
Bab 202
Pukul 01;15 pagi... el-razka terbangun dari tidurnya, dia tidak menangis tetapi dia menghentak-hentakkan kakinya ke kasaur sehingga zhea terbangun karena terusik.
Zhea beranjak duduk mengumpulkan kesadarannya, dia melihat kearah exsel yang masih tertidur pulas.
"Dia kayaknya capek banget" ucap zhea dia lalu mengendong el-razka, mengambil susu yang di sediakan exsel dan membawanya keluar dari kamar.
"Jangan nangis, oke. Kak exsel pasti sangat lelah bekerja seharian, mana kemarin malam dia tidak tidur gara-gara kamu. Jadi, aku minta sama kamu, jangan berulah malam ini. Kau mendengarkan aku kan el-razka" ucap zhea menatap el-razka yang tertawa berada dalam gendongannya.
"Malah ketawa lagi, di bilangin" ucap zhea mencubit gemas pipi el-razka.
"Tak tea" panggil el-razka yang belum terlalu lancar berbicara itu
"Heum, kau memanggilku?" Ucap zhea yang baru tahu bahwa el-razka sudah mulai bisa berbicara
Zhea mengambil semua mainan el-razka yang mereka beli. Dia menemani el-razka bermain. Mereka berada di karpet depan Tv.
El-razka mencoba berdiri, namun dia tidak seimbang dan terjatuh.
"Hati-hati, jangan sampe jatoh" ucapannya
El-razka merangkak ke arah sofa, kemudian bergantung dengan sofa dan berdiri. Dia melangkah pelan, sambil beberapa kali jatuh karena badannya belum seimbang.
"Wah, el-razka ternyata udah mau bisa jalan juga. Kalo udah besar harus jadi orang yang patuh sama orangtua dan bisa ngebanggain orang tua. Jangan kayak kakak. Kakak nggak bisa sama kalian, mama kamu dan tuan marga sudah merusak kepercayaan kakak. Kakak nggak mau, berada di antara orang yang nggak bisa di percaya. Setelah tuan marga dan mama kamu ke sini dan bawa kamu pergi, itu bearti waktu kebersamaan kita sudah selesai. Kau dan aku berbeda, dan aku akan memastikan kau hidup dengan penuh kasih sayang, selagi aku masih bisa menginjak bumi ini"
Exsel yang sedari terbangun, karena mendengar suara pintu di tutup, mendengar semua ucapan zhea dari balik pintu kamar.
"Kamu nggak bisa berdamai dengan kenyataan, jika kamu terus menghindarinya Zhe" batin exsel
2 jam bermain-main, akhirnya el-razka kembali tidur setelah meminum susu. Zhea yang malas ke kamar karena takut menganggu tidur exsel akhirnya dia dan el-razka tidur di karpet depan tv.
Exsel yang tidak lagi mendengar suara dari kedua kakak beradik itu, keluar dari kamar untuk melihat mereka.
"Ternyata, mereka sudah tidur. Pasti nggak nyaman tidur di sini"
Exsel dengan hati-hati meletakkan kepala zhea di pangkuannya. Dia, juga melepaskan pelukan zhea dari el-razka. Dia mengendong el-razka dengan posisi duduk, sementara dia sendiri bersandar di sofa.
"Tidur yang nyenyak, kau tidak sendirian ada aku" ucap exsel sedikit menunduk mencium kepala zhea dan el-razka bergantian. Kemudian, menutup kedua matanya dan ikut terlelap
------------
Pagi hari.....
Zhea lebih dulu bangun. Saat dia membuka matanya, dia melihat wajah exsel yang sangat dekat dengannya. Karena exsel tertidur, dan kepalanya menunduk.
Zhea yang kaget pun langsung bangkit, sehingga dahi keduanya benturan.
"Auuuu" ringis zhea mengelus-elus dahinya
__ADS_1
"Kenapa sih Zhe, ngagetin aja" ucap exsel yang juga mengelus-elus dahinya
"Lho...MMM maksud aku, kamu ngapain di sini" ucap zhea memperbaiki ucapannya
"Aku lihat kalian nggak nyaman tiduran di sini, makanya aku juga ada di sini. Lagian kenapa nggak balik ke kamar sih"
"Males jalan" bohong zhea
El-razka menangis karena tidurnya tergantung, suara zhea dan exsel.
Exsel ingin mengendong el-razka untuk menenangkannya, tapi pinggang dan kakinya terasa pegal dan kram sehingga dia kesulitan berdiri.
"Kenapa? Pegal ya? Lagian kenapa tiduran sambil duduk sih" ucap zhea membantu exsel berdiri
"Aku bisa sendiri kok zhe. Udah kayak kakek-kakek aja, berdiri di bantuin" canda exsel
"Ish, malah ngajak becanda lagi"
"Haha iya-iya maaf. Udah gi, sana mandi"
"Lho... Eh, kamu duluan aja. Biar kamu lebih fresh" ucap zhea yang belum terbiasa dengan kata "aku kamu"
Exsel mengangguk, kemudian berucap "aku mandiin el-razka juga sekalian" ucapnya beranjak ke kamar.
"Duhhh, jantung gue kok kayak abis meraton Mulu sih tiap kali dekat exsel akhir-akhir ini. " gumam zhea
Zhea membuatkan susu untuk el-razka, kemudian dia membuka kulkas dan mulai memasak.
Exsel mendekati zhea, tangan satunya mengenggam rambut zhea, karena zhea terlihat repot dengannya. Sedangkan tangan yang satunya lagi, mengendong el-razka.
"Apa yang kau lakukan?"
"Membantumu, kamu terlihat repot saat memasak"
"Nggak usah, lepasin. Aku lagi goreng ayam, sana menjauh ntar el-razka kecipratan minyak"
"Nggak, bakalan terjadi. Udah, terusin masaknya"
Tak ambil pusing zhea pun kembali fokus ke masakannya.
Zhea menyiapkan makanan di atas meja.
"Kamu makan duluan aja, aku mau mandi dulu"
"Barengan aja, aku tunggu"
Zhea mengangguk kemudian langsung ke kamarnya untuk mandi.
10 menit kemudian, zhea pun kembali ke meja makan.
__ADS_1
"Mau makan apa? Biar aku ambilin?" Ucap zhea
Exsel tertegun mendengar ucapan zhea.
"Exsel" panggil zhea lagi
"Ah, ya." Ucap exsel membuyarkan lamunannya
"Mau makan apa? Buruan. Ntar telat ke kampus" bohong zhea yang sebenarnya menutupi malu dengan ucapannya
"Semua yang kamu masak, aku ingin memakannya"
Zhea mengangguk kemudian memasukkan makanan ke piring exsel.
Tidak ada pembicaraan mereka setelah itu, mereka makan dengan tenang.
Di lain tempat, Zein menemui Tiffany di kampus.
"So, apa yang buat lho datang ke sini?"
"Gue terima ajakan kerja sama lho?"
"Lah? Kok berubah pikiran. Apa jangan-jangan rencana lho gagal nggak ada yang berhas" ucap Tiffany tersenyum remeh
Zein terdiam sejenak, karena memang rencana dia selama ini tidak ada yang berhasil. Termasuk rencana yang di Amerika dulu
"Gue sibuk, jadi nggak bisa mikirin rencana buat mereka cerai. Maka dari itu, gue terima tawaran lho, lho kan orangnya licik"
"Dulu aja sombong banget lho, nolak gue"
"Gue nggak punya waktu, kalo lho ada rencana hubungi gue" ucap Zein meletakkan kartu namanya di atas mobil Tiffany kemudian beranjak pergi
"Dih, giliran udah jadi mantan aja sombongnya minta ampun. Dulu, mana berani lho nolak keinginan gue" ucap Tiffany mengambil kartu nama Zein
Niko, Rio, Tasya dan Celline berada di restoran. Selama ini hubungan ke-4 nya semakin dekat, namun tak lebih dekat dari persahabatan Niko, Rio, Rere dan zhea.
"Kak Rio aku mau ngomong serius sama kakak" ucap Tasya yang bertekad untuk menyatakan perasaannya ke Rio
Celiine mengenggam tangan Tasya dan menggelengkan kepalanya, agar Tasya tak melanjutkan ucapannya
"Mau ngomong apa?" Ucap Rio menatap Tasya
"Apa mau gue sama celline pergi dulu. Mungkin kalian mau bicara berdua" ucap Niko, yang bisa menebak yang akan Tasya ucapkan
Tasya menggeleng "tetaplah di sini" ucapnya
"Kak Rio, sebelum mengatakan ini aku juga udah tahu jawabannya. Tapi, aku tetap ingin mengatakan ini ke kakak, dan mendengar langsung jawabannya dari kakak" sambungnya
"Heum" Rio berdehem sambil mengangguk
__ADS_1
Tasya menatap Rio yang juga menatapnya "sebenarnya sangat memalukan karena aku perempuan dan harus mengatakan kata-kata ini ke kakak. aku udah lama banget mendam rasa ini, kak, aku sayang sama kakak, nggak lebih tepatnya aku cinta benget sama kakak. Apa kakak juga punya perasaan sama aku?"
Celline dan niko saling tatap, mereka sangat canggung berada di posisi sekarang