobatin aku. Luka aku ini parah lho kak. Masa kakak mau suruh Zhea yang nggak berpengalaman buat ngobatin aku. Mana dia lagi demam lagi, gimana kalo dia nularin penyakitnya ke aku" protes Tiffany.
"Penyakit apa sih yang kamu bilang tif, Zhea itu hanya demam. Jika kamu memang takut ketularan ngapain kamu datang ke sini" ucap exsel yang tidak suka dengan ucapan Tiffany
"Ya, aku nggak bermaksud kayak gitu kak"
"Rencana gue berhasil kayaknya berhasil nih. Ntar kalo gue lagi ngobatin silya lho pura-pura pusing oke, biar kak exsel nggak jadi ngobatin Tiffany" bisik Rere
"Tapi dia kan emang perlu di obatin re" ucap Zhea ikut berbisik
"Nanti biar dokter Adnan aja yang ngobatin dia. Yang terpenting tuh, rencana mereka nggak berhasil"
"Oke"
"Baby, ayo tukaran tempat" ucap Rere, sementara Adnan hanya menuruti keinginan Rere.
"Sini tangan lho gue lihat" ucap Rere menarik tangan silya kasar
"Auu pelan-pelan dong, sakit tahu"
"Nggak usah manja deh, luka kayak gini doang heboh. Di plasterin aja, besoknya juga pasti sembuh"
"Emang benar kayak gitu kak Adnan"
"Iya, tapi sebelum itu olesin obat merah dulu"
"Dengarin tuh, makanya jangan sok tahu"
Rere memutar bola matanya, kemudian dia mengolesi obat merah ke luka silya.
"Auu perih, kak Adnan tiupin" rengek silya
"Sini biar gue aja yang tiupin" ucap Rere menarik paksa tangan silya. Saat ingin meniup tangan silya muncul ide gila di otaknya.
Bukannya meniup luka di tangan silya, Rere malah dengan sengaja menekan luka silya sehingga silya menjerit ke saluran.
"Auuu, lho apa-apaan sih"
"Ya sorry nggak sengaja. Sini-sini gue tiupin deh"
"Gue bisa sendiri!"
"Kalo gitu kenapa nggak di obatin sendiri dari tadi, Maimunah!"
Silya menatap jengkel Rere, lalu mengobati lukanya sendiri.
"Terus lukaku gimana dong kak.aku nggak mau ya, kalo Zhea yang obatin. Bisa-bisa ntar aku teriak-teriak kayak silya lagi" ucap Tiffany
"Bukannya lho emang suka teriak ya" ucap Zhea yang beranjak ingin masuk ke kamarnya.
"Sudah-sudah, sini saya obati" ucap exsel.
Rere memberi kode agar Zhea berpura-pura pusing, untuk menghentikan exsel mengobati Tiffany.
Zhea membuka pintu kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu, lalu pura-pura jatuh sambil memegangi kepalanya. "Akhh" teriak Zhea berpura-pura kesakitan.
__ADS_1
"Astaga Zhea!" Ucap Rere menghampiri Zhea dan berpura-pura khawatir
Saat Rere berada di dekat Zhea, Zhea mengedipkan matanya memberi kode.