BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 265


__ADS_3

BAB 265


Zhea membuka matanya, perutnya terasa berat dan ada tangan yang menggenggam tangannya.


Saat melihat ke samping, wajahnya dan exsel sangat dekat bahkan hidung mancung ke duanya bersentuhan.


Exsel yang merasa ada pergerakan terjaga dari tidurnya. untuk beberapa saat keduanya terdiam dan mengunci pandangan mereka satu sama lain.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Ucap exsel memindahkan tangannya yang memeluk zhea ke kepala zhea dan menyatukan dahi mereka.


"Syukurlah" ucap exsel menarik nafas lega. exsel menjauhkan wajahnya sebentar, kemudia mencium seluruh wajah zhea, dahi, mata, pipi, hidung, dagu dan yang terakhir mengecup bibir zhea sebentar.


Tidak ada respond apapun dari zhea. Hanya air matanya yang mengalir.


"Sayang, kenapa menangis apa ada yang sakit?" ucap exse ingin beranjak duduk namun zhea menahannya dengan memeluk exsel.


"Kenapa hem?" Ucap Exsel langsung membalas pelukan zhea, dan mengelus-elus rambut zhea.


Zhea hanya menggelengkan kepala dan mempererat pelukannya. Jauh di hatinya merasa takut, khawatir, rasa bersalah yang besar saat melihat exsel terbaring tak berdaya.


Beberapa saat kemudian, zhea kembali tertidur. Adnan memasuki ruangan zhea, exsel memberitahu adnan bahwa zhea baru saja tidur dan jangan membuat suara. Adnan yang mengerti pun langsung meninggalkan ruangan zhea dan akan memeriksa zhea saat dia bangun nanti. Melihat exsel dan zhea yang tidur dengan berpelukan, membuat jiwa jomblonya merasa miris.


Exsel menatap wajah zhea lekat-lekat, Kemudian mencium jejak air mata zhea di sudut matanya. "AKU SANGAT MENCINTAIMU, ZHEA PRAMUDYA SIYAHMARGA" ucapnya kemudian mempererat pelukan dan ikut memejamkan matanya.


Di lain tempat, Zein dan Tiffany makan di restoran.


"gue kuat nggak ya, liat kak exsel sama zhea nantinya" ucap Tiffany yang hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Makanannya jangan cuma di aduk, di makan. Hati boleh sakit, jangan sampai fisik ikutan sakit. Banyak banget entar ruginya" ucap Zein


"CK, nyebelin banget ucapan lho" ucap Tiffany langsung memasukkan makanan ke mulutnya


"Tiffany" ucap silya berdiri di hadapan Tiffany. Setelah menghilang beberapa waktu, kini sahabat Tiffany itu muncul lagi.


"Silya, ngapain di sini?"


"Jalan-jalan doang. lho nggak apa-apa kan tif?"


"Ya menurut lho?"


"Sorry karena nggak bisa berada di samping lho. Keluarga zhea itu bukan orang sembarangan, gue nggak mau berurusan sama mereka. Dan..."


"Gue ngerti kok" ucap Tiffany ketus, memotong ucapan silya


"Gimana kalo kita shoping?" Ajak silya

__ADS_1


"Keuangan gue lagi sekarat sil, lho tahu sendiri gimana gue sekarang"


"Gue yang bayarin deh"


"Gue lagi nggak mood silya. Lho pergi aja sendiri, gue juga masih di kejar-kejar wartawan. Lho nggak mau berurusan sama keluarga marga kan? Jadi jangan dekat gue dulu, gue bermasalah dengan keluarga itu"


"Yaudah deh, gue pergi dulu" ucap silya beranjak pergi


"Nggak setia banget sih sahabat lho. Saat lho susah malah ngilang. Lihat persahabatan zhea, walaupun sahabat-sahabatnya jauh tapi selalu ada di saat zhea susah. Apalagi Rere, dia bahkan jauh dari orang tuanya demi zhea. Keluar dari kampus dan ikut belajar bisnis pun demi zhea. Lain kali carilah sahabat yang tulus, yang bukan hanya Mandang dari duit lho doang"


Ucapan Zein makin memperburuk suasana hati Tiffany.


"Gue selesai. Gue mau pulang"


"Eh bentar dulu. Gue belum selesai"


"Lanjutin aja, gue bisa pulang sendiri"


"Kalo lho sampai tertangkap wartawan gimana? Lebih baik lho pulang sama gue"


"Yaudah cepetan"


"Lagian baperan banget jadi orang"


_____________


"Sayang, kamu sudah boleh pulang? Kita pulang ke mansion ya" ucap Leon ingin memeluk zhea namun zhea melangkah mundur tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Entah bentuk kecewa macam apa lagi yang harus zhea rasakan dari kedua orang tuanya itu. Zhea mendengar cerita dari Rere bahwa kedua orangtuanya itu menolak mendonorkan hati untuknya karena keberhasilan operasi sangat kecil. Wajahnya tetap datar, tapi hatinya merasa sakit karena merasa menjadi anak yang tak di harapkan kehadirannya.


Lara berlutut di kaki zhea "Zhea maafkan mama yang selama ini egois dan mementingkan diri sendiri. Mama minta..."


Belum selesai lara berbicara, zhea mundur beberapa langkah dan langsung memeluk exsel. "Aku mau pulang"



"Bicaranya lain hari saja. Sepertinya zhea kelelahan dan harus segera istirahat. Dia akan pulang bersamaku, KE RUMAH KAMI" ucap exsel yang mengerti bahwa zhea sedang tidak nyaman dan menahan emosinya.


__________


Kedua orang tua Rere menunggu kedatangan mereka di rumah exsel.


"Apa masih ada yang sakit?" Ucap exsel duduk di samping zhea. Zhea hanya menggeleng


"Tadi mama bawakan sup ayam dan beberapa makanan lainnya untuk zhea. Dimakan ya sayang, biar cepat pulih" ucap mama Rere

__ADS_1


"Makasih ya Tante aku udah baik-baik aja kok"


"Nggak usah sungkan sayang. Kamu itu juga anak mama"


Zhea hanya tersenyum.


"Sekarang, nggak ada yang kamu rahasia dari Kitakan zhea? Kami ini keluarga kamu, apapun yang terjadi baik buruknya besar kecilnya kamu harus berbagi sama kami agar beban kamu tidak terlalu berat. Jika kami tidak bisa membantu, setidaknya kamu bisa lega karena bisa bercerita" ucap papa Rere


"Ada satu hal lagi yang tidak kalian ketahui. Dan aku tidak akan merahasiakannya lagi. Terlalu capek merahasiakan hal-hal besar" ucap zhea menghela nafas kasar


"Ada apa?" Ucap exsel mengenggam tangan zhea


Zhea sekali lagi menghela nafas kasar "aku tidak bisa memiliki keturunan" ucap zhea membuang pandangannya ke arah lain, karena semua mata tertuju padanya. Dia juga melepaskan genggaman tangan exsel darinya


Semua orang terdiam dan terkejut mendengar pernyataan zhea.


"Tidak ada yang tidak bisa jika Tuhan sudah berkehendak Zhe" ucap Niko


"Benar tuh, usaha dan do'a aja terus, Kun fayakun nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini"


"Kalian nggak ngerti. Gue tuh sulit buat punya keturunan dan jikapun gue hamil, resikonya tinggi karena gue hanya punya satu ginjal"


Exsel menarik tubuh zhea agar mengahadap ke arahnya, dia juga mengenggam kedua tangan zhea "sayang. Nggak usah di pikirkan. Jika mempunyai keturunan beresiko untuk kesehatanmu, ya sudah kita hidup berdua saja selamanya. Kamu istriku bukan mesin pembuat anak"


"Setiap orang menikah pasti menginginkan keturunan sel"


"Jika tidak memungkinkan, kita bisa adopsi anak sebanyak yang kamu mau. Yang terpenting itu kesehatan dan keselamatan kamu Zhe. Udah nggak usah di pikirkan lagi"


"Sulit bukan bearti nggak bisa zhea. Mama dulu juga susah punya anak. 7 tahun menikah baru di karunia Rere. Padahal dulunya mama di vonis mandul, tapi siapa sangka Rere hadir di antara kami. Mama dapat Rere, plus juga dapat kalian bertiga. Mama bahkan nggak pernah ngebayangin punya anak tapi lihat tuhan malah memberi mama kebahagiaan dengan memiliki 4 orang anak apalagi kamu sudah menikah. Rere dan Rio akan menyusul nantinya" ucap mama Rere


"Iya zhea, apa yang di katakan Niko dan Rio tadi benar. Berdo'a dan berusaha, karena usaha tidak mengkhianati hasil. Exsel juga bisa menerimamu dengan baik, dan jika kalian ingin mengadopsi anak itu juga bagus agar bisa memancing buat kalian mendapatkan anak kandung"


Exsel mengenggam erat tangan zhea, Kemudian tersenyum manis. Sementara zhea, berperang dengan pemikirannya sendiri


"Jangan terlalu banyak mikir Zhe. Karena apapun keputusan yang lho ambil dengan cepat, itu adalah hal yang merugikan" ucap Rere


"Rere..." Tegur Niko


"Apa lho nik? Gue sama Rio bulan mau nikah. Lho kapan? Paling tua, tapi paling nggak laku lho" ucap Rere mengeluarkan lidahnya mengejek Niko


"Sekata-kata banget lho ya sama gue mentang-mentang mau nikah. Di tinggal Rio entar nangis"


"Itu dulu. Sekarang, Rio nggak bisa lagi jauh-jauh dari gue. Ya kan sayang?"


"Pastinya dong. Kalo nggak di amukin entar" ucap Rio mengelus-elus rambut Rere

__ADS_1


"CK, yang bucin emang beda!" Ucap Niko malas melihat kemesraan Rio dan Rere. Dari perdebatan kecil mereka itu, membuat semua orang tertawa


__ADS_2