
Alesh terlihat sangat tidak bersemangat saat ini, dia melamun sejak tadi Ken mengantarnya sampai lobby. Sudah tiga kali lift terbuka namun dia tidak masuk dan tetap berdiri didepan lift.
“Mau disini sampe kapan?” ujar Nata sambil mendorongnya.
“Nata?”
“Nggak usah terlalu dipikirin. Gue baik-baik aja kok.” Kata Nata dengan wajah setenang mungkin. Alesh berdecih dan tertawa mengejek.
“Ge-er.” Jawab Alesh. Nata terkekeh.
“Al.”
“Hm.”
“Ada yang mau gue kasih tau ke lo.”
“Apa?” tanya Alesh penasaran.
“Besok malam ketemu jam 7 ya. Nanti gue whatsapp alamatnya. Gue bakal ngomong disana besok.” Jawab Nata sambil melengang pergi sesaat setelah lift terbuka. Alesh mengangkat satu alisnya dan mengikuti Nata dibelakangnya.
Handphone Alesh bergetar dan sebuah panggilan masuk dari nomor asing. Alesh segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya ditellinganya.
“Hallo.”
“……..”
“Iya saya anaknya.”
“……..”
Alesh langsung mematikan ponselnya begitu saja dan kembali masuk kedalam lift dengan wajah gusar. Nata segera mengikutinya dan kembali masuk kedalam lift.
“Al, ada apa?” tanya Nata panik. Alesh menggigiti kuku di jarinya, kakinya tidak berhenti bergerak.
“Al, lo tenang. Oke.” Bujuk Nata sambil menggenggam tangan Alesh.
“Nyokap gue masuk rumah sakit. Gue harus kesana sekarang.”
“oke gue anterin. Lo jangan nyetir sendiri.” Alesh mengangguk.
Alesh dan Nata berlari cepat melewati koridor rumah sakit. Mereka mencari ruangan dimana Helen dirawat. Alesh tidak peduli walaupun sejak tadi berkali-kali menabrak orang-orang yang berlalu lalang didepannya.
BRUK
Alesh terjatuh saat menabrak seseorang.
“Maaf saya buru-buru.” Ucapnya sambil mencoba bangun. Nata dengan segera membantu Alesh bangun dan menuntunnya.
Nata tidak melepaskan genggamannya sampai mereka masuk ke ruangan Helen.
Akhirnya, Alesh bisa bernafas lega saat melihat mamanya sudah sadar. Helen tersenyum melihat putrinya datang. Alesh langsung berhambur ke pelukan mamanya.
__ADS_1
“Mama kenapa bisa pingsan?”
“Mama nggak papa, mama cuma kecapean sama kurang tidur makanya tadi pingsan dikantor.” Alesh melihat ada lebam diwajah Helen.
“Wajah mama kenapa?” Tanya Alesh sambil menyentuh pipi mamanya. Perasaan Alesh teriris.
“Tadi pagi mama jatuh dikamar mandi.” Jawab Helen bohong. Tentu saja Alesh tidak percaya begitu saja dengan jawaban mamanya. Hanya saja dia tidak ingin membahasnya sekarang.
“Alesh takut mama kenapa-napa.” Helen terkekeh melihat sikap putrinya. Dia bahagia karena Alesh sudah kembali. Alesh putrinya yang dulu, Alesh yang manis dan penyayang.
“Dokter bilang hari ini mama bisa langsung pulang. Makanya mama minta tolong pihak rumah sakit buat nelfon kamu. Kayaknya handphone mama ketinggalan dikantor.”
Helen mencium kening putrinya. Lalu dia mengalihkan pandangannya kearah Nata.
“Al, itu siapa?” tanya Helen sambil tersenyum menggoda.
“Oh kenalin mah ini Nata temen Alesh.” Nata mendekat kearah Helen dan mencium tangannya.
“Nata tante.” Helen menyambut uluran tangan Nata dengan hangat.
“Mah, Alesh ke bagian administrasi dulu ya. Nat tolong jagain nyokap gue dulu ya.” Alesh menepuk lengan Nata dan keluar dari ruangan Helen.
Kini hanya ada Nata dan Helen disana. Helen menatap lekat wajah Nata dan membuatnya bingung.
“Ada apa tante?” tanya Nata.
“Kamu dekat dengan Alesh?” Nata mengangguk dengan ragu. Helen tersenyum.
“Tante titip Alesh ya tolong jagain anak itu. Walaupun dia keras kepala dan angkuh dia sebenarnya anak yang baik.” Nata mengangguk.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi, Alesh kembali kekamar mamanya. Helen sudah siap untuk pulang.
“Nat, makasih ya udah anterin gue tadi. Lo bisa pulang sekarang, gue harus anter mama pulang.” Helen tersenyum kearah putrinya.
“Nata bilang dia mau nganter kita pulang, ” Helen memberi jeda pada kalimatnya, “betul kan nak Nata?”
Nata tersenyum, lalu mengangguk. Akhirnya Nata mengantar Alesh dan mamanya pulang dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan tadi, Helen banyak bertanya tentang Nata. Dengan senang hati Nata menceritakannya kepada Helen dan Alesh. Sesekali jawaban Nata membuat Helen tertawa. Banyak hal yang baru Alesh ketahui tentang Nata.
Mobil Nata masuk kedalam pekarangan rumah Helen. Alesh menuntun mamanya untuk masuk kedalam rumah dan mengantar kekamarnya. Setelah menutupi tubuh Helen dengan selimut, Alesh pamit keluar untuk menemui Nata.
“Mah, Alesh ketemu Nata dulu ya. Mama tidur aja.” Helen mengangguk dan menyunggingkan senyum dibibirnya.
Nata sudah duduk diruang tamu rumah Alesh. Didepannya sudah ada orange juice dan beberapa kue yang disiapkan oleh asisten rumah tangga dirumah Alesh. Gadis itu duduk didepan Nata.
“Nyokap lo gimana?” tanya Nata.
“Udah dikamarnya, istirahat. Gue suruh tidur.” Alesh menghela nafasnya dengan pelan.
“Nat, thanks ya udah nganterin gue sama mama pulang.” Ujar Alesh.
“Anytime, Al.” Nata memberi jeda kalimatnya. Awkward rasanya duduk berdua dengan Alesh dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
“Ng… besok kalau lo nggak bisa kita batalin aja.”
“Gue bisa kok.” Jawab Alesh dengan cepat.
“Tapi malam ini gue mau temenin mama.” Nata tersenyum, lalu meminum orange juicenya hingga tersisa setengah. Sepertinya Nata lelah dan kehausan.
“Emang lo mau kasih tahu gue tentang apa? Kenapa harus besok?” tanya Alesh penasaran dan tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Besok juga lo tahu.” Nata bangkit berdiri dari duduknya, “gue pulang ya Al, lo temenin nyokap lo jangan kemana-mana.”
Alesh mengantar Nata sampai didepan pintu.
“Hati-hati ya Nat.” Ujar Alesh. Nata menoleh kearah Alesh dan berdiri tepat dihadapannya. Kedua tangannya dialetakkan dibahu Alesh, lalu mengecup keningnya. Mata Alesh membulat, jantungnya berdetak tidak beraturan.
“Terimakasih udah jadi bagian dari hidup gue Al.” Ujar Nata sambil menatap mata Alesh dengan lekat. Belum sempat Alesh menjawab, Nata sudah melengang pergi dan masuk kedalam mobilnya. Alesh berdiri mematung diambang pintu dan menatap mobil Nata sampai keluar dari pagar dan hilang dari pandangan. Perlahan tangannya menyentuh kening bekas kecupan Nata, hal itu membuat nafas Alesh memburu dan detak jantungnya semakin tidak terkendali.
Tanpa sadar, senyumnya mengembang begitu saja. Ah, Nata memang manis.
“Ah, gue butuh panadol kayaknya.” Gumam Alesh sambil senyum-senyum sendiri lalu berjalan menuju kamar mamanya. Dia membuka knop pintu dan menemukan Helen duduk ditepi ranjang.
“Kenapa mama nggak tidur? Mama harus istirahat biar cepet sembuh.” Ujar Alesh sambil mendekat kearah mamanya. Lalu duduk disampingnya. Tangan Helen terulur menyentuh pipi Alesh.
“Mama nggak papa, badan mama pegel kalau tidur terus.” Jawab Helen sambil tersenyum, hal itu membuat Alesh semakin lega sekarang.
“Nata udah pulang?” tanya Helen.
“Udah barusan. Katanya Alesh harus jagain mama, nggak boleh kemana-mana.” Jawab Alesh dengan sedikit tertawa.
“Sepertinya Nata anak yang baik, mama akan tenang kalau kamu dekat sama dia.” Ucap Helen. Alesh hanya tersenyum segaris, membiarkan kalimat Helen melayang ke udara.
“Al, boleh mama minta satu hal sama kamu?” sekarang kedua tangan Helen menggenggam tangan Alesh.
“Apa itu ma?”
“Tolong jauhin Bara, sayang. Bukannya mama mau menghancurkan kebahagiaan kamu, tapi-“
“Alesh udah putus mah sama Bara.” Helen menggelombangkan keningnya. “Alesh udah tahu semuanya. Dia anaknya om Andri kan? Itu sebabnya dari awal mama ketemu Bara mama minta Alesh buat tinggalin dia.” Helen sedih mendengar pengakuan Alesh, Helen tahu cepat atau lambat Alesh akan tahu kebenarannya. Butiran bening mengalir dari sudut matanya.
“Maafin mama sayang semua karena mama.” Ucap Helen disela tangisnya. Sekarang, tangannya terulur merapikan anak rambut Alesh dan menyelipkannya kebelakang telinga.
“Bukan mama, memang ini yang terbaik.” Alesh menyunggingkan senyum kepada Helen. Hal itu justru membuat hati Helen semakin miris. Helen tahu bahwa senyum Alesh hanyalah sebatas kebohongan untuk menutupi kesedihannya. Memang benar kata orang, jangan mudah percaya dengan senyuman.
“Sekarang, apa mama mau berjanji sama Alesh?” tanya Alesh.
“Apa sayang?”
“Tinggalin Andri. Dia udah bohongin mama. Dia udah menipu mama. Kita mulai semuanya dari awal, cukup kita berdua. Bukan dia kebahagiaan mama.” Ujar Alesh membuat Helen sesak nafas.
“Nggak semudah itu, sayang.”
“Semuanya akan lebih mudah kalau mama bisa lepas dari tua bangka itu. Mama bisa kan?”
__ADS_1
Dengan berat hati, Helen mengangguk lalu tersenyum dipaksakan.
“Mama janji.” Ucap Helen. Alesh memeluk Helen. Sudah lama sekali rasanya tidak berbicara berdua seperti ini. Jujur saja Helen maupun Alesh sama-sama merindukan saat-saat seperti ini. Berbicara berdua dari hati ke hati tanpa emosi.