
Bab 135
Exsel kembali masuk ke kamar zhea, dengan membawakan kemeja warna navy untuk zhea.
"Ini baju gantinya. Maaf belum bisa membelikan pakaian untukmu, Minggu Depan aku gajian, kita bisa membelikan pakaian baru untukmu"
"Tidak perlu membeli yang baru, dulu aku sering memakai bajumu, dan itu nyaman. Lagi pula, pakaian dan mobilku juga ada di kos-kosan niko, aku bisa mengambilnya nanti"
"Mandilah, dan beristirahat, nanti malam, kita ambil barang-barang mu. Dan Jika perlu sesuatu, datang saja ke kamarku" ucap exsel pergi dari kamar Zhea.
Hari beranjak malam, zhea mendapat pesan dari rere, yang mengatakan bahwa dia mengantar Rio dan Niko kebandara.
Zhea yang ingin menemui merekapun, berniat meminjam mobil exsel. Karena dia sudah tidak punya uang sepeser pun untuk membayar taksi.
Zhea mengetuk-ngetuk pintu kamar exsel. Namun, tidak ada sahutan. Akhirnya, zhea membuka pintu kamar exsel, dan di saat yang bersamaan exsel keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Zhea langsung membalikkan badannya, ketika melihat exsel.
__ADS_1
"Oh, maaf" ucap exsel yang menyadari penyebab zhea membalikkan tubuhnya.
"Gue mau pinjam mobil lho, ke bandara"
"Bandara? Ngapain?"
"Rio dan Niko kembali ke AS malam ini"
"Tunggu 5 menit, aku akan menemanimu ke sana"
--------
di bandara. Rere duduk di kursi tunggu bersama Niko dan Rio, karena keberangkatan mereka 30 menit lagi. Sementara kedua orang tua Rere sudah berangkat 3 jam yang lalu.
15 menit berlalu mereka duduk di sana, dan hanya ada keheningan. Jika biasanya, Rere selalu bicara dan menyenangkan suasana, kali ini dia memilih diam dan menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Haus nggak re,??" Ucap Niko mencoba menghentikan keheningan.
__ADS_1
Sementara Rere hanya merespond dengan gelengan kepala
"Ngeliatin apa sih? Dari tadi sibuk banget kayak nya" ucap niko
"Tugas. Kan gue udah beberapa hari nggak kuliah. Oh iya, zhea bilang dia mau ke sini tadi"
"Lho ngasih tahu zhea?" Ucap niko
"kenapa lho nggak mau gue datang ke sini" ucap zhea yang berada di belakang mereka.
Semua matapun tertuju ke sumber suara.
"Bukan gitu Zhe. Lho kan pasti capek, abis acara tadi, nyalamin tamu-tamu" jelas niko
"Gue rasa yang lebih capek gue deh. Kalian nggak tahu kan, gue lari-larian dari halaman mansion yang luasnya minta ampun itu ke kamar zhea di lantai dua, setelah dengar pembicaraan bokapnya zhea sama Zein buat nyulik lho nik. Terus, saat sampai di kamar zhea, malah gue nggak bisa ngomong apa-apa karena penjaganya ketat banget. Abis itu gue lari lagi, dan saat di halaman mansion gue nabrak papanya zhea. Hati gue langsung nggak karuan dong, takut nggak bisa keluar nyusul mereka di bandara. Akhirnya, gue bisa pergi dari mansion itu, karena takut macet, gue ke kos-kosan dulu, nukar mobil sama motor, sekaligus ganti pakaian . Agar tidak di curigai. Dan saat saat di bandara pun kejar-kejaran lagi sama orang-ornag laknat itu, sampai-sampai gue kehabisan tenaga dan jatoh. Dan mirisnya lagi, di saat pernikahan lho yang sakral itu Zhe, gue cuma pake pakaian kayak gini. Celana jeans dan kemeja, ya ampun nggak banget deh" sahut Rere bercerita panjang lebar.
"Lho emang bisa di andalin di saat-saat tergenting re" ucap zhea. Dan mereka semua pun tertawa. Hanya exsel yang menanggapi dengan senyuman
__ADS_1