BAD GIRL

BAD GIRL
Episode 15


__ADS_3

Alesh berdiri di balkon apartmennya sambil menikmati coklat panas buatannya sendiri. Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua tentang Bara. Perasaan bersalahnya membuatnya enggan untuk menemui Bara, dia sudah tidak punya muka lagi didepan Bara. Alesh memang salah, dia memanfaatkan Bara hanya untuk balas dendam kepada Nadia. Sebenarnya perasaan Alesh kepada Bara hampir mati, semenjak Bara menghianatinya. Tapi perasaan yang hampir mati itu muncul kembali ke permukaan, membuat Alesh membuka lembaran lama yang belum selesai.


Gadis itu mengepulkan asap rokok dan memainkan dengan mulutnya. Alesh memang seperti itu, kalau pikirannya sedang kusut dia akan merokok. Kebiasaan yang tidak bisa dia hilangkan hingga saat ini. Dia berubah menjadi liar sejak kehidupan keluarganya tidak lagi harmonis. Dulu Alesh gadis yang manis, namun takdir merubah segalanya.


“Segitu frustasinya sampe ngrokok gitu?” tanya seseorang kepada Alesh.


Alesh menoleh kearah orang itu. Nata sudah berdiri di balkon apartmentnya. Wajah Nata penuh dengan lebam dan plester. Alesh kembali mengepulkan asap rokoknya, lalu menelan ludahnya.


“Masih marah sama gue?” tanya Nata. Alesh menoleh kearah Nata, dia mendongakkan kepalanya menatap langit malam.


“Nggak ada alasan apapun buat gue marah sama lo, Nat.”


Alesh membuang puntung rokoknya. Meninggalkan coklat panasnya yang masih banyak. Alesh masuk kekamar dan meninggalkan Nata yang masih mematung. Lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia ingin tidur dan melupakan semua masalahnya walau hanya sebentar.


Diluar sana, sedang hujan deras. Bara berkali-kali menggedor pintu apartment Alesh, dan sesekali memencet bel. Saat mencoba menekan knop pintu, pintu terbuka karena tidak dikunci. Dia sebal karena Alesh begitu ceroboh.


Tatapannya menyapu seluruh ruang tamu apartment Alesh, perlahan dia menuju kamar Alesh. Lagi-lagi, Alesh ceroboh dan membuat Bara gemas. Dia menemukan Alesh yang tertidur. Dia menutup tubuhnya dengan selimut. Tatapan Bara kini terlihat sendu. Alesh terlihat sangat cantik saat tertidur, wajahnya sangat polos. Bara duduk disamping ranjang Alesh, mengelus rambut Alesh dengan lembut. Tanpa disadari sudut matanya sudah basah.


Bara meraih tangan Alesh dan menggenggamnya, lalu mencium punggung tangan Alesh dengan lembut. Hal itu membuat Alesh terbangun, seketika matanya membulat dan langsung duduk lalu menyilangkan kedua tangannya didada.


“Bara! Sejak kapan lo ada disini? Gimana caranya lo bisa masuk?” tanya Alesh dengan rasa penuh khawatir. Bara mengangkat sebelah bibirnya.


“Lo teledor Al, lo nggak kunci pintu. Karena sekarang cuma ada kita berdua, gue bisa aja lakuin sesuatu sama lo.”


“Mau lo apa Bara?” suara Alesh meninggi. Bara semakin mendekat kearah Alesh. Tubuh Alesh bergetar ketakutan.


Bara mengelus pipi Alesh dengan lembut.


“Gue udah pernah bilang sama lo Al, gue nggak akan pernah lepasin lo. Apa gue harus menanam benih di rahim lo biar lo nggak kemana-mana? Hm?” bisik Bara tepat ditelinga Alesh.


Nafas Alesh memburu.


“Lo mau perkosa gue?” Alesh menutup dadanya dengan selimut. Tangannya masih bergetar.


Bara tersenyum sinis. “Tenang aja Al, gue nggak akan lakuin itu sekarang. Kecuali lo juga menginginkannya sekarang.”


PLAK.


Alesh menampar pipi Bara, “brengsek lo!”


Bara memicingkan matanya, “Al, gue cuma mau lo nggak kemana-mana. Tetap sama gue, ngerti?”


“Lo udah denger kan yang Nadia bilang? Lo udah tahu jawabannya, lo udah tahu alasannya kenapa gue mau balikan sama lo.”


“Gue nggak peduli apapun alasan lo Alesh. Jangan sekalipun pergi dari gue Al.”


Dan tiba-tiba, suara petir membuat Alesh kaget dan dengan cepat Alesh memeluk Bara, dia berteriak histeris saat ada petir. Hembusan nafas Alesh memburu dan sangat terasa di leher Bara, membuat tubuh Bara menegang.


“Al, lo tahu kan kalau gue cowok normal?” tanya Bara. Alesh segera melepaskan pelukannya.


“Nggak usah ge-er, tadi gue cuma kaget.” Jawab Alesh salah tingkah. Bara terkekeh melihat Alesh yang salah tingkah dan wajahnya merona. Satu hal yang membuat Alesh pernah mencintai Bara, dia selalu bisa menjaga Alesh termasuk dari dirinya sendiri.


“Lo mau apa kesini?” tanya Alesh sambil berdiri dari kasur dan memunggungi Bara, dia mengambil air yang sudah dia siapkan di nakas.


“Gue kangen lo Al. Gue kangen kita.” Kini tangan Bara sudah melingkar di perut Alesh dan memeluknya dari belakang. Dengan cepat Alesh menyikut perut Bara.


BUG


“Aduuhhh.” Pekik Bara.


“Jangan macam-macam lo Bar sama gue!” ancam Alesh sambil meninggalkan Bara dikamarnya.


“Al.” Panggil Bara saat dia berjalan dibelakang Alesh yang tengah berjalan kearah dapur.


“Hm.”


“Al.”

__ADS_1


“Hm.”


“Al gue laper, masakin gue mie instan dong Al.” Alesh berbalik dari tempatnya dan menoleh kearah Bara. Dia mendengus kesal.


“Males ah.”


“Al lo mau gue mati kelaperan? Ntar kalau gue mati lo sedih. Gue kan nggak mau lo sedih.” Rengek Bara.


“Brisik lo!” cibir Alesh. Bara terkekeh. Alesh melangkahkan kakinya kedapur sedangkan Bara duduk disofa dan menyalakan televisi sembari menunggu Alesh.


Alesh membawakan semangkuk mie instan untuk Bara, dia meletakannya di atas meja didepan Bara. Namun Bara hanya menatapnya tanpa menyentuhnya.


“Kenapa nggak dimakan?” tanya Alesh.


“Suapin.” Jawab Bara manja.


Alesh geram melihat tingkah Bara, tapi dalam hatinya dia senang karena Bara yang dulu sudah kembali.


“Lo punya tangan kan? Makan sendiri kalau nggak mau gue siram pake kuahnya.”


Bara memanyunkan bibirnya membuat Alesh semakin gemas, tetapi dia menahan agar tidak tersenyum di depan Bara. Gengsi Alesh memang lebih tinggi.


Sekarang Bara mulai menikmati mie instannya, Alesh sibuk dengan ponselnya dan sesekali terlihat senyum-senyum sendiri. Saat itu juga, Bara merebut ponsel Alesh dari tangannya dan memasukkannya kedalam saku jaketnya.


“Bar, itu handphone gue!” ujar Alesh dengan nada kesal.


“Gue nggak suka lo sibuk sendiri kalau lagi sama gue. Jangan chattingan sama cowok lain selain gue.” Bara kembali memakan mie-nya. Raut wajah Alesh terlihat sebal membuat Bara menjadi gemas dan mengacak rambut Alesh.


Bagi Bara, melihat Alesh ngambek seperti ini lebih baik dari pada menghadapi Alesh yang marah tanpa ekspresi. Bara tersenyum simpul. Dia berharap waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Dia ingin menikmati kebersamaan dengan Alesh lebih lama lagi.


 


\*


 


Kakinya melangkah kearah kamar Helen, dia semakin bingung saat mendengar suara tangisan mamanya. Alesh memberanikan diri mengetuk pintu kamar Helen, lalu dia membuka knop pintu dan terkejut saat melihat Helen terlihat kacau.


Dan, Andri yang sedang menjambak rambut Helen. Wajah Helen penuh dengan lebam, sudut bibirnya berdarah. Dengan cepat, Alesh menarik jas Andri dari belakang dan menghempaskannya hingga tersungkur.


Andri memicingkan matanya mendapat perlakuan Alesh barusan.


“Bajingan lo beraninya main kasar sama nyokap gue.”


Teriak Alesh dengan raut wajah penuh emosi. Andri mendengus kesal, dia tak bicara apapun hanya merapikan jasnya. Lalu dengan kejam menendang perut Helen.


“Sinting lo!” teriak Alesh, namun Andri tak menghiraukannya dan pergi meninggalkan Alesh dan Helen dikamar. Alesh berjalan menghampiri ibunya.


“Mama nggak papa?” tanya Alesh hati-hati.


“DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI.” Bentak Helen. Alesh mengerutkan keningnya dan menggeleng beberapa kali, dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Helen barusan.


“Alesh ngapain mama? Maksud mama apa?”


“SEMUA GARA-GARA KAMU ALESH! KAMU MENGHANCURKAN HIDUP MAMA!!!! DASAR ANAK SIALAN.” Maki Helen tak terkendali.


Alesh mengerjapkan matanya berkali-kali, hatinya tersayat mendengar kalimat Helen barusan.


“Sepertinya mama butuh istirahat.” Jawab Alesh datar, berusaha agar air matanya tidak jatuh.


“SEHARUSNYA KAMU NGGAK PERNAH LAHIR KE DUNIA INI ALESH, MAMA MENYESAL SUDAH MELAHIRKAN KAMU!!!”


Seperti tersambar petir saat itu juga, hati Alesh benar-benar sakit. Semua yang ada dalam dirinya seperti hancur, tubuhnya seperti dihantam bertubi-tubi. Ini lebih sakit dari apapun. Nyeri sampai ulu hati.


Benar, seharusnya Alesh tidak pernah lahir kedunia ini. Lahir sebagai anak yang menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya. Dan seharusnya Alesh tidak lahir ke dunia ini jika dia hanya menderita seperti ini. Apa yang Alesh rasakan sekarang? Sedih, sakit, marah, merasa tidak berguna dan kecewa bercampur jadi satu.


Tenggorokan Alesh seperti tercekat aliran listrik, air matanya tumpah mengalir di pipinya. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi kali ini.

__ADS_1


“MAMA!” bentak Alesh kepada Helen.


PLAK, Helen menampar pipi Alesh, lalu menjambak rambutnya dengan brutal. Gadis itu sama sekali tidak melawan. Dia pasrah menerima perlakuan mamanya.


“Dasar anak sialan! Berani kamu bentak mama?” Helen melepaskan tangannya dari rambut Alesh dengan kasar.


“MAMA MALU PUNYA ANAK SEPERTI KAMU.” Emosi Helen semakin tidak terkendali.


“Mama pikir, Alesh nggak malu punya ibu kaya mama? Mama yang tega selingkuhin suaminya demi laki-laki lain? Mama pikir selama ini Alesh nggak malu punya mama yang murahan dan keluarga yang nggak jelas kaya gini?”


PLAK PLAK, Helen kembali menampar kedua pipi Alesh, Alesh tak bergeming dari tempatnya.


“Mama benar, seharusnya Alesh nggak pernah lahir kedunia ini. Alesh anak sialan dan nggak tahu diri. Tapi, tidak ada satupun ibu yang menyesal melahirkan anaknya kedunia seperti mama. Bahkan binatangpun akan menjaga anak-anaknya. Lalu bagaimana dengan mama? Alesh tau, seharusnya Alesh menghormati mama sebagai ibu Alesh. Tapi apa orang seperti mama pantes dapetin itu?”


Kini, air mata Alesh mengalir semakin deras. Batas pertahanan Alesh hancur begitu saja.


“APA SUSAHNYA KAMU DENGERIN MAMA?”


Suara Helen masih tinggi, tak mau kalah.


“Apa mama pernah jelasin dimana kesalahan Alesh? Apa mama pernah ngomong baik-baik sama Alesh? Alesh juga punya perasaan mah, mama nggak perlu bentak-bentak Alesh seperti ini”


“Sayang, maafkan mama nak.” Suara Helen melembut, tangannya terulur kearah pipi Alesh namun Alesh mundur dari tempatnya sekarang. Alesh berdiri dan meninggalkan Helen dalam keadaan kacau. Helen menangis membuat hati Alesh semakin teriris. Helen menyesal telah menghancurkan hati putri semata wayangnya.


Sebenarnya bukan mau Alesh meninggalkan Helen dalam keadaan seperti ini, namun sikap Helen yang membuat Alesh pergi.


Alesh meninggalkan Helen yang menatapnya dengan wajah datar, ada penyesalan di wajahnya. Alesh benar-benar sakit, lebih sakit dari apapun yang pernah terjadi dalam hidupnya. Tapi, tidak satupun yang mengerti betapa sakitnya Alesh, mungkin karena dia selalu terlihat baik-baik saja di depan semua orang.


Entah apa yang membuat Alesh justru berhenti didepan pintu apartment Nata, dia tidak masuk ke apartmentnya. Yang jelas dia butuh sandaran dan teman untuk berbagi.


Nata membuka pintu apartmentnya, mata Nata membulat ketika melihat Alesh sudah berada didepan matanya dalam keadaan kacau. Mata Alesh sembab dan rambutnya acak-acakan.


Melihat Alesh seperti ini, membuat Nata tidak bertanya apapun, dia hanya mengajak Alesh untuk duduk di sofa dan memberikan satu mug coklat panas kesukaan Alesh.


Alesh duduk di sofa, tanpa sepatah katapun. Dia sudah berhenti menangis sekarang. Nata mengerti ada hal yang baru saja terjadi pada Alesh.


“Ada masalah?” tanya Nata mencoba memberanikan diri. Alesh hanya terdiam. Tatapannya nanar entah kemana.


“Jangan bikin gue khawatir Al.” Kata Nata.


“Jadi lo khawatir sama gue?” Tanya Alesh datar.


“Lo datang kesini dalam keadaan kacau kaya gini, gimana gue nggak khawatir Al?”


“Gue nggak papa.” Jawab Alesh datar.


Nata meletakkan kedua tangannya dibahu Alesh,


“Al, jangan pernah bilang nggak papa kalau sebenarnya lo kenapa-napa.” Alesh menghembuskan nafasnya dengan pelan.


“Apa yang bakal lo lakuin ketika semua orang yang lo sayang ninggalin lo?” tanya Alesh tiba-tiba membuat Nata bingung.


“Gue bakal tunjukkin kalau gue bisa hidup lebih baik dari mereka.”


“Jawaban lo klise.” Cibir Alesh.


“Kalau semua orang ninggalin lo, masih ada gue yang sayang lo.”


“Gue nggak tahu harus percaya sama siapa Nat. Gue udah berkali-kali membangun kepercayaan, tapi berkali-kali juga gue dikecewain.”


“Bara nyakitin lo lagi?” tanya Nata dengan wajah kesal. Alesh menggeleng.


“Ini nggak ada hubungannya sama dia.”


“Terus?”


“Udahlah nggak usah dibahas.” Alesh duduk bersandar disofa, lalu Nata berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju tempat dia menyimpan biola, lalu didetik selanjutnya Nata sudah menggesekkan bow dan memainkan lagu Heaven – Bryan Adam.

__ADS_1


Hal itu cukup membuat Alesh terhibur dan tersenyum. Nata memang cowok baik, dia lembut dan mengerti perasaan wanita. Dan yang pasti, dia berbeda dengan Bara.


__ADS_2