BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 207


__ADS_3

Bab 207


Exsel menuruti ucapan zhea. Setelah beberapa saat, baru zhea melangkah masuk ke kamar exsel. Awalnya, dia pikir dia harus kembali ke kamarnya, yaitu kamar alm. Mamanya exsel. Tapi, dia rasa mood exsel sekarang sedang tidak bagus, maka dari itu dia memilih tidur di kamar exsel.


Zhea cepat-cepat naik ke ranjang, dan pura-pura tidur.


10 menit kemudian exsel selesai mandi, dia terkejut melihat zhea sudah tidur di ranjangnya.


Exsel tersenyum, kemudian dia duduk di pinggiran ranjang di samping zhea. Exsel menatap zhea lekat-lekat, tangannya membelai wajah zhea.


"Aku benar-benar bersyukur karena kamu ada. Hadirnya kamu, menutupi kesepian selama ini. Jika boleh meminta, aku ingin kamu terus sama aku sampai akhir hayat Zhe. Itu saja, nggak lebih. Aku juga nggak minta di perlakukan baik atau meminta hak aku sebagai suami. Cukup kamu di sisi aku, dan aku bakalan berusaha keras menjadi suami yang baik untuk kamu. Tapi, aku juga nggak bisa egois Zhe, meminta itu ke kamu. Hubungan kamu dan orang tuamu akan semakin retak nantinya, dan kamu nggak bakalan mendapatkan warisan. Katakan Zhe? Apa aku harus bersiap-siap menunggu waktunya kamu meminta cerai padaku. Tapi, jujur saja Zhe, aku nggak bakalan pernah siap untuk itu"


Exsel menjeda ucapannya, dia tersenyum sendiri mendengar apa yang dia katakan.


"Selamat malam sayang, mimpi indah" sambungnya kemudian mencium agak lama dahi zhea dan ikut berbaring di sampingnya.


Exsel menghadap zhea, dengan hati-hati dia menarik zhea ke pelukannya.


"Bolehkan?" Ucapnya mencium pucuk kepala zhea, kemudian memejamkan matanya


Setelah merasakan nafas exsel teratur, zhea membuka matanya. Dia sedikit mendongak untuk melihat wajah exsel, karena wajahnya tepat berada di dada exsel.


"Terimakasih, atas ketulusanmu. aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau yang memintaku untuk pergi. Ayo, pertahanan pernikahan ini sampai akhir. Aku emang nggak punya cinta atau semacamnya, tapi sama seperti kamu, aku akan belajar menjadi istri yang baik buat kamu. Aku tahu betul bagaimana rasanya kesepian, maka dari itu, aku memilih untuk berada di samping kamu, selamanya" batin zhea, dia kemudian menenggelamkan wajahnya di dada exsel yang terasa sangat nyaman dan mengeratkan pelukannya.


Pukul 02;05 dini hari. Zhea merasakan, hawa panas, dan terbangun dari tidurnya.


"Panas banget, apa AC nya mati" gumamnya.


"Kenapa?" Ucap exsel yang ikutan terbangun, dan merasakan sangat pusing


"Ahh, maaf" Sambungnya, melepaskan pelukannya dari zhea. Dia menelentang, dengan satu tangan berada di dahinya.


"Kamu kenapa?" Ucap zhea menarik tangan exsel, dia terkejut karena suhu badan exsel sangat panas


"Ya ampun, kamu demam. Badan kamu panas banget lho ini" ucap zhea meletakkan punggung tangannya di dahi exsel


"Nggak apa-apa, tidurlah kembali" ucap exsel mengenggam tangan zhea


"Nggak bisa gitu dong, kamu harus minum obat"


"Aku belum makan, udah besok lagi aja. Kembalilah beristirahat"


"Biar aku masakin dulu kalo gitu" ucap zhea beranjak ingin turun dari ranjang. Namun, dengan cepat exsel menarik pinggangnya, dan memeluk zhea kembali


"Seperti ini saja. Besok pagi, pasti sudah lebih baik. ucap exsel kembali memejamkan matanya

__ADS_1


"Kamu yakin"


"Heum"


"Apa pusing"


"Sedikit"


"Mau di pijitin"


"Emang bisa?"


"Ishh, gitu doang mah bisa aku" ucap zhea dia membenahi dulu selimut mereka, kemudian baru memijit dahi exsel.


"Apa pusingnya berkurang"


Exsel tak lagi bersuara, dia terlalu pusing dan ingin menikmati dan menyimpan baik-baik kenangan ini bersama zhea.


"Exsel, exsel" ucap zhea melambaikan tangannya di wajah exsel untuk memastikan exsel sudah tidur.


Zhea menarik tangannya, dia mendongak melihat wajah exsel. Ntah apa yang di pikirkannya, tiba-tiba zhea mencium pipi exsel sekilas." Terimakasih" bisiknya sangat pelan, Kemudian dia mengeratkan pelukannya.


Exsel tersenyum mendapatkan ciuman dari zhea yang tak pernah dia duga itu.


Exsel melepaskan pelukannya, kemudian menggoyang-goyangkan tubuh zhea agar bangun.


"Zhe"


"Zhea, bangun udah pagi"


Zhea pun akhirnya terbangun.


"Jam berapa soh sekarang sel" ucap zhea masih terpejam dan memeluk exsel posesif


"Nggak tahu, bentar aku lihat dulu" ucap exsel meraba-raba hpnya yang berada di atas lemari kecil samping ranjangnya. Karena satu tangannya, di jadikan bantal untuk zhea. Exsel sedikit kesulitan menggerakkan badannya.


Setelah dapat meraih hpnya exsel pun melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7;05.


"Sekarang, jam 07:05 Zhe"


"What! Cepetan kamu mandi dulu, aku siapin sarapannya" Pekik zhea langsung keluar kamar. Dia lupa, kalau exsel sedang sakit.


Exsel hanya menatap kepergian zhea tanpa beranjak sedikitpun dari ranjangnya. Tubuhnya terasa sakit semua, dan sakit kepalanya juga tak hilang sejak tadi malam. Bukannya dia tidak mau minum obat agar sakitnya mereda. Tapi, obat yang dia butuhkan tidak ada di rumah.


Zhea membuka kulkas bersiap-siap untuk masak. Sesaat kemudian, dia teringat Dengan exsel yang sedang sakit, dia pun kembali ke kamar.

__ADS_1


Zhea duduk di ranjang samping exsel. Merasa ada pergerakan exsel pun membuka matanya.


Melihat zhea yang menatapnya lekat, dan menyangka zhea akan marah exsel pun berucap "ya, aku mandi sekarang" ucapnya


"Tunggu dulu" ucap zhea menahan exsel yang mau beranjak duduk. Zhea meletakkan punggung tangannya di dahi exsel, yang ternyata demam exsel semakin tinggi dari tadi malam.


"Makin panas. Udah istirahat aja, nggak usah kemana-mana" ucap Zhea


"Nggak bisa Zhe, kita harus cepat-cepat ke kampus. Atau kita telat nantinya"


"Udah sakit masih aja mikirin kampus. Udah istirahat aja"


"Nggak apa-apa Zhe, cuma pusing dikit doang kok. Ntar pas di rumah sakit, aku bakalan minum obatnya"


"Nggak usah bahas pekerjaan! Kamu itu lagi sakit" ucap zhea dengan suara yang meninggi karena exsel sudah beranjak ingin masuk ke kamar mandi.


Mendengar ucapan zhea, exsel pun berhenti melangkah. Dia membalikkan badannya, yang mana zhea menatapnya dengan wajah yang datar dan sulit di artikan.


Exsel pun merebahkan kembali badannya di atas ranjang, Dengan kaki Yang menjuntai di lantai. Dan satu tangannya dia letakkan di atas dahinya.


"Apa masih pusing?"


Exsel hanya mengangguk


"Aku akan telpon dokter Adnan, biar dia bawa obat yang kamu butuhin ke sini"


"Nggak usah Zhe, kamu chat dia aja, bilang minta dia gantiin aku ngajar di kampus hari ini"


Zhea pun mengirimkan pesan ke Adnan, dia melihat exsel sekilas, kemudian melangkah beranjak pergi, ingin memasak.


Exsel yang mendengar suara pintu pun membuka matanya dan menatap ke arah zhea.


"Mau kemana?"


"Masak, kamu belum makan dari tadi malam. Abis itu, kamu juga harus minum obat"


"Nggak usah, aku nggak laper Zhe. Cuma pusing dikit doang"


"Nggak usah ngebantah bisa nggak sih sel!"


"Pesan aja makanannya. Kamu nggak kuliah apa? Ntar kamu telat lho, maaf ya nggak bisa nganterin kamu"


"Kamu sakit! Masa iya aku ninggalin kamu sendirian di rumah"


Mendengar ucapan zhea, exsel tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2