BAD GIRL

BAD GIRL
B189


__ADS_3

Bab 189


"Ide bagus" ucap zhea fokus menghabiskan es creamnya.


"Tapi, setiap harinya kamu hanya boleh makan 2 bungkus cemilan doang"


"Lah, buat apa beli banyak-banyak kalo cuma boleh makan dua"


"Ngggak baik buat tubuh kalo terlalu banyak makan cemilan. Kan banyak bahan pengawetnya"


"Siapa bilang?"


"Aku ini dokter lho Zhe kalo kamu lupa"


"Iya deh"


Mereka pun membayar belanjaan mereka ke kasir.


"Mas exsel, tumben ke sini berdua. Pacarnya ya?" Ucap kasir


"Dia ini zhea, istri saya"


"Oh istrinya. Ya, putus dong harapan saya buat bisa nikah sama mas" ucap kasir.


"Hahaha, mbak bisa aja" ucap exsel yang menganggap ucapan kasir itu candaan.


"Udah lama mas nikahnya?"


"3 bulan yang lalu"


"Kok saya nggak di undang sih mas"

__ADS_1


"Itu...karena keluarganya dia yang ngurus pernikahan"ucap exsel mencari alasan


"Mbaknya beruntung banget lho bisa nikah sama mas exsel. Dia ganteng, seorang dosen dan dokter. Kehidupan mbak pasti terjamin deh"


"Saya pemilik rumah sakit tempat exsel bekerja, sekaligus salah satu mahasiswinya. Dan universitas itu, Perusahaan keluarga saya yang banyak berdonasi" ucap Zhea yang tidak suka saat kasir itu bicara dan menatap exsel.


"Oh, gitu ya mbak. Pantas aja mas exsel suka sama mbak" ucap kasir itu yang terlanjur malu karena tadinya dia ingin merendahkan zhea.


Zhea memutar bola matanya malas.


"Saya menikahi dia bukan karena kekayaannya. Tapi, karena kemandirian, dan kegigihannya lah saya ingin menjaganya" ucap exsel mengelus-elus rambut zhea.


Zhea hanya tersenyum tipis, bahkan senyumnya tidak terlihat oleh siapapun.


"Kok gue jadi senang ya, dengarin gombalan dia" batin zhea


"Masa sih mas anak orang kaya mandiri? Biasanya kan anak orang kaya manja semua"


"Emang mbaknya kerja apa mas?"


"Kebetulan saya seorang pembalap. Jika saya seorang kasir seperti anda, mana bisa saya membeli rumah sakit kan?" Ucap zhea yang tidak ingin berbasa-basi lagi.


"Ah, iya" ucap kasir itu tersenyum masam. Dan mempercepat menghitung belanjaan mereka.


Exsel dan zhea masuk ke dalam mobil.


"Gimana kalo kita makan di restoran?"


"Lah kan udah beli bahan makanannya, makan di rumah aja"


"Di restoran aja gimana? Kita belum pernah kan makan di luar. Lagian kalo makan di rumah, masih harus masak dulu"

__ADS_1


"Terserah lho aja deh"


Di perjalanan menuju restoran, zhea melihat ada yang menjual bakso di pinggir jalan.


"Berhenti-berhenti"


"Kenapa? Mau ke toilet?"


"Berhentiin dulu mobilnya?" Exsel hanya menurut, dengan memakirkan mobil di tepi jalan.


"Punya uang cash nggak?"


"Punya"


"Kita makan bakso itu aja" ucap zhea menunjuk gerobak bakso yang terparkir di jalan, kemudian sangat antusias memesan bakso.


"pak, bakso dua ya?"


"Tunggu sebentar ya neng"


Exsel ikut duduk di samping zhea, "kamu nggak apa-apa makan di tempat kayak gini?"


"Emangnya kenapa kalo makan di tempat kayak gini?. Lihat, tempatnya juga bersih"


"Ya nggak apa-apa, aku kira kamu cuma makan di restoran-restoran doang"


"CK, dulu pas SMP tiap pulang dari sekolah gue, Rere, Niko, dan Rio suka makan-makanan jalanan kayak gini"


"Bagus deh"


"Ini neng mas, baksonya" ucap penjual bakso menyiapkan bakso di hadapan mereka berdua.

__ADS_1


Saat keduanya menikmati baksonya, notifikasi masuk di hp zhea. Zhea langsung mengecek hpnya, ternyata Rere mengirimkan fotonya dan exsel sewaktu di AS. Zhea pun fokus melihat foto itu satu persatu.


__ADS_2