BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 122


__ADS_3

Bab 122


Keesokan harinya, saat zhea dan Rere berada di kampus. Zein dan Raka sudah menunggu mereka di sana.


"Ngapain lagi lho berdua ke sini, nggak ada kerjaan hah!" Ketus zhea


"Gimana? Kamu udah mikirin baik-baik tentang pernikahan kita"


"Aduhh udah Dhe Zein, nggak usah ke pd-an. Sampai kapanpun gue nggak bakalan mau nikah sama lho"


"Oke, jika itu keputusan lho. Tapi, lho nggak lupa kan kalo lho harus bayar uang sebesar 5M ke gue kalo lho nolak. Dan pacar lho itu, apa lho mau lihat dia di diskualifikasikan? Dari pertandingan dan satu lagi"


"Enak banget lho ya, ngajak orang nikah maksa kayak gini" sahut Rere


"Ya mau bagaimana lagi, di dekatin secara baik-baik dia nolak, jadi ya terpaksa gunain jalan kayak gini"


"Kalo orang nggak mau itu nggak usah di paksa. Dan jangan harap, kalo lho bisa nikahin zhea ataupun dapetin yang 5M itu. Gue bisa laporin lho ke polisi atas tindakan pemaksaan dan perilaku tidak menyenangkan" ucap Rere


"Silahkan, laporkan saja. Saya punya surat resmi secara hukum tentang perjanjian itu, dan kita lihat saja, siapa nantinya yang bakalan masuk penjara"


"Lho mau uang 5M itukan? Oke, besok lho bakalan dapetin yang itu. Jadi sekarang silahkan pergi" ucap zhea

__ADS_1


"Satu lagi Zhea, jika kamu tidak menikah dengan pacarmu 2 Minggu lagi, maka pernikahan kita akan tetap terjadi. Tidak peduli, tentang uang yang telah bayar itu"


"Heh, lho jangan macam-macam ya" ucap zhea mulai emosi


"Nggak macam-macam kok Zhe, kalo lho nggak percaya lho baca aja isi perjanjiannya" ucap Zein, mengambil fotocopy surat perjanjian itu dari Raka.


"Ini, lho baca sendiri" ucap Zein memberi fotocopy perjanjiannya dengan Leon.


Zhea mengambil surat perjanjian itu dia dan Rere sama-sama membaca isi surat itu.


"What! Apa-apaan ini! Gila, ini perjanjian yang hanya menguntungkan lho sendiri" pekik rere


"Jadi, Zhe. Pikirin baik-baik, tentang pernikahan kita"


"Percuma aja lho ngerobekin surat itu Zhe, karena yang aslinya ada sama gue. Kalo gitu, sampai jumpa besok" ucap Zein beranjak pergi.


"Gue harus ke sirkuit sekarang, siapa tahu, nanti malam ada balapan" ucap zhea


"Gue ikut!"


"Lho nggak mau kuliah"

__ADS_1


"Ah, gue nggak peduli. Yang terpenting sekarang tuh lho"


"Lho kan udah di peringatin dekan"


"Persetanan dengan dekan, di D.O juga nggak apa-apa. Kita bisa kuliah di new York nanti"


"Benar juga".


Di saat zhea dan Rere pergi, exsel baru sampai di parkiran.


"Lho, mereka mau kemana lagi. Udah di kampus kok pergi lagi". Exsel lalu menelpon zhea dan tidak di angkat.


"Pergi kemana lagi mereka" exsel keluar dari mobil, dia yang melihat robekan kertas pun mengambilnya.


"Siapa sih yang membuang sampah sembarangan" ucap exsel memunguti sobekan kertas itu.


Saat ingin membuang robekan kertas itu ke tempat sampah, exsel memeriksa sepintas sobekan kertas itu yang ada nama zhea.


"Kok ada nama zhea di sini. Ini surat apaan" gumam exsel.


Dia lalu menyusun sobekan kertas itu, di atas mobilnya.

__ADS_1


Exsel kaget, setelah mengetahui isi surat perjanjian itu.


"Surat ini, tidak memberikan Zhea jalan untuk menolak pernikahan. Merek benar-benar menyudutkan zhea, kasihan zhea jika harus menikah dengan ornag yang tidak di cintanya. Tapi, zhea sendiri juga nggak percaya apa itu cinta. Ini benar-benar membingungkan. Aku akan tanya ke zhea, mungkin dia perlu bantuan"


__ADS_2