BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 259


__ADS_3

Bab 259


Saat sudah hampir sampai di perusahaannya, zhea meminum alkohol itu agar mabuk. dia sengaja melakukan itu, agar bisa bicara jujur dan menceritakan masa lalunya tanpa beban.


Zhea sampai di parkiran perusahaan, dia menatap lama buku nikahnya dan exsel, kemudian baru keluar dari mobil. Zhea kembali memakan lolipopnya, dan membawa botol alkohol itu masuk ke perusahaan.


Sementara itu, penampilan zhea yang hanya mengenakan kemeja kebesaran dan banyaknya bekas darah. menjadi sorotan para wartawan yang mengikutinya sejak mobil memasuki area perusahaan.


Zhea masuk ke ruangan yang telah di siapkan, yang mana di sana sudah di penuhi oleh wartawan.



Rere, Leon, Zein dan rasa membulatkan matanya melihat penampilan zhea dan alkohol yang di bawanya.


"Perusahaan benar-benar akan hancur sekarang. ZHEA KAMU BENAR-BENAR DI LUAR NALAR" ucap Leon mengepalkan tangannya


"sorry membuat kalian menunggu lama. Dan terimakasih karena masih setia menunggu di sini walaupun saya telat 7 jam lamanya" ucap zhea yang setengah sadar itu.


Zhea duduk di kursi yang mana tempatnya memimpin rapat. Dia meletakkan minuman dan buku nikahnya di meja, dia menatap orang-orqng yanga da di sana sambil terus memakan lolipopnya.


"Baiklah nona zhea, karena kami telah menunggu lama apa tujuan nona mengundang kami semua ke kemari" ucap salah satu wartawa


"Menjawab semua rasa penasaran kalian. Bukankah kalian sangat penasaran dengan kehidupan seorang zhea Pramudya siyahmarga ini" ucap zhea membuang lolipopnya ke sembarangan arah dan meminum kambli alkohol itu setengahnya


Para wartawan sibuk memotret dan merekam gerak gerik zhea.


"Nona apakah anda mabuk sekarang?"


"Bukankah orang yang mabuk akan berkata jujur. Lagi pula, saya tidak yakin bisa menceritakan kehidupan pribadi saya jika saya sadar sepenuhnya. Kalian tenang saja, saya masih cukup sadar untuk menjawab puluhan, ratusan bahkan ribuan pertanyaan dari kalian"


Tiffany sampai di rumah exsel, dia langsung masuk ke rumah dan Melihat exsel yang sedang tidur. Tiffany menggoyang-goyangkan tubuh exsel dan exsel pun akhirnya terbangun.

__ADS_1



"Kenapa kamu ke sini?" Ucap exsel dingin


"Aku dari tadi nelponin kakak tali nggak di angkat. Lihat ini" ucap Tiffany menghidupkan tv yang semua saluran tv Menayangkan konferensi pers zhea itu


"Zhea? Sejak kapan dia pergi dari sini?" Gumam exsel



"Tadi zhea ke sini? Tapi kak, kakak harus ke sana sekarang. Aku tadi lihat zhea mimisan, bajunya bahkan banyak banget bekas darah"


Tanpa menunggu ba bi Bu dan berpikir panjang lagi exsel langsung berlari masuk ke mobil dan meninggalkan halaman rumahnya.


"Kayaknya gue harus nyerah sekarang. Kak exsel sepertinya cinta banget sama zhea" ucap Tiffany kecewa. Akhirnya dia pun mengikuti mobil exsel.


Sementara itu di perusahaan, Niko, Rio dan kedua orang tua Rere datang, setelah mendapat kabar dari Rere.


_______________



"Ya" ucap zhea tanpa rasa ragu



"Kenapa nona membenci kedua orangtua nona? Nona bahkan tidak memakai nama belakang nona" Wartawan 2



"Yang satunya pergi karena nggak tahan hidup miskin. Yang satunya lagi sibuk mengejar kekayaan"

__ADS_1


"Maksud nona?" Wartawan3


Zhea berdiri kemudian berucap "kalian lihat saya, inilah sosok zhea yang sebenarnya. PEMBAKANG, SUKA MABUK, SUKA BALAPAN LIAR, DAN MANUSIA YANG TIDAK MEMPERCAYAI HUBUNGAN APAPUN. ATAU KALIAN BISA MENYIMPULKAN DENGAN SEBUTAN MATI RASA. gue terlahir miskin, sangat miskin sampai-sampai gue nggak pernah minum susu ataupun mempunyai mainan seperti anak-anak lainnya. Di saat umur gue tujuh tahun, nyonya lara meninggalkan saya dan tuan marga karena nggak tahan hidup miskin dan menikah dengan bokapnya Tiffany tuan Dimas. Sejak saat itu, tuan marga sibuk bekerja pergi subuh pulang larut malam, hingga bisa mendirikan perusahaan ini. Sayangnya, mereka lupa bahwa mereka masih memiliki tanggung jawab sebagai orangtua. Nyonya lara selalu datang ke acara sekolah sebagai wali Tiffany. Dia bahkan tidak menyapa ataupun melihat saya saat itu. Nyonya lara membuang saya dan tuan marga menelantarkan saya"



"Bagaimana Nona melewati hari-hari tanpa sosok kedua orang tua" wartawan 4


"Buruk! Hari-hari yang saya lalui sangat buruk. Saya hampir mati karena kelaparan. Untungnya, ada Niko, Rere dan Rio yang selalu ngasih gue makanan ataupun memberikan uang saku mereka ke gue. Tanpa mereka mungkin gue udah mati belasan tahun yang lalu. Gue di tinggal sendirian di rumah, sampai kejadian pada malam itu dimana gue lihat sepasang suami istri sedang bertengkar di tengah gelapnya malam dan derasnya hujan. Mereka bertengkar hebat, sampai akhirnya sang suami dengan teganya menusuk perut istrinya berkali-kali, sampai di istri meninggal dan sang suami pergi begitu saja. Gue ketakutan, gue berlari kembali ke rumah, gue sembunyi, gue nangis seorang diri di tengah gelapnya malam dan petir-petir sialan yang membuat gue trauma akan kegelapan. Gue bahkan sakit sebulan lamanya karena kejadian itu. Tapi, nggak ada satu orangpun di samping gue. Niko, Rio dan Rere datang saat pulang sekolah membawa makanan dan pulang di sore harinya. Gue sakit, tapi nggak ada yang merhatiin. Bahkan kedua orang tua gue nggak tahu kalo gue sakit ataupun trauma. Tidak ada satupun di antara mereka menanyakan bagaimana keadaan gue dan bagaimana gue bisa makan. Nyonya lara pergi dan tuan marga sibuk kerja, nggak ada satupun atau sebutir beras pun di rumah itu"


Leon memejamkan matanya saat mendengar cerita zhea. "Sebegitu terlukanya kamu karena kami zhea" gumamnya


"Ini hanya cerita kecilnya, masih banyak penderitaan zhea yang tidak anda ketahui tuan" ucap Rere


"kenapa nona membenci nona Cathlin? Apa karena dia lebih mudah dari nona?"


"No! Gue benci dia. karena dia dulunya sahabat gue satu-satunya di kelas kecuali Niko, Rere dan Rio. Tapi, akhirnya dia menikah dengan tuan marga, gue marah, gue kecewa gue merasa di khianati. Mereka bahkan menikah tanpa sepengetahuan gue. Sebelum tuan marga menikah dengan nyonya Cathlin, gue selalu menganggapnya sebagai pahlawan gue. Dia memang tidak memberikan perhatian dan kasih sayang seorang ayah, tapi dia memenuhi semua keinginan gue di saat dia punya banyak uang. Dia membayar asisten untuk menjaga gue. Tapi gue, yang udah terbiasa sendiri nggak butuh orang asing di sekitar gue. Gue nggak percaya siapapun lagi di dunia ini kecuali sahabat-sahabat gue. Cuma mereka yang ada di saat-saat hancurnya kehidupan gue. Hanya mereka yang gue punya, tapi tuan marga selalu menyalahkan mereka atas semua kesalahan yang gue perbuat. Dia melarang gue untuk berteman dan bertemu sama mereka. Dia juga melarang gue balapan yang mana itu adalah bagian dari hidup gue. Dari itu kebencian gue bertambah ke tuan marga, gue selalu kabur dan di kejar-kejar orang-orangnya"



Orang-orang yang ada di sana merasakan kesedihan di hatinya mendengar cerita zhea.


"Gue benci orang kantoran, gue benci perusahaan. Karena tempat ini, tuan marga tidak mempedulikan gue saat itu. Dan sialnya, gue harus jadi penerus perusahaan ini SUKA TIDAK SUKA. Gue harus belajar dan kerja keras agar bisa berdiri di posisi sekarang. Gue harus berusaha keras, agar keinginan tuan marga dan cita-cita gue tercapai. GUE HARUS JADI CEO AGAR TUAN MARGA BANGGA DAN NYONYA LARA MENYESAL MEMBUANG GUE"


Zhea menatap Leon yang mana Leon juga menatapnya. "Papa, tahukah kamu bahwa semua keonaran dan kenakalan yang aku perbuat hanya untuk mencari perhatianmu. Agar dapat bicara lebih lama denganmu. Aku sengaja membuatmu emosi agar kita bisa berbicara lebih lama. Tapi kenapa? di setiap kesalahan yang aku perbuat kamu selalu mengurungku dikamar, selalu memakai kekerasan, tanpa bertanya kenapa aku selalu membuat kesalahan? Lama kelamaan aku muak dengan kejadian itu, hingga akhirnya aku pergi meninggalkanmu, karena sudah terbiasa tidak ada merasakan adanya peran ayah di hidupku. Aku memiliki keinginan yang tidak kau sukai"


Leon tidak bisa menahan air matanya, sehingga dia menangis dan terduduk di lantai.


"Maaf zhea, papa bukan yang orang yang baik dan hanya memaksakan kehendak padamu" gumamnya.


"Om, ayo kita pergi dari sini jika om tidak sanggup" ucap Zein

__ADS_1


Leon menggeleng kemudian berucap "aku harus mendengarkan semua keluh kesah zheaa.aku tidak tahu bagiamana putriku hidup selama ini Zein, a-aku...." Leon seakan lupa dengan image-nya.dia benar-benar menangis di hadapan orang banyak. Rasa bersalah, rasa penyesalan bercampur aduk di hatinya


Exsel sampai di perusahaan, dia langsung memeluk zhea tanpa mempedulikan orang banyak. Rasa gelisah, rasa takut, rasa khawatir menjadi satu semenjak di perjalanan menuju perusahaan.


__ADS_2