BAD GIRL

BAD GIRL
Episode 9


__ADS_3

SEJAK Alesh kembali dengan Bara, dia sudah jarang sekali membawa mobilnya ke kampus. Bara selalu mengantar jemput Alesh. Seperti hari ini, dia sudah siap menunggu Bara di depan lobby. 15 menit yang lalu, Bara mengirim pesan agar Alesh bersiap karena Bara sudah hampir sampai. Sebuah mobil berhenti didepannya dan kaca mobilnya terbuka.


“Nata.” Gumam Alesh datar


“Mobil lo mogok lagi?” tanya Nata


“Enggak. Gue nunggu Bara.” Alesh tersenyum hambar


Nata hanya mengangguk dan kembali menutup kaca mobilnya, dia melajukan mobilnya meninggalkan Alesh.


Baru beberapa menit Nata meninggalkannya, mobil Bara sudah sampai didepannya. Bara turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Alesh. Gadis itu tersenyum. Bara masih saja manis dan perhatian seperti dulu. Baru beberapa detik mereka duduk didalam mobil, ponsel Bara bergetar cukup lama. Sebuah panggilan masuk memecah keheningan, namun Bara segera menggeser tanda merah. Lalu ponselnya kembali bergetar.


“Kenapa nggak di angkat Bar?” Tanya Alesh


“Nggak penting.” Bara mulai menginjak gas dan melajukan mobilnya meninggalkan apartment Alesh.


“Angkat aja, siapa tau penting”


“Nadia yang nelfon, Al.” jawab Bara ketus.

__ADS_1


“Kalau Nadia yang nelfon kenapa nggak di angkat?”


“Dia minta gue buat jemput dia soalnya mobil dia masuk bengkel. Tapi gue udah bilang kalau gue bareng sama lo.” Bara masih fokus menyetir dan melihat kejalanan. Terlihat jelas, Alesh menahan senyumnya.


“Nanti kan kita nglewatin rumah Nadia, nggak papa kali Bar sekalian jemput dia.”


“Nggak Al.” Bara menatap Alesh sebentar, lalu kembali menatap ke depan.


“Kalau emang lo sama Nadia nggak ada apa-apa kenapa harus nolak buat jemput dia? Gue nggak masalah kalau kita jemput dia dulu.” Ujar Alesh dengan tenang namun sedikit memaksa. Seperti biasa, Alesh selalu keras kepala. Bara menghela nafasnya pelan, lalu mengangguk sebentar.


Mobil Bara sudah berada di depan pagar Nadia. Gadis itu melangkah ke arah mobil, namun Alesh sengaja tidak membuka kaca mobil disampingnya. Nadia membuka pintu depan dan melihat Alesh yang sudah duduk disamping Bara.


“Pagi Nadia.” Sapa Alesh manis. Raut wajah Nadia berubah menjadi kesal. Dia kembali menutup pintu mobil dan membantingnya. Alesh tersenyum puas. Dengan terpaksa Nadia duduk di kursi belakang. Tak lama, Bara membelah jalanan ibu kota.


“Itu kan sebelum lo jelasin semuanya ke gue, Nad.” Jawab Alesh dengan senyum khasnya. Nadia sengaja memancing emosi Alesh.


“Gue ngrasa ada yang aneh aja kalian balikan secepat itu.”


“Aneh gimana?” tanya Alesh balik dengan raut wajah yang tenang. Dalam hatinya dia mengumpat dan menyerapahi Nadia.

__ADS_1


“Lo yakin perasaan lo masih sama buat Bara?” Alesh dengan susah payah menelan ludahnya mendengar pertanyaan Nadia.


“Apaan sih lo Nad? Gue sayang Alesh, dan Alesh sayang gue.” Kali ini Bara yang menjawabnya. Nadia mendengus kesal, lagi-lagi Alesh tersenyum puas.


Bara menghentikan mobilnya di parkiran kampus. Dia turun lalu membukakan pintu untuk Alesh. Nadia menunggu Bara melakukan hal yang sama, namun Bara tidak melakukannya. Nadia kesal dan menatap mereka berdua dengan tajam.


“Bar kok nggak bukain pintu buat Nadia?” tanya Alesh saat Nadia baru saja turun.


“Dia bisa sendiri.” Jawab Bara sambil mengelus puncak kepala Alesh. Gadis itu tersenyum. Dia sangat puas sudah berhasil membuat Nadia kesal hari ini.


Felish yang sejak tadi memperhatikan mereka sekarang mendekat.


“Al.” Panggil Felish.


“Fel?”


“Lo bertiga bareng?” tanya Felish heran.


“Emang kenapa? Nadia kan temen gue. Iya kan Bar, Nad?” Alesh memandang Bara, lalu memandang Nadia. Felish hanya menggeleng karena dia tidak mengerti sama sekali apa yang ada dalam pikiran Alesh.

__ADS_1


“Gue ke kelas duluan ya.” Kata Bara, Alesh mengangguk. Lalu seperti biasa, Bara mengacak rambut Alesh dan merapikannya kembali.


Setelah beberapa menit Bara pergi, Nadia menyeret tangan Alesh dan meninggalkan Felish sendiri diparkiran. Nadia membawa Alesh ke toilet, lalu menghempaskan tangannya.


__ADS_2