BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 235


__ADS_3

"Ada yang ingin aku bicarakan" ucap zhea



"Duduk dulu" ucap exsel menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Namun zhea lebih memilih duduk berhadapan dengan exsel.


"Kenapa kamu resign dari rumah sakit?" Ucap zhea to the point


"Adnan yang cerita?"


"Siapa yang cerita itu nggak penting sel"


"Apa kita benar-benar sudah bercerai?" Ucap exsel menatap zhea lekat-lekat


Zhea hanya mengangguk pelan. exsel hanya tersenyum tipis, jauh di lubuk hatinya merasa sangat terluka dan kecewa.



"Jika zein tidak mengatakannya, aku tidak akan tahu bahwa kita telah usai. Aku bahkan, tidak menerima surat panggilan dari pengadilan" ucap exsel tersenyum miris



"Kamu sendiri yang bilang tidak akan datang ke persidangan agar persidangannya berjalan dengan lancar"



Exsel tersenyum manis, tapi di balik senyum itu ada luka yang sulit untuk di ceritakan. "Benar juga" ucapnya


"Kembali ke topik awal, kenapa kamu resign dari rumah sakit. Rumah sakit itu milikmu, siapapun orangnya tidak ada hak untuk mengusirmu"


"Aku sudah mengatakan padamu ambil kembali rumah sakit itu. Aku memang tidak memiliki kekuasaan apapun, tapi aku tidak akan pernah menjual pernikahan demi harta"


"Aku memberikannya padamu karena kamu berkompeten dalam hal itu. Aku juga mengubah pemilikan rumah sakit itu bukan karena perceraian kita"


"Adakah kamu memberitahuku atau menanyakan pendapatku saat mengubahnya?"


"Jika kamu sudah resign dari kampus, sekarang juga resign dari rumah sakit. Sekarang kamu mau kerja apa?"



"Itu urusan ku Zhe, kau tidak perlu memikirkannya"



"Kamu kehilangan pekerjaanmu itu karena aku . Bagaimana aku tidak memikirkannya?"



Exsel hanya tersenyum kemudian berucap "semuanya sudah terjadi, nggak usah di bahas lagi. Dan tidak perlu merasa bersalah atas kehilangannya pekerjaanku, aku bisa melamar bekerja di rumah sakit lain"

__ADS_1



"Terserah kau saja!" Zhea melepaskan kalung dan cincin pernikahan mereka. Dia meletakkan dua perhiasan itu di atas meja



"Kau menolak pemberianku, maka aku kembalikan apa yang telah kau berikan padaku" ucap zhea beranjak pergi setelah mengatakan itu



"Sudah aku katakan,aku tidak akan mengambil kembali apa yang aku berikan" ucap exsel, namun Zhea tidak mendengarkannya dan melangkah semakin jauh.



Exsel hanya menatap zhea, hingga zhea hilang dari pandangannya. Exsel mengambil cincin itu, dan tersenyum miris.



"Aku tidak akan muncul lagi di kehidupanmu zhea, Ini yang kau pilih dan akan aku turuti" ucap exsel menatap nanar cincin itu


Zhea kembali ke mansion, di sana ada Zein dan Leon yang menunggunya. Zhea melangkah seolah-olah tak melihat kedua orang itu.


"Baru pulang kamu zhea? Nggak lihat ini sudah jam berapa" ucap Leon


Sementara zhea hanya memutar bola matanya malas.


"Kamu di D.O dari kampus?" Ucap Zein


"Hemm" zhea hanya berdehem


"Jadi, selama ini kamu nggak ke kampus zhea. Ngapain aja kamu selama ini" ucap Leon menahan emosi


"Sibuk"


"Sibuk kamu bilang, emangnya apa kesibukkan kamu selain keluyuran!"



"Sibuk mengurus perceraian!"


"Jangan jadikan itu sebagai alasan zhea!" Bentak Leon


"Sudahlah om, jika zhea di keluarkan dari kampus dengan cara ini, ayo kita luluh lantahkan universitas itu" ucap Zein


"Tetap saja zhea ini membuat malu! Jika lara tahu dia pasti akan menertawakanku dan mengejekku" ucap Leon



"Oh, jadi itu alasan kenapa Anda selalu membantu permasalahan saya di kampus? Karena anda malu jika sampai saya di keluarkan" ucap zhea tak percaya

__ADS_1


"Ya. Dan semua itu terjadi sekarang. Uang yang saya keluarkan selama ini hilang dengan sia-sia"


Zhea berdiri karena merasa tak terima dengan ucapan Leon "tuan marga yang terhormat, jika anda malu mempunyai putri seperti saya kenapa anda terus mancari-cari dan menganggu hidup saya. Bahkan di saat saya merasa bahagia pun anda dengan mudahnya menghancurkan kebahagiaan saya. Apa salah saya kepada anda dan nyonya lara . jika kalian tak menginginkan saya, saya juga nggak keberatan. Karena dari dulu tidak ada peran orang tua di hidup saya. Tapi kenapa kalian selalu mencari-cari saya, menganggu kesenangan saya dan menghancurkan kebahagiaan yang baru saja saya dapat, kenapa? Apa kalian belum puas melihat saya menderita selama ini? Harus sehancur apalagi kehidupan saya, agar kalian puas" ucap zhea mengeluarkan keluh kesahnya. Dia menatap Leon penuh luka, bahkan air mata pun mengalir tanpa bisa di cegah.


Leon hanya terdiam melihat zhea yang menangis. Ini pertama kalianya dia melihat zhea serapuh itu. Putri yang selalu membangkang dan tidak bisa di aturnya itu menjadi sosok yang lemah sekarang.


"Anda dan nyonya lara itu hanya memikirkan harta, tahta dan jabatan. Kalian bahkan tidak ingat jika kalian memiliki anak yang membutuhkan kasih sayang dari kalian. Anda memang membesarkan saya dengan kemewahan, tapi tahukah anda tuan bahwa uang anda tidak bisa membeli kebahagiaan. Saya kesepian, saya iri dengan anak-anak lain, yang mana mereka bisa liburan dan di antar jemputkan sewaktu sekolah. Sementara saya? Orang yang melahirkan saya pun berlagak tidak mengenal saya. Dia memang selalu datang di acara sekolah tapi bukan untuk saya melainkan untuk anak tirinya itu. Apa kalian tahu rasanya bagaimana?"



Leon terkejut mendengar ucapan zhea. Dia tidak tahu jika Selama ini zhea selalu bertemu dengan lara. Karena zhea tidak pernah bercerita apapun padanya dan baru kali ini zhea membahas tentang lara. Leon bukan orang yang pendendam, dia memang marah karena lara meninggalkannya dengan zhea di saat dia tidak punya apa-apa. Tapi, jika lara datang dan ingin bertemu dengan zhea, dia tidak akan melarang karena bagaimanapun lara adalah orang yang melahirkan zhea. Tapi dia tidak tahu, jika lara pernah tidak menganggap zhea sebagai anak.


"Zhea kontrol emosimu" Ucap zein menenangkan


"DIAM! INI BUKAN URUSAN LHO" bentak zhea


"Kenapa tidak pernah cerita sebelumnya" ucap Leon


"Apa anda punya waktu untuk saya? Apa anda pernah menanyakan bagaimana hari-hari yang saya lalui? Nggak kan"


"Papa minta maaf zhea" ucap Leon memeluk zhea namun zhea memberontak dan Leon pun semakin mengeratkan pelukannya.



Setelah belasan tahun lamanya, ini pertama kalinya Leon memeluk kembali putrinya itu.



"Saya di lahirkan hanya untuk menjadi boneka kalian. Agar apa yang kalian inginkan tercapai"



"Tidak seperti itu nak, papa bekerja keras hanya untuk kamu. Agar kita bisa di hargai orang, Dan orang-orang juga tidak akan membuang kita lagi.Papa tidak tahu kesedihan kamu selama ini, tapi percayalah apa yang papa putuskan adalah yang terbaik untuk kamu. Papa nggak mau, nantinya kamu juga terbuang seperti papa " ucap Leon melepaskan pelukannya



"Orang-ornag memang tidak akan meninggalkan anda. Tapi sebelum orang membuang saya, saya sudah lebih dulu di buang oleh nyonya lara dan di terlantar oleh anda" ucap zhea kemudia dengan cepat beranjak pergi masuk ke kamarnya.


"Zhea,,, zheaaaa dengarkan papa Dulu" teriak Leon


"Berikan zhea waktu om. Dia mungkin sedih karena di keluarkan dari kampus, makanya dia jadi emosional"



"Ini semua gara-gara lara. Aku memaafkannya dan memperbolehkan dia bertemu dengan zhea karena dia ibu kandungnya. Tapi, dia malah membuat putriku tersiksa bahkan merasa tersisihkan kan. Aku akan memberinya pelajaran" ucap Leon mengepalkan tangannya.



"

__ADS_1


__ADS_2