
Alesh turun dari mobilnya dan berjalan kearah kelas, dia hari ini tidak telat. Bukan berarti Alesh tobat. Dia hanya sedang malas di apartment karena Helen akan datang bersama Andri hari ini.
“Mau sampai kapan lo mainin drama ini?” sindir seorang cewek yang sekarang ada di belakang Alesh. Dia menolehkan kepalanya untuk menatap siapa orang yang menyindirnya barusan, lalu dia menghela nafasnya. Seharusnya Alesh tahu siapa lagi yang mengganggu hidupnya selain Nadia.
“Lo ngomong sama gue?” tanya Alesh sambil menunjuk dirinya sendiri. Nadia berjalan kearah Alesh dan berdiri tepat di depannya.
“Gue pastiin Bara akan jadi milik gue, Al.”
Alesh sedang tidak ingin meladeni Nadia hari ini. Dia sedang malas dan nggak mood untuk membicarakan masalah itu. Alesh hanya menyeringai lalu meninggalkan Nadia. Dia berjalan ke arah kelasnya karena 5 menit lagi, kelas dimulai.
Hari ini ada jadwalnya professor Ode, artinya Alesh akan merasa bosan selama satu jam kedepan. Felish seperti biasa, pura-pura serius mendengarkan padahal pikirannya entah kemana. Nata memperhatikan dosen, sesekali dia melirik kearah Alesh. Tanpa sengaja, Alesh menoleh kearah Nata dan seketika mata mereka bertemu. Alesh membuang muka, Nata menghembuskan nafasnya pelan. Lagi-lagi, dia mengendap-endap keluar saat dosen asyik dengan papan tulisnya. Dan selamat, dia berhasil keluar dari kelas. Langkahnya terhenti saat seseorang menahan pergelangan tangannya.
“Mau kemana lo?” tanya orang itu. Alesh berbalik melihatnya lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Duh Nat, gue bosen banget dikelas.”
“Balik ke kelas sekarang!” Nata menarik tangan Alesh.
“Nat, please gue lagi badmood nih.” Jawab Alesh memohon. Nata melepaskan tangannya.
“terus lo mau kemana?”
__ADS_1
“Kantin, gue laper.” Alesh berbalik dan berjalan menuju kantin diikuti Nata.
Saat berjalan menuju kantin, Alesh melewati lorong kampus dan melihat Bara sedang bersama Nadia, Alesh bersembunyi agar mereka tidak melihatnya. Nadia sedang membicarakan dirinya kepada Bara. Alesh berusaha menahan amarah. Dia ingin mendengar sejauh mana Nadia akan membicarakan tentang dirinya. Setelah dia rasa Nadia sudah keterlaluan dia muncul dihadapan mereka dan membuat keduanya membulatkan matanya.
“Lo lebih licik dari siapapun, Nad. Lo pengecut!” Bentak Alesh sambil menunjuk wajah Nadia.
“Al, maksud lo apa? Kenapa lo ada disini?” tanya Nadia seolah-olah tidak terjadi apapun.
“Gue nggak tuli, Nadia! Selama ini gue masih anggap lo temen sekalipun lo udah hianatin gue. Dan sekarang lo udah keterlaluan!” teriak Alesh tidak terkendali. Deru nafasnya memburu.
“Maksud lo apa, Al? Gue masih belum ngerti.” Tanya Nadia.
Alesh menarik kerah baju Nadia.
“Mau lo apa? Ha?”
Nadia hanya diam seakan menerima perlakuan Alesh barusan. Nadia tahu, jika Alesh sedang marah seperti sekarang tidak ada satupun yang bisa menghentikan kemarahannya. Kecuali Bara. Tapi Bara hanya diam sejak tadi melihat aksi brutal Alesh. Nadia juga tahu kalau Bara paling tidak suka melihat cewek kasar. Jadi sebisa mungkin Nadia akan mempertahankan harga dirinya di depan Bara.
“Apa jangan-jangan lo yang sebarin aib tentang keluarga gue ke temen-temen SMA dulu? MAU LO APA NADIA?” Alesh melepaskan cengkramannya dari kerah Nadia. Dia benar-benar ingin mencekik Nadia saat ini juga dan mengirimnya ke neraka.
“Gue bukan lo yang pernah aborsi dan sering tidur sama mantan-mantan lo dulu, Nadia!” Alesh benar-benar kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
__ADS_1
“TAPI NYOKAP LO NINGGALIN BOKAP LO DEMI SELINGKUHANNYA DAN ITU MEMALUKAN.” Bentak Nadia membalas teriakan Alesh. Nadia memicingkan matanya.
Alesh menyeringai,
“Oh ya? Lalu apa masalahnya sama lo? Ha?” Alesh mendorong bahu Nadia hingga ke dinding. Tangan Alesh siap menjambak rambut panjang Nadia. “Kayaknya ada yang kurang ya sama lo. Lo butuh psikiater tau nggak?”
“Lo lupa kalau dulu lo nggak punya temen selain gue? Dan sekarang lo nggak punya siapa-siapa. Karena apa? Karena semua orang jijik sama lo! Bahkan bokap lo sendiri nggak pernah ngakuin lo sebagai anaknya!” Nadia sengaja menekankan kata jijik.
Kalimat terakhir Nadia menohok hatinya. Alesh mundur satu langkah dari tempatnya berdiri sekarang. Kalimat Nadia barusan membuatnya lemah. Jantungnya seakan dihantam benda tajam berkali-kali.
“Kita pulang sekarang.” Bara menarik lengan Alesh untuk menghentikan aksi keduanya.
“Dan lo Nadia, apapun yang lo bilang tentang keburukan Alesh ke gue itu nggak akan mengubah apapun. Gue nggak akan pernah ninggalin dia.” Bara merangkul Alesh dan mengajaknya pergi meniggalkan Nadia.
Nata sudah memperhatikan adegan mereka bertiga sejak tadi. Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dalam hatinya. Nadia menangis sejadinya, dia benar-benar kalah telak dengan Alesh.
“Brengsek lo Al.” Teriak Nadia saat Alesh dan Bara sudah jauh.
“Gue anter lo pulang.” Kata Bara dengan suara datar. Alesh hanya diam. Dia sudah duduk di mobil Bara. Bara melajukan mobilnya menuju apartment Alesh.
Bara membiarkan Alesh sendiri di apartmennya, dia pergi setelah mengantar Alesh. Beberapa menit kemudian, ada yang mengetuk pintu apartment Alesh.
__ADS_1