BAD GIRL

BAD GIRL
Episode 16


__ADS_3

FELISH sedang memandang Alesh yang sejak tadi mengepulkan asap rokoknya. Dia berkali-kali menggeleng melihat Alesh. Biasanya jika Alesh bersikap seperti sekarang, dia sedang ada masalah. Mereka sedang duduk di balkon apartment Alesh.


“Al, lo ada masalah?” tanya Felish yang duduk disamping Alesh. “Gue mungkin nggak sedeket lo sama Nadia dulu Al. Tapi gue juga sahabat lo, kenapa lo nggak coba terbuka sama gue?”


“Gue nggak papa Fel.” Jawab Alesh datar.


“Bohong.” Alesh menoleh kearah Felish, lalu tersenyum. “Lo nggak percaya sama gue kan Al?”


“Maaf Felish, bukan gue nggak percaya sama lo. Gue cuma bingung sama diri gue sendiri, gue bingung harus mulai dari mana.” Alesh mematikan api rokoknya dan membuangnya kedalam asbak.


“Karena lo nggak coba terbuka sama gue Al. Lo tahu Al? Ngeliat lo kacau kaya gini bikin gue sedih, gue sedih sebagai orang yang ngakunya sahabat lo tapi gue nggak bisa nglakuin apapun buat lo.”


Alesh menepuk bahu Felish,


“cukup lo ada disini dan jadi sahabat gue itu udah lebih dari cukup Fel.” Alesh tersenyum tulus, “tetep disini dan jangan kemana-mana.”


Felish tersenyum hambar. Dia tahu Alesh tengah menghadapi masalah besar, tapi dia bisa apa? Bahkan dia tidak tahu masalah apa yang Alesh hadapi sekarang. Tapi dengan tidak bertanya apapun sepertinya lebih baik.


“Apapun yang terjadi, gue akan tetep disini Al. Kapanpun lo butuh gue, gue akan ada buat lo.”


“Thanks ya Fel.” Felish berdecih.


“Lo sama Bara apa kabar?” tanya Felish.


Alesh mengangkat kedua bahunya.


“Gue nggak tau.”


“Maksud lo?”


“Lo tau kan kalau dia selalu bertingkah semaunya dia sendiri?”


“Lo sayang Bara Al?” Alesh kembali mengangkat bahunya. Felish menggelombangkan dahinya.


“Bahkan sampai sekarang gue nggak tahu ada hubungan apa Bara sama Nadia.”


“Al kayaknya lo butuh piknik deh.”


“Kenapa?”


“Muka lo pucet kaya zombie.” Cibir Felish.


“Sialan lo Fel, tapi bener juga ide lo Fel. Gue udah lama sih nggak jalan makanya otak gue kusut.”


“Otak sama muka nggak beda jauh, sama kusutnya.”


“Nih buat lo.” Alesh melempar tissue yang sudah dia gulung menjadi bulat dan disusul dengan tawa mereka berdua.


Tawa mereka terhenti karena ada suara bel di apartment Alesh, dia berdiri dari duduknya lalu diikuti Felish. Saat Alesh membuka pintunya, dia terkejut karena ternyata Helen yang datang. Alesh mengerutkan keningnya,


“Mama mau apa kesini?” tanya Alesh saat Helen masih di depan pintu.


“Boleh mama masuk?” Alesh membuka pintunya lebar-lebar lalu Helen masuk dan melihat Felish yang sedang duduk disofa. Felish berdiri dari duduknya dan bermaksud menyalami Helen. Ini pertama kalinya mereka bertemu, karena Helen memang tidak mengenal teman-teman Alesh satupun.


“Hai tante.” Sapa Felish dengan ramah lalu mencium punggung tangan Helen. Ia merasa tersentuh, karena Alesh bahkan sudah tidak pernah lagi memperlakukannya selembut itu. Alesh dan Felish memang dua orang yang sangat berbeda.


“Namamu siapa? Temen kuliah Alesh?” tanya Helen sambil tersenyum kearah Felish. Alesh menyeringai melihat Helen berubah menjadi lembut.


“Saya Felish tante temen kuliahnya Alesh.”


“Saya Helen, mamanya Alesh. Alesh jarang sekali bawa teman-temannya ke rumah, kecuali Nadia. Makanya tante nggak kenal sama teman-teman Alesh.”


Damn! Kenapa harus menyebut nama Nadia didepan Alesh. Felish tersenyum hambar lalu melirik kearah Alesh.

__ADS_1


“Mama mau ngapain kesini?” tanya Alesh ketus. Helen meletakkan tangannya dibahu Alesh.


“Mama minta maaf karena nggak bisa jadi ibu yang baik buat kamu sayang.”


“Mama apa sih nggak usah drama deh.” Cibir Alesh.


“Al, kayaknya gue harus balik deh.” Felish merasa canggung dan Alesh butuh privasi dengan ibunya sehingga dia memutuskan untuk pamit pulang. Felish tahu betul hubungan mereka tidak terlalu baik.


“Nggak papa Fel, lo tunggu aja dikamar gue.”


“Nggak Al, lagian gue ada janji makan siang sama Rey.” Felish tersenyum tipis sedangkan Alesh mengerutkan keningnya.


Felish pulang dan meninggalkan Alesh berdua dengan mamanya setelah pamit.


Tunggu dulu! Felish sama Rey? Rey sahabat Bara? Jangan bilang mereka pacaran. Ah, Alesh memang terlalu cuek dengan Felish selama ini.


Kini hanya ada Helen dan Alesh yang duduk di sofa, suasananya bergitu canggung dan awkward.


“Al, yang kemarin mama-“


“Udahlah ma nggak usah dibahas. Alesh males bahas itu.” Alesh memotong kalimat Helen. Dia tidak mau mengingat hal menyakitkan itu, hal yang membuat hatinya seperti di tusuk dengan benda tajam berkali-kali.


“Mama menyesal sudah mengatakan itu sama kamu Al.” Suara isakan tangis Helen terdengar membuat Alesh merasa bersalah bersikap dingin sejak tadi.


“Mama ngapain nangis si? Alesh nggak suka ngliat mama nangis kaya gini.” Ujar Alesh sambil mengusap punggung Helen. Helen menatap lekat wajah putrinya, wajah yang dulu polos dan penuh ceria. Baru sekarang, Helen merasa menyesal telah merenggut kebahagiaan putri semata wayangnya itu.


Helen mengelus wajah Alesh,


“mama terlalu sibuk mengejar kebahagian mama sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan kamu sayang.” Helen menangis semakin keras membuat tubuhnya bergetar. “Mama tidak tahu harus bagaimana untuk menebus semua kesalahan mama. Mama sadar mama bukan ibu yang baik, Al.” Alesh memeluk Helen dan tanpa sadar sudut matanya sudah mulai basah.


“Mama janji mama akan berubah sayang.”


“Percuma mama kasih harapan untuk Alesh kalau akhirnya mama menghancurkan harapan itu berkali-kali.” Jawab Alesh dengan suara datar.


Alesh mengerutkan keningnya seolah bertanya, “kenapa?”


Helen menelan ludahnya.


“Mama tahu semua sulit untuk kamu. Apapun alasannya mama nggak akan maksa kamu lagi buat menerima dia. Mama tahu kamu masih marah sama mama. Tapi mama sedih melihat kamu menganggap mama musuh kamu.”


Alesh terpukul mendengarnya. Walau bagaimanapun, Helen adalah ibunya. Orang yang melahirkannya kedunia ini. Apakah Helen benar-benar akan menepati janjinya? Tidak ada yang tahu.


Memang sejak Helen menikah dengan Andri dan Arga pergi dari rumah, Alesh jarang sekali mengobrol dengan Helen. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di apartment karena dia merasa tidak nyaman tinggal di rumah selama ada Andri.


Alesh ingin mengajak Helen untuk makan siang di luar, namun Helen tidak mau karena dia ingin masak untuk Alesh. Sudah lama Helen tidak memasak makanan kesukaan putrinya.


Saat Helen tengah sibuk di dapur, Alesh menunggu di sofa dan menonton televisi. Tak lama, seseorang mengetuk pintu apartmennya. Alesh heran kenapa banyak sekali yang datang ke apartmennya hari ini. Maksudnya dia sedang menikmati kebersamaanya dengan Helen, dia sedang tidak ingin diganggu. Alesh menghela nafasnya kesal karena melihat Bara yang datang dan membawa sebuket bunga lili putih.


“Ngapain sih Bar kesini mulu? Bosen gue!” ujar Alesh ketus. Bara masuk tanpa disuruh dan memberikan bunganya sedikit memaksa. Niat Bara ingin memberi kejutan manis gagal begitu saja.


“Ha bosen?” dahi Bara terlihat bergelombang.


“Iya gue bosen lo mulu yang datang, sekali-kali Shawn Mendes kek yang datang. Mending lo balik gih.” Alesh melirik kearah dapur dengan cemas dan membuat Bara curiga karena tingkahnya yang aneh.


“Besok gue suruh si Shawn the sheep suruh dateng kesini buat lo. Pasti ada orang kan didalam? Jangan main-main lo Al sama gue.”


“Shawn Mendes kali Bar, bukan Shawn the sheep.”


Bara mengecek seluruh ruang di apartement Alesh, dan terakhir dia ke dapur. Matanya membulat saat melihat wanita paruh baya yang wajahnya mirip sekali dengan Alesh yang Bara yakini dia adalah mamanya Alesh. Bara menepuk dahinya, raut wajahnya berubah jadi malu saat Helen menoleh kearahnya.


“Halo tante.” Sapa Bara dengan senyum ramah, wajahnya masih gugup. Helen balas tersenyum.


“Teman Alesh?” tanya Helen. Alesh sudah berdiri dibelakang Bara.

__ADS_1


“Iya ma dia teman kuliah Alesh.” Jawab Alesh sebelum Bara menjawabnya. Bara mendekat kearah Helen dan mengulurkan tangannya.


“Saya Bara tante pacarnya Alesh.” Helen tersenyum melihat ekspresi wajah Alesh yang terlihat kesal.


“Tapi Alesh bilang kamu temannya, gimana dong? Tante kan harus percaya sama anak tante.” Jawab Helen menggodanya.


“Ah tante. Alesh emang suka gitu, suka malu-malu kucing.” Kata Bara disusul dengan tawanya. Mata Helen mendadak menyipit seakan mengingat sesuatu saat memperhatikan wajah Bara. Dia menelan ludahnya.


“Brisik lo kutu! Lo mau ngapain kesini gangguin libur gue aja.” Alesh menoyor kepala Bara.


“Lo tuh harus sopan sama calon suami lo, jangan maen toyor gitu. Sekali-kali romantis kek sama gue.” Helen berdehem mendengar kalimat Bara barusan.


“Maaf tante, tadi niatnya saya mau ngajakin Alesh makan siang tapi kayaknya nggak jadi.”


“Nak Bara makan bareng aja, tante masak makanan kesukaan Alesh.” Helen mengulum senyum dan Bara mengangguk. Ekpresi Alesh seperti biasa, datar tidak terbaca.


Makan siang berjalan dengan lancar. Sejak tadi Helen tampak berpikir, Alesh sesekali melirik kearahnya. Namun Alesh berfikir bahwa Helen sedang memikirkan masalahnya dengan Andri. Alesh mendengus kesal, kenapa pecundang seperti Andri harus ada dalam hidupnya?


“Mama sudah selesai, mama kekamarmu ya Al.” Helen beranjak dari kursi dan meninggalkan Alesh dan Bara. Alesh mengangguk.


“Al.”


“Hm.” Jawab Alesh singkat.


“Kapan bisa ketemu sama orang tua gue?” tanya Bara sambil menaikkan satu alisnya. Aleshnya melotot.


“Kenapa? Masih belum siap?” tanya Bara lagi.


“Kapan?” tanya Alesh. Bara mengerutkan dahinya.


“Nanti malam bisa?” Alesh melotot lagi.


“Gila lo, nggak nanti malam juga kali.” Bara terkekeh.


“Besok malam?” Alesh menelan ludahnya, lalu mengangguk. Bara tersenyum semanis mungkin.


Alesh masuk kedalam kamarnya untuk menemui Helen setelah Bara pergi. Helen sedang duduk ditepi ranjang.


“Ma.” Panggil Alesh pelan. Helen menoleh dan tersenyum.


“Bara sudah pulang?” tanya Helen, Alesh mengangguk lalu duduk disamping Helen.


“Al kamu mencintai Bara?” pertanyaan Helen barusan membuat Alesh heran. Alesh mengangkat kedua bahunya.


“Alesh bingung ma sama perasaan Alesh sendiri.”


“Mama ingin kamu mendapatkan yang terbaik sayang, tapi-" Helen menghentikan kalimatnya sendiri.


“Tapi apa ma? Mama tidak menyukai Bara?” Helen menggeleng membuatnya semakin bingung.


“Lalu? Bara memang keliatannya urakan seperti brandalan mama, tapi dia cowok yang baik.”


“Kalaupun mama minta kamu buat jauhin Bara, kamu nggak akan nglakuin kan Al? Mama ingin kamu bahagia tapi bukan sama dia.” Helen meremas tangannya sendiri, lalu berdiri dari kasur dan mengambil tasnya dimeja.


“Bisa mama kasih satu alasan kenapa mama minta Alesh buat tinggalin Bara?”


“Kamu akan ngerti, tapi nggak sekarang.”


“Gimana Alesh bisa tahu kalau mama aja nggak mau kasih alasannya ke Alesh.”


“Tolong dengarkan mama, ini demi kebaikan kamu sayang. Demi kebaikan kita berdua.”


Alesh semakin tidak mengerti. “Mama pulang ya Al, kalau memang kamu nggak mau pulang kerumah lagi kamu harus sering menginap. Mama kesepian nak.”

__ADS_1


Helen menepuk lengan Alesh lalu memeluk putrinya. Alesh mengangguk lalu mengantarkan Helen keluar. Mungkin benar Helen tidak menyukai Bara.


__ADS_2