
BAB 258
Zhea merasakan ada yang tidak beres di tubuhnya. Ini karena dia tidak meminum obatnya dan malah meminum minuman yang membuat penyakitnya makin memburuk.
Zhea merasa nafasnya sesak, tangannya gemetaran, darah di hidungnya mengalir begitu saja.
"Please jangan sekarang. Gue harus bisa bertahan hidup setidaknya sampai hari pernikahan Rio dan Rere. Gue harus kuat, konferensi pers itu nggak boleh gagal" gumam zhea memegangi dadanya.
Zhea merangkak, karena tidak kuat lagi berjalan. Dia ingin ke mobil untuk meminum obatnya.
Exsel yang melihat zhea ke sakitan di ruang tamu pun segera berlari ke halaman rumah dan membuka mobil zhea. Seolah-olah tahu apa yang di butuhkan zhea, exsel mengambil satu pil obat zhea kemudian berlari ke dapurnya mengambil segelas air. Exsel membuka kapsul pil itu dan mencampurnya dengan air. Setalah pil itu teraduk, exsel langsung menghampiri zhea.
"Zhea kamu kenapa? Ini minum dulu" ucap exsel mencoba menyembunyikan rasa khawatirnya
Dengan tangan yang gemetara zhea ingin meraih gelas itu. namun, tangannya terlalu gemetaran sehingga exsel membantunya untuk minum.
Tes!
Tanpa terasa air mata exsel menetes Melihat zhea yang kesakitan. Dengan cepat dia menghapus air matanya, agar zhea tidak curiga kalau dia sudah tahu zhea mengidap sakit parah.
"Kamu pasti kelelahan sampai-sampai mimisan seperti ini" ucap exsel mengelap darah di hidung zhea Dengan tangan telanjang.
Zhea mencoba mengatur nafasnya, dia bersandar di sofa sementara tangannya terus bergetar. Exsel yang melihat itupun langsung menggenggamnya.
"Kamu pasti sangat kelelahan, lihatlah tanganmu sampai bergetar seperti ini. Pasti kamu banyak memberikan tanda tangan untuk para fans dan juga dokumen-dokumen perusahaanmu kan?" Ucap exsel sekali lagi berpura-pura bodoh di depan zhea.
Zhea menatap exsel "berhentilah berlagak bodoh sel. Lho tahu kan? Hidup gue nggak bakalan lama lagi" ucapnya lirih
"Apa yang kamu bicarakan zhea? Tidak baik mendahului tuhan"
"Itu kenyataannya sel. Lho tahu betul kalo gue sakit parah, nggak ada harapan apapun jika lho hidup sama gue. Berhentilah berharap"
"Aku tidak suka Dengan ucapanmu itu zhea. Aku akan selalu berharap bisa hidup bersamamu selamanya. Walau sisa hidupmu hanya sehari, aku tidak akan menggantikanmu dengan wanita manapun. Dulu, hari ini, esok dan masa yang akan mendatang" ucap exsel langsung memeluk zhea.
"Gue..."
"Dengarkan aku. Walaupun kamu sakit aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan berusaha untuk menyembuhkanmu apapun resikonya, meski harus bertukar nyawa. Zhea, dengarkan aku. Tolong jawab aku, apakah kita benar-benar sudah bercerai?"
Zhea hanya diam dalam pelukan exsel
"Diam, bearti kamu memang masih istriku. Aku tidak akan bertanya apa alasannya kamu melakukan semua ini. Aku hanya ingin mendengar kamu mengatakan bahwa kamu masih istriku"
"Tidak ada hubungan apapun lagi di antara kita"
"Kamu bohong Zhe! Aku tahu itu" ucap exsel mempererat pelukannya.
Zhea merasa sakitnya agak berkurang, dia memilih memejamkan matanya di pelukan exsel.
__ADS_1
3 jam berlalu... Exsel yang sedari tadi memeluk zhea akhirnya mengendong zhea hati-hati dan membaringkannya di sofa.
Exsel ke kamarnya mengambil infus, dan beberapa obat. Exsel mengutikkan obat penenang agar zhea bisa tertidur lama.
Zhea membuka matanya karena merasakan suntikan di lengannya.
"Kembalilah tidur, ada semut menggigitmu tadi, mungkin ada bekas makanan di sini" bohong exsel berpura-pura membersihkan sofa
Zhea yang sudah terpengaruhi obat tidur pun kembali memejamkan matanya.
Exsel Dengan cepat mengutikkan beberapa obat ke infus. Kemudian dia menginfus tangan zhea.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan, agar rasa sakitmu berkurang Zhe" ucap exsel mengelus-elus tangan zhea dan di infus.
Sementara itu, di perusahaan sedang kacau karena banyaknya wartawan yang berdatangan. Rere dan Leon tidak bisa mengusir mereka karena mereka adalah tamu undangan zhea.
"Konferensi pers apa yang mereka bicarakan. Apa yang akan zhea lakukan?" Ucap Leon
"Saya juga nggak tahu tuan. Zhea juga tidak bisa di hubungi"
"Anak itu benar-benar. Lihatlah setelah membuat ke kacauan dia malah menghilang. Jika dalam setengah jam dia tidak muncul maka hancur nama baik perusahaan, kenapa dia mengundang saluran tv yang terkenal? Apa yang ingin dia lakukan? Apa zhea tidak bicara apapun ke kamu? Kamu kan sekretarisnya bagaimana mungkin tidak tahu"
"Saya benar-benar tidak tahu tuan"
"Hubungi Zein sekarang, minta dia datang ke sini"
Rere hanya mengangguk.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, zhea baru tersadar. Sementara exsel juga tertidur karena seharian berjaga untuk memastikan keadaan zhea. Zhea dengan perlahan-lahan mencabut selang infus di tangannya.
Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, zhea berusaha untuk menyetir. Namun, tubuhnya seakan-akan tidak mau di ajak bekerjasama. Zhea memakirkan mobilnya, dia mengambil satu pil nya dan langsung menelan pil itu. Untungnya, exsel tidak mengambil botol obatnya itu tadi siang
Zhea mengatur nafasnya, dia menyenderkan kepalanya di kemudi, darah mengalir dan mengotori kemeja putih yang dia kenakan. Zhea menghapus kasar hidungnya sambil menangis.
"Darah sialan! Tubuh sialan! Gue nggak mau kayak gini. Exsel, Niko, Rio, Rere gue nggak mau mati" isaknya.
1 jam berlalu, zhea sudah merasa agak baikan. Dia kembali menjalankan mobilnya. Setelah berpikir panjang, zhea pergi ke club membeli sebotol minuman yang kadar alkoholnya tinggi. dia juga ke mini market membeli beberapa permen dan minuman.
Zhea sampai di kediaman keluarga Tiffany. Sebelum masuk ke sana zhea meminum Kembali obatnya. Setelah itu dia membuka bungkus lolipop dan memakannya. Dengan langkah sombong zhea masuk ke mansion keluarga Tiffany.
Kebetulan saat zhea berkunjung, Tiffany sekeluarga sedang berkumpul di ruang tamu mereka.
"Sedang membicarakan apa?" Ucap zhea tersenyum smirk.
Sementara orang yang ada di sana, terkejut melihat kedatangan zhea.
"Mau apa lagi lho ke sini zhea? Mau menertawakan kami? Karena sudah berhasil membuat perusahaan papa bangkrut dan karier aku dan mama rusak" ucap Tiffany
"Karier kalian rusak itu karena ulah kalian sendiri. Kalo perusahaan tuan Dimas, itu baru campur tangan gue" ucap zhea santai memakan lolipopnya
__ADS_1
"Pakaianmu kenapa zhea? Kenapa banyak bekas darah" ucap lara
"Darah ini tidak sebanding dengan luka yang anda berikan waktu itu" ucap xhea penuh penekanan dan tersenyum smirk
"Kamu ke sini tidak lagi bersembunyikan zhea? Semua saluran tv membicarakanmu karena tidak datang melakukan konferensi pers yang di janjikan jam 2 tadi siang"
"Bersembunyi? Buat apa? Mereka saya yang undang kenapa saya harus bersembunyi. saya hanya mampir untuk menjenguk kalian sebelum ke sana" ucap dimas
"Apa maksud kamu? Kamu mau menghancurkan kami lagi? Mau menjelek-jelekkan kami di hadapan para wartawan?"
"Kita lihat saja nanti" ucap zhea beranjak berdiri. Zhea ingin melangkah pergi, kemudian dia berbalik dan melempar black card-nya di meja.
"2 triliun, untuk membangun kembali perusahaan kalian. Saya juga akan merekomendasikan perusahaan anda ke para klien agar mereka mau kembali bekerja dengan perusahaan kalian. Pin-nya akan saya kirim ke Tiffany" ucap zhea kemudian beranjak pergi.
Tiffany mengajar zhea ke mobilnya "Shea tunggu" ucapnya
Zhea hanya menatap Tiffany tanpa mau membuka mulutnya.
"Apa maksud lho memberikan kami uang? Kami tidak serendah itu, lho sengajakan mau ngehina keluarga gue"
"Terserah lho mau mikir apa. Gue sibuk!"
"Tunggu dulu" ucap Tiffany menahan zhea. Zhea membuang lolipopnya
Zhea menarik nafas kasar kemudian berucap "gue hanya nggak ingin lho dan keluarga lho menderita dan melarat kayak gue dan bokap gue dulu"
"Emang itu kan Tujuan lho? Sekarang, permainan apa lagi yang lho buat zhe? Apa nggak cukup lihat keluarga gue hancur sekarang?"
"Ya, itu emang Tujuan gue dari dulu. Bahkan, gue minta exsel nikahin gue dulu agar bisa balas dendam ke lho, agar lho ngerasain apa yang gue rasain. Tapi sekarang, gue nggak mau itu terjadi ke lho. Cukup gue aja yang jadi korban di sini. Lho nggak akan sanggup Tiffany jika lho jadi gue!"
"Cuma perceraian kedua orang tua kenapa lho jadi kayak gini. Dan dendam Dnegan keluarga gue
" ya, mungkin menurut lho cuma perceraian orang tua. Tapi dampaknya itu menghancurkan hidup dan mental gue sejak kecil Tiffany. Gue, kehilangan kasih sayang kedua orang tua, gue yang selalu nangis saat lihat lho dan nyonya lara di sekolah, gue hancur, gue kesepian bahkan hampir mati karena di telantarin Tiffany apa lho ngerti ha? Gue di hina orang-orang karena terlahir miskin setelah kaya gue juga di hina karena tidak ada sosok ayah ataupun ibu yang mendampingi di saat pengambilan lapor ataupun kelulusan. Gue bahkan harus nyewa tukang ojek buat ngambil laport gue apa lho tahu gimana rasanya?. Gue nggak ngebalas postingan lho dimedia ataupun menuntut lho, walaupun gue sangat ingin. Cukup gue Tiffany CUKUP GUE YANG NGGAK PUNYA MASA DEPAN DAN KEBAHAGIAAN. GUE BENCI LHO SEKELUARGA, TAPI GUE NGGAK MAU LHO NGERASAIN APA YANG GUE RASAIN. HIDUP GUE ITU NGGAK SEENAK YANG LHO PIKIRIN TIF, LHO JAUH LEBIH BERUNTUNG DARI GUE. LHO PUNYA BOKAP YANG PENGERTIAN, NYOKAP LHO MENINGGAL DAN NYOKAP TIRI LHO SANGAT MENYAYANGI LHO. SEDANGKAN GUE? GUE HIDUP TAPI MATI. KESIALAN LHO HANYA SATU, KARENA NGGAK BISA MILIKIN EXSEL. SEDANGKAN GUE, DI ANTARA GELAPNYA KEHIDUPAN GUE, HANYA EXSEL YANG MAMPU MENERANGI, TAPI SEKARANG, GUE HANCUR SE HANCUR-HANCURNYA TIFFANY. GUE HIDUP HANYA UNTUK MEMENUHI KEINGINAN ORANG LAIN. LHO PASTI SANGAT KETAKUTAN KEHILANGAN KARIR DAN DI BENCI ORANGKAN? DAN LHO JUGA PASTI PENASARAN KENAPA GUE NGGAK MEMBELA DIRI. JAWABANNYA KARENA KALO GUE LAKUIN ITU, LHO NGGAK BAKALAN BERANI KELUAR RUMAH, LHO AKAN DI HINA SANA SINI KAYAK GUE DAN GUE YAKIN TELINGA DAN MATA LHO NGGAK AKAN SANGGUP BUAT LIHAT DAN DENGAR BAGAIMANA ORANG-ORANG MEMBENCI LHO. BIAR GUE AJA YANG DI BENCI, KARENA APA? KARENA GUE UDAH TERBIASA DAN GUE UDAH KEBAL DENGARIN HINAAN DARI ORANG-ORANG" UCAP ZHEA EMOSI
"zhea maaf. Gue nggak nyangka kalo lho mikirin gue dan keluarga gue. Gue benar-benar minta maaf atas segala kesalahan gue sama lho. Dari dulu gue selalu benci sama lho karena Kak exsel" ucap Tiffany tak bisa lagi menahan air matanya. Cerita zhea berhasil membuat rasa bencinya menjadi rasa kasihan dan penuh rasa bersalah
"Lupakan" ucap zhea namun darah di hidungnya kembali mengalir
"Zhea lho kenapa? Darah di baju lho ini, apa darah dari hidung lho juga"
Zhea tidak menjawab ucapan Tiffany dia menghapus kasar hidungnya dengan lengan kemejanya.
"Zhea apa lho sakit?"
Air mata zhea menetes begitu saja, setelah menahannya sedari tadi.
"Zhea maafin gue, maafin semua kesalahan gue. Terimakasih karena lho masih baik sama keluarga gue. Gue janji bakal jadi saudara tiri yang baik buat lho. Gue juga nggak bakal dekatin kak exsel lagi, walaupun gue sangat mencintai kak exsel. Gue benar-benar minta maaf zhea. Gue bakal jadi kakak perempuan yang baik buat lho" ucap Tiffany memeluk zhea
Sementara itu, Dimas dan lara hanya melihat dan mendengar interaksi dari Shea dan Tiffany
"Apa kau malu sekarang lara? Karena tidak mengetahui apapun tentang putrimu?" Lara hanya diam, dan menangis.
__ADS_1
Zhea melepaskan pelukan Tiffany dan pergi meninggalkan mansion itu.
"Zhea pasti mau ke perusahaan, dia terlihat tidak sehat. Gue harus hubungi kak exsel". Ucap Tiffany langsung menelpon exsel namun setelah beberapa kali mencoba menelpon tetap tidak di angkat oleh exsel. Tiffany langsung berlari masuk ke mobilnya, untuk menemui exsel.