
Sejak bercerai dengan Helen, Arga memutuskan untuk menikah lagi dengan janda beranak dua beberapa tahun yang lalu. Namun sampai saat ini, Alesh belum pernah bertemu dengan mereka. Pemikiran tentang ibu tiri yang kejam membuat Alesh enggan untuk tinggal bersama Arga dan keluarga barunya.
Alesh sempat kecewa dan marah kepada Arga karena tidak memberitahu bahwa ia akan menikah lagi. Dia sangat marah ketika menemukan sebuah undangan pernikahan Arga dengan Sandra di nakas Helen. Dia merasa saat itu semua orang membuangnya, bahkan orang tuanya sendiri.
Bukan Alesh tidak mengizinkan papanya untuk menikah lagi, dia hanya terkejut dengan keadaan yang semuanya serba tiba-tiba. Tiba-tiba orang tuanya cerai, tiba-tiba orang tuanya menikah lagi dengan orang lain. Dan Alesh, tidak tahu apapun tentang itu. Dia merasa dirinya tidak dianggap sama sekali. Dan sekarang, sahabat yang dia percaya juga sudah menghianatinya. Dibuang dan tidak dianggap Alesh sudah merasakan semuanya.
Helen sebenarnya terpukul melihat anaknya menganggap dirinya sebagai musuh dalam hidupnya. Bahkan sudah tidak bisa lagi diajak berdamai. Alesh memang membenci Helen sejak dia tahu bahwa wanita itu selingkuh dengan Andri, laki-laki yang sekarang menjadi ayah tirinya. Orang yang memiliki andil paling besar dalam kehancuran hubungan orang tuanya, menurutnya.
Begitupun dengan Arga yang jarang sekali mengunjungi Alesh, sejak dia menikah dengan Sandra. Alesh bahkan tidak tahu alasannya. Itu alasan kenapa Alesh sama sekali tidak menerima Sandra maupun Andri dalam hidupnya sekalipun mereka sudah menjadi orang tua tiri Alesh.
Saat itu, Baralah yang selalu menguatkan dan menenangkan Alesh. Dia akan membiarkan Alesh menangis semaunya hingga perasaannya tenang. Tapi sekarang, keadaan sudah berbeda sejak Bara berhianat dengan sahabatnya sendiri. Dia membangun benteng dalam hatinya agar tidak jatuh cinta lagi. Perasaannya sudah mati. Semuanya berubah, termasuk kehidupannya. Alesh tidak percaya lagi dengan cinta. Rasa kecewa itu melahapnya, dan meremukkan semua kenangan indah di dalamnya.
\*
Seorang wanita mencoba menghubungi Alesh berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Dia sudah berdiri di depan pintu apartment Alesh sejak setengah jam yang lalu. Dia menyenderkan tubuhnya ke tembok.
“Nadia.” Panggil Alesh yang baru sampai dengan suara pelan.
“Al gue udah nungguin lo dari tadi, lo kemana aja gue telfon nggak diangkat?”
__ADS_1
“Mau ngapain lagi sih lo Nad?”
“Al, gue cuma mau ketemu sama lo.” Nadia meraih pergelangan tangan Alesh.
Sementara itu, Nata baru saja keluar dari pintu apartmentnya. Alesh menoleh ke arah Nata, kedua manik mata mereka bertemu lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Nadia.
“Masuk!” Alesh masuk dan diikuti Nadia.
Sudah lima belas menit berlalu mereka duduk di sofa ruang tamu Alesh, namun tak ada yang bicara sama sekali. Alesh sibuk dengan ponselnya, Nadia sibuk merangkai kata-kata untuk berbicara dengan Alesh.
“Al.” Panggil Nadia pelan.
“Hm.” Jawab Alesh singkat tanpa mengalihkan tatapannya dari benda persegi panjang itu.
“Gue mau minta maaf, Al.”
Alesh menyeringai mendengar permintaan maaf Nadia.
“Minta maaf? Buat apa?” Nadia menelan ludahnya dengan susah payah.
“Gue tahu gue salah Al, tapi gue nggak ada maksud-“
Dan lagi, Alesh memotong kalimat Nadia, “Nggak ada maksud buat nikung pacar sahabatnya?” Alesh tersenyum sinis, seperti biasa.
__ADS_1
“Kemana aja lo baru datang sekarang? Ha?” lanjutnya. Sepertinya Alesh memang sudah tidak bisa di ajak bicara baik-baik lagi.
“Gue sayang sama Bara.” Kalimat itu akhirnya meluncur dari mulut Nadia. Mata Alesh membulat, dia melipat kedua tangan didadanya.
“Ambil sana buat lo gue nggak butuh.”
“Tapi dia maunya sama lo, Al.”
“Gue sama dia udah lama putus, lo tau itu kan?” Alesh sengaja menekankan kata putus kepada Nadia.
“Oke, kalau gitu tinggalin Bara buat gue Al. Karena lo udah tahu gue yang sebenarnya, mulai sekarang gue nggak perlu pura-pura baik lagi didepan lo. Gue juga udah muak sama lo.” Kalimat itu keluar dari mulut Nadia dengan tegas.
“Ambil sana bekasan gue kalau emang dia mau. Kalian emang cocok, lo pernah denger kan kalau penggoda itu cocoknya sama penghianat?”
“JAGA YA MULUT LO!” bentak Nadia. Alesh tertawa mendengarnya.
“Wow! Lo banyak berubah ya Nad.” Nadia menghela nafasnya dengan kasar, lalu tangannya mengangkat dagu Alesh dengan kasar.
“Dengerin gue baik-baik Alesh! Dari dulu lo selalu ngambil apa yang gue suka, dan sekarang udah saatnya gue ngambil itu dari lo! Sekarang lo udah nggak punya siapa-siapa lagi Alesh. Bahkan orang tua lo sendiri udah buang lo.” Bisik Nadia tepat di telinga Alesh.
Nadia sangat tahu kelamahan Alesh. Jika sudah menyangkut masalah keluarganya, Alesh akan diam.
“Dan kalau lo mau tahu, gue sama Bara udah nglakuin lebih dari yang lo lihat.” Lanjut Nadia, lalu gadis itu keluar meninggalkan Alesh tanpa permisi.
__ADS_1
Demi Tuhan! Alesh mengumpat dalam hatinya agar malaikat Izroil segera mencabut nyawa Nadia saat itu juga. Kilatan marah terlihat jelas dari matanya. Dia merasa tidak pernah mengambil apapun dari Nadia. Ancaman Nadia justru membuat Alesh berpikir untuk kembali mendekati Bara.